Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 107


__ADS_3


Allesya dibuat terkesima di kala sepasang kakinya mulai melewati pintu besar memasuki gedung. Netra terus berotasi, menela'an situasi yang nyatanya belum bisa ia cerna sepenuhnya. Beberapa orang berseragam resmi berbaris rapi untuk memberikan jalan yang diikuti bungkukan tubuh sebagai sambutan penghormatan. Sementara Sean menuntun istri kecilnya itu tanpa melepas tautan jari-jemarinya. Menggiringnya untuk menyusuri lobby gedung utama.


"Selamat datang Tuan Sean dan Nona Allesya. Kami sangat senang atas kunjungan kalian," sambut ramah terlisan oleh Rasti Yulia selaku ketua pengurus ASD Foundation.


Sean membalas sambutan itu dengan anggukan kecil namun tak lepas dari senyuman tipis berwibawanya begitu juga Allesya yang mulai mendapat secercah jawaban bahwa diyakini suaminya merupakan salah satu tokoh penting gedung tempat ia berada saat ini.


"Saya akan mengantar Tuan dan Nona ke dalam ruang kantor utama, silahkan ikuti saya," Rasti mempersilahkan kedua majikannya berjalan terlebih dahulu.


Sorot mata para staff yang masih berbaris tampak mengantar kepergian Sean dan Allesya dari belakang. Menelisik penampilan mereka dari atas hingga bawah mencari sesuatu yang kurang, namun nyatanya sepasang suami istri itu terlalu sempurna, tidak ada yang cacat, membuat semua mata yang memandang berdecak kagum.


"Jantungku deg deg an Kak Esti, rasanya mau copot," celetuk salah satu staff bernama Zas Novia.


"Kenapa kamu?" tanya Esti tanpa melepas pandang takjub dari punggung kedua bosnya.


"Mereka kayak artis, cakep banget!" jawabnya gemas.


"Iya, rasanya ingin aku bawa pulang yang cewek buat dijadikan calon anak menantu, dan yang cowok untuk suami ke-dua," Esti terkikik.


"Huush! Sembarang kau itu Kak Esti, mimpinya jangan tinggi-tinggi nanti susah turun," sela Dina Yomaliana. "Lagian ingat umur, Tuan Sean cocoknya buat aku yang masih muda," imbuhnya lagi, dengan pandangan menerawang yang indah-indah tentang majikan pria berparas bulenya itu.


"Kalian itu ndeso ya, kayak nggak pernah lihat orang cakep saja," cebik Arthi Yuniar.


"Halah! Jangan munafik kamu, tadi aku lihat sendiri matamu yang paling jelalatan mantengin tubuh gagahnya Tuan Sean," tukas Ria Diana Susanti.


"Ee? Mana ada? Kau pasti salah lihat," kilah Arthi mulai salah tingkah.


"Awas ya, aku cerita ke suamimu kalau kau jelalatan," ancam Ria.


"Yah! Jangan!"


"Melihat muka cantik Nona Allesya aku seperti melihat mukaku di depan cermin, jangan-jangan dia kembaranku yang hilang," suara kenarsisan Rozh sontak menarik perhatian semua.


"Ck! Ck! Ck! Semua staff ASD Foundation sepertinya mulai tak waras dalam sekejap," celetuk Melisa Ekprisa.


Sementara dua staf yang paling muda bernama Anakim dan Cindy Aprilia tampak menangkup kedua pipinya masing-masing. Menampakkan ekspresi muka muka super mes*m.


"Ana, boleh tidak ya, bercita-cita menggantikan posisi Nona Alleysa sebagai istri Tuan Sean?" tanya Cindy ke Ana.


"Tidak boleh ... hanya aku yang boleh," balas Ana.


"Masih tertutup setelan Jas kerja saja tubuhnya sudah kelihatan kekar banget."


"Ayo nanti malam kita mojok, ngehalu bareng."


Selang tidak lama dua orang staff senior bernama Heni Nurr dan Ratna datang memberi instruksi kepada staff lainya agar segera bubar.


"Ayo Kerja kerja! Bukan malah ngerumpi. Apa kalian ingin makan gaji buta?" tegas Heni.


"Sudah cepat kembali kerja!" Ratna juga tak mau kalah menunjulkna eksistensinya sebagai senior.


Semua gerombolan staff yang sempat terlena akan pesona Tuannya yang paripurna pun memilih membubarkan diri dan tinggallah kedua staf senior itu.


"Rat, tadi kau sudah ambil fotonya si Abang seksi belum?" tanya Heni setengah berbisik seraya celingukan memastikan tidak ada yang mendengar ucapannya.


