Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 78


__ADS_3


Sepasang mutiara hazel Allesya tampak terkesima ketika tubuh gagah Sean membawanya masuk ke dalam kamar hotel yang sudah didekorasi sedemikian rupa hingga menampilkan kamar khas pengantin yang terkesan romantis untuk malam pertama mereka.


Hamparan kelopak mawar merah yang menyebar ke seluruh ruangan dilengkapi binar syahdu cahaya lilin beraroma terapi yang terletak di setiap sudut ruangan kian menciptakan suasana yang begitu manis


Tirai sutra yang menjuntai mengelilingi peraduan pengantin serta hiasan bunga di setiap bagian tiang penyangga turut menggugah suasana intim di dalam ruangan.


Hingga netra yang diajak mengedar ke seluruh penjuru ruangan terhenti di kala badan gagah berbalut tuxedo hitam meletakkan tubuhnya di bibir ranjang dengan sangat berhati-hati layaknya memperlakukan barang berharga yang mudah terpecah belah.


Dan di saat itu pula, binar kekaguman netra Allesya akan keindahan dekorasi kamar berangsur-angsur luntur menyisakan kemirisan di dalam hatinya.


Suasana malam pengantin yang seharusnya menjadi sesuatu hal yang sangat dinantikan nyatanya itu tidak berlaku bagi Allesya.


"Ahh, apa yang kau lakukan Sean?" Allesya terhenyak ketika Sean sedikit menyibak gaun pengantinnya dan melepas high heels yang sudah menyiksanya sepanjang hari.


Dalam posisi masih bersimpuh, muka diajak menengadah ke arah Allesya. Memberi perhatian hangat melalui sorot mata beningnya. "Biarkan aku memeriksa kakimu, Allesya ...," memastikan tiada lagi adanya penolakan, Sean melanjutkan kegiatan yang sempat terhenti.


Dan benar, ternyata beberapa luka lecet tampak menghiasi kaki Allesya. "Kau tunggu sebentar, aku akan meminta petugas hotel untuk mengantar obat untukmu," membawa tubuhnya beranjak dan mendekati fasilitas telepon kabel yang terletak di atas meja lampu tidur, lalu menyambungkan panggilan kepada petugas hotel.


Allesya masih bergeming. Membiarkan Sean bertindak semaunya. Ia sudah terlalu lelah untuk terus melancarkan penolakan karena sudah pasti akan kembali berujung sia-sia.


Sean kembali bersimpuh di depan Allesya setelah selesai menghubungi petugas. Menatap lembut muka cantik yang sedari tadi lebih banyak diam bahkan bermuram durja. Mencoba memupuk kesabaran dalam menghadapi sikap dingin si wanitanya. Menabur pengertian bahwa keberadaannya belum sepenuhnya diharapkan.


"Kau pasti lelah, beritirahatlah dulu," tuturnya.


"Aku ingin menemui Erlan sekarang."


Sean membisu sejenak. Menghela napas sesamar mungkin, bersamaan perasaan yang diajak setegar mungkin. Suami mana yang tak perih hati ketika sang Istri mengungkapkan secara gamblang akan keinginannya untuk menemui mantan kekasihnya. Apalagi di saat seperti sekarang yang merupakan malam pertama mereka. Seharusnya dijadikan malam untuk memadu kasih. Menyesap manisnya madu surgawi.


"Baiklah, aku akan mengantarmu setelah mengobati kakimu," putus Sean.


Mengiyakan permintaan kekasih hatinya yang tak seharusnya wajib dituruti. Namun sebisa mungkin untuk sadar diri, bahwa saat ini hati Allesya belum bisa sepenuhnya ia miliki.


"Aku ingin mandi," ucap Allesya, mengisyaratkan agar Sean beranjak dari posisi bersimpuhnya.


"Baiklah."


