
Sayup-sayup simponi alam terdengar menyambut sang Penguasa siang yang kembali menyingsing ke singgasananya. Melebarkan jubah cahaya, menerangi langit dari gelapnya malam.
Sapuan hangat anak cahaya di muka lenanya, cukup mengusik lelapnya. Seakan mengetuk lembut kelopak mata yang mengatup untuk segera terbuka untuk menyambut pagi, meski keengganan masih menguasahi. Jiwa yang berlayar mengarungi samudra mimpi ditarik kembali ke peraduannya.
"Ini nyaman sekali..," racaunya bersamaan lilitan tangan yang kian merekat, menyeret mukanya kembali tenggelam ke sebuah medan lebar yang terasa hangat di pipi.
Berangsur-angsur kesadarannya yang masih separuh nyawa mulai sepenuhnya terisi di kala indera pendengarannya menangkap suara detak jantung yang mengalun teratur. Aroma maskulin yang menguar ke dalam indera penciumannya, menuntun mata untuk segera terbuka, mencari tahu penyebab suasana yang dirasa tak biasa.
"K-kau!"
Sebuah tuduhan akan sikap lancang Sean seketika terkunci di ujung lidah. Mulut yang hampir memekikan suara ditahannya di tenggorokan. Tidak ingin mengusik Sean yang tengah pulas dengan dengkuran lembutnya. Tepatnya, ia tidak ingin pria itu sampai tahu akan posisi tangan yang tengah memeluk posesif tubuh kekar bertelanjang dada itu.
Bagaikan menerapkan slow motion effect, ia mengurai lilitan tangan seraya batin tak hentinya merutuki. "Hiishh! Kenapa aku yang malah berhamburan ke tubuhnya? Bodoh kau Allesya..!"
Tidak membiarkan pergerakannya mengeluarkan suara apapun. Mengendap-ngendap perlahan, menuruni ranjang hingga kaki yang sudah berpijak di atas lantai diajak berlari kecil menuju kamar mandi.
Bersamaan dengan tubuh Allesya yang hilang di balik pintu kamar mandi, sebuah senyuman terbit di muka Sean yang ternyata sudah terjaga kendati mata masih terpejam.
"Istri kecilku yang manis," ucapnya, berniat mengambil sedikit waktu lagi untuk melanjutkan tidurnya, mengobati kantuk yang masih melanda. Karena semalaman siksaan gairah hasrat tak kunjung mereda.
Sementara itu di kamar mandi.
Allesya memandang pantulan diri yang membias pada kaca kamar mandi. Semburat merah di pipi terpancar ketika teringat akan mimpinya semalam. "Bisa-bisanya aku bermimpi erotis bersama Sean," sesaat ia menutup malu muka dengan kedua telapak tangan dan kembali membukanya. "Ahh... mimpi itu terasa nyata, aku bahkan masih mengingat bagaimana aku begitu menikmatinya. Tapi kenapa rasanya sangat berbeda ketika Sean melakukan itu secara nyata? Waktu itu sangat sakit."
Tidak ingin menghabiskan waktunya di kamar mandi terlalu lama, Allesya gegas melepas semua benang yang melekat di tubuh dan langsung melakukan ritual bersih-bersihnya.
"Sepertinya aku sudah benar-benar gila," rutuknya kembali ketika merasa ada yang berbeda ketika ia membersihkan organ kewanitaannya dengan air. Karena tekstur licin dari sisa klimaksnya semalam masih meninggalkan bekas.
"Meskipun hanya mimpi tapi ini sangat memalukan, hiks! Apa aku sanggup menatap wajah Sean setelah ini, ahhhkk...!" pekikan spontan menguar memenuhi langit-langit ruangan. Mimpi erotisnya semalam sungguh mengganggu pikirannya. Tanpa disadari, suara frustrasinya hingga terdengar oleh indera pendengaran Sean.
TOK! TOK! TOK!
"Allesya...! Apa kau terjatuh lagi?" suara kecemasan Sean terdengar dari luar membuat Allesya terkesiap.
"Allesya... Apa yang terjadi? Kenapa kau tidak menyahut? Apa kau ingin aku mendobrak pintunya?"
Wanita yang masih berendam di dalam bath up itu seketika tercekat. Meski ia tak lupa mengunci pintu kamar mandi kali ini, tapi seruan niat Sean yang akan mendobrak pintu cukup membuatnya gelagapan.
"T-tidak terjadi apa-apa di sini! Aku hanya terkejut saja karena airnya terlalu dingin," setengah berteriak, Allesya berbohong.
__ADS_1
°°°
"Lain kali kau tidak perlu mengunci pintunya jika sedang mandi."
Itulah kalimat pertama yang diterima Allesya ketika kaki baru saja keluar dari pintu kamar mandi. Membuat muka yang awalnya terlihat segar itu seketika menciptakan tukikan tajam pada kedua alisnya.
"Haruskah aku menerima saranmu itu?" melirik sekilas lalu melempar pandangan ke sembarang arah. Tepatnya ia tengah menghindari kontak mata dengan Sean gara-gara mimpi semalam.
