
"Apa kau mau minum?" tawaran Erick langsung ditolak cepat oleh Erlan.
"Aku tidak minum paman, terima kasih."
"Sepertinya kau sangat takut jika kekasihmu marah," goda Erick.
Senyuman mengembang diikuti pikiran menerawang bebas, teringat akan wajah cantik sang Kekasih yang selalu sukses membuat jantungnya bertalu-talu dari awal bertemu hingga sekarang. "Itu adalah salah satu alasan utamaku dan alasanku yang lain karena aku tidak ingin cepat mati," terangnya.
Tersenyum simpul sembari memiringkan tubuhnya ke arah Erlan. "Coba katakan, kau pasti ada kepentingan lain sehingga ingin bertemu denganku?"
Tanpa menyurutkan senyumannya, sebelah tangan merangkul pundak kokoh pria paruh baya yang telah menolongnya dari kejamnya dunia jalanan belasan tahun yang lalu. "Sungguh aku datang karena merindukanmu Paman meski juga ada hal lain yang ingin aku katakan," timpalnya.
"Ck! Sudah ku duga. Cepat katakan," tukasnya.
"Aku ingin mendonasikan semua cabang bookstore yang berada di London, Cambridge, Oxford, dan Birmingham. Dan aku meminta bantuan paman," terang tujuannya.
"Apa kau yakin? Itu berarti kau mengurangi pelebaran bisnismu," Erick mengingatkan, kali saja Erlan sudah salah bicara.
"Itu memang tujuanku paman. Aku rasa bookstore pusat yang di Paris sudah cukup menghidupiku dan calon keluarga kecilku kelak, itupun jika Tuhan memberiku kesempatan. Lagian tubuhku juga sering sekali kelelahan beberapa bulan ini jika terlalu sering dibawa keluar masuk London-Paris," jelasnya dengan tangan diajak memijat bahunya seolah rasa pegal tiba-tiba melanda.
"Dan tentunya aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama wanita yang kucintai," batinnya.
"Baiklah. Datanglah kepadaku lagi jika kau membutuhkan bantuan. Bagaimanapun juga kau sudah ku anggap seperti putraku sendiri."
"Terima kasih Paman."
°°°
"Sayang.., ini sudah malam, beristirahatlah. Bukankah besok pagi kau masih ada jam kuliah?" tutur lembut Raffaela setelah mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu, bersebelahan dengan Allesya yang tampak berkali-kali memainkan jari-jarinya di atas layar ponsel, mengirim pesan untuk seseorang yang sedang berada di negara seberang.
"Mom.., aku sangat mencemaskannya. Padahal baru dua hari keluar dari Rumah Sakit tapi dia sudah kembali berkeliaran," rona khawatir terlihat jelas di muka Allesya.
Sang Mommy tersenyum hangat. Tangan terulur mengusap lembut kepala sang Putri Bungsu. Dia tidak berkeliaran sayang. Dia memang seperti itu, pekerja keras, mandiri, dan tidak pernah mau diam. Mommy sudah sangat mengenalnya," tuturnya memberi pengertian.
Allesya membuang napas ke udara dengan pasrah. Membenarkan perkataaan Raffaela tentang sosok yang hampir satu tahun dijadikan tempat bersandar. Sosok yang selalu membuatnya nyaman dan bangkit dari keterpurukan. "Baiklah Mom, sebaiknya aku pergi ke kamar sekarang."
Raffaela mengecup sayang pipi Allesya disusul senyuman hangat penuh kasih dan ucapan selamat tidur. "Sweet dreams and sleep tight Seanie."
"Sweet dreams and sleep tight too Mom," balas Allesya.
__ADS_1
°°°
Malam memang belum terlalu larut. Langit juga terlihat lebih terang kerena sang Purnama berpendar sempurna menghiasi cakrawala gelap. Di kawasan sungai Thames yang tampak berkilauan karena pantulan bias cahaya lampu kota pada permukaan air bebas polusi, sepasang kaki berayun menyusuri bibir sungai yang membelah kota London.
