
Malam panjang berselimut kebahagiaan. Dua raga yang baru saja hanyut dalam manisnya bercinta, merayakankan kepuasannya dengan kecupan dan dekapan hangat.
Jari-jari besar Sean membelai lembut punggung polos Allesya, mengitari bekas luka yang menghiasi kulit putih nan mulus itu. "Aku ingat, dulu aku lah yang mengobati lukamu ini, dan waktu itu kau sempat menolaknya karena tidak ingin aku melihat punggungmu," ucapnya dengan pandangan menerawang, mengulang kembali memori kisah di masa lalunya bersama Allesya kecil.
"Dan kau berjanji akan menikahiku jika aku membiarkanmu melihat punggungku," sahut Allesya yang juga mulai terbawa akan ingatan di masa lalu.
Bayangan akan Allesya kecil yang memiliki banyak luka di tubuh, memayung hati Sean dengan perasaan miris dan kasihan. Sungguh Allesya kecil yang malang.
Mengecup bekas luka itu, berharap dapat menghapus jejak kelam di masa lalu wanitanya. "Maaf, waktu itu aku tidak langsung mengenalmu bahwa kau adalah Esya, gadis kecil yang ku beri janji untuk aku lindungi dan aku nikahi."
Semula berada dalam posisi tengkurap, Allesya memutar tubuhnya untuk menghadap Sean, memindai muka tampan milik si Pangeran Berkuda Putihnya dengan tatapan dalam penuh makna. "Maaf, seharusnya aku segera bercerita kepadamu waktu itu. Ini juga salahku," terangnya, tak ingin membiarkan kata maaf hanya terlisan dari bibir tipis Sean saja.
"Kau tidak salah, Allesya. Aku lah yang telah ingkar dengan janjiku dan justru menoreh luka di hatimu, mengabaikan ketulusan cintamu. Andai.."
CUP!
Kalimat yang belum sampai akhir harus terputus saat sepasang bibir mungil Allesya mengecup bibir kissable Sean. "Kak Sean sudah menikahiku, melindungiku, dan mencintaiku sekarang. Bukankah itu bentuk dari bukti janjimu?"
Menelusup masuk ke dalam rengkuhan tangan kekar Sean, mendengarkan irama berdetak di dalam rongga dada. Sokongan satu rasa cinta teramat dalam menyokong tabuhan yang kian bertalu-talu. "Aku mendengarnya," ucap Allesya, masih setia menempelkan telinga di dada bidang pemberi kenyamanan baginya.
Menarik kedua ujung bibir hingga terbentuk sebuah senyuman tampan. Tangan menarik tubuh Allesya agar lebih tenggelam ke dalam pelukan. "Bagaimana menurutmu? Apa sudah berbeda?"
"Masih sama seperti dulu, degubannya begitu cepat, aku juga masih bisa merasakan getarannya. Apa Kak Sean baik-baik saja?"
"Aku akan tetap baik-baik saja selama kau bersamaku," mengecup pucuk kepala Allesya. "Lagian detak jantung ini bukan karena aku sakit Allesya, tapi karena ada kamu di sini."
"Apa kalau aku tidak di sini, getaran itu menghilang?"
"Bahkan dengan hanya membayangkan wajahmu saja, sukses membuatku terkena serangan jantung," ungkapnya sungguh dari hati.
"Kau sungguh pintar membuatku senang dengan perkataanmu Kak," cebiknya.
"Di saat aku kehilanganmu waktu itu, aku sungguh frustrasi Allesya, karena keberadaanmu yang selalu membawa cinta nyatanya sudah membuatku kecanduan tanpa ku sadari. Aku menggila, karena pemilik obat debaran jantungku tak terlihat di depan mata, yaitu kau."
"Aku usahakan tidak akan menghilang lagi."
"Berjanjilah."
"Tergantung."
"Maksudnya?"
"Tergantung seberapa besar tekadmu mengikat jiwaku ke dalam cintamu."
"Akan aku buktikan."
__ADS_1
"Sekarang tidurlah, ini sudah terlalu larut. Kau pasti lelah," imbuhnya lagi.
"Tapi bagaimana aku bisa tidur?" Allesya menggiring pandangan ke arah tangan Sean yang masih bermain di puncak gunungnya.
"Apa ini mengganggumu? Aku rasa tidak bukan? Tidurlah," masih lanjut memainkan jarinya bahkan tangannya kian merayap ke mana-mana.
"Kak Sean, tolong hentikan," mohon Allesya.
"Tidurlah Allesya, aku ingin bermain sekali lagi."
"Apa kau bercanda? Lidahmu menyuruhku tidur tapi tanganmu masih berkelayapan."
