
Setelah kejadian malam itu, Allesya tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa. Pagi berangkat kerja dan pulang di sore hari. Bahkan sesekali ia masih sempat mengunjungi dojo, sebuah bangunan tempat para judoka berlatih.
Iya, Allesya memang sudah memutuskan untuk berhenti melatih judo dari awal dia mulai bekerja di kediaman keluarga Willson. Selain gaji yang dia dapatkan sudah lebih dari cukup, ia memilih mengisi sisa waktu luangnya bersama sang Nenek.
Apalagi, semenjak setelah kedatangan Reymundo yang menggemparkan di malam itu, Allesya selalu dirubung sebuah perasaan tak nyaman yang sangat sulit ia gambarkan secara transparan.
"Kak Sean..," lirihnya kembali kecewa karena lagi-lagi ia kalah cepat. Mobil Sean sudah melaju pesat melewati gerbang dan meninggalkan mansion. Padahal sudah beberapa hari ini, dia jarang sekali bertemu si Pangeran Berkuda Putihnya tersebut.
Ia menatap sedih bekal sarapan yang tergantung di tangannya setelah mobil yang di tumpangi Sean mengecil dan menghilang. "Sepertinya bekal sarapan ini memang rejeki Paman Baul," gumamnya lalu memberikan kotak bekal itu kepada Baul lalu lanjut manapaki kaki menuju bangunan besar di depannya.
"Allesya, kau baru datang?" tundukkan kepalanya seketika terangkat ketika suara Henry menyapanya terlebih dahulu. Mungkin dia tidak akan menyadari keberadaan Henry kalau saja pria tua itu tidak menegur.
"Ah, Kakek.., iya Kek, Alle baru saja datang," jawabnya seraya memaksa untuk tersenyum menutupi kesedihan.
"Ada apa dengan muka kusutmu itu Allesya?" tanya Henry yang nyatanya bisa dengan mudah membaca mimik muka si Gadis.
"Apa sangat terlihat jelas ya Kek?" Akhirnya ia menyerah untuk tetap terlihat baik-baik saja.
"Tentu saja. Kakek sangat tahu karena kau itu bukan gadis yang pandai menutupi perasaanmu. Kau akan tersenyum lebar di saat bahagia, menangis tersedu-sedu ketika bersedih, marah meledak-ledak ketika kecewa, dan kau bahkan terus mengejar ketika mencintai seseorang," kelakar Henry dan Allesya hanya tersenyum masam. Sebegitu payahnyakah aku dalam menyembunyikan perasaan? Begitu pikirnya.
"Apa yang membuatmu bermuram durja?" tanya Henry kembali.
"Tidak ada hal serius kok Kek, Allesya hanya rindu saja sama Kak Sean. Sudah satu minggu kami tidak saling tegur sapa, mungkin dia memang sedang sibuk," terangnya yang mencoba memaklumi. Lagian dia juga tidak ingin terlihat terlalu menyedihkan di depan Henry.
Emang, selama satu minggu Sean terkesan menjauhi Allesya, pria itu bahkan sama sekali tak merespon kiriman pesan singkat dan panggilan telepon darinya.
"Sepertinya dia sedang sibuk mengurus perencanaan proyek barunya. Dia bahkan jarang tidur di rumah seminggu trakhir ini. Sesekali ia akan menjenguk Sarah di malam hari kemudian pergi lagi. Dan tadi pagi dia kembali ke rumah itupun hanya untuk mengambil barangnya sebelum berangkat kerja," bebernya panjang lebar.
"Terus Kak Sean akan menginap di mana kalau tidak pulang ke rumah Kek?" Allesya masih penasaran.
__ADS_1
"Biasanya dia akan menginap di apartemen pribadinya yang terletak tidak jauh dari kantor."
"Apartemen? Apa mungkin waktu itu Vera yang mengaku sebagai kekasih Kak Sean sedang berada di apartemennya? Apa mereka sungguh berpacaran? Terus apa yang mereka lakukan di dalam apartemen? Apa jangan-jangan?Tidak tidak tidak, itu tidak mungkin. Aku tidak boleh asal tuduh," ia terus berkutat dengan pikirannya yang berkecamuk.
"Allesya, kenapa kau malah bengong? Tidak sedang ada masalah -kan antara kau dan cucuku?" teguran Henry sontak menarik kembali pikirannya dari lamunan.
"T-tidak kok Kek, kami baik-baik saja," kilah Allesya.
