Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 88


__ADS_3


Sebagai ibu kota Perancis, Paris terkenal sebagai kota romantis di dunia. 'Je t'aime' bermakna 'aku cinta kamu', seuntai kalimat manis sebagai ungkapan perasaan ketika di Perancis.


Salah satu alasan yang membuat Paris dikenal sebagai kota cinta adalah berkat adanya ciri khas dari bahasa Prancis itu sendiri.


Konon bahasa Prancis disebut sebagai bahasa paling indah di dunia. Bahasa Prancis disebut juga sebagai bahasa yang sangat ekspresif.


Jika seseorang berbicara, mereka juga akan melakukannya dengan sebuah gesture yang antusias. Hal tersebut membuat orang-orang tertarik untuk berada di Paris dan membuat mereka betah berlama-lama.


Semua landmark dan berbagai hal yang dibangun di Paris harus diakui memang sangat pas dan berkesan romantis. Dipadukan dengan empat musim yang dimiliki semakin membuat Paris semakin indah dan menawan. Tak khayal jika banyak insan yang jatuh hati dengan kota ini dan mengajak pasangannya ke sana berkat keindahannya.


Sean sontak melirik ke arah Allesya melempar mimik muka penuh makna. Allesya yang bisa menangkap gurat-gurat maksud di muka Sean seketika kikuk.


"Gadis kecil, sepertinya aku harus berterima kasih kepadamu dan ini untukmu lagi," masih dalam posisi berjongkok, lima lembar 100 pounds kembali terulur di depan si Gadis Kecil.


"Yeyy...! Hari ini kau membuatku kaya Tuan, terima kasih," kembali meloncat kegirangan setelah merenggut lembaran pounds dari tangan Sean.


Mengayak gemas kepala berbalut tudung merah muda. "Pergilah, beli makanan lezat dengan uang ini," tutur Sean yang memang memiliki maksud terselubung. Tidak lupa mengambil bunga yang sudah dibelinya.


"Tapi bolehkan aku menciummu sebelum pergi? Aku selalu bermimpi memiliki suami yang tampan sepertimu kelak," pinta si Gadis kecil, tiada rasa sungkan sedikitpun.


Sean mendengus geli karena permintaan berani si Gadis Kecil yang terkesan centil. Berbeda dengan Allesya, tindakan si Gadis Kecil justru mengingatkannya akan kenangan memori di saat Sean menolong Allesya untuk turun dari pohon, lalu memberi ciuman di bibir Sean sebagai bentuk hadiah dan ucapan terima kasih.


Ia seperti melihat gambaran potret dirinya sendiri jika melihat polah si Gadis Kecil itu.


(Part ini ada di cerita Pernikahan Kontrak Jeff Dan Jenn ya, waktu itu Allesya masih berusia 15 tahun dan Sean masih mencintai Jenny. Ini pertemuan kali kedua mereka, setelah berpisah. Dan mereka belum saling menyadari kalau mereka adalah teman di masa kecil.)


"Boleh, tapi jangan banyak-banyak ya, karena muka tampanku ini aset berharga milik wanita cantik itu," menunjuk ke arah Allesya dengan ujung dagunya dan langsung mendapat delikan mata Allesya.


CUP!


Si Gadis Kecil terkikik senang setelah mengecup pipi Sean, melangkah di setiap lompatan gembira, membawa tubuh kecilnya menuju ujung jembatan, meninggalkan sepasang suami istri itu.


Sean beranjak dari posisi berjongkok, memutar tumit hingga empat puluh lima derajad hingga berhadapan dengan Allesya. Tiga langkah diambil, memangkas bentangan ruang jarak di antara mereka.


Gugup, di kala tubuh gagah itu sudah berada sangat dekat dengannya. "Sean, bukankah kau tadi berkata tidak mempercayai mitos?" Allesya mengingatkan kembali. Berharap Sean mengurungkan niatnya yang tercetus oleh cerita si Gadis Kecil penjual bunga tadi.


"Aku memang tidak percaya mitos Allesya, tapi tidak ada salahnya kita mencoba," muka tampan itu menatap lekat muka wanitanya diiringi senyuman nakal.

__ADS_1


Mengedar pandangan ke sekitar, ada beberapa pengguna jembatan yang berlalu lalang. "Akan sangat memalukan jika berciuman di tempat ini. Aku tidak mau," tolaknya, langsung memutar tubuh untuk melarikan diri.


"Aahhk! Sean!" pekik Allesya.


Niat kaki untuk melangkah berakhir kandas, kalah cepat oleh pergerakan tangan kokoh Sean yang melesat bagaikan angin, menarik tubuhnya hingga tenggelam sempurna ke dalam rengkuhan posesif.


Entah karena gugup yang melebihi batas wajar atau karena hangatnya napas Sean yang menyapu muka, yang jelas muka cantik itu sudah memerah seperti buah peach.


