Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 26


__ADS_3


Di sebuah kamar minimalis bernuasa girlie, Allesya bersandar pada headboard ranjang berbungkus seprai rumbai kesayangannya.


Mesin waktu masih menunjukkan pukul 8 malam. Masih terlalu awal baginya untuk tidur. Namun kali ini, gadis bersurai coklat itu memang berniat segera memejamkan mata, mengantar jiwanya terbang ke Negeri Kapuk. Melupakan sejenak rasa perih yang membuat hatinya merintih karena sang Pujaan Hati tak kunjung menyambut kasih.


Allesya merebahkan tubuhnya dan mengambil posisi ternyaman di balik selimut tebal nan hangat. Sepasang kelopak matanya mulai terkatup berharap jiwanya yang masih tersadar penuh segera terbuai ke alam bunga tidur.


Ting tong... Ting tong...


Allesya kembali membuka matanya ketika suara bel pintu berbunyi pertanda ada seseorang yang hendak bertamu atau hanya sekedar menyampaikan sesuatu.


"Nek biar Allesya saja yang membukakan pintunya," ucap Allesya setengah berteriak.


Ting tong...


Bel pintu kembali berdering di kala Allesya sudah hampir mendekati pintu yang menghubungkan langsung dengan luar rumah.


"Iya.., sebentar..," teriaknya kembali agar si pemencet bel pintu bisa sedikit bersabar.


CEKLEK!


Sepasang mata bulat beriris hazel itu sedikit membelalak ketika menyadari siapa tamu yang sedari tadi menekan bel pintunya dengan terkesan tak sabar.


"Kak Sean...," lirihnya tak percaya. Masih keheranan karena ini kali pertama si Kakak Tampannya itu berdiri langsung di depan pintu rumahnya.


"Apa kau tidak berniat mempersilahkanku masuk?" ucap Sean membuyarkan rasa tertegun gadis di hadapannya.


"Siapa yang datang Allesya?"


Alleysa memutar lehernya ke arah Fanne yang datang dari dalam. "Itu Nek, cuma kenalan Allesya saja," balasnya sekenanya.


Sean menautkan kedua ujung alisnya. Entah mengapa ada perasaan tidak terima ketika Allesya menganggapnya hanya sekeder kenalan.


"Cuma kenalan katamu?" gumam Sean setengah menggerutu. Sedangkan Allesya hanya membalasnya dengan ringisan hambar.


"Sayang, jangan biarkan tamu berdiri terlalu lama di depan pintu, itu tidak sopan," tutur Fanne.


"I-iya Nek," jawab Allesya seraya membuka lebar daun pintu, mempersilahkan Sean masuk kedalam gubuk sederhananya.


Setelah Sean memperkenalkan diri dan melewati beberapa obrolan ringan dan hangat, Fanne akhirnya memilih kembali ke kamar. Memberi ruang kepada kedua pemuda pemudi tersebut agar lebih nyaman untuk saling berbincang.


Sekarang tinggalah mereka berdua di ruang tamu minimalis namun terlihat bersih dan rapi.


Suasana hening sesaat. Keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Sean maupun Allesya paham betul dengan situasi yang sedang melingkupi mereka saat ini. Hingga akhirnya suara dehemam Sean memecahkan suasana canggung.


"All,"


"Oya, bukankah Kak Sean tadi bilang ingin minum kopi? Sebentar ya, Allesya buatkan kopi dulu," gadis itu memotong kalimat Sean duluan yang tentu saja sukses membuat hati si Pria Tampan itu tersentil.


Selang tidak lama, Allesya membawa nampan berisi dua cangkir kopi panas.


"Silahkan diminum Kak, selagi kopinya masih panas," ucap Allesya setelah meletakkan dua cangkir kopi tersebut di atas meja berhias vas hias yang dipenuhi bunga lili.


Mencubit cangkir kopi lalu mensesapnya perlahan, namun matanya berkali-kali melirik ke arah Allesya yang terlihat lebih banyak diam kali ini.


Sungguh Sean sangat tidak biasanya akan sikap Allesya yang jauh dari kata berisik. Pria itu juga tak bosan-bosannya menyapu penampilan si Gadis yang memang masih pertama ia melihatnya.


Sebuah bando bludru beraksen pita berwarna putih melekat cantik pada rambutnya yang dibiarkan tergerai panjang sepunggung. Babydoll terusan sebatas lutut bermotif Hello Kitty juga tampak membungkusi tubuh kecil namun diyakini sangat berisi di dalamnya. Tentu saja Sean sudah mengetahui hal itu karena bayangan tubuh polos Allesya masih sering menghantui pikirannya hingga membuat ia kesulitan untuk mengenyah bahkan melupakannya.