"Sudah bos, tenang saja," jawab Ratna sembari mengacungkan ibu jari.


°°°


Di dalam ruang kantor ketua pengurus ASD Foundation. Sean, Rasti, dan seorang pengacara bernama Ayu Widia terlihat sedang membahas seputar partisipasi penggerakan pembangunan amal terbaru yang sedang berlangsung.


Sementara Allesya masih setia menjadi pengamat dan pendengar yang baik meski tidak sepenuhnya ia pahami. Pasalnya Sean memang belum membicarakan terkait ASD Foundation kepadanya sebelumnya. Ketika diminta untuk ikut dalam perjalanan bisnis suaminya ke Jakarta, ia hanya patuh begitu saja tanpa adanya penolakan.


Hingga sebuah penyampaian jelas dari Ayu Widia selaku penasehat hukum ASD Foundation membuat wanita muda itu terperangah seketika.


"Kak Sean, apakah ini benar?" ia mencoba mengoreksi apa yang baru saja di dengarnya.


"Iya, Allesya. ASD Foundation adalah milikmu," Sean menegaskan.


"Tapi Kak, ini terlalu berlebihan."


"Ini sebagai salah satu bukti cintaku kepadamu, Allesya," Sean melabuhkan sebuah kecupan hangat di kening Allesya lalu turun di bibir dan memberikan lum*tan kecil.

__ADS_1


Rasti dan Ayu beberapa kali saling melempar pandang. Scene kemesraan yang tersaji di depan menggiring keduanya masuk ke dalam suasana kikuk sendiri. Bos yang berciuman, tapi mereka yang malu. Kendati hati tak mampu mengelak, kekaguman akan keharmonisan suami istri itu tetap ada. Sungguh, membuat iri siapa saja yang melihat.


"Haruskah aku menabur bunga di atas mereka biar lebih mendramatis? Ya Tuhan, tidak sabar menunggu hari H," batin si Rasti yang terbayang muka tampan calon suami.


"Hadeh..! Ini pasangan nggak lihat sikon dulu kalau mau bermesraan, nasib ... nasib," gumam Ayu yang ingin rasanya cepat-cepat pulang bertemu suami omesnya di rumah.


ASD Foundation adalah sebuah lembaga amal yang berpatisipasi dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial budaya, dan lingkungan dengan visi dan misi memutus mata rantai kemiskinan dan optimalisasi pelayanan pada masyarakat kurang mampu.


Yayasan amal ini sengaja dirintis oleh Sean sebagai salah satu wujud peleburan rasa bersalahnya kepada Allesya di masa lalu. Iya, di tengah kefrustasiannya mencari keberadaan Allesya yang tak kunjung ketemu, pria itu mendirikan ASD Foundation untuk mengenang segala ketulusan cinta yang pernah ia dapat dari uluran tangan lembut Allesya. ASD sendiri merupakan singkatan dari pemilik nama Allesya Seanie Damirich.


"Rasti bagaimana untuk persiapan kegiatan besok?" tanya Sean setelah menyudahi kegiatannya bersama Alleysa.


"Sudah hampir 100 persen, Tuan," lapornya.


"Bagus."


Sean menggiring mukanya ke samping, memandangi Allesya yang masih dalam mode terpukau. "Besok, aku masih akan membawamu ke suatu tempat."


°°°


Langit Jakarta mulai redup. Semburat senja telah menyapa. Memulas lukisan abstrak yang menawan di cakrawala. Seperti yang sudah dijanjikan, Sean membawa Allesya ke kediaman Damaresh untuk memenuhi undangan makan malam. Bukan acara makan malam yang terjalin sebagai patner bisnis, melainkan sebuah ikatan silahturahmi pertemanan di antara dua pria dewasa.


"Kau yakin tidak ingin sekalian ikut makan malam di sini, Kaivan?" tanya seorang wanita cantik berhijab itu.


"Jangan tahan dia, Ara. Biar dia pulang saja," ucap Damaresh bermaksud mengusir secara halus.


"Ya, biarkan aku pulang saja Ara, kalau lama-lama di sini, aku bisa terpesona denganmu," sahut Kaivan berniat menggoda sahabat bermuka temboknya itu. Untung tampan.


"Hanya aku yang boleh memanggilnya 'Ara', dan jaga pandangan matamu darinya jika tidak ingin aku congkel," kecam Damaresh. Kaivan tergelak, tak ada sedikitpun ketakutan akan kecaman yang diterima.


"Baiklah, karena urusanku sudah selesai, aku pulang sekarang."


"Iya pulanglah," usir Damaresh.


