
Di sebuah ruang rawat inap Rumah Sakit. Seorang wanita paruh baya tengah terbaring lemah di atas ranjang. Terlihat beberapa alat medis terpasang di tubuhnya. Setelah menjalani operasi cedera otak enam jam yang lalu, sepasang mata masih terpejam akibat efek anestesi.
Henry menatap sendu muka pucat Sarah yang masih terlelap. Sepasang tangan keriputnya terus terulur memberi belaian kasih sayang di kepala yang terbalut kain perban.
Ada sedikit kelegaan yang menyingsing ketika Dokter mengatakan Sarah sudah bebas dari masa keritis. Rasa syukur yang begitu besar turut meliputi karena sang Putri bisa selamat dari tragedi kecelakaan maut tersebut. Mengingat keadaan mobil yang membawanya ringsek hingga tak berbentuk adalah hal mustahil jika dipikir secara logika bahwa penumpang di dalamnya masih bisa bertahan hidup.
Akan tetapi, janganlah kita berlupa diri bahwa sesungguhnya kehendak Tuhan melebihi akal logika manusia. Setitik kasih sayang yang terulur dari tangan-Nya, maka keajaiban yang akan kita terima. Percayalah, Tuhan menyayangi para umatnya melebihi di atas segalanya, meski cara yang kita terima tidaklah selalu sama.
Menyudahi lamunannya, Henry menggiring muka ke arah sudut ruang lainnya. Menelisik seonggok daging bernyawa yang tengah duduk sembari menyangga kepala yang terasa berat. Seperti halnya dengan Henry, ia juga merasakan hal yang sama.
Beberapa saat yang lalu ia menerima sebuah laporan hasil dari investigasi kepolisian yang mengungkapkan bahwa penyebab khusus terjadinya kecelakaan adalah tidak bekerjanya sistem pengereman mobil sebab tiga kabel penghubung putus sehingga laju mobil menjadi tak terkendali. Dan pihak penyelidik juga menambahkan, dilihat dari struktur potongan kabel ditengarai adanya sebuah kesengajaan yang berarti ada orang lain yang menjadi dalang dibalik kasus kecelakaan.
Lalu apa tujuan orang tersebut? Apa ada sebuah masalah yang tanpa sengaja tak ia ketahui? Kalau memang iya begitu, terus apa masalahnya?
Apakah sepak terjangnya di dunia bisnis selama ini pernah merugikan orang lain?
Berbagai jenis pertanyaan tengah berperang di dalam otak. Membuatnya semakin frustrasi.
Sean berkali-kali terngiang-ngiang akan bayangan buruk yang hampir saja menimpanya. Iya, kalau saja waktu itu tidak ada urusan penting yang begitu mendadak, sudah dipastikan saat ini dia sudah menggantikan David terbaring koma di atas ranjang Rumah Sakit.
Sebelum terjadinya kecelakaan, ia memang memerintahkan David sang Asisten untuk menggantikannya mengantar pulang Sarah ke mansion karena ada perihal penting yang harus ia kerjakan.
Suara pintu yang terbuka membuyarkan pikiran kalut kedua pria penghuni ruangan yang terjaga. Dengan serentak leher dibawanya berputar ke arah pintu.
Mimik muka tidak suka seketika tercetak jelas di muka Sean ketika melihat kedua sosok pria yang sangat tidak ia kehendaki kedatangannya menyembul dari balik daun pintu. Mereka adalah Erick dan Arthur.
Tak mengindahkan ekspresi tak bersahabat sang Putra, Erick mendekati ranjang tempat Sarah terbaring. Menatap nanar sang pujaan hati yang tengah terlelap setelah berjuang dari rasa sakit yang hampir meregang nyawanya. Bersimpuh di sebelah Sarah, diciumnya dengan penuh kehati-hatian tangan yang terpasang jarum infus tersebut. Seolah mengirim sinyal kekuatan untuk Sarah agar segera sadar.
Lain lagi dengan Arthur yang tengah memanggul kegamangan dan keresahan di pundaknya. Sungguh berat beban yang harus ia pilih. Butuh kekuatan hati untuk siap menerima sebuah resiko dari kenyataan. Tak sedikit keberanian yang harus ia kumpulkan hingga akhirnya sebuah kemantapan telah memutuskan.
