
Wanted!! Mengandung part Fanaz!! Baca di depan kipas atau di dalam kulkas! Kalau tiba-tiba ANU, Nofi nggak nanggung loh. Yang gk suka bisa skip baca, tapi tinggalin like dulu ya!!!
GREP...!
Dan lagi, Sean mendadak lupa bagaimana cara bernapas karena Allesya kian mengeratkan lilitan tangannya pada tubuh Sean.
"Ahh.. Sh*it! Dadanya begitu menggoda," desah*n n*fsu sekaligus umpatan mencelos dari bibirnya ketika dua benda kenyal menghimpit dadanya.
Sementara paha ramping Allesya masih sesekali menunjukkan pergerakan kecil di atas belut listrik yang sudah menegang.
Sean menggiring manik pupilnya ke bawah, menelisik muka Allesya yang ternyata masih terpejam rapat. Bahkan deru napasnya yang berhembus terdengar teratur, menandakan ia benar-benar tenggelam ke dalam lelapnya.
Ingin memastikan lebih lanjut, Sean mengusap punggung terbuka Allesya seraya berbisik. "Jangan protes jika aku bertindak jauh Allesya," suaranya terdengar parau karena desakan n*fsu yang ingin dilepas. Dan Allesya masih terlena dalam mimpi.
Perlahan dan sangat berhati-hati, tangannya menurunkan tali baju Allesya ke sampah lengan hingga salah satu benda sintal berbungkus cangkang berenda menyembul keluar.
Sean mulai bergerak nakal. Jari-jemarinya menelusup ke dalam kain BH dan memilin biji peach dengan gemas.
"Kak Sean ... uuhh.. "
Terhenyak karena menduga tindakannya membangunkan Allesya, namun ternyata tidak, ia masih terpejam. Wanita itu bahkan seolah tengah menikmati perlakuan nakal Sean dari alam bawah sadarnya.
Dan apa ini? Perasaan senang seketika menghinggapinya di kala panggilan sayang yang sudah lama tak didengar kembali terucap dari bibir ranum Allesya. "Iya sayang... panggil kakak tampanmu ini seperti itu," bisiknya. Sungguh ia sudah sangat merindukan cara dulu Allesya memanggilnya.
"Hmm... Kak Sean...," igaunya yang mulai bergerak gelisah.
"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan di dalam mimpimu saat ini, Hm?" masih memainkan biji peach yang sudah menegang.
"Sstt..! Kak Sean... jangan..."
"Nikmati saja kelinci kecilku, aku tahu kau sedang memimpikan aku saat ini. Mari kita bercinta di dalam mimpimu," Sean seolah tengah mengantar sebuah sugesti ke alam mimpi Allesya melalui bisikan menggodanya.
__ADS_1
CUP!
Mel*mat lembut bibir ranum yang sedikit terbuka karena terus mengeluarkan des*ahan meski mata masih mengatup sempurna. Tangan mulai meninggalkan The Twins kenyal yang sudah menegang, lanjut turun menelusup ke dalam kain tipis pelindung organ kewanitaan Allesya.
"Ternyata kau sudah basah sekali," jari diajak mengusap naik turun di atas lembah yang menyimpan sejuta kenikmatan surgawi.
Dari lembah basah, usapan jari berpindah ke titik rangsang lainnya. Lanjut bermain dengan biji klit*ris dengan pergerakan berputar-putar.
"Aahh... Kak Sean... hmm... "
Sean sedikit menambah ritme pergerakan jarinya, menambah ransangan pada *-**** Allesya, membuat tubuh kecil itu menggeliat tidak tenang. Sesekali lidahnya juga bermain pada salah satu si Kembar kenyal yang menyembul dari bungkus.
"Dari terakhir kali aku menjamah, aku merasa ukuran The Twins miliknya bertambah besar dan sintal," batinnya memuji. Mer*mas lembut penampung susu itu dan kembali mengajak lidah menari-nari pada puncak The Twins.
Sungguh, melihat reaksi yang diberikan istrinya saat ini teramat menyenangkan bagi Sean. "Ahh.. Kau seksi sekali Allesya..," desis Sean. Seraya menahan gelora berahi yang sewaktu-waktu bisa meledak kapan saja jika ia lepas kendali.
Sean terus melakukan pijitan lembut, berputar-putar pada biji klit*ris Allesya. Menciptakan sensasi geli bercampur nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh kecil yang terlihat menggelinjang karena ulah nakal jari-jarinya.
Hingga tiba saatnya permainan tangan Sean harus terhenti karena kedua paha Allesya menjepit kuat, bersamaan tubuh bergetar diiringi lenguhan samar sebagai tanda pencapaian puncak kenikmatan.
Sean menarik kembali tangannya ketika himpitan kedua paha mulai merenggang. Rasa bangga telah memuaskan istri kecilnya mendorong bibir untuk tersenyum.
