
PLAK!
"Sudah berapa kali Mama ingatkan, jangan temui mereka!" sentak Inggrid setelah melayangkan sebuah tamparan pada muka tampan putranya, Arthur.
"Lagi-lagi Mama mengirimi orang untuk memata-mataiku," tuduh Arthur sambil menangkup sebelah pipinya yang baru saja menjadi korban sasaran akibat kemarahan Inggrid.
Inggrid mecoba mengatur emosinya. Jujur saja, penyesalan juga terbesit di hatinya setelah menampar putra kesayangannya. "Mama harap, kali ini kau mau mematuhi perintah mama."
"Ma, bukankah aku selalu mematuhimu. Aku bahkan ikut bungkam ketika kau membohongi Papa," tukas Arthur.
"Sayang, Mama hanya ingin kita berdua bahagia," Inggrid mendekati Arthur, mengusap pipi yang seharusnya dia belai dengan kasih sayang bukan dengan tamparan.
"Tapi aku tidak bahagia Ma..,"
"Cukup Arthur, jangan membantah! Tidak bisakah kau bahagia dengan melihat wanita yang melahirkanmu ini bahagia?" tukas Inggrid seraya menatap lekat manik mata Arthur. Terlihat jelas tingkat egoisme melekat kuat pada wanita berstatus ibu tersebut.
"Apakah tidak ada cara lain untukmu bahagia? Merebut kebahagiaan orang lain dan melupakan keluargamu bukanlah cara yang sehat Ma. Percayalah, kebahagiaan yang didapatkan dengan cara yang salah tidak akan bertahan lama," Arthur menatap sendu muka wanita yang telah merawatnya itu. Kecewa akan tindakan sang Mama selama ini benar ada tapi ia juga tidak bisa mengabaikan rasa kasiannya.
"Ma.., kau bahkan memanipulasi kematian ayah biologisku. Aku tahu dia tidak mati, melainkan sedang menjalani hukumannya di penjara, atau mungkin saja sekarang ia sudah bebas," sambung Arthur kembali yang tentu membuat Inggrid seketika tercengang.
"K-kau.., sejak kapan mengetahuinya?" Inggrid seketika gugup. Pasalnya selama ini dia hanya menyimpan sendiri rahasia tentang status kematian palsu Reymond.
"Aku sudah tahu Ma.., dan hal itu semakin membuatku merasa bersalah kepada Papa Erick yang selalu bersikap baik kepadaku. Aku seperti ikut membohonginya," sesal Arthur.
"Tetaplah bersikap seolah kau tidak tahu! Jangan membantah, patuhi semua perintahku!" titah Inggrid penuh penekanan.
"Aku tidak akan berjanji," sahut Arthur.
"Kalau begitu, Mama juga tidak akan berjanji untuk tidak mengusik ketenangan Allesya kelak," ancaman Inggrid sukses membuat Arthur bungkam.
Kalau saja selama ini Inggrid tidak menggunakan Allesya sebagai ancamannya mungkin Arthur sudah lama pergi meninggalkan sang Mama dan memilih hidup bersama neneknya dan Allesya.
"Mulai besok bersiap-siaplah untuk bergabung di perusahan Papa tirimu," tambah Inggrid terkesan tidak menerima penolakan apapun dari Arthur.
"Dan satu lagi, pendam dalam-dalam rasa kasih sayangmu itu kepada Allesya. Perasaanmu itu tidak seharusnya ada," lagi-lagi Inggrid memaksa Arthur untuk menuruti hal sulit untuk ia lakukan.
"Bagaimana Aku bisa melakukan itu di saat aku benar-benar sudah sangat menyayangi Allesya," batin Arthur.
°°°
Di kediaman keluarga Willson.
"Waaah...! Tante kau sungguh membuatku iri. Kemana perginya garis-garis keriput di mukamu?" puji Allesya karena kagum akan kecantikan alami yang masih terpancar di muka pucat Sarah meski usianya sudah hampir menginjak kepala angka 5.
Terlukis garis lengkungan samar pada sepasang bibir pucat Sarah. "Cantik," lirihnya kemudian.