Allesya membawa tubuhnya berdiri dari bibir ranjang, tangan sedikit menjijing gaun bagian bawahnya, mempermudah kaki melangkah menuju kamar mandi.


Sean menghempas bokongnya di atas ranjang setelah tubuh Allesya hilang ditelan pintu kamar mandi. Menyugar kasar rambut berlapis pomadenya. Dentuman kepiluan yang menguar mendorong bibir untuk mendes*h pasrah.

__ADS_1


Sementara di dalam kamar mandi, Allesya berdiri mematung di depan kaca. Memandang lurus pantulan bayangan diri di depannya. Himpitan sesak di dalam dada menyeruakkan berbagai rasa yang begitu sukar dijabarkan.


Sungguh, perjalanan kisahnya hari ini begitu memusingkan kepala. Ia mencoba menghalau segala sesuatu yang terus mengusik pikiran dengan menuntun mata untuk mengatup sekilas. Niat hati ingin meletakkan sejenak kegamangan namun otak justru memutar kembali ingatan percakapan beberapa saat sebelum ia akhirnya berdiri di atas altar bersama Sean.


"Seanie ... maaf ya, lagi-lagi aku menyusahkanmu. Aku malah tumbang di hari pernikahan kita," suara lemah yang keluar dari bibir pucat Erlan terdengar penuh sesal.


"Tidak apa-apa, kita bisa menundanya di hari lain. Sekarang kau harus sembuh dulu," tuturnya lembut, memberi ketenangan di hati Erlan. Walaupun kenyataannya, dialah orang yang paling cemas saat ini.


Seutas senyuman getir menghiasi muka pasi Erlan. Merasa lontaran kalimat penenang dari bibir Allesya kali ini sudah tak mampu membangkitkan kembali gairah semangatnya. "Aku bahkan sudah tidak memiliki keyakinan bahwa aku akan sembuh."


Pria yang tengah terbaring di atas ranjang Rumah Sakit itu menarik muka guna menghindari tatapan Allesya. Beberapa saat ia terlihat termenung, pikiran menerawang kembali potongan percakapannya bersama Sean kemarin malam. 'Apa kau ingin melihat ia bersedih karena kau tinggal mati dengan cepat karena penyakitmu?'


Ahh ... ternyata ucapan terang-terangan Sean telah mengusiknya semalaman. Sekeras apapun upayanya untuk menolak namun hati terus menerima, membenarkan perkataan Sean.


Erlan menyudahi kediamannya yang sesaat lalu kembali menatap muka susah Allesya. "Seanie, mungkin ini terdengar konyol, tapi aku harap kau bersedia memenuhi permintaanku," ucapannya terdengar serius. Menciptakan kerutan di kening Allesya. " Menikahlah dengan Sean."


"Tidak, aku tidak mau. Kau jangan bercanda Erlan!" penolakan keras langsung terdengar.


"Apa aku terlihat sedang bercanda sekarang?"


"Tapi aku tidak mencintainya."


"Lalu kenapa kau mau menikah denganku? Padahal tidak ada debaran di dadamu ketika bersamaku," tukas Erlan. Meluapkan apa yang selama ini tertahan. "Aku tahu Seanie, masih ada dia di hatimu, hanya saja rasa bencimu kepadanya saat ini lebih mendominasi hingga kau tak menyadarinya," batin Erlan terasa sendu teramat dalam. Berusah ihklas menerima kenyataan, bahwa tiada ruang baginya di hati Allesya.


"Aku tahu kau menyayangiku Seanie, tapi semua itu hanya sebatas bentuk dari sisi kemanusiaanmu. Jangan kau paksa lagi hatimu untuk mencintaiku. Itu bisa menyiksamu," menghela napas yang terasa berat. "Maaf, ini semua karena keegoisanku yang tak ingin kehilanganmu. Dengan tak tahu diri aku malah nekat mengajakmu menikah."


