Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 35


__ADS_3


Malam berselimut semilir angin syahdu. Langit gelap berpermadani kilau cahaya jutaan bintang mengiringi sang Dewi malam. Tiada awan kalbu yang melintang, seolah memberi ruang bebas pada berlian langit untuk memamerkan keelokannya.


Cerah, indah, dan cantik. Itulah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan suasana malam musim semi di kota London. Namun, hal itu begitu kontras dengan pemilik mata bulat yang tengah menyaksikan langit malam tak berawan melalui bingkai jendela kamarnya.


Sorot mata sendu namun teduh, terlihat lembab karena rasa pilu yang membelenggu. Kebenaran yang baru ia tahu sungguh menggerus hati kecil hingga ke relung kalbu.


Haruskah semua kenyataan ini dia hancur hingga lebur atau haruskah dia terima dengan rasa syukur? Entahlah, Allesya sedang bergundah gulana saat ini. Ayah.. Ibu.. apa kalian merindukanku saat ini? itulah bisikan pertanyaan dari hatinya. Bukan teruntuk Reymundo atau Inggrid, melainkan untuk kedua orangtua kandungnya yang entah mereka sedang berada di mana dan melakukan apa.


Menggiring mukanya ke bawah menatap nanar genggaman tangan yang mulai terbuka. Sebuah kalung berliontin yang dia dapat dari Fanne tengah menempati telapak tangannya.


Waktu itu, tanpa sepengetahuan Reymundo dan Inggrid, Fanne memungut kembali kalung tersebut setelah mereka membuangnya guna menghilangkan segala jejak bayi Allesya, termasuk selimut dan pakaian terakhir yang membungkus tubuh kecilnya.


Seanie Allesya Damirich, Mar 3rd, 2003. Allesya membaca ukiran kecil berbentuk tulisan di balik liontin yang diyakini adalah nama asli dan tanggal kelahirannya.


"Kak Sean..," lirihnya, tiba-tiba muka tampan Sean membayangi pikirannya.


"Apa sebaiknya aku memberitahunya bahwa aku adalah Esya, teman masa kecilnya? Baiklah, besok kalau bertemu aku akan menunjukkan kalung pemberiannya, hanya dengan itu aku yakin dia akan langsung mengingatku."


Allesya kembali menengadahkan mukanya ke arah langit. Menyaksikan indahnya kerlipan nakal cahaya bintang.


Allesya baru menyadari bahwa pesan singkatnya sedari tadi belum juga mendapat balasan dari Sean. "Apa kak Sean benar-benar sibuk sehingga sedari tadi pagi tidak membaca bahkan membalas pesan dariku? Padahal aku sudah sangat merindukannya. Aku ingin sekali cerita banyak hal ke dia," monolognya dengan pikiran yang berkelut.


Mengesampingkan perasaan gundah gulananya, ia gegas kembali meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas lalu melakukan panggilan suara ke nomor Sean.


Tut...


Tut...


Tut...


Cukup lama ia menunggu permintaan panggilan suaranya diterima namun berujung pada mesin operator penjawab. Sekali lagi, ia mengulang panggilan. Dan kali ini seutas senyuman menghiasi muka ketika panggilannya tersambung.


Mulut yang sudah setengah terbuka dan hampir bersuara seketika tersendat di tenggorokan. Tarikan napas ikut tertahan di dada. Mendengar suara lembut tengah berbicara di balik telepon sungguh membuatnya bertanya-tanya.


Sean:


Hallo...


Allesya:


Kak Sean di mana? Kenapa kamu yang mengangkat teleponnya?

__ADS_1


Sean:


Ah.. dia sedang mandi sekarang. Kamu siapa ya?


Bukannya menjawab pertanyaan dari seberang, Allesya justru balik bertanya.


Allesya:


Kamu siapa?


Sean:


Aku Vera, kekasihnya Sean.


Tut!


Allesya gegas mengakhiri panggilan secara sepihak karena dia tidak akan tahan berlama-lama berbicara kepada wanita yang mengaku kekasih Sean tersebut. Denyutan curam hingga menyentuh dasar jantung menyisakan sebuah rasa tidak nyaman yang begitu sempurna.


Helaan napas patah-patah sebagai tanda bahwa ia sedang menahan sebuah gejolak jiwa. Ia remas kain di dada bersamaan kelopak mata yang memejam. Menampik segala pikiran negatif agar tidak membawanya terlalu jauh dalam mempraduga.


"Itu pasti seorang wanita yang hanya mengaku-ngaku sebagai kekasihnya," Allesya mencoba menenangkan hati dengan menghibur diri namun helaan napas kasar terdengar jua di ujung upayanya yang bertanda sia-sia.


