
Waktu masih terus melaju maju, merajut berbagai kisah yang menyisakan kenangan. Mengiringi makhluk bernyawa untuk menyelami harapan di masa depan.
Kurung kurang dari 24 jam acara pernikahan Erlan dan Allesya sudah akan di gelar. Semua keperluan yang berkaitan dengan kelancaran pesta sudah dipersiapkan dengan matang. Berharap acara akan berjalan lancar sesuai susunan acara yang telah tertulis.
Seluruh anggota keluarga Willson sengaja terbang menuju Paris sehari sebelum hari perencanaan perayaan pernikahan diadakan atas permintaan keluarga Damirich. Awal mula, keluarga Willson berniat menginap di salah satu hotel berbintang di pusat kota, namun lagi-lagi keluarga Damirich memaksa untuk menginap di istana megah mereka.
Semburat jingga tengah menghiasi langit senja di ufuk barat. Mengantar hari terang menuju petang. Di salah satu sudut kota Paris, tepatnya di sebuah bangunan besar yang dikelilingi rak-rak raksasa berisikan buku-buku dalam bentuk dan jenis beraneka ragam.
Sean tampak menyapu seisi ruangan, seolah mengabsen satu persatu buku yang tertata rapi. Hingga satu tangan terulur, mengambil satu buku secara asal dan membawanya duduk di atas sofa bersebelahan dengan Erlan yang juga baru saja datang membawa dua cangkir kopi dan diletakkan di atas meja berlapis kaca.
Sean saat ini memang sedang berada di bookstore pusat milik Erlan. Bookstore yang sengaja ditutup lebih awal sehingga di sana hanya ada Sean dan Erlan.
"Minumlah dulu sebelum menghujatku," Erlan menyela terlebih dahulu, mencegah Sean yang sudah sedikit membuka mulutnya untuk bersuara. Seolah tahu betul akan isi kepala saudara angkatnya tersebut.
"Ck! Kau seperti paranormal," cebik Sean dibalas kekehan ringan Erlan.
"Aku hanya takut ia semakin menjauh, itulah sebabnya aku memutuskan hal itu."
Bibir yang hendak menyesap cairan hitam dari dalam cangkir kopi seketika terurungkan. "Dengan cara mengikatnya dalam janji pernikahan?"
Tersenyum simpul, menjadikan cangkir kopi yang dirangkum oleh kedua tangannya sebagai objek pandang. "Tolong jangan menganggapku egois. Kau juga pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisiku," pandangan teduh berpindah ke arah Sean yang masih setia dengan kerutan di dahinya.
"Tidak, aku tidak akan melakukan hal yang sama sepertimu," menolak asumsi Erlan tentang dirinya. "Kalau aku jadi kau, setidaknya aku harus meyakinkan diriku sendiri terlebih dahulu bahwa aku bisa hidup mendampingi Allesya lebih lama," menjeda kalimatnya untuk mengatur perasaan agar masih di dalam naungan kontrolnya. "Apa kau ingin melihat ia bersedih karena kau tinggal mati dengan cepat karena penyakitmu? Seharusnya kau mengganti ginjalmu itu dulu sebelum membawanya ke atas altar pernikahan," Sean terlihat kesal.
Erlan tersenyum getir, perkataan yang didengar suskes mencubit hatinya. Membenarkan semua serentetan kalimat yang mencelos dari lidah Sean. "Bukankah itu justru bagus? Kau bisa memiliki ruang gerak lebih bebas untuk mendekatinya jika aku mati."
"Apa kau sadar dengan ucapanmu barusan?!" melempar tatapan tajam ke arah Erlan yang sama sekali tak menciut, senyumannya bahkan terlihat lebih mengembang.
Jujur, hati kecil Erlan menyimpan kekaguman kepada Sean. Terlepas dari kesalahannya di masa lalu, nyatanya Sean adalah pria yang mampu mengesampingkan sifat egonya demi kebahagiaan orang yang dia cintai.
Kalau saja rivalnya bukanlah Sean, sudah pasti orang itu akan bertepuk tangan seraya tertawa keras melihat keadaanya yang berpenyakitan seperti sekarang.
Erlan mengalihkan atensinya kepada sebuah buku yang sempat diambil Sean dari rak buku. Ia berdecak setelah membaca judul yang tersemat di atas sampul bewarna hitam tersebut. "Aku yang akan menikah tapi kenapa kau yang seolah bersemangat," cebiknya seraya menunjuk benda yang dipegang Sean dengan lirikan mata.