Oh ternyata bukan. Sepertinya bukan itu penyebabnya, melainkan tatapan hangat Sean yang melenakan. Di tambah lagi senyuman tipis terkesan nakal itu begitu mempesona. Meleleh sudah perasaan yang menguar dari seonggok daging di dalam rongga dada.


"Kau sangat cantik," lirih Sean memuji. "Jika kau malu pejamkan matamu."


Apa ini? Lidah Sean seolah menyimpan mantra sihir. Apa yang terucap olehnya langsung dipatuhi.


Allesya perlahan mengatup kelopak mata cantiknya. Malu seakan tak dirasa lagi, kecanggungan entah kemana rasa itu berimigrasi. Kebencian yang dulu mengekang hati perlahan pupus.


Menerima pasrah akan segala tindakan Sean kali ini. Dan bagaimana nasib gengsinitas yang beberapa hari ini mendominasinya? Apakah ikut menguap bersama angin?


Tunggu dulu... Kita lihat setelah ini.


CUP!


Dari sebuah kecupan bertransisi ke dalam lum*tan seksi, membawa diri Allesya tenggelam dalam keterbuaian. Sean bermain dengan sangat lembut dan sekali lagi Allesya terpesona. Hingga mulai membalas permainan bibir Sean. Kendati masih terkesan kaku tapi Sean menyukainya, ditandai oleh senyuman samar di sela aksi mencecapnya.


Sepasang anak manusia itu tenggelam ke dalam nikmatnya berciuman di atas jembatan harapan. Tak menghiraukan tatapan pengguna jembatan lain yang melintas. Serasa dunia milik mereka berdua dan yang lainnya hanya lalat lewat karena tersasar.


Tubuh mungil Allesya yang mulai kepayahan dalam berdiri, membuat Sean menyudahi pagutan bibirnya tanpa melepas rengkuhan tangannya.


"Fyuuuhh...!" kelegaan langsung dirasa ketika kebebasan meraup banyak udara kembali didapat.


Tangan yang sedari tadi mengepal erat karena tegang ditarik ke atas dan mendarat di dada. Meredakan detakan jantung yang masih bertabuh energik. Muka tertunduk, rasa malu yang sempat menghilang tiba-tiba kembali, tak berani membalas tautan mata Sean.


"Allesya...," panggil Sean dengan lirih.


"Iya Sean?" muka terangkat sekilas lalu kembali menunduk. Dia masih sangat malu.


"Aku sangat menyukai bibirmu."


"Ee?" kikuk.

__ADS_1


Senyuman merangkum muka Sean. "Bisakah kau memanggilku seperti dulu?"


Perlahan mulai memberanikan diri, mengangkat muka tertunduknya, membalas tatapan Sean, meski kecanggungan masih dirasa. "Haruskah?"


"Tidak harus, tapi aku menginginkannya. Aku sangat rindu caramu memanggilku dulu."


Menggigit bibir bawah yang masih membengkak karena ulah nakal Sean tadi. Menekan perasaan malu yang terus menggelitik.


"Jangan lakukan itu Allesya, bibirmu bisa semakin bengkak nanti," pinta Sean agar Allesya berhenti menggigit bibirnya. Gegas diusapnya bibir Allesya dengan ibu jari.


"Aku ingin mendengarnya sekarang," sambung Sean.


"Kak Sean..," lirihnya.


"Sekali lagi."


"Kak Sean..."


Pria itu tersenyum nakal, mendekatkan bibirnya ke daun telinga Allesya seraya berbisik. "Sekali lagi panggil aku, tapi sedikit mendesah seperti di dalam mimpi erotismu," godanya.


BLUSH...


Sean sukses membuat Allesya yang sudah malu kian malu.


"Aw..! Sshht!" rintih Sean ketika Allesya menghadiahi sebuah gigitan berdurasi singkat pada daun telinga Sean yang letaknya paling mudah dijangkau karena Sean masih dalam posisi menunduk ke arahnya.


"Dasar otak mes*m! Sekali mes*m tetap saja mes*m. Tidak ada obatnya di apotik manapun!" umpat Allesya kesal karena Sean lagi-lagi membuatnya malu setengah mati.


Tergelak, melupakan rasa sakitnya karena gigitan Allesya. "Ternyata kelinci kecilku sekarang suka menggigit ya."


Bersambung~~


Halooo... babnya agak pendek kali ini. Gpp ya..


Hwayoo... jangan lupa lo ya.. colek gambar like dan tinggalkan komen🄰


Meski Nofi agak sedih, karena banyak komen yang akhirnya disembunyiin sintem NT. Jadi nggak bisa baca dan balas.


Ya sudah, ayok bobok yok, dah nguantoook poll soale..🄱🄱

__ADS_1


Terima kasih atas segala apresiasi kalian di karyaku ini ya🄰 Wo ai nimenā¤ā¤


__ADS_2