"Itu bukan saran, melainkan titah," tandas Sean.
Reflek membalas tatapan suaminya. "Apa tujuanmu Sean?"
"Agar aku bisa langsung memeriksamu jika kau kembali menjerit di kamar mandi."
"Ck! Lalu bagaimana jika ada orang lain tiba-tiba masuk? Yang benar saja kau ini," mendekati meja rias dan meletakkan tubuh yang masih berbungkus bathrobe di atas bangku bundar. Menatap jengkel wajah Sean dari pantulan kaca di depannya.
"Tidak akan ada orang lain yang masuk selain aku."
"Hiishh! Kau sungguh menyebalkan. Apa gunanya memasang kunci pintu? Kenapa nggak sekalian lepasnya saja daun pintunya? Kau sungguh konyol dan selalu suka bertindak sesuka hati. Bilang saja kau ingin melihatku mandi. Pintar sekali berdalih. Hishh..!" Allesya terus menggerundel seraya menyisir rambutnya yang masih basah sebelum menghidupkan hair dryer.
Sementara Sean tampak mendengus geli menanggapi celotehan tak jelas istri kecilnya. Kemudian menapak kaki dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh.
Selang beberapa waktu, Sean keluar dengan tubuh bagian bawah yang hanya ditutupi sepotong handuk. Melenggang santai, mengabaikan reaksi Allesya yang tampak salah tingkah.
"Aku tidak sepenuhnya telanjang Allesya. Lihatlah, masih ada kain yang melekat di tubuhku," gedek akan reaksi berlebihan Allesya. Padahal dia masih mengenakan celana d*lam berjenis boxer brief saat ini.
Membuat sedikit cela dari jari-jarinya, memudahkan mata untuk mengintip. "Fyuuuh..! Syukurlah," kelegaan yang dirasa membawa turun kembali tangan dari mukanya.
Seringaian tipis seketika tercetak di muka tampan Sean. Dirasa akan sangat menyenangkan melihat muka merah istri kecilnya itu lebih lama.
"Ada apa?" kegugupan kembali menjangkiti diri Allesya ketika tubuh gagah yang hanya mengenakan boxer itu berbaur jadi satu dengannya di atas ranjang.
"Sean! Kau mau apa?"
"Tadi malam ... mimpi apa kau sebenarnya?" bisik Sean di telinga Allesya.
BLUSH...
Hanya dengan satu kalimat pancingan sukses membuat muka yang sudah memerah bagaikan buah ceri itu menoleh ke arah muka Sean yang hanya berjarak beberapa inci saja. "Apa dia mengetahuinya? Ahh... Kenapa mukanya dekat sekali? Membuatku kembali teringat akan mimpiku semalam," batinnya gelisah.
"Hm? Kenapa kau tidak menjawab, Allesya...? Semalam apa yang kau lakukan di dalam mimpimu?" Sean terus menggencar aksinya. Dengan bisikan nada lembut, ia menggoda Allesya yang kian salah tingkah.
__ADS_1
"M-mimpi? A-ku? Tidak, aku tidak ingat," kilahnya.
"Tapi kegugupanmu itu seolah mengatakan kau mengingat semua tentang mimpimu semalam."
"Sebenarnya kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang apa yang aku impikan semalam?" berusaha menguasain situasi. Mengusir kegugupan yang mengundang rasa tak nyaman. "Apa semalam mimpiku mengusikmu?"
"Kau semalam mengigau."
GLEK!
Tenggorokan dipaksa mendorong cairan saliva yang terasa berat. Cemas kalau saja igauannya semalam membongkar semuanya. "Terus?"
"Terus apanya?" Sean malah balik bertanya.
"Hiihs! Mana aku tahu," memberengut kesal.
"Kau terus berkata 'Kak Sean' berulang kali dan ... ," menjeda kalimat.
"Dan apa?" Allesya kian panik.
Mendekatakan bibir ke daun telinga Allesya. "Dan ... Kau terus mengeluarkan suara des*han seperti menikmati sesuatu. Jadi ... sebenarnya aku dan kamu melakukan apa di dalam mimpimu? Apa mungkin kita bercinta?"
"Aahhhh....! Sudah jangan bertanya lagi...!" Allesya memekik seraya membenamkan seluruh tubuhnya di bawah selimut. Menyembunyikan muka merahnya yang sedang malu setengah mati di depan Sean.
Sean menyeringai puas setelah misi menggoda Allesya sukses.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Jangan bosan duluan ya, sementara biar mereka memelow dulu sebelum beberapa konflik kembali datang. Simak terus sampai tamat🥰
Hayoo... bakar api semangat Author paling folos se NT/MT ini dengan menendang ganas tombol like. Tinggalkan komen bobrok sampai buat Nofi bergidik nggilani.
Segala dukungan dari kalian, akan Nofi terima dengan rasa bersyukur.
BTW, dh hari senin.lagi nih.. lapak ini juga terbuka lebar bagi yang mau nyumbangim Vote grayis mingguan🥰
__ADS_1
Terima Kasih. Lop Lop you segunung bromo.😘😘