__ADS_1
"Iya, tentu saja Tante masih sangat cantik," sahut Allesya jujur apa adanya.
"Kamu," sela Sarah. Perlahan ia mengulur jari telunjuknya ke arah muka Allesya.
"Hm? Saya?" Allesya mengoreksi ucapan Sarah seraya menunjuk mukanya sendiri.
Sarah mengangguk samar. "Cantik," lirihnya lagi.
"Maksud Tante aku cantik?" koreksi Allesya kembali.
Sarah menurunkan jarinya diikuti anggukan pelan serta senyuman yang juga terlihat samar.
"Benarkah?"
Sarah hanya menjawab dengan sorot matanya. Sorot mata yang dulunya terlihat kosong dan putus asa kini mulai memancarkan sebuah harapan dan cinta.
"Sayangnya putramu yang super tampan itu sepertinya sama sekali tidak tertarik kepadaku," muka cantik gadis itu berubah muram.
"Huufft!" dia membuang napas pasrah lalu melempar pandangannya ke segala arah. "Dia bahkan sudah menciumku tapi katanya aku hanyalah seekor kelinci kecil baginya," cicit Allesya dengan bibir mengerucut.
Sedetik kemudian, gadis itu kembali melempar mukanya ke arah Sarah dengan mimik muka serius bercampur kesal. "Apa Tante tau, bahkan putramu itu bilang kalau dadaku ini rata. Bukankah itu menyebalkan? Aku bahkan sampai pernah membuat dadaku agar terlihat lebih besar dengan cara menyumpalnya menggunakan kaos kaki, tapi itu justru membuatku terlihat lebih buruk. Aku seperti menggendong dua buah melon di dadaku, sungguh mengerikan," beber Allesya tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Ia bahkan menangkup kedua gunung kembarnya dengan tangannya karena terlampau menjiwai saat bercerita.
Sarah terlihat mengurai senyuman ringan ketika mendengar celotehan Allesya yang terlalu terbuka itu. Memang seperti itulah Allesya. Sifat yang terbuka, apa adanya serta ceria adalah nilai plus dari sikap gigih dan pantang menyerahnya. Tentunya, hal itu juga sangat berpengaruh positif pada fase pemulihan jiwa Sarah yang sempat tergoncang.
Hari sudah menjelang sore. Ditandai langit kota London yang mulai meredup sendu. Menjemput gelapnya malam yang bertabur bintang.
Setiap akan pulang, gadis itu memang selalu menyempatkan diri untuk sekedar menikmati keindahan bunga kesukaannya tersebut.
Ayunan langkahnya terhenti ketika sepasang netranya menangkap sebuah balkon berpagar kaca bening yang terletak di lantai dua. Sebuah balkon yang menghubungkan langsung antara ruang luar dan kamar milik pria sang Pujaan Hati, Sean.
"Apa Kak Sean belum pulang? Sudah seminggu aku tidak bertemu dengannya. Dia berangkat kerja pagi-pagi sekali sebelum aku tiba dan pulang kerja setelah aku kembali ke rumah. Apa dia sedang menghindariku? Tapi kenapa? Hufft..! Aku sangat merindukannya," gumam Allesya dengan muka masih menengadah ke arah balkon kamar yang sedari tadi menjadi sorotan matanya.
"Kak Sean.... I miss you...," ucap Allesya setengah berbisik dengan muka masih menengadah ke arah balkon kamar diikuti kedua telapak tangan membentuk seperti corong di depan mukanya. Dia seolah sedang mengungkapkan perasaannya di depan bayangan Sean.
"Apa kau sangat merindukannya?"
"Iya, sangat," jawab spontan Allesya tanpa menyadari sosok seseorang yang baru saja bertanya kepadanya. Pandangannya juga masih terpaut ke arah balkon kosong tersebut.
Fuuuhh....!
Allesya seketika terperanjat karena seseorang meniup telinganya sehingga membuat ia merasakan sensasi geli dibarengi gerakan refleknya menoleh ke samping.
