
Dua hari berikutnya, Sean menepati perkataannya. Memberi kesempatan ke Allesya untuk menemui Erlan paska proses trasnplantasi ginjal. Tentunya, ia tidak membiarkan istri kecilnya itu datang seorang sendiri.
Tidak akan. Membayangkan akan interaksi hangat antara Allesya dan Erlan sudah cukup membuatnya disergap kecemburuan, apalagi membiarkan mereka saling melempar senyuman manis di dalam satu ruangan kecil tanpa ada orang lain di sana. Benar-benar bikin gerah dan tidak nyaman.
Sepasang kaki berbalut flat shoes menapaki satu persatu anak tangga yang membawanya menuju ke arah ruang makan. Keberadaan Allesya, langsung disambut hangat oleh dua orang paruh baya yang sudah lebih dulu mengisi bangku meja makan beberapa saat yang lalu. Mereka adalah Raffaela dan Raffaresh.
Memang setelah satu malam menginap di hotel, Allesya merengek untuk kembali di kediaman Damarich. Mengingat sebentar lagi ia akan berpisah jauh dengan kedua orangtua, membuatnya tidak ingin melewati malam yang tersisa.
Padahal lama perjalanan dari London ke Paris hanya memerlukan jarak tempuh waktu tak lebih dari satu jam jika menggunakan jet pribadi. Dia bisa saja mengunjungi kedua orangtuanya kapanpun ia mau. Namun tetap saja, tidak akan lagi berada di bawah satu atap negara yang sama dengan kedua orangtuanya mengundang kesedihan di hati.
"Sayang, kenapa kau tidak turun bersama suamimu?" lisan pertanyaan terlontar diimbangi tangan bergerak cekatan mengisi piring kosong milik Allesya.
"Sebentar lagi juga turun Mom," jawabnya sedikit malas.
Mengingat beberapa saat yang lalu, Sean terus saja menggodanya saat masih berada di kamar, urung membuatnya berseri durja untuk mengawali pagi.
"Hari ini Daddy dengar Sean akan mengantarmu mengunjungi Erlan. Daddy harap kau lebih menjaga perasaan suamimu," tutur Raffaresh kepada Allesya meski kegiatannya masih terpusat pada salad nicoise di atas piringnya.
"Dengarkan apa yang dikatakan Daddymu sayang. Terlepas dari segala kesalahan Sean di masa lalu, coba kau juga melihat dari sisi perjuangan untuk memperbaiki semuanya. Bersikap manis dan menurutlah kepadanya karena kau sepenuhnya tanggung jawab Sean sekarang," Raffaela ikut menuturi, diringi suara lembut dan senyuman hangat, sebisa mungkin tak menyakiti perasaan sang Putri Bungsu.
"Iya Mom, Dad," jawabnya sebatas menghormati nasehat dari kedua orang tuanya. Seolah memberi makan pada cacing-cacing di perutnya lebih penting saat ini.
"Kak Vera kenapa juga belum kelihatan? Biasanya dia paling semangat kalau aroma makanan sudah menyebar," celoteh Allesya setelah menyadari sang Kakak belum menunjukkan eksistensinya.
"Dia baru saja berpamitan untuk kembali ke London sebelum kau turun tadi, sayang," jawab Raffaela seraya menuangkan susu ke dalam gelas kosong Allesya.
"Cukup Mom, terima kasih," pungkas Allesya ketika gelas yang kosong hampir terisi penuh. "Kenapa secepat itu Kak Vera kembali? Bukannya ia harusnya masih beberapa hari lagi di Paris?"
Helaan napas dan gelengan ringan ditunjukkan Raffaela ketika mengingat tujuan kembalinya si Putri Sulung. "Katanya dia ada janji kencan buta dadakkan."
"Putrimu yang satu itu seperti tidak laku di pasaran, sampai nekat ikut acara kencan buta. Dia seperti wanita tua yang sudah putus asa karena lama menjomblo," sela Raffaresh berkelakar. Bukannya marah, pria paruh baya yang masih memancarkan ketampanan di mukanya itu justru merasa lucu dengan pola tingkah Vera, si Putri sulung.
Allesya dan Raffaela mau tidak mau ikut terkikik karena celotehan Raffaresh.
"Selamat pagi," salam pagi yang tiba-tiba membaur menarik perhatian semua penghuni ruang makan.
"Sayang, kenapa kau baru turun?" tanya sang Mommy kepada sang Menantu.