Dibawanya tubuh untuk bersimpuh di depan Sean. Merelakan harga diri seorang pria yang semestinya dijaga. Keteguhan hati seorang putra yang rela menyematkan gelar sebagai anak durhaka pada dirinya.
"Mau apa kau?" kalimat sesederhana itu nyata terdengar begitu dingin dari bibir Sean. Meski sekilas rasa tertegun juga ia rasakan karena tindakan Arthur yang tiba-tiba. Pasti ada sesuatu yang tidak beres, begitu batinnya.
"Aku minta maaf untuk mewakili perbuatan kedua orangtua kandungku," ucap Arthur yang tentu membuat ketiga pria lainnya, Sean, Erick, dan Henry sontak bertanya-tanya.
"Arthur, ada apa sebenarnya?" Erickpun menyela.
Sedangkan Sean dan Henry masih bertahan dengan kening yang mengerut sembari menunggu jawaban dari pertanyaan yang telah diwakilkan Erick.
"Semua ini salahku karena terlambat memberi tahukan ke kalian," tertunduk dalam menyimpan penyesalan yang begitu besar. Samar-samar kedua bahu kekar itu terlihat berguncang karena tergugu.
°°°
__ADS_1
Di sudut pinggiran kota London, tepatnya di sebuah bangunan kecil berdesain Eropa klasik. Dua anak manusia berbeda jenis kelamin tengah berada di atas langit.
Ting!
Mereka bersulang untuk merayakan kemenangan diikuti kekehan bahagia akan penderitaan Sean Willson dan juga Sarah yang diyakini akan segera meregang nyawa di atas ranjang Rumah Sakit.
"Di lihat dari mobil yang mereka tumpangi, aku yakin mereka tidak akan bertahan hidup lebih lama," Rey berasumsi penuh percaya diri seraya memutar-mutar gelas berkaki berisi cairan emas di tangannya.
"Kau sungguh luar biasa Reymundo. Sekali tepuk dua nyamuk mati. Niatku hanya ingin menyingkirkan anak sialan itu, ternyata Tuhan memberi bonus kejutan lainnya yaitu Sarah yang juga menjadi korban kecelakaan tersebut."
"Akhirnya kau mengakui kemampuanku Inggrid. Harusnya kau memberi bonus lebih untukku."
"Ck! Sifat serakahmu ternyata tak pernah hilang Reymundo. Bukankah uang yang aku kasihkan tadi cukup untukmu untuk berlibur keliling dunia bersama para wanita j*lang?"
"Bermainlah denganku di atas ranjang. Ku anggap itu bonusku."
Inggrid tampak berpikir sejenak disusul tangan menuang minuman setan ke dalam mulut. "Bukan masalah, tapi setelah gadis di dalam kamar itu diambil oleh Tuannya."
Reymundo melirik penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangannya lalu menyungging tajam salah satu sudut bibir. "Sebentar lagi mereka akan datang membawa pergi gadis itu, kau tenang saja.
"Ngomong-ngomong kenapa sedari tadi dia belum juga sadar dari pingsannya?"
"Karena aku kembali membiusnya. Akan sangat merepotkan jika dia sadar sebelum Tuannya datang."
"Suruh Tuannya itu cepat datang," pinta Inggrid seolah sudah tidak ingin menunggu terlalu lama.
Kedua manusia penindak kriminal tersebut saling memagut bibir dengan begitu bergairah. Efek minuman beralkohol seperti turut membuat tubuh mereka kian memanas. Namun perc*mbuan mereka tidak berlangsung lama karena jeritan suara bel pintu.
Sebuah umpatan mencelos dari mulut Reymundo karena kesenangannya terusik. Gegas ia buka daun pintu tanpa memeriksa terlebih dahulu siapa yang datang.
BRAK!
Tubuhnya tiba-tiba terjerambab ke atas lantai dengan sangat kasar ketika sebuah kaki menendangnya tanpa permisi.
"Brengs*k! Beraninya kau!" maki Reymundo hingga mimik muka geramnya seketika berubah pasi di kala mata menangkap sosok pria yang tengah berdiri di depannya membawa aura ingin membunuh.