Menikmati suasana malam musim semi di kota tempat ia dilahirkan sebelum berdomisili ke Paris untuk mengadu nasib. Mata mengedar mendadak berhenti diikuti tersendatnya ayunan kaki karena tak sengaja menedang sebuah dompet yang tergolek di atas bumi.
Dibukanya dompet setelah tangan terulur mengambilnya dari bawah. Mencari tahu siapa pemilik barang. "Bukankah dia adalah orang yang aki tabrak di bar tadi?" lirihnya setelah melihat foto pada ID Card penduduk.
Kembali menyusuri pinggiran sungai menuju kawasan yang mudah untuk menjangkau taksi, berniat mengembali dompet kepada si Empunya melalui alamat yang tertera jelas pada kartu tipis berbahan baku plastik tersebut.
Namun baru beberapa langkah diambil, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas bersamaan ketika mata menangkap siluet yang tengah duduk termenung di bangku menghadap sungai. Dihampirinya dengan langkah lebar.
"Permisi Tuan, ini pasti milikmu," disodorkannya dompet berbahan kulit itu, membuat sosok yang disapa sedikit terkesiap dan terbangun dari lamunannya.
Sekilas mata melirik ke arah tangan yang terulur di depan muka. Gegas ia raba saku celana tempat ia menyimpan dompetnya sebelumnya dan ternyata sudah tak berpenghuni. "Sepertinya itu memang dompetku. Terima kasih," ucapnya seraya menggapai benda dari tangan Erlan.
"Tidak perlu berterima kasih Tuan Sean," balasnya ramah.
Garis-garis di antara sepasang pangkal alis terlihat samar di kala Erlan menyebut namanya. "Dari mana kau tahu namaku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Kembali mengulas senyuman ramah, Erlan menjawab. "Maaf, karena telah berlaku tidak sopan karena tadi aku sempat membuka dompetmu dan mengetahui namamu dari dalam sana," terangnya.
"Bukan masalah."
Sean mengggeser tubuhnya ke samping sebagai jawaban seolah suasana hatinya yang memang sedang bermendung kelabu terlalu malas untuk banyak berkata.
"Terima kasih," Erlan tersenyum ramah seraya menggriring tubuhnya untuk menempati sisi kosong sebelah Sean hingga perhatiannya teralih pada saku yang bergetar.
Diambilnya benda pipih dan seketika senyuman susulan terbit di muka tampannya mengetahui pujaan hati yang kembali menelpon.
Melempar senyuman ke arah Sean sebagai ungkapan permisi sebelum memilih memutar tubuh membelakanginya. Tanpa beranjak dari bangku Erlan menerima panggilan telepon tersebut. Tak menghiraukan sosok di belakangnya yang terlihat jengah karena ketenangannya terganggu akan percakapan Erlan yang terkesan seperti orang yang sedang dicandu asmara. Memamerkan kemesraan di depan Sean yang sedang dilanda malarindu akan kasih sang Wanita pujaan tak kunjung datang.
"Menyebalkan!" gerutunya di dalam hati.
"Maaf," ungkapan tidak enak hati tertuju kepada Sean setelah mengakhiri percakapannya di telepon.
"Hm," responnya yang hanya terdengar seperti dengungan.
Suasana kembali hening. Hanya suara hewan malam yang terdengar. Sungguh, jika diperhatikan secara seksama, kedua mimik muka kedua pria tampan itu teramat kontras. Berbeda dengan wajah Erlan yang tampak lebih berseri layaknya sang Pujangga yang sedang kasmaran, Sean justru tampak bermuram durja layaknya sang Romeo tak bersambut cinta sang Juliet.
"Kau.. Seperti orang yang tidak waras," sudah tak tahan akan gelagat Erlan yang sedari tadi senyum-senyum sendiri setelah mendapat telepon akhirnya Sean meluapkan rasa kesalnya. Tidak peduli bahwa di antara mereka bukanlah orang yang saling mengenal. Pria di sebelahnya sama sekali tidak menunjukkan kecanggungan, jadi dia juga berhak berlaku serupa, begitu batinnya.