"Maaf Mom, tadi Sean harus mengangkat telepon terlebih dahulu," menarik mundur bangku kosong di sebelah Allesya dan mendudukinya.
"Seanie sayang, layani suamimu, ambilkan dia makanan dan minuman," tutur sang Mommy yang tampak gedek dengan sikap tak peka sang Putri.
"Iya Mom..," patuh Allesya.
__ADS_1
Raffaela tersenyum hangat melihat sikap Allesya yang selalu patuh dengan perkataan orangtua. Kendati ia tahu, sepenuh hati tak dirasa ketika Allesya melayani Sean di meja makan.
Senyuman tipis tercetak di sepasang bibir Sean ketika Allesya mengisi piringnya yang kosong dengan makanan. "Terima kasih, Allesya," ucapnya, masih enggan melepas pandang dari muka cantik sang Istri.
"Hm," jawaban Allesya yang hanya terdengar menyerupai dengungan lebah.
"Kau ingin susu atau jus buah?"
"Susu."
"Kau bisa melubangi muka putriku dengan matamu itu, Sean," celetuk sindiran Raffaresh, menangkap tatapan sang Menantu yang tak urung beralih dari muka Allesya.
Alih-alih merasa terusik akan sindirian sang Daddy Mertua, sebelah siku yang tertumpu di atas meja dibiarkan menopang dagunya, senyaman mungkin mencari posisi untuk mengamati si Cantik menyandukan yang masih enggan mengulas senyum manis untuknya.
"Aku akan terus menatapnya, agar dia kembali memimpikanku seperti malam itu," ujar yang langsung mendapat delikan mata Allesya.
"Mimpi apa sebenarnya, hingga membuatmu terlihat senang pagi ini, Sean?" sela Raffaela, sebelum menyuapi sepotong ikan tuna ke mulutnya.
Perhatian Sean beralih ke Raffaela untuk beberapa detik dan kembali memusatkan perhatiannya ke arah Allesya yang tampak tegang.
"Dia bermimpi kalau aku dan dia sedang," kalimat Sean tiba-tiba terhenti karena Allesya menjejal sepotong croissant di mulutnya.
Memaksa bibir untuk tersenyum, diekori suara gelak tawa hambar. Mengalihkan topik pembicaraan Sean yang begitu memalukan baginya. "Biarkan aku menyuapimu ya, Hm?" tawarnya, masih dalam mode tersenyum tak ihklas, menampilkan serentetan gigi-gigi putihnya.
"Boleh."
"Aku sudah kenyang Emily," Erlan meminta Emily berhenti menyuapinya. "Apa kau juga sudah makan?"
Sepasang bibir kecil mengulas senyum. "Aku juga sudah makan Erlan," meletakkan kembali piring di atas nakas kamar. Memudahkan tangan meraih selembar tisu lanjut mengelap mulut Erlan. "Apa kau merasakan sesuatu yang kurang nyaman?"
Dengusan tawa yang mencelos dari bibir Erlan seketika menarik perhatian lebih Emily hingga kedua pasang netra mereka saling terpaut. "Apa ada yang salah?" lirihnya.
"Kau sudah tiga kali beruturut-turut menanyakan hal yang sama Emily," Erlan terkekeh geli, kendati sebuah ringisan kembali menghiasi mukanya saat jahitan operasinya terasa sakit jika diajak tertawa. "Sshh! Ini menyiksamu."
"Jangan terlalu keras tertawa Erlan, jahitannya masih basah. Lagian aku memang harus terus memantau kesehatanmu. Jangan larang aku untuk bertanya ya, karena aku tidak ingin kau kembali sakit," tuturnya penuh perhatian.
"Terima kasih Emily," ungkapan tulus dari hati yang terlontar tanpa mengalih pandang dari muka cantik Emily, bahkan tatapannya kian melekat seolah menelisik setiap goresan indah di hadapannya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu Erlan?" jujur tatapan Erlan saat ini merangsang deguban-deguban yang membuatnya gugup.
"Aku baru sadar, kau sangat cantik jika dilihat dari dekat. Andai jika Seanie belum mengisi ruang hatiku, mungkin aku sudah jatuh cinta kepadamu," pujian dan godaan tebingkai jadi satu.
BLUSH...
Muka reflek tertunduk, menghalau rona merah di pipi dari pandangan Erlan karena tersipu malu. Meski di salah satu bilik hatinya, juga terselip sebuah titik kepiluan akan rahasia sebuah perasaan yang masih terpendam karena nama wanita lain masih tersemat di hati Erlan.