"Kak Sean..., sebenarnya kau sedang apa? Sedari tadi tidak membalas pesanku tapi kau malah sedang bersama wanita lain di sana. Apakah kau benar-benar tidak bisa menyukaiku sedikit saja?" Tak kuasa menahan kecewa akhirnya luruh juga cairan kesedihan dari telaga beningnya.


°°°


"Siapa sih yang baru saja menelpon? Dasar tidak sopan," gerutu Vera setelah panggilan telepon di putus begitu oleh lawan bicaranya.


Wanita cantik bertubuh seksi itu menautkan kedua alisnya ketika melihat nama penelepon pada layar ponsel Sean. "Kelinci kecilku, apakah dia sangat spesial sehingga mendapat panggilan sayang seperti ini? Ck! Ini sungguh menggangguku," gerutu Vera.


Suara gemercik air shower kamar mandi tak lagi terdengar. Menandakan ritual bersih-bersih Sean sudah selesai. Vera gegas meletakkan kembali ponsel Sean, karena dia tahu pria itu akan sangat marah karena sudah bersikap lancang yaitu mengangkat panggilan telepon tanpa seizinnya.


Sean keluar dari ruangan yang tengah berselimut kabut uap air hangat dengan tubuh bagian bawah terbungkus handuk dan rambut masih terlihat basah. Ekspresi tidak suka seketika menghiasi muka tampannya di kala melihat keberadaan Vera yang tengah merebahkan tubuh di atas ranjang tidur berukuran king size tersebut.


"Kenapa kau ada di sini Vera? Aku mengizinkan kau masuk ke dalam apartmenku bukan berarti aku juga mengizinkan kau menjejakkan kakimu di kamarku," sensinya namun Vera sedikitpun tak berciut hati.


Sungguh, Sean memang paling tidak suka jika ruang pribadinya dimasuki oleh sembarangan orang tanpa seizinnya. Bahkan selama ini tidak ada satupun dari para wanita yang dikencaninya dibawa ke dalam kamarnya.


"Cepat pakai kembali bajumu," titah Sean seraya mengambil pakaian ganti dari dalam lemari seolah tak tergoda oleh kemolekan tubuh telanjang Vera.


Iya, saat ini tidak ada seutas benang yang menempel di tubuh Vera. Wanita itu memang berniat menggoda Sean. Jujur, setiap melihat muka tampan serta tubuh atletis Sean membuatnya horni dan ingin sekali dimasuki. Meski ia harus beberapa mengalami kefrutrasian karena pria yang di incarnya selalu menolak diajak bermain di atas ranjang.


Kali ini dia harus menjadi milikku kembali, begitulah tekatnya.

__ADS_1


GREP!


Sepasang tangan Vera melilit manja perut berotot Sean, meski akhirnya ia sedikit terhuyun ke belakang karena Sean menyentaknya.


"Aku tidak ingin melakukannya Vera, cepat pakai kembali bajumu mumpung aku masih bisa menahan diri untuk tidak emosi," cerca Sean.


Sebagai pria normal berlibido tinggi, tentu saja pemandangan erotis di hadapannya mampu menyulut api gairah di dalam tubuhnya. Kucing mana yang akan menolak ikan.


"Sayang.., apa kau tidak tergoda melihat tubuhku ini?" Vera kembali berhamburan pada tubuh Sean. "Aku akan membuka lebar kakiku untuk kau nikmati," bisiknya dengan tangan sudah mer*mas-r*mas pistol milik Sean yang masih berbalut handuk.


"Ahhh! Kau memang j*lang Vera!" umpatnya yang mulai terbuai oleh sentuhan nakal Vera.


"Aahhh...! Kau pasti merasakan nikmat bukan.. Nyatanya milikmu sudah mengeras sayang, punyaku juga sudah basah ingin sekali kau masuki," Vera tampaknya juga sudah dalam mode terangsang maksimal.


CUP!


Vera kian beraksi panas dan mulai mencium bibir Sean yang mulai terlena meski tidak memberi balasan.


Kak Sean.. Aku menyukaimu.


Kak Sean hati-hati ya di jalan.


Kak Sean bekal sarapannya dihabiskan ya.


Kak Sean tidak bisakah kau membuka hatimu untukku?


Kak Sean..


Kak Sean..


Sean seketika tersadar dari keterbuaiannya ketika bayangan Allesya menyerang pikirannya dan reflek mendorong tubuh Vera hingga terjerembab di atas lantai.


"Aahhk! Sayang kenapa kau mendorongku? Ini sakit sekali," rintih Vera kesakitan.


"Jangan lakukan itu lagi dan cepat keluar dari sini."





Bersambung~~

__ADS_1


__ADS_2