Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 27


__ADS_3


Di sebuah ruang singgasana tahta tertinggi Willson Corp.


"Hmmm, sepertinya kemampuan masaknya sudah mulai ada kemajuan. Kali ini rasanya lumayan, masih bisa ku telan. Kali ini aku beri nilai 7," Sean menjejalkan bekal sarapan yang dibuat Allesya ke dalam mulutnya seraya memberi penilaian pada rasa masakan.


Tidak ada aksi pemberontakan pada lidah maupun perutnya yang menandakan masakan Allesya memang kian hari kian bisa diterima dan dicerna tanpa ada drama mulut yang terbakar ataupun perut mulas.


Binar pada manik birunya sedikit mengembang ketika ia mencicipi mashed potato yang terasa gurih dan creamy begitu memanjakan lidah.


"Aku kasih nilai 9 untuk mashed potato ini," Nilainya lalu kembali mengambil satu sendok penuh makanan yang berbahan dasar tumbukan kentang rebus itu dan memasukkan ke dalam mulutnya dalam satu kali suapan.


"Jangan halangi aku untuk bertemu dengannya."


"Tapi Nona, anda harus membuat janji dulu jika ingin bertemu dengan Tuan Sean."


"Itu tidak perlu karena aku ini kekasihnya."


"Tapi Nona... ."


Sepasang alis tebal bertaut hampir menyatu ketika suara gaduh dari luar ruangan mengusik ketenangan Sean yang masih menikmati acara sarapan pagi kesiangannya.


CEKLEK!


Daun pintu ruangan terdorong ke dalam diikuti seorang sekretaris dan seorang wanita cantik bergaun merah seatas lutut masuk melewati bingkai pintu.


"Maaf Tuan, saya sudah berusaha mencegahnya tapi Nona ini terus bersikukuh ingin menemui anda," lapor si Sekretaris bernama Clara.


"Kau kembalilah bekerja Clara," titah Sean.


"Baik Tuan," mengangguk sekilas sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan.


"Mau apa lagi kau datang kemari Vera?" Terlihat jelas dari raut mukanya bahwa ia sangat tidak senang akan kedatangan Vera, mantan kekasihnya yang belum lama ini ia putus.


Vera adalah putri semata wayang dari salah satu penanam saham terbesar di kerajaan bisnis Willson Corp.


Alih-alih segera menjawab, Vera malah berhamburan ke dalam pangkuan Sean. Tangannya menggelayut manja pada leher kekar pria yang tengah memasang muka sensi tersebut.


"Kenapa kau bersikap dingin seperti itu kepadaku?" wanita itu tampak merajuk, tidak terima akan sikap Sean yang terkesan dingin dari biasanya.


"Apa kau lupa kalau kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi? Turunlah dari sini sekarang," titah Sean namun tak diindahkan oleh wanita berwajah cantik dan berbadan seksi itu.


"Maafkan aku," ucap Vera tampak menyesal. "Bisakah kita menjalin kembali hubungan sebagai sepasang kekasih? Ternyata aku tidak bisa jauh darimu Honey..., aku mencintaimu, aku janji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi," rayu Vera yang masih bertengger manja di atas pangkuan Sean.


"Bukannya kau malu menjalin hubungan denganku karena Ibuku sakit mental?" sindir pedas Sean lalu mendorong tubuh Vera agar menyingkir dari tubuhnya.


"Waktu itu aku sangat terkejut dan belum siap menerima kenyataan, tapi sekarang aku sungguh menyesal Honey. Mulai sekarang aku akan berusaha menerima apapun keadaan Ibumu, aku akan menyayanginya sebagaimana aku menyayangi ibu kandungku sendiri," memasang muka menyesal Vera membelai bahu kokoh Sean.

__ADS_1


"Pintu keluar ada di sana?" menunjuk ke arah pintu, Sean berniat mengusir Vera dari ruangan.


"Honey.., apa kau bersungguh-sungguh bersikap seperti ini kepadaku? Biasanya kau selalu bersikap manis kepadaku."


"Vera.., keluar sekarang," titah Sean sebisa mungkin menahan dirinya agar tidak tersulut api emosi.


"Oke.. Oke, aku akan keluar tapi biar aku mengobati rinduku dulu kepadamu," Vera mendekati Sean yang masih bertahan pada kursi kerjanya, mendekatkan muka full make upnya, berniat mencicipi bibir kissable yang sangat ia rindukan namun kali ini ia harus mengurung niatnya karena Sean mencegahnya dengan sangat tegas.


"Sepertinya kau sungguh lupa jalan menuju pintu keluar ruangan ini. Apa perlu aku memanggil seorang security untuk menjemputmu?"


Mendengus seperti kerbau mengamuk, Vera akhirnya memilih menyerah. "Baiklah, aku akan keluar sekarang," melangkah menuju pintu keluar sambil menghentak-hentakkan sepatu high heelsnya karena kesal.


Sean terlihat membuang napas kasar seraya menyanggah kepala dengan kedua tangannya. Kedatangan Vera membuat suasana hati memburuk.


TING!


Sean meraih ponsel dari atas meja kerjanya dan membuka pesan singkat yang baru saja masuk.


Gadis gila:


Kak Sean, bagaimana rasa masakanku kali ini? Aku yakin kau sekarang sedang memuji masakanku.


Sean mendengus geli setelah membaca pesan dari Allesya lalu membalasnya.


Sean:


Gadis gila:


Kau sungguh menyebalkan.