__ADS_1


"Kau sudah mau tidur?" sekali lagi, Sean mencoba membuka pembicaraan untuk memecahkan suasana yang tidak biasa ia alami.


Allesya mengangguk pelan dengan kedua tangan menangkup cangkir kopi, namun sedetik kemudian ia menggeleng cepat, mengoreksi jawaban melalui bahasa tubuhnya.


Sean mendengus geli melihat tingkah Allesya. "Tidak seperti biasanya kau banyak diam, itu tidak cocok untukmu," candanya.


Allesya tersenyum simpul. Bukanlah sesuatu yang dibuat-buat jika saat ini ia lebih hemat dalam berkata. Kali ini suasana hatinya memang tidak secerah biasanya. "Aku sedang badmood saja," jawab Allesya tanpa melihat ke arah Sean. Menyibukkan diri dengan menghirup aroma pekat kopi yang menguar bersama kepulan asap putih yang menari-nari di atas cangkir.


"Maaf," muka cantiknya sontak tergiring ke arah Sean ketika sebuah kata maaf meluncur dari bibir yang sudah beberapa kali menciumnya tersebut.


Namun hanya untuk kesekian detik saja sebelum akhirnya Allesya kembali memutus tautan matanya dengan mata teduh Sean yang sedari tadi tak lepas memandangnya.


Senyuman simpul menyimpan perih terlukis jelas di muka cantiknya hingga suara helaan napas panjang terdengar iklas. "Tidak apa-apa, Kak Jenny memang lebih membutuhkan bantuanmu," ucapnya tulus.


"Ternyata dia tadi melihatnya," batin Sean.


"Kenapa kau tidak langsung menegurku tadi?" tanya Sean ke Allesya.


"Aku tidak sanggup," jawaban Allesya sepertinya tidak memberikan kepuasan untuk Sean ditandai munculnya kerutan di dahinya.


"Aku tidak sanggup melihat cara Kak Sean memandang Kak Jenny yang penuh akan damba dan cinta makanya aku tidak menegur Kak Sean," beber Allesya yang terpaksa mengorek kembali rasa perih hatinya.


"Kau begitu jujur," timpal Sean tak berusaha menampik ucapan Allesya yang memang benar adanya.


"Bukannya dari dulu aku selalu jujur tentang perasaanku ke Kak Sean, meskipun hingga kini cintaku selalu bertepuk sebelah tangan," aku Allesya lalu menyeruput cairan kafein yang tidak lagi panas.


Cinta bertepuk sebelah tangan? Bukankah Sean juga pernah merasakan hal yang sama seperti Allesya. Seharusnya dia sudah sangat tahu seperti apa sensasi rasa luka yang tertoreh tajam di hati gadis yang selalu ia abaikan cintanya. Akan tetapi, kenapa tak sedikitpun jiwanya tergerak untuk mengobati keperihan pada hati kecil Allesya yang sebenarnya sangat rapuh? Entahlah.


Sean kembali menyesap kopi yang tak lagi terisi penuh pada wadahnya. "Kopinya sangat manis," ucap Sean mengalihkan topik pembicaraan yang sejujurnya membuatnya dilema akan perasaannya.


"Ah benarkah? Maaf aku lupa kalau Kak Sean tidak begitu suka manis. Aku akan membuatkanmu kopi yang baru," Allesya yang hendak beranjak harus mengurungkan niatnya karena tangan besar Sean menahannya.


"Apa kau sangat menyukai coklat dan bunga?" tanya Sean kepada Allesya.


Melihat tumpukan coklat di atas meja serta beberapa buket bunga yang tertata rapi pada rak minimalis ruang tamu tentu saja menumbuhkan sebuah asumsi bahwa Allesya memang menyukai coklat dan bunga.


"Iya, tentu saja," jawabnya.


"Pantas saja begitu banyak coklat dan bunga di sini. Apa kau tidak terlalu banyak membelinya?" Sean terlihat sibuk mengamati satu persatu benda-benda yang menjadi topik perbincangan saat ini.


Allesya menggelengkan kepala. "Semua itu bukan aku yang membelinya," ia mengambil sebungkus coklat dan membukanya lalu menyodorkan ke mulut Sean. "Apa Kak Sean mau? Coba cicipi, tenang saja karena ini cokelat hitam jadi tidak terlalu manis," jelasnya sehingga membuat Sean tidak bisa menolak coklat yang masih tertodong di depan mulut. Satu gigitan dirasa sudah cukup jika hanya sekedar mencicipi.