Tidak beda jauh dengan Reymundo, Inggrid juga sangat terkejut luar biasa. "Sean..?" lirihnya tak percaya.
Nyali mereka kian menciut dan mulai ketakutan karena ternyata Sean datang bersama beberapa petugas berseragam.
Tanpa banyak bicara, Sean kembali melayang tendangan lebih keras ke tubuh Reymundo yang masih tersungkur dan tanpa persiapan akan serangan brutalnya.
BUG! BUG! BUG!
Di angkat tubuh tak berdaya Reymundo dengan satu kali cengkeraman pada kerah bajunya.
__ADS_1
BUG! BUG! BUG!
Seolah belum puas, beberapa tinjuan mentah mendarat sempurna di muka yang sudah terlihat pasrah. Sean benar-benar tidak memberi kesempatan bagi lawan untuk membalasnya. Polisi yang datang bersamanya bahkan tampak kesulitan menghentikan keganasan pria yang sudah berselimut kabut amarah.
Sedangkan Inggrid tampak memberontak ketika dua orang polisi berusaha menangkap dan memborgol kedua tangannya. "Kalian mau apa?! Lepaskan!"
"Kami diperintahkan untuk menangkap anda."
"Apa alasan kalian menangkapku?! Aku tidak melakukan kejahatan!"
"Jelaskan saja dikantor."
Sementara itu di dalam kamar, sayup-sayup suara kegaduhan ternyata mampu merangsang kesadaran Allesya dari pingsan. Sepasang mata dibuat menyapu setiap sudut ruangan yang tampak asing baginya.
Namun suara keributan di luar nyata lebih menarik eksistesi perhatiannya. Dengan rasa pusing yang masih menggerogoti kepala ia turun dari ranjang dan melangkah menuju pintu keluar yang ternyata tidak terkunci.
Betapa terkejutnya Allesya ketika melihat Sean menghajar brutal Reymundo yang sudah tak berdaya dengan muka sudah babak belur tak berbentuk.
"Ayah.. Ibu..," lirihnya seraya membekap mulutnya menutup rasa tidak percaya meski sempat terlintas rasa lega ketika menyadari bahwa lelaki yang masih bertahtah di hatinya ternyata baik-baik saja.
Terus terang Allesya masih belum bisa memahami situasi saat ini. Dia sungguh tidak mengerti apa-apa. Rasa tidak nyaman pada tubuh yang memang sedang tidak sehat membuat ia sedikit kesulitan untuk mencerna keadaan.
"Tolong ringkus para bajingan ini sekarang dan jebloskan ke dalam penjara," seru Sean kepada si Petugas.
"Kak Sean..," Allesya melangkah lemah mendekati Sean yang ternyata langsung meresponnya dengan tatapan tajam.
Sempat terlintas rasa takut karena tatapan Sean yang begitu mengintimidasi namun tak mengurungkan tekatnya untuk kembali bersuara. "Kak Sean kau baik-baik saja?"
Dan apa-apa itu? Sebuah respon tak diinginkan kembali melukai hati kecil si Gadis. Seringaian kebencian kembali muncul dimukanya. "Kenapa? Kau terkejut kenapa aku masih hidup sekarang?Kau pasti kecewa bukan?"
Allesya seketika dibuat kebingungan akan lontaran kalimat Sean. Ingin sekali ia mencari kejelasan lebih namun tiba-tiba bayangan akan keadaan Sang Nenek muncul di ingatannya. Seolah klise-klise ingatan itu mendorongnya agar segera bergerak cepat menemui sang Nenek yang sedang tidak baik-baik saja.
"Kak, aku akan berbicara denganmu nanti. Aku akan pergi dulu sekarang."
Langkah yang dibuat tergesa seketika terhenti dengan kasar karena cekalan kuat tangan Sean. "Mau kemana kau? Hm? Aku tidak akan puas sebelum menghukummu."
🥺
🥺
🥺
Bersambung~~
Terima kasih masih setia nyimak cerita remahan rengginangku ini🥰 Jaga kesehatan kalian selalu ya.. Makan dan minum yang banyak agar punya energi untuk tekan tombol like dan mengetik komen🤭
__ADS_1
Lop You super 😘😘