
"Apakah kau tidak apa-apa?"
"Aku malah akan merasa bersalah jika kau tidak menemuinya sekarang. Bagaimanapun juga kau menuduhnya karena aku."
Allesya tampak menimang pikiran yang meragu. Hati berkata 'ingin' namun gelengan kepalalah yang terjadi. Bagaimana bisa ia meninggalkan Erlan sendirian yang sedang sakit. Lagi-lagi sisi kemanusiaan yang lebih dominan. Mengesampingkan kata hatinya. "Aku akan tetap menjagamu di sini Erlan," putusnya.
Senyuman tipis terulas pada bibir pucat Erlan. Menatap hangat muka Allesya yang selalu terlihat cantik. Harusnya dia berbangga karena memiliki kekasih yang memiliki intensistas perhatian besar kepadanya kendati ia tahu, Allesya memang sejatinya makhluk ciptaan Tuhan yang berlimpah akan kasih sayang dan perhatian kepada orang-orang di sekitarnya.
Namun Erlan tidak ingin membiarkan wanitanya tersebut mengabai kewajibannya sebagai manusia yang baru saja melakukan kesalahan. "Seanie, apa kau benar-benar tidak ingin melakukannya?" tanya Erlan mengingatkan tanpa melepas tatap.
Mutiara hazel itu sontak keluar dari area tatapan Erlan. Tidak ingin pria di depannya membaca pikirannya melalui sorot netra. "Apa itu penting?"
"Aku tahu kau juga sedang merasa bersalah saat ini Seanie. Cepat susul dia dan meminta maaf. Aku yakin dia masih berada di sekitar Rumah Sakit."
Allesya masih bergeming namun hatinya terus berbisik. "Erlan, aku takut menyakiti perasaanmu jika aku menyusulnya."
"Baiklah kalau kau tidak mau meminta maaf. Biar aku saja yang menemuinya untuk menyampaikan maafmu."
"Baiklah aku akan segera menemuinya. Kau tetaplah beristirahat di sini," sergah Allesya menghalau niat Erlan yang hampir melepas jarum infus dari tangannya.
Pria yang masih berstatus sebagai seorang pasien itu tersenyum. "Ya sudah kalau begitu kau pergilah dan aku ingin kembali istirahat. Tubuhku juga masih sangat terasa tidak nyaman," ucap Erlan. Kembali membawa tubuh ringkihnya beringsut ke dalam selimut disusul kedua kelopak mata yang mulai mengatup.
Allesya yang semula berupaya menekan dalam-dalam keinginannya untuk menemui Sean seketika goyah dan berakhir menuruti suara hati kecilnya. Setelah memastikan Erlan benar-benar beristirahat, gegas ia bawa tubuhnya untuk keluar ruangan. Melangkah cepat berharap keberadaan Sean masih bisa terjangkau olehnya.
Sementara itu, Erlan kembali membuka mata sayupnya di kala tubuh Allesya tenggelam di balik daun pintu. Ia menghela napas sepelan mungkin. Berusaha menyangkal akan kemelut hati sedang tidak baik-baik saja kendati rasa takut kehilangan mulai menggerogoti jiwa. "Ya Tuhan, ijinkan aku merasa kebahagiaan bersamanya meski hanya sesaat. Rasanya aku belum rela melepas senyuman cantiknya saat ini."
°°°
Di bawah atap mobil mewah. Jari yang sudah terulur untuk menekan starter mobil seketika terurung karena jeritan dering ponsel bersamaan getaran yang menggelikan.
"Halo?"
"Putraku kau berada di mana sekarang? Apa benar saat ini kau berada di Paris?"
"Kau sudah tahu jawabannya tapi kenapa masih bertanya?" jawabnya dingin membuat Erick yang berada di seberang telepon mengelus dada.
__ADS_1
"Kalau kau masih berada di Paris, kau bisa sekalian menemui seseorang di sana?"
"Siapa?"
"Aku mempunyai seorang putra angkat di sana. Temuilah dia."
"Ck! Ini apa lagi coba? Kau merawat putra tiri dan putra angkatmu dengan sangat baik. Sedangkan kau menelantarkan aku yang notabene putra kandungmu," sungut Sean.
Bukannya marah, suara kekehan Erick malah terdengar di balik panggilan. Ia sangat tahu putranya sedang cemburu. "Percayalah Sean, aku juga sangat menyayangimu. Apa dulu kau tidak ingat, aku berkali-kali mencoba mendekatimu tapi kau selalu melemparku dengan batu? Padahal Papahmu ini sangat merindukanmu."
"Iya.. Iya.. jangan dilanjutkan. Lama-lama kau menggelikan. Ya sudah siapa nama putra angkatmu itu?"
Lagi suara kekehan Erick terdengar sebelum akhirnya kembali menyahut. "Namanya Erlan. Setelah ini aku akan mengirimkan alamat rumah dan nomor teleponnya. Baik-baiklah dengannya karena kondisinya tidak sesehat kamu."
"Erlan?" Sean mengoreksi pendengarannya. Jujur ia lumayan terkejut.
"Ia Erlan, dia juga sangat tampan sepertimu."