"Apakah nenekmu yang membeli semua ini untukmu?" rasa penasaran membuat Sean kembali bertanya.


Sekali lagi, gelengan kepala menjadi jawaban pembuka. Kali ini sebuah senyuman tipis ikut menyertai. "Coklat itu dari anak-anak Judoka yang aku latih, bunga itu dari kakak kelasku dulu, dan bingkisan disana dari pelanggan kafe tempatku bekerja dulu. Terus yang itu itu dan itu aku tidak tahu dari siapa," papar Allesya terkesan santai seraya menujuk satu persatu benda yang ternyata dari para pengagumnya.


Sean seketika tercengang setelah mendengar jawaban Allesya dari pertanyaannya. Memang tidak bisa dipungkiri, Allesya memang memiliki muka cantik alami dan tentunya memiliki lekuk tubuh seksi dan menggoda di balik kain yang selalu membungkusnya. Begitulah yang dipikir Sean mengakui kelebihan Allesya.


"Kak, ini sudah malam. Kau ingin pulang atau bermalam di sini sekalian?"


"Apa aku boleh bermalam di sini?"


"Tentu saja boleh," jawab Allesya membuat Sean menyeringai di dalam hati. Dia sudah membayangkan akan tidur satu ranjang dengan Allesya.


"Tapi kau tidur bersama nenekku," sambungnya kembali membuat Sean seketika bermuka masam.


"Ck! Yang benar saja," nada bicaranya terdengar kecewa.


"Kak Sean, ada apa dengan nada suaramu itu?" Heran Allesya.

__ADS_1


"Bukan apa-apa. Baiklah aku akan pulang sekarang," Sean beranjak dari duduknya dengan malas. Entah mengapa, rasa ingin tetap tinggal lebih lama bersama Allesya muncul begitu saja di benaknya.


BRUK!


Tiba-tiba Sean kembali mendaratkan tubuhnya di sofa. "Apa kau tidak ingin menahanku agar tetap tinggal?"


Allesya yang sudah berdiri terlihat berpikir. "Tapi di sini hanya ada dua kamar. Kamarku dan kamar nenek."


"Aku bisa tidur di kamarmu."


Allesya menggeleng cepat. "Tidak, Allesya tidak mau," tolaknya tegas.


Sean mendengus geli melihat reaksi Allesya yang tampak menggemaskan. "Manis sekali," batin Sean.


"Baiklah sebaiknya aku pulang saja. Lagian kau juga sudah secara halus mengusirku," kali ini ia memang berniat akan pulang.


"Allesya tidak bermaksud mengusir Kak Sean, tapi..,"


"Iya iya aku mengerti," sela Sean memotong ucapan Allesya.


Allesya mengekori Sean yang berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pelataran rumah. Namun pria itu tiba-tiba memutar tubuh sehingga membuat Allesya menabrak dada bidangnya karena telat mengerem langkahnya.


"Kak Sean kenapa kau berhenti tiba-tiba?" protesnya.


"Apa kau sudah memaafkanku?" Sean ingin memastikan kembali bahwa Allesya sudah memaafkannya sebelum ia benar-benar pulang.


"Sudah," jawabnya singkat.


"Kalau begitu beri aku sesuatu yang manis."


"Bukannya Kak Sean tidak begitu menyukai yang manis-manis?"


"Tapi aku menginginkannya sekarang."


"Baiklah aku akan membawakanmu coklat-coklat tadi ya," Allesya berniat masuk ke dalam rumah untuk mengambil beberapa bungkus cokelat. Namun Sean gegas mencegahnya dengan menarik tubuh kecil itu hingga menempel sempurna pada tubuhnya.


CUP!


Satu kecupan manis mendarat indah pada bibir ranum Allesya.


"Kak Sean..! Lagi-lagi kau menciumku. Jelas-jelas kau tidak menyukaiku tapi kenapa kau selalu menciumku sesuka hatimu?" sungut Allesya karena kesal dan mendorong tubuh Sean kemudian berlari masuk ke dalam rumah.


"Allesya.. Allesya.. kenapa kau begitu manis?" monolog Sean setelah tubuh Allesya tenggelam di makan daun pintu rumah. Ia tampak mengusap bibirnya yang baru saja sukses mencicipi manisnya bibir gadis kecil berbeda usia 7 tahun lebih mudah darinya tersebut.





Bersambung~~


VISUAL SEAN WILLSON



VISUAL ALLESYA


__ADS_1


...Para readers kesayangan.. Di mohon tekan gambar like setelah membaca setiap babnya ya.. Hukumnya wajib. Maaf kalau Nofi maksa🤣...


__ADS_2