°°°
Keesokan harinya.
Jari-jari lentik Allesya begitu telaten memasang dasi kerja di leher Sean, namun ulah nakal sang Suami membuat pekerjaannya tak kunjung selesai.
"Kak Sean, bisakah kau diam sebentar? Kau membuat pekerjaanku semakin lama," protesnya sedikit kesal karena kecupan terus mendarat bertubi-tubi di mukanya.
"Jangan larang aku, Allesya," tangkas Sean.
Tergelak renyah, gelitikkan di perutnya memberi sensasi teramat geli. "Kak Sean, hentikan! Aku bisa kencing di celana nanti," mohonnya.
Menyudahi gelitikkannya lanjut merangkum tubuh Allesya dengan kedua tangan jenjangnya. "Aku akan melepasmu, tapi beri aku satu kali jatah dulu sebelum berangkat kerja," bisiknya menggoda.
Menyungging senyuman khas yang begitu menawan untuk membenarkan perkataan istri kecilnya. "Mau tidak mau aku harus mendengar perkataanmu."
"Kak Sean, hari ini aku tidak ada jadwal kuliah dan seharian berada di rumah akan sangat membosankan. Bolehkah aku mengundang temanku untuk datang ke apartemen?"
"Kubur dalam-dalam permintaanmu itu jika teman pria yang kau maksud, aku tidak menyukainya," tandas Sean penuh peringatan.
"Hissh..! Temenku itu Lilly. Seratus persen wanita," terangnya setengah cemberut.
"Baiklah, itu lebih baik kalau dia yang datang."
"Makasih ya."
"Ini dulu," menunjuk bibirnya sebagai syarat.
"Sedikit menunduklah," pinta Allesya agar bisa menjangkau benda kenyal yang suka sekali mematuk dirinya itu.
CUP!
"Sudahkan?"
"Terima kasih."
__ADS_1
°°°
"Lilly, kau ingin minum apa?" ucap Allesya setengah berteriak.
"Terserah kamu saja, yang penting jangan terlalu manis dan jangan terlalu hambar. Yang dingin kalau ada, oya kalau ada yang bersoda itu lebih baik," celetuknya tanpa jeda koma pada kalimatnya.
"Ck! Kau tadi bilang terserah aku. Apa aku tadi salah dengar?" cebiknya, seraya mengambil beberapa minuman kaleng dan cemilan. Diraupnya bersamaan, dibawa menuju ke ruang tamu.
"Waah..kenapa kau banyak sekali membawakanku cemilan? Apa kau ingin membuatku menjelma menjadi babi betina?" Lilly menelisik satu persatu cemilan yang tampak menggunung di atas meja.
Keripik kentang, coklat, bolu kering, jagung gandum, biskuit keju, dan permen. Semua camilan anti diet. Hanya dengan satu gigitan, 1000 kalori menyebar ke dalam tubuh.
"Kalau tidak ingin gemuk, jangan dimakan, cukup dilihat saja, biar aku yang makan," seloroh Allesya.
"Aku sangat iri denganmu, meski jutaan kalori yang terasup di dalam tubuhmu, kau tetap kurus. Apalah dayaku yang hanya makan angin tubuh langsung membengkak," memasang muka sedih penuh sesal namun tak selaras dengan tindakan yang terlihat sudah mulai melahap sebungkus jagung gandum.
Allesya tergelak lirih, merasa lucu melihat sikap temannya yang konyol. "Kau masih sangat cantik Lilly dan kau itu tidak gemuk."
"Benarkah aku tidak gemuk?" muka langsung berseri terang seperti lampu jalanan kota.
"Cuma memiliki banyak daging saja."
Muka berseri seketika berubah datar sedatar-datarnya. "Apa tidak ada perkataan yang lain? Berdaging? Itu malah jauh lebih buruk," cicitnya.
"Sudah, katanya kau ingin mengajakku melihat film? Cepat buka laptopmu."
"Oya, sebentar," mengeluarkan Laptop dari tas dan mumbukanya dengan sangat semangat.
"Lilly apa kau yakin ini semua adalah film?" keheranan mengajak mata menelisik satu persatu file film yang berjajar rapi di dalam gallery folder.
"Iya tentu saja. Ayuk segera kita lihat, aku sudah tidak sabar."
"Oya, di apartemenmu tidak ada orang lain selain kita -kan?" imbuhnya lagi, memastikan.
"Hanya ada kita berdua saja."
❣
❣
❣
Bersambung~~
Terima kasih ya masih setia nyimak🥰 Maaf up sedikit telat dr biasanya, subuh-subuh ngetik sampek ngepot2 ni jari🤣
Jangan lupa kasih dukungan terus..🥰
__ADS_1