CUP!
Allesya terkejut dengan kedua mata membelalak karena benda kenyal menempel di bibirnya secara tiba-tiba dan tanpa permisi terlebih dahulu.
"Kak Sean kau mengagetkanku! Sejak kapan kau datang?" Sembur Allesya setengah kesal.
__ADS_1
Sean menegakkan tubuhnya dari posisi setengah membungkuk. "Aku datang sebelum kau berkata Kak Sean.. I miss you," balas Sean sembari mempraktek ucapan dan gerakan Allesya beberapa saat yang lalu.
Blush....
Tidak seperti biasanya, entah mengapa kali ini Allesya si Gadis bar-bar merasa malu karena perbuatannya tertangkap basah oleh Sean.
"Kak Sean, tadi lagi-lagi kau menciumku," protes si Gadis dengan bibir mengerucut seperti ikan cucut serta pipi yang mengembung seperti ikan buntal lagi kembung karena kebanyakan minum air.
"Apa aku tidak salah dengar? Kaulah yang menciumku tadi," sanggah Sean tidak terima.
"Tidak! Kaulah yang menciumku," Allesya masih ngotot.
"Baiklah kalau kau masih keukuh menuduhku bahwa aku yang menciummu duluan sebaiknya aku lakukan saja sekalian karena aku tidak ingin rugi," timpal Sean sembari menarik salah satu ujung bibirnya.
"Tidak mau!" Allesya reflek menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan mengambil satu langkah ke belakang. Dia bisa menangkap maksud perkataan si Kakak Tampannya tersebut.
Pria berbadan gagah itu mengambil satu langkah lebar ke depan, memangkas jarak ruang antara tubuhnya dan tubuh Allesya.
"Kenapa? Bukannya kau menyukaiku? Seharusnya kau senang jika aku menciummu. Bukannya kau dulu juga beberapa kali pernah menyosorku tanpa permisi seperti bebek kelaparan, tapi kenapa sekarang kau bersikap sok jual mahal seperti itu?"
"Dulu dan sekarang berbeda," sahut Allesya asal kena setelah ia menurunkan kembali tangan dari mulutnya.
"Tidak ada yang berbeda Allesya, kau tetap gadis bar-bar yang selalu mengejar-ngejarku," timpal Sean penuh percaya diri. Tapi kenyataannya perkataan Sean memang benar adanya bukan.
Lagi-lagi Allesya menampilkan muka yang membuat Sean merasa gemas melihatnya. Yaitu bibir ikan cucut dan pipi ikan buntal.
"Sudah ku bilang jangan memasang muka seperti itu di depan seorang pria," tandas Sean.
"Sudahlah terserah Kak Sean saja, aku mau pulang," Allesya melangkah maju melewati Sean namun tiba-tiba tubuhnya kembali terhuyun ke belakang karena tangan besar Sean menariknya.
"Apa kau lupa dengan perkataanku barusan bahwa aku tidak ingin rugi. Dan berhati-hatilah ketika kau melontar sebuah kata terserah kepadaku karena aku benar-benar akan melakukan sesuka hatiku," ucap Sean setengah berbisik.
CUP!
Tanpa memberi aba-aba Sean mendekatkan mukanya lalu menyapu bibir Allesya dengan sekali lahap namun cukup membuat bibir kenyal Allesya basah karena cairan salivanya.
"Masih sama dengan sebelumnya, sangat manis," ucap Sean sembari mengusap bibir Allesya dengan ibu jarinya.
Sean kembali menegakkan punggungnya. Memandang muka Allesya yang masih dalam mode membatu karena terkejut. Ia menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk bulan sabit sebelum akhirnya ia melenggang pergi meninggalkan Allesya sembari bersiul ria seolah ia sedang merayakan kepuasannya setelah menjahili si Kelinci Kecilnya.
❣
❣
❣
Bersambung~~
__ADS_1
...Maaf ya jika masih membosankan.. Ini sudah hampir mendekati part konflik kok. Terus pantau cerita Sean dan Allesya ya.. Terimakasih😘😘...