__ADS_1
Namun angin kalbu seolah membisikkan sebuah asa. Kemantapan akan dorongan hati yang tiba-tiba dirasa. Menuntun jendela hati untuk membalas pandangan Erlan yang ternyata tampak tak biasa. "Bolehkah aku menggantikan posisi Seanie di hatimu? Sudah lama sekali aku memimpikan akan singgasana di hatimu yang bisa ku tempati."
Serangkaian kata yang terlontar seiring deguban jantung yang bergetar itu nyatanya sukses mengundang jantung yang lain ikut merasakan getaran yang sama. "Ini tidak mungkin, perasaan yang tiba-tiba muncul ini menimbulkan getaran yang sama ketika aku bersama Seanie," hati kecil Erlan seolah tak percaya dengan apa yang dirasakan sekarang.
Kedua pasang jendela hati masih setia beradu pandang, saling menyelami akan makna isyarat yang terkandung di dalam sana. Hingga suara knop pintu yang terbuka, memaksa mata memutus tautan. Cepat-cepat kedua anak manusia itu berupaya menguasai situasi. Menyembunyikan kecanggungan karena baru saja tenggelam dalam suasana perasaan.
"Seanie...? Sean?" sapa Erlan, sementara Emily terlihat mengulas senyum sebagai bentuk sambutan ramah akan kedatangan Sean dan Allesya.
"Dokter Emily apa kabar?" terlebih dulu Allesya bertanya ke Emily.
"Baik Seanie, seperti yang kau lihat," jawabnya.
"Kau terlihat lebih berseri dari biasanya,"
"Benarkah?"
Allesya kian menaikan lengkungan kedua sudut bibirnya lalu menggiring muka ke arah Erlan yang duduk bersandar headboard ranjang.
"Erlan, maaf aku baru datang sekarang untuk menjengukmu," ucapnya tak enak hati. "Aku sangat senang mendengar kabar kalau kau mendapatkan donor ginjal yang cocok," keharuan yang menyelimuti membuat sepasang netranya mulai mengembun.
"Tidak ada yang harus dimaafkan Seanie, karena kau tidaklah bersalah," tutur Erlan.
Sosok gagah yang hanya mengamati interaksi orang-orang dalam diam, menumbuhkan keinginan Erlan untuk mengajak berbicara. "Kenapa kau lakukan itu? Apa kau tidak takut jika aku merebut kembali wanita ini karena aku tidak jadi mati dengan cepat?"
Kalimat terang-terangan Erlan, mengundang pertanyaan di otak Allesya. "Apa yang telah dilakukan Sean kepada Erlan?" batinnya berkata.
Di sisi lain, nyatanya ada hati Emily yang kembali meraup kepedihan. Padahal belum lama ia menyatakan perasaannya, namun Erlan seolah melupakannya dengan begitu cepat tanpa memberi jawaban terlebih dahulu.
Sean menyeringai sinis. "Aku tinggal meminta Dokter untuk mengambil kembali ginjalmu dan kau tinggal menunggu jemputan dari malaikat maut," timpal Sean seolah menekankan bahwa Erlan tidak akan mampu merebut kembali Allesya darinya.
"Kau seperti tiran. Sepertinya aku tidak akan mampu melawanmu, terlalu berat bersaing denganmu," selorohnya. Terlihat sekali ia tengah menahan tawanya agar tidak pecah seraya memegang bagian tubuh yang terdapat jahitan operasi.
"Ck! Kau bahkan mengakui kehebatanku sebelum berperang, lemah," cebiknya.
"Aku hanya berusaha sadar diri. Menempatkan diri di posisi yang seharusnya, Sean," ucapannya terjeda disusul helaan napas ringan. "Aku ... ingin berterima kasih kepadamu?" ucapnya, berasal dari ketulusan hati.
Tak kalah bersyukurnya, Emily pun ikut menimpali. "Aku sungguh tidak tahu bagaimana caranya membalas kebaikanmu, Sean," tersenyum di sela keharuannya. Titik-titik basah kembali menggenangi telaga beningnya.
Sementara itu, kebingungan tengah merayapi pikiran Allesya karena kesulitan mencerna percakapan mereka. Membuatnya terlihat bodoh akan ketidakmengertinya. "Bisakah kalian menjelaskannya, apa yang sedang kalian bicarakan? Apa sebenarnya yang telah dilakukan Sean?" tanyanya mencari tahu.
🍌
🍌
🍌
__ADS_1
Bersambung~~