Sean tidak berniat membalas pesan terakhir Allesya. Kali ini dia lebih tertarik dengan yang lain. K e l i n c i K e c i l Sean mengganti nama pada nomor telepon Allesya seraya mendekte satu persatu hurufnya.


°°°


"Erick, buat apa kau datang lagi kemari? Apa kau lupa keberadaanmu bisa membuat jiwa Sarah kembali tergoncang?" tanya Henry seraya mengingatkan.


"Pa, aku mohon ijinkan aku menemui Sarah sekali lagi," mohon Erick sepenuh hati. Badan sedikit membungkuk dengan dua tangan menangkup di depan muka sebagai bahasa tubuh yang mewakili permohonan penuh akan harapan.


Henry tampak menghela napas panjang. Sungguh dia juga kecewa akan kesalahan yang telah diperbuat mantan menantunya tersebut di masa lalu, namun hati kecilnya tidak akan pernah tega setiap kali melihat muka melas penuh penyesalan Erick.


"Sean akan sangat marah jika tahu kau datang menemui Sarah," tutur Henry.


"Pah.., aku mohon," suaranya terdengar sendu.


"Baiklah, tapi kau jangan memaksa Sarah jika ia tidak ingin berbicara denganmu," Pria berusia senja tersebut kembali mengingatkan dan Erick langsung mengiyakan.


Berjalan beriringan dengan tongkat berkaki satu kesayangannya, Henry membawa Erick menuju halaman belakang. Di sebuah gazebo yang berdampingan dengan kolam ikan koi dan taman mawar, tempat favorit sang Putri, Sarah.

__ADS_1


"Sarah sedang di sana. Gadis yang sedang bersamanya bernama Allesya," Sorot matanya menunjuk ke arah dua sosok wanita yang terlihat sedang berbincang.


"Allesya?"


"Iya, bersikap baiklah kepada gadis muda itu, karena keberadaannya memberi peran yang luar biasa dalam kesembuhan jiwa Sarah," tutur Henry.


"Baik Pah," perlahan Erick menggiring tumitnya menuju gazebo diikuti Henry dari belakang.


"Sarah..," lirih Erick menyapa. Menatap Sarah dengan sorotan sendu penuh sesal yang begitu kelu.


Suara pria itu, suara yang sangat dia kenal. Meski jiwa sedang sakit tapi ingatan akan alunan dari getaran pita suara penuh kasih sayang sebelum badai menerpa rumah tangganya masih terpatri kuat di dalam palung hati.


Sarah menggiring muka dengan perasaan yang mulai bergejolak namun sentuhan lembut Allesya pada tangannya seolah mentransfer energi positif yang membuat ia lebih tenang, lebih bisa mengontrol jiwa yang meremang. Tante tenanglah, ada Allesya di sini, itulah untaian kalimat penguat yang terurai dari bibir gadis beriris hazel tersebut.


Bias terpana tersirat jelas pada muka tampan Erick yang tak lekang oleh usia di kala ucapan sederhana Allesya mampu membuat Sarah terlihat lebih terkendali dari saat-saat pertemuan sebelumnya. Tidak ada jeritan maunpun tangisan sebagai tanda sambutan tak bersahabat.


"Sarah, aku sungguh minta maaf, aku menyesal," bersimpuh di depan Sarah, Erick tak kuasa menahan genangan cairan bening yang pada akhirnya lolos juga membasahi pipi.


"Aku..., sangat merindukanmu Sarah. Nyatanya aku juga masih sangat mencintaimu," terungkap sudah perasaan yang selama ini terpendam di bawah penyesalan. Meski ungkapan hati itu mungkin tak bisa mengembalikan kisah bahagia di antara mereka seperti di kala itu.


Andai saja dulu dia tidak menoreh rasa iba terlampau tinggi kepada seorang wanita miskin yang terlantar di jalanan bersama putranya, mungkin rasa cinta tak akan bersemi di ladang yang tak semestinya ditumbuhi. Wanita itu adalah Inggrid, sosok figuran perebut kebahagiaan rumah tangga Sarah.


"Erick..," suara lembut nan lirih namun terdengar jelas oleh indera pendengaran Erick.


"Iya Sarah," binar kebahagian menghiasi paras tegasnya, ketika Sarah menyebut namanya untuk kali pertama setelah perpisahan.


Tiada lagi balasan setelah seucap kata yang terlontar samar dari bibir pucat Sarah selain buliran-buliran kristal yang melewati bingkai netra sebagai gambaran perasaannya saat ini.


Tiada suara isakan tangis maupun tubuh yang bergetar. Bias mukanya begitu datar, sorot matanya sukar terbaca namun cairan bening kedukaan kian menganak sungai di pipi.


"Tidak apa-apa jika kau tidak ingin memaafkanku Sarah, aku memang tidak pantas mendapat maaf darimu," ucap Erick lalu mencium dalam tangan Sarah.


Sedangkan Allesay dan Henry turut berderai air mata penuh haru di kala melihat interaksi sepasang anak manusia yang terpisahkan oleh pahitnya penghianatan.


"Sayang...," suara lembut seorang wanita tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam suasana yang masih berselimut kesedihan. Membuat semua orang mengalihkan pandangannya menuju pemilik sumber suara.


"Kamu? Untuk apa kau ikut datang kemari?" tanya Erick.





Bersambung~~


...Para readers kesayangan.. Di mohon tekan gambar like setelah membaca setiap babnya ya.. Hukumnya wajib. Maaf kalau Nofi maksa🤣...

__ADS_1


__ADS_2