Suara deru mesin kendaraan bermobil menyeruak ke dalam halaman luas istana Damaresh. Mengalihkan perhatian ketiga anak manusia yang sedari tadi berdiri di depan pintu. Roda yang berhenti disusul terbuka lebarnya pintu mobil, menampakkan kedua sosok yang sudah sangat di nanti.


Kaivan yang menjabat sebagai Executive Assistant sekaligus sahabat Damaresh meraut wajah terkesima saat mata melihat seorang wanita muda keluar dari kendaraan besi tersebut. Tatapan kagum terus tertuju ke makhluk berparas cantik bak boneka barbie yang tengah berjalan mendekat. Terpesona, sungguh pahatan maha karya yang indah, seru batin Kaivan.


Kaivan tersentak samar, bangun dari keterpukauannya. "Ck! ternyata kau dan Damaresh sama saja. Terlalu pelit untuk berbagi," cebik pria manis itu, dan langsung mendapat dua tatapan tajam sekaligus, yaitu dari Sean dan Damaresh.


"Iya ... iya ... aku cuma bercanda. Tapi kalau kalian berubah pikiran untuk berbagi, panggil aku," seloroh Kaivan, meninggalkan kedua pria yang sama-sama memasang muka kerasnya.


"Selamat datang di gubuk kami Tuan Sean dan Nona Allesya," ucap Aura mencairkan suasana.


"Nona Allesya akhirnya kita bertemu lagi, suamiku sudah banyak bercerita tentang Nona," imbuh Aura kembali.


"Suamiku juga sudah bercerita tentang Nona," balas Allesya.


"Kalau begitu mari masuk dulu, sangat tidak sopan jika aku membiarkan tamuku berdiri terlalu lama di depan pintu.


Meja makan sudah dipenuh berbagai menu makanan lezat, tentunya dengan masakan khas nusantara. Sean dan Allesya sempat terperangah melihat jenis-jenis makanan yang masih asing bagi mereka namun aromanya sukses membuat perut keroncongan. Ada rendang, opor ayam, sayur lodeh, sate, sop buntut, pekedel kentang, dan masih banyak olahan lezat lainya.


"Ini semua istriku yang memasak," ucap Damaresh. Jika ditelisik dengan seksama, ada kebanggaan yang tersirat di muka datarnya.


"Jangan berlebihan, Aresh. Aku masih dibantu oleh Bik Nofi dan Bik Najwa," sanggah Aura, sekilas ia melirik ke arah kedua asisten rumah tangganya yang terlihat sibuk melayani kedua tamu istimewa majikannya.


"Ayo, silahkan dimakan, ini semua makanan kesukaan Aresh, semoga juga cocok dengan lidah kalian," Aura mempersilahkan kedua tamunya untuk segera menyantap makan malam yang keburu dingin.


"Terima kasih," ucap Sean dan Allesya hampir bersamaan.


"Maaf, apakah kau sedang sakit?" Allesya yang hampir menyuapkan sesendok rendang di mulutnya harus tertunda karena menyadari tangan Bik Najwa tampak bergetar saat menuangkan air ke dalam gelasnya yang sudah terisi setengah.


Sean, Damaresh, dan Aura seketika melabuhkan pandangan keheranan ke satu titik yang sama yaitu Bik Najwa.


"S-saya baik-baik saja Nona," jawab Bik Najwa sedikit terbata.


"Bik sebaiknya kau pergi istirahat sekarang, mukamu juga terlihat pucat," tutur Aura. "Bik Nofi juga beristirahatlah sekarang," kini ia beralih ke asisten rumah tangga yang satunya.


"Tapi Nona, pekerjaan saya belum selesai , biarkan saya selesaikan dulu,"


"Pekerjaan kalian sudah selesai, kalian boleh beristirahat sekarang," sela istri Damaresh itu.


"Baik Nona," ucapnya lalu memilih mematuhi perkataan sang Majikan.

__ADS_1


Sementara di dapur.


"Kau kenapa Kak Naj?" tanya Nofi yang memang berusia lebih muda dari Najwa.


"Aku takut ketahuan, bagaimana jadinya jika mereka tahu penulis skenario kisah mereka menyamar jadi pembantu? Bisa dipecat sebagai emak mereka aku nanti, " jawab Najwa dengan logat khas maduranya.


"Kau itu berlebihan Kak, justru gerak gerikmu seperti tadi itu yang bisa bikin ketahuan. Cuma nuangin air saja sudah gemetaran kayak orang terkena epilepsi," cebik Nofi, seraya menjejal sosis daging ke dalam mulutnya.