Perhatian Sean lantas mengikuti kemana arah tujuan lirikan Erlan. 'Tips For Success On The First Night' reflek Sean membuang buku tersebut ke arah Erlan setelah menyadari judul buku yang sempat dia ambil secara asal sebelumnya begitu memalukan.
"Aku tidak perlu memakai buku ini kalau hanya untuk urusan ranjang," kilah Sean. Erlan tergelak.
Sean mencubit cangkir kopinya dan mensesap cairan dari dalamnya. Membiarkan Erlan menikmati tawanya. "Sudah puas?" pertanyaan mengandung sindiran ditujukan setelah suara gelak tawa itu berangsur-angsur menghilang.
"Aku belum puas. Jujur, aku sangat ingin menertawaimu karena kau justru kalah bersaing dengan orang berpenyakitan sepertiku, akhirnya akulah yang akan bersanding dengan Seanie di atas Altar," ledek Erlan meski ucapannya tidak sepenuhnya tulus dari hati.
"Ck! Tapi akulah orang yang telah mendapatkan mahkota keperawanannya," sahut Sean tak mau kalah. Walaupun rasa bersalah masih tetap ada.
Erlan sontak memasang muka sinis. "Itu karena kau seorang bajingan."
"Aku tidak akan menyangkalnya," balasnya, lanjut beranjak dari sofa empuk, berniat untuk pergi. Namun ia terlebih dahulu memperhatikan muka Erlan. "Segeralah beristirahat, mukamu terlihat buruk. Jangan sampai kau tumbang sebelum acara pernikahannya dimulai besok," tutur Sean kemudian melangkah pergi meninggalkan gedung bookstore milik Erlan.
°°°
__ADS_1
Di kediaman keluarga Damirich. Setelah acara makan malam bersama berakhir, orang-orang berpindah ke ruang tamu. Melanjutkan kegiatan mereka dengan berbincang ringan. Tampak gelak tawa sesekali mewarnai obrolan mereka.
Mereka adalah pasangan suami istri Raffaresh dan Raffaela berserta kedua putrinya Allesya dan Vera. Dan juga ada pasangan suami istri Erick dan Sarah. Tidak ketinggalan juga Henry yang terlihat membaur bersama.
"Erick, kemana perginya anak bandel itu?" tanya Raffaresh di sela obrolan mereka. Menyadari putra angkatnya belum kembali setelah berpamitan tidak ikut bergabung acara makan malam.
"Katanya ia ingin mencari udara segar," jawab Erick.
"Apa dia sudah tak menganggapku Daddynya?" Faresh tampak merajuk. "Kita jarang sekali kumpul, tapi dia malah mencari kesenangan sendiri."
Erick terkekeh. "Kau itu terlalu sensitif Faresh, seperti wanita yang sedang PMS, seharian marah-marah terus tak mau berhenti, bikin telinga panas," kelakar Erick yang langsung mendapat hujaman tatapan tajam dari Sarah dan Raffaela. Membuatnya bungkam seketika.
"Ow, jadi begitu? Sepertinya nanti malam aku akan tidur di kamar lain saja," Sarah tampak tersinggung.
Bergantian Raffaresh yang tergelak. Merasa puas melihat tampang bodoh sahabatnya.
"Sarah, apa kau mau tidur bersamaku saja malam ini," tawar Raffaela.
Gelak tawa pecah Raffaresh langsung senyap. Mimik mukanya seketika berubah suram. "Sayang kalau Sarah tidur bersamamu terus aku tidur bersama siapa?"
"Kau bisa tidur bersama Erick," balasnya cuek. Membuat Vera dan Henry yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia tertawa lepas.
Di dalam suasana hangat keluarga yang penuh akan canda tawa nyatanya tak membuat Allesya bisa merasakan kesenangan yang sama. Bibir boleh terus mengulas senyuman, namun tidak untuk hatinya yang tengah merasa gundah.
"Semuanya, Allesya pamit ke atas duluan ya," selanya.
"Iya sayang, sebaiknya segera beristirahat saja. Kau harus memiliki banyak tenaga untuk acara besok," tutur sang Mommy.
"Baik Mom," ia tersenyum ramah sebelum kaki membawanya melangkah meninggalkan ruang tamu.