"Sudah, jangan katakan apapun lagi, beristirahatlah, aku akan berbicara kepada kedua orangtuaku untuk menunda pernikahan kita," Allesya seolah menganggap ungkapan Erlan hanya igauan belaka.


"Pikirkan nama baik keluargamu jika kau membatalkan pernikahan ini. Semuanya sudah dipersiapkan. Tamu undangan juga sudah berdatangan. Kau pasti tahu apa yang akan dirasakan oleh kedua orangtuamu. Dan maaf, pada akhirnya aku yang sakit-sakitan ini kembali menyusahkammu."


Dan kalimat Erlan kali ini sepertinya sukses menggoyahkan pendirian Allesya. "Kenapa aku tidak kepikiran sampai kesana? Aku juga tidak ingin membuat Mommy dan Daddy kembali malu. Cukup sekali aku membuat mereka malu karena kasus kehamilanku waktu itu," batinnya mulai resah.


"Haahh ... kenapa ini semua terjadi kepadaku?" rutuk Allesya diawali helaan napas panjang sebagai akhir dari lamunannya. "Sebaiknya aku segera mandi lalu menemui Erlan untuk memastikan keadaannya," monolognya.


Tidak ada kesulitan saat ia membuka resleting belakang hingga gaun yang membalut tubuhnya terjatuh begitu saja di atas lantai, lanjut melepas bra dan celana d*lam yang bewarna senada. Kemudian memutar tubuhnya untuk dibawa ke bawah shower.


BRUK!


"Aahk..! Sakit..!"


Namun sepertinya nasib baik tidak berpihak kepadanya kali ini. Harapan untuk menghilangkan kepenatan di bawah siraman air hangat seketika sirna di kala tubuhnya terjatuh akibat kaki terbelit kain gaun yang masih berserakan di lantai karena kurangnya kehati-hatian dalam melangkah.

__ADS_1


Ia mencoba membawa tubuhnya untuk berdiri, namun rasa sakit yang luar biasa pada bokong, pinggang dan sikunya membuat ia kembali terjatuh ke lantai.


"Aahhh..! Ini sakit sekali..!" ia mengaduh kesakitan.


DOK! DOK! DOK!


"Allesya apa yang sedang terjadi di dalam? Apa kau baik-baik saja?!" terdengar teriakan Sean dari luar pintu kamar mandi namun tiada balasan dari Allesya karena masih sibuk dengan rasa sakit yang menyerangnya, bahkan ia masih terus merintih.


DOK! DOK! DOK!


"Allesya..! Buka pintunya," dari luar teriakan kekhawatiran Sean masih terdengar. Dan lagi, Allesya tak menyahut.


"Allesya, aku akan masuk ke dalam," Allesya seketika terhenyak ketika mendengar Sean akan masuk ke kamar mandi. Ingat bahwa ia lupa untuk mengunci pintu setelah memasuki kamar mandi, membuatnya seketika gugup.


"Hiish..! Dia tidak boleh melihat tubuhku yang masih telanj*ng," gerutunya yang tegang setengah mati.


"Allesya aku masuk sekarang."


"J-jangan mas-,"


CEKLEK!


๐Ÿ’›


๐Ÿ’›


๐Ÿ’›


Bersambung~~


Apakah yang akan terjadi selanjutnya?


Dahlah bayangkan sendiri aja deh. Yakin banget, para readers di sini pada pinter-pinter๐Ÿ˜


Tak bosan-bosannya Nofi mengingatkan pada kalian untuk menampol gambar like dan meninggalkan jejak komen. Agar ni lapak nggak hampa seperti hatiku yang haus akan cinta para pria beroti sobek.


Jyaaah..! ๐Ÿ˜ฑ


Vote dan hadiah boleh juga dong disumbangkan..๐Ÿ˜Š


Segala dukungan kalian, Nofi terima dengan rasa syukur yang luar biasa.

__ADS_1


Xie xie nimen๐Ÿ™ lop lop basah setengah kering๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2