"Kamu itu ya Nofi ... bisa-bisanya kau meledekku padahal kau sendiri juga gemetar," Najwa menunjuk ke arah tangan Nofi yang ternyata juga terlihat gemetar. Malahan lebih parah.


"Ini karena aku lapar."


Perut-perut yang sudah terisi penuh di bawanya duduk di atas soaf ruang tamu. Melanjutkan kegiaatan mereka dengan obrolan ringan, jauh dari seputar bisnis


"Tuan Damaresh, aku rasa ada yang salah denganmu," ucap Allesya.


Pria berekspresi datar itu sontak memfokuskan atensinya kepada Allesya. "Apa yang salah?"


Allesya mengangkat satu telapak tangannya di depan muka dan membuat gerakan sapuan memutar. "Sedari tadi aku sama sekali belum melihatmu tersenyum," celetuknya apa adanya, sesuai dengan perasaan hati.


"Aku akan tersenyum di saat aku ingin," jawab Damaresh.


Sean tampak mengulas senyuman tipis sementara Aura memilih untuk mendengarkan, kendati ia juga takjub dengan sikap terang-terangan Allesya.


"Hidup ini singkat. Tersenyumlah selagi kamu masih memiliki gigi, Tuan," cerocos Allesya.


"Pfftt...!" Aura mencoba menahan tawa yang hampir lepas. Ditambah melihat sedikit perubahan ekspresi pada muka Damaresh membuat ia harus menutup rapat mulutnya dengan sebelah tangan.


"Satu senyuman tidak bisa mengubah dunia, tapi senyumanmu akan mengubah senyuman istrimu. Seberat apapun masalah yang akan menimpa kalian, tersenyumlah meski sedikit," tutur Allesya. Kali ini lebih serius.


"Aku tidak akan memujimu, meski ku akui kau sangat berani Nona Allesya."


"Aku tidak mengharapkan pujianmu Tuan Damaresh. Cukup suamiku yang memujiku setiap hari," menatap sesaat sang Suami yang tersenyum ke arahnya lalu kembali melanjutkan kalimatnya yang memang belum sampai titik akhir. "Kau itu seperti kulkas dua pintu berjalan. Dingin sekali. Mengalahkan nenek-nenek yang sedang PMS, sungguh menyebalkan," cebiknya.


Perkataan Allesya sukses mengundang gelak tawa Sean dan Aura hingga pecah. Bahkan Damaresh yang menjadi bahan ledekannya pun tak sedikitpun terselip rasa tersinggung di hatinya, ia justru tak mampu untuk tidak ikut tertawa meskipun hanya sedikit.


"Bagaimana menurutmu tentang istri kecilku ini, Damaresh? Bukankah luar biasa?" tanya Sean kepada Damaresh yang masih menyisakan tawa.


"Kali ini aku tidak akan menyangkal perkataanmu, Sean."


"Inilah yang membuatku semakin cinta dengannya. Selain menggemaskan, ia sangat jujur dan apa adanya," Sean mengecup pipi Allesya dengan gemas.


"Aresh, sebaiknya kau memberi penghargaan ke Nona Allesya, karena aku yakin di sepanjang hidupmu dia adalah wanita satu-satunya yang berani mengejekmu selain aku," seloroh Aura.


"Haruskah aku memberi separuh sahamku?"


"Tidak perlu Tuan, karena hartaku sudah terlalu banyak, aku akan bingung cara menghabiskannya. Cukup tersenyumlah jika bertemu dengan kami kelak, entah itu kapan," balas Allesya.


"Baiklah."





Bersambung~~


Wah..nggak kerasa udah 2rb kata lebih😁 Nggak biasanya bisa sepanjang ini😁


Nofi juga ingin memberi tahu, bahwa dua bab terkahir, Nofi memang sengaja melakukan kolaburasi dengan karya super kecenya kak Najwa Aini, author CINTAKU TERHALANG TAHTAHMU.


Bagi kalian yang penasaran tentang kisah Damaresh si Genius Tampan tapi mahal senyum dan Si Cantik Aura yang cerdas bisa langsung cuss.. di lapak Kak Najwa Aini ya.. dijamin ceritanya bikin baper sampek klepek2😍



Terima kasih untuk Kak Najwa yang sudah Nofi anggap sebagai teman sekaligus saudara perempuanku, karena berkenan berkolaburasi dengan karya recehku yang jauh dari kata sempurna.


Dan seperti biasanya, Nofi juga sangat berterima kasih kepada para reader yang masih setia bahkan sampai rela meluangkan waktu emasnya untuk membaca tulisanku yang tak sebagus tulisan author femes🥰


Nofi sangat senang🥰


lop lop you superrrrr😘😘

__ADS_1


__ADS_2