"Hatiku sungguh tak tenang. Ini pasti karena aku terlalu tegang," lirihnya mencoba berpikiran positif, bahwa apa yang dirasakan bukanlah suatu keraguan akan keputusannya untuk menikah.
Allesya seketika terkesiap di kala sebuah mantel hangat tiba-tiba membungkus dirinya dari belakang. Penasaran, lantas ia memutar leher ke samping, mencari tahu sumber keterkejutannya.
"Sean?"
"Iya aku, memang kau pikir siapa?" membawa tubuh gagahnya berdiri tepat di sebelah Allesya.
Wanita berkuncir ekor kuda itu kembali menggiring mukanya lurus ke depan. "Jantungku hampir saja loncat karena kaget," sungutnya.
"Maaf," Sean sedikit membungkuk dengan kedua siku bertumpu pada pagar kacar balkon. Mensejajarkan mukanya dengan muka Allesya. Memudahkannya untuk menikmati muka cantik yang sebentar lagi akan menjadi milik pria lain. "Udara sedang dingin, kau malah berada di luar dengan pakaian tanpa lengan."
"Aku sedang ingin melihat bintang," jawabnya asal kena, membuat Sean mendengus geli. Tatapannyapun tak lepas dari muka Allesya.
Sepasang alis Allesya menukik karena heran. "Kenapa? Ada yang aneh?"
"Tidak ada bintang saat ini Allesya. Coba kau lihat, langitnya tengah berselimut awan tebal."
Mata yang semula memandang lurus diajaknya melihat ke langit. Dan benar, tidak ada satu bintangpun di sana. Bahkan sang Dewi malam tampak bersembunyi di balik awan. Seketika Allesya terlihat seperti orang bodoh. Namun terlihat menggemaskan di mata Sean. Membuat mata enggan berpaling dari muka Allesya.
"Jangan menatapku seperti itu," protes Allesya. Merasa tak nyaman dengan cara Sean menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena aku tidak suka."
"Bukan karena gugup melihat ketampananku?"
Allesya melempar lirikan jengah ke arah Sean. "Dasar narsis," cebiknya.
Sean kembali mendengus geli. Tidak ada sedikitpun rasa tersinggung. Tangan yang sudah gatal ingin menyentuh diletakkan di atas kelapa Allesya, lanjut memberi belaian lembut beberapa kali. "Aku pasti sangat berdosa jika berharap bisa menggantikan Erlan mendampingimu di atas altar besok. Tapi harapan itu muncul begitu saja, dan aku tidak bisa menangkisnya."
DEG! DEG! DEG!
Ucapan Sean membuat sesuatu yang berdetak di dalam dadanya kian bertabuh. Apakah tanpa sadar ia juga mengharapkan hal yang sama? Tidak, harapan itu tidak boleh ada, karena itu akan menyakitkan bagi Erlan.
"Harapanmu itu tidak mungkin terjadi."
"Tapi kita tidak pernah tahu garis takdir yang sudah dirancang Tuhan bukan?" sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan membuat lidah Allesya sulit untuk berucap.
"Masuklah ke dalam dan beristirahatlah. Besok kau akan membutuhkan banyak tenaga," tutur Sean.
"Kau saja yang masuk, aku masih ingin di sini," tolak Allesya, tak memperdulikan segala wujud kepedulian Sean.
"Masuklah Allesya, udara semakin dingin," desak Sean.
"Aku tidak mau."
"Allesya.."
"jangan suka memaksa Sean," masih keukuh menolak.
"Masuklah sebelum aku bertindak jauh," Sean mulai mengancam. Allesya tak peduli.
"Asal kau tahu bahwa saat ini aku tengah menahan hasratku untuk menciummu. Masuklah sebelum aku lepas kendali," ungkapan Sean sukses mengundang sikap was-was pada diri Allesya.
"Dasar kadal mesum!" umpatnya sebelum akhirnya memilih masuk ke dalam.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Siap-siap besok Allesya menikah nih.. gimana ya nasib abang tamvan Sean..?🤭
Ya Allah, ni Nofi ngetiknya bener2 ngebut loh. Maaf ya jika banyak typo. Dah jam satu lebih nih, mata dah gak kuat mau ngoreksi.
Please, jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen..
Jika ada yang mau nyumbang gift dan vote juga akan Nofi terima dengan ucapan alhamdulilah🥰
__ADS_1
Terima kasih ya karena kalian masih setia nyimak kisah Sean dan Allesya..🥰
Lop lop you segede segunung😘😘