__ADS_1
"Hei bung.. Semua orang pasti bakal mendadak gila karena cinta. Kau seperti orang yang tidak pernah merasakan indahnya cinta saja," guraunya, tak berniat membalas kekesalan Sean dengan emosi.
Tersenyum getir, itulah reaksi Sean saat ini. Perkataan Erlan sukses mencubit hatinya. Dia juga pernah merasakan apa itu cinta yang diberikan Allesya di masa itu, meski akhirnya sebuah rasa yang tulus datang dari hati itu harus hancur dan pergi karena kebodohannya.
Menyesal? Tentu masih menyiksanya hingga sekarang. Akan tetapi, dia sudah memantapkan janji pada dirinya sendiri. Untuk merengkuh kuat Allesya jika suatu saat menemukannya. Tidak akan melerai lilitan tangan agar tidak kembali terlepas, mengukungnya dengan segala perlindungan berdasarkan cinta.
"Wanita cantik tapi bar-bar, cerewet tapi perhatian, mudah cemberut tapi dengan mudah kembali tersenyum, berhati lembut, gigih, pemberani, penyayang dan penuh cinta. Dan satu lagi, dia jago beladiri judo. Tuhan sepertinya sangat menyayangiku karena mengirim wanita seperti dia untukku," pujinya penuh damba. Tak segan-segan meluapkan kebahagiaan di depan orang yang baru pertama kali ditemui.
Sean sempat tertegun mendengar celotehan Erlan. "Itu semua juga ada pada diri Allesya. Hah..! Aku benar-benar bisa gila karena sangat merindukannya," hati kecilnya berkeluh.
"Wanita seperti itu sangat langka di muka bumi ini, kau harus mempertahankannya, atau kau akan menyesal setelah kehilangannya," seolah sedang memberi petuah keramat, raut muka Sean mendadak serius. Apakah setan penunggu sungai Thames tengah merasuki tubuhnya. Mungkin saja.
Menengadah muka ke arah cakrawala. Mengajak netra mengabsen satu persatu benda langit bercahaya terang, disusul helaan napas panjang guna menghempas sesuatu yang mengganggu bilik hatinya. "Sebenarnya aku merasa tidak pantas memilikinya, karena nyatanya hingga saat ini aku terlalu takut menjalin hubungan yang terikat komitmen yang pasti akan berujung sebuah pengingkaran sehingga deraian air mata kesedihannyapun tumpah," mukanya berubah sendu.
"Kenapa kau jadi curhat kepadaku?" cebiknya.
Erlan tergelak, kesenduannya seketika menguap. Merasa lucu saja, bisa-bisanya ia meceritakan kerisauan hatinya kepada orang yang tidak ia kenal. Tubuhnya mulai diajak beranjak dari duduk. "Baiklah, aku akan pergi sekarang. Terima kasih sudah mendengar curhatanku," ucapnya terdengar tulus hingga akhirnya ia memilih meningggalkan tempat.
Sean terheran ketika Erlan kembali memutar tubuhnya dan melangkah mendekat seraya menyisipkan senyuman mengembang sempurna. "Maukah kau menolongku?" tanya Erlan.
"Apa?"
"Hm, aku baru ingat kalau uang yang aku bawa sudah habis, sedangkan kartu kreditku lupa tidak kubawa."
"Terus?"
"Maukah kau mengantarku pulang ke penginapanku?"
"Yang benar saja."
❣
❣
❣
Bersambung~~
Apa yang akan terjadi jika Sean dan Erlan tahu bahwa mereka mencintai wanita yang sama?🤔
Sabar ya.. Pertemuan Sean dan Allesya tidak akan lama kok.🥰
__ADS_1
Terima kasih masih mau menyimak tulisan cakar ayamku ini. Jangan lupa kasih dukungan komen dan like ya..
Kalau ada rejeki lebih, vote atau hadiah bolelah disumbangkan🤭