Mengecup sayang keningnya, mengusap lembut pipinya, memandang kagum muka lelapnya. "Bisa-bisanya dia tetap terlelap meski aku bermain-main dengan tubuhnya. Aku tidak bisa membayangkan bagaiamana reaksinya jika sampai tahu apa yang telah aku lakukan saat dia tidur," mendengus geli sembari menyingkirkan anak-anak rambut Allesya yang menghalangi pandangannya. "Aku anggap, kegiatan barusan adalah nafkah biologis pertama yang kuberikan kepadamu sebagai istriku."
Tangan terulur, membenahi tubuh Allesya ke dalam posisi tidur yang lebih nyaman. Menjadikan lengan kekarnya sebagai batalan. Menenggelamkan muka cantik itu ke dalam dada bidangnya.
Namun Allesya kembali bergerak. Mencari sendiri posisi tidur ternyaman dengan membelakangi Sean. Membiarkan Sean yang tengah merasakan ngilu pada batangnya karena hasratnya yang belum tertuntaskan.
Gairah yang tertahan, dilepaskan melalui helaan napas beratnya. Meskipun upaya tersebut tak memberi pengaruh apapun. Tangan mengusap frustrasi mukanya hingga sebuah senyuman geli terulas jelas. Pandangan bergulir ke bawah, menatap iba sesuatu di balik celana yang masih berdiri tegak dan kokoh bagaikan menara Eiffel.
"Apa yang harus aku lakukan denganmu?" mengajak bicara burung berkepala botak yang masih bergerak-gerak kecil di bawah kain celana.
"Tidak, aku tidak akan bermain solo lagi. Itu memalukan, errgg... " batang besarnya berdenyut ngilu.
__ADS_1
"Hei adik kecil, tidurlah. Belum saatnya kau mendapat jatah jajan," mengusap benda yang memenuhi ruang celananya. Menekan cairan kental yang sudah memenuhi tongkat ajaib penghasil bayinya.
Sean bisa saja, menuruti hasratnya saat ini juga. Meminta haknya sebagai seorang suami. Mencari kepuasan di atas ranjang dengan Allesya. Namun, bayangan akan penolakan mengalahkan desakan hormon-hormon pemicu libidonya. Meski kepala terasa berat bagaikan menyangga ribuan besi beton, jantung berderap cepat bagaikan langkah kuda dalam pacuan, dan tubuh terasa panas bagaikan berada di dalam ruang sauna.
Lagian, ia tidak ingin mengulang kembali kesalahan yang sama, yaitu menggunakan cara paksa untuk merengkuh kepuasan dari tubuh Allesya.
Manisnya momen bercinta, suasana intim memabukkan, percumbuan hangat, serta rasa saling membutuhkan untuk menggapai kepuasan bersama, itulah kesan yang ingin diberikannya kepada Allesya suatu saat nanti.
Keinginan memandang muka cantik Allesya yang tengah terlena dalam lelap mendesak tangan untuk menarik tubuh meringkuk itu agar kembali menghadap ke arahnya.
Mengabaikan sesuatu yang menuntut kebebasan di bawah sana. Mempersilahkan perasaan hangat merengkuh hati. Belum puas, ruang jarak tubuh di antara mereka tak dibiarkan menyisa. Dada bidang polos dijadikan tempat untuk membenamkan muka damai Allesya.
"Hmmm..," dengungan igauan kembali terdengar dari bibir ranum itu. Kenyamanan yang diterima seakan memberi sambutan. Tangan terangkat, melingkari perut Sean.
Meski tindakan Allesya itu berasal dari alam bawa sadarnya, Sean menyukainya. "Kau satu-satunya wanita yang sukses membuatku gila Allesya," merengkuh lebih erat. Mengecup hangat pucuk kepalanya. "Benar yang dikatakan Kakek waktu itu. Kau yang dulu aku anggap sebagai gadis gila, bar-bar, dan pembuat onar adalah sebuah bongkahan berlian di antar tumpukan kerikil tak berharga."
Satu kecupan manis di bibir Allesya, sebagai pengantar tidur. "Sepertinya aku sudah tak memerlukan obat tidur."
Waktu sudah berada dipenghujung malam. Sean mulai memejamkan mata. Membawa jiwa terbang menyusul Allesya yang sudah duluan berkelana di dunia bunga tidur.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Kecewa ya..karena tak sesuai ekspetasi??🤭 Biarin, karena Nofi masih hobi nyeksa Sean hingga beberapa bab lagi🤣
Jangan bosan ya ma tulisanku.. Simak terus sampai tamat🥰
Oya, ni Novel sudah dalam tahap pengajuan kontrak perhari ini. Doain lulus ya🙏
__ADS_1
Hayoo... bakar api semangat Author paling folos se NT/MT ini dengan menendang ganas tombol like. Tinggalkan komen bobrok sampai buat Nofi bergidik nggilani.
Terima kasih..wo i nimen.. 😘😘😘