Sebenarnya dia tidak paham dengan situasi saat ini. Jika dikata tidak sedang ada masalah, tapi Sean terkesan menjauh. Akan tetapi jika dikatakan sebaliknya, terus apa masalahnya? Allesya sungguh tidak mengerti. Lidahnya sudah sangat gatal ingin bertanya langsung ke Sean akan perubahan sikap yang terkesan mendadak.
"Oya, apa Kakek sudah mengingatkannya agar segera pulang setelah kerja?"
"Tentu saja sudah, katanya dia usahakan untuk pulang ke rumah nanti sore," jawab Henry.
"Syukurlah Kek. Soalnya kemarin Tante berkata kalau dia ingin membuat kue ulang tahun dengan tangannya sendiri untuk Kak Sean. Kalau Kak Sean tidak pulang, Tante Sarah pasti sedih," ucap Allesya yang sukses membuat Henry terperangah.
"All, apakah benar yang kau katakan tadi?" Henry mengoreksi perkataan Allesya. Barangkali dia salah dengar atau Allesya yang salah bicara.
°°°
Wajah haru penuh bahagia tersemat indah di muka yang tak lagi muda. Desiran hangat mengalir alami di dalam dada. Melihat sang Putri tampak sibuk mengaduk adonan kue sungguh sesuatu yang sangat ia rindukan. Mengingatkannya kembali ke masa-masa di mana Sarah kecil hobi sekali bermain dengan hal-hal yang berbau pastry dan bakery.
Perubahan Sarah memang begitu signifikan. Dari kembalinya senyuman yang telah lama menghilang, guncangan jiwa berangsur-angsur tentram hingga seperti yang di lihat saat ini, membuat Henry berkali-kali mengucap rasa syukur di dalam hati.
"Allesya, kau adalah malaikat cantik yang dikirim Tuhan untuk kesembuhan Sarah," lirihnya hampir tak bersuara. Kekaguman akan sosok Allesya terlihat jelas pada utasan senyuman di bibirnya.
"Fyuuhh..! Akhirnya selesai juga. Tante kau sungguh luar biasa," merasa puas melihat hasil karya Sarah yang terlihat cantik dan tentunya juga lezat.
"Kau memang masih seperti putriku yang dulu Sarah. Pandai membuat kue," puji Henry seraya membelai sayang kepala Sarah.
Kenyamanan akan belaian sayang di kepala, membuat Sarah menggiring pandangan ke arah muka tampan terhias garis-garis tanda menua sang Ayah.
__ADS_1
"Aku.., memang masih putri Papa, selamanya putri Papa," ucapnya dengan pandangan teduh menyejukkan jiwa.
Setelah sekian lama akhirnya Henry mendengar kembali kalimat indah yang selalu di ucapkan Sarah di masa lalu. Ia peluk tubuh kurus itu, meluapkan segala rasa menyenangkan yang mungkin tidak akan cukup jika hanya di ungkapkan dengan untaian kata.
Suasana haru juga dirasakan Allesya. Muka cantiknya terus mengulas senyuman bahagia meski mulut tak henti-hentinya mencicipi buttercream yang begitu manis dan lumer di dalam mulut.
Allesya yang semula dalam posisi duduk tiba-tiba berdiri ketika indera pendengarannya menangkap suara mesin mobil yang sangat diyakini adalah milik Sean.
"Kek, sepertinya Kak Sean sudah pulang," ucapnya antusias.
Sungguh, ia sudah sangat rindu ingin bertemu dengan si Raja hatinya yang sudah beberapa hari tidak saling bertatap muka.
"Kek, Allesya ke depan dulu ya, ingin menemui Kak Sean," tanpa menunggu respon dari Henry ia gegas mengayun kaki menuju pintu depan.
"Allesya jangan lari," tuturnya setengah berteriak.
Ayunan kaki yang semula bersemangat tiba-tiba berhenti di depan ambang pintu. Senyuman yang menyingsing seketika tenggelam. Rona muka cerah berubah suram. Baru beberapa detik yang lalu rasa senang tak terkira bermekaran di hatinya namun keindahan rasa itu dirampas paksa oleh pemandangan menyesakkan.
Bagaikan kelopak bunga dandelion yang berguguran karena selalu pasrah akan terpaan angin di musim panas. Hati kecilnya kian merapuh dan lemah.
"Kak Sean.., kenapa?" lirihnya terluka.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Terima kasih masih setia menyimak karya recehku hingga episode ini. Mohon tinggalkan jejak kalian berupa like dan komen agar Nofi tahu kehadiran kalian😘😘 Karena kalian Nofi senang. Love you❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1