Sean sangat yakin Erlan yang dimaksud Erick adalah Erlan yang dia kenal. "Segera kirim alamat dan nomor teleponnya. Dan sekali lagi, aku lebih tampan darinya." ucapnya penuh penekanan sebelum memutuskan panggilan secara sepihak.
"Aah! Yang benar saja, ternyata hidupku penuh kejutan. Erlan adalah putra angkat Ayahku dan juga kekasih Allesya," monolognya.
CKIT...!
AHKK..!
"Allesya..!" pekik Sean yang hampir menabrak tubuh Allesya yang tiba-tiba melintas dari arah samping. Beruntung kakinya bergerak cepat untuk menginjak pedal rem sehingga mobil yang dia kemudi berhenti tepat di depan Allesya yang menyisakan jarak hanya beberapa senti saja. Kalau saja telat barang sedetik saja, mungkin dia bakal terbunuh oleh penyesalan yang berkali-kali lipat.
Didorong oleh perasaan cemas, pria blonde itu menuruni mobil dan langsung mendekati Allesya yang masih membatu karena sangking terkejutnya. "Allesya apa kau baik-baik saja? Maaf aku tidak melihatmu yang hendak lewat," ditelisiknya setiap sudut tubuh Allesya dari ujung atas hingga ujung bawah, berharap tidak menemukan satu goresan sedikitpun.
"Aku tidak apa-apa. Ini memang salahku karena kurang berhati-hati," balas Allesya dengan suara bergetar karena dada yang masih berdebar.
"Kau mau ke mana? Biar aku antar?"
"Aku mau duduk saja, kakiku terasa lemas sekali."
Dengan cekatan, tangan besar itu membuka pintu mobil bangku belakang selebar-lebarnya. Menuntun tubuh Allesya masuk ke dalam. Memberi ruang untuk menenangkan diri. "Tunggulah di sini sebentar, aku akan membeli minuman untukmu."
__ADS_1
"Tidak perlu," sergah Allesya menghentikan Sean yang hendak pergi.
"Kau sudah lebih tenang?"
"Iya."
Sean akhirnya memilih bergabung ke dalam mobil. Duduk di sisa bangku kosong sebelah Allesya. Memandang muka cantik itu penuh perhatian meski balasan tatapan sekilas yang dia dapat.
"Kau mau pergi ke mana? Mau aku antar?" tanyanya yang tak hanya sebagai wujud perhatian namun juga harapan. Iya, harapan agar bisa sedikit lama bersama wanita yang selalu ada dalam ruang kerinduan hatinya.
Alih-alih menjawab atau menerima tawaran Sean. Allesya malah mengobrak-abrik isi tasnya tanpa berkecap suara. Tak menghiraukan Sean yang tengah mengamatinya dengan muka herannya.
"Mendekatlah," pinta Allesya yang sudah memegang obat luka di tangannya.
Sedikitpun tak ada penolakan. Sean justru terlihat patuh seolah ucapan bibir Allesya bagaikan mantra sihir.
Dengan hati-hati, Allesya terlebih dahulu mengolesi obat pada tulang pipi Sean yang terdapat luka memar. "Aku melakukan ini sebagai ucapan minta maafku karena telah sembarangan menuduhmu tadi," ucapnya tanpa melepas fokus mengobati luka yang sudah terlihat biru keunguan tersebut.
"Aku tidak menyalahkanmu. Anggap saja itu hukuman untukku karena dulu sudah menuduhmu tanpa mendengar penjelasanmu terlebih dahulu. Maaf," sesal Sean tanpa melepas pandang dari muka Allesya.
"Ahk!" Sean mengaduh pelan ketika Allesya menekan lukanya. "Tolong pelan sedikit," pintanya.
Allesya cuek. Dia malah lanjut mengobati luka robek pada bibir Sean. Sesaat pergerakan tangannya terhenti. Bibir Sean mengingatkannya pada kenangan indah di masa lalu. "Ini adalah bibir yang mendapatkan ciuaman pertamaku. Bibir yang mengajariku apa itu ciuman manis," batinnya mengenang namun cepat-cepat ia usir ingatan itu dan kembali melanjutkan aktifitas yang sempat terhenti.
Sedangkan Sean, tak henti-hentinya lensa birunya menyapu setiap inci muka Allesya yang tampak lebih cantik jika dilihat dari dekat. "Sangat indah dan mengagumkan," batin Sean terpesona. Hingga ia harus kembali menggila ketika sapuan netra bermuara pada bibir ranum yang menjadi candu baginya. "Ah sial! Kau harus tahan Sean..!" tak ingin lepas kuasa, Sean memutus akses pengelihatan dengan menutup matanya.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Sampai di sini dulu ya... lanjut besok. Jujur ini otak cabul dah gatal ingin nulis part hareudang. Tapi sementara Nofi mau bergaya polos dulu biar keliatan alim seperti bu Haji hingga tiba waktunya kembali kumat😆
Please jangan kabur dulu ya.. Kasian kan jika ni lapak sepi seperti kuburan🥺
__ADS_1
Makasih ya... lop lop you yang buanyaakk...😘