
Setelah dua hari berada di rumah sakit, Allesya dan sepasang bayi kembar yang diberi nama Jaeden Sean Willson dan Jesslyn Seanie Willson dibawa pulang ke mansion.
Para orang tua terlihat sangat antusias menyambut kedatangan si Cucu Kembar. Meski sempat terjadi perdebatan kecil karena Sean baru mengabari kelahiran si Kembar setelah bisa dibawa pulang. Sarah dan Raffaela terus membombardir omelan maut kepada Sean membuat pendengarannya mendengung seperti dijajah oleh koloni lebah. Namun, hal itu tak memadamkan atmosfer kebahagiaan yang meliputi di antara mereka.
Baby Jaeden dan Jesslyn beberapa kali menjadi piala bergilir oleh para Nenek dan Kakeknya. Henry yang notabene Kakek buyut satu-satunya juga tidak ingin melewati kesempatan untuk menggendong penuh sayang tubuh kecil si Kembar secara bergantian.
Henry memandang teduh kedua muka polos yang terlelap itu. "Sebuah batu berlian hingga sampai kapanpun tetaplah batu berlian. Meski harus dipecah dan menjadi kecil-kecil sekalipun, dia masih batu berlian. Tidak akan berubah menjadi batu kerikil, dan begitu juga bagi calon-calon batu mulia lainnya," ia seakan menyampaikan sebuah petuah untuk para pemuda di sana.
Sean yang bisa menarik makna dari ucapan si Kakek mengulas senyuman. Ia sangat ingat bagaimana dulu cara si Kakek menegurnya dengan membuat perumpamaan antara batu berlian dan batu kerikil. Allesya adalah batu berlian dan para wanita yang dikencaninya waktu itu tak lebih dari batu kerikil.
"Terima kasih Kek karena waktu itu kau terus berusaha menyadarkanku," ucap Sean. Ia labuhkan ciuman sayang di pelipis Allesya sebelum melanjutkan kalimat. "Tapi di mataku, istri cantikku ini tidak sebanding dengan batu berlian yang masih bisa dibeli dengan ukuran nilai. Ia terlalu berharga jika harus diukur dengan nominal, sebesar apapun itu." Allesya dibuat senang bercampur malu kerena ucapan manis suaminya. Ditambah lagi para orangtua juga mendengarnya. Menambah semburat merah di pipi.
"Syukurlah kalau kau berpikiran seperti itu, jadi Kakek tidak perlu lagi melubangi kepalamu dengan tongkatku ini." semua orang seketika tergelak lirih.
"Sean mohon, jangan lakukan itu lagi, Kakek bisa merusak aset ketampananku."
Getaran ponsel yang menggelikan memaksa Sean untuk segera menjamahnya. "Erlan?" gumamnya setelah membaca nama mantan sang Istri yang tertera pada permintaan panggilan video di layar pipih itu.
"Ada apa?" Sean mengawali percakapan setelah panggilan diterima.
"Kau masih saja dingin seperti dulu. Aku hanya ingin memberi ucapan selamat atas lahirnya bayi kembar kalian. Dan maaf aku belum bisa datang," Erlan masih bersikap hangat meski mendapat perlakuan dingin dari Sean.
"Iya, benar seperti itu. Kau sebaiknya tidak usah datang. Aw!" ketus Sean dan langsung mendapat cubitan gemas dari Allesya.
Erlan tergelak menanggapi respon ketus dari lawan bicaranya. Sama sekali tidak ada rasa tersinggung, ia sangat tahu bahwa sikap Sean tidak sepenuhnya seperti yang lihat sekarang. "Allesya di mana? Aku ingin berbicara kepadanya."
"Allesya tidur, jangan ganggu dia. Aw! Sakit sayang ...." lagi, pria tampan itu harus merasakan sakit karena cubitan kecil memelintir Allesya.
__ADS_1
"Berikan kepadaku," Allesya menyabet ponsel dari tangan Sean.
"Halo, Seanie ... kau masih saja cantik," seloroh Erlan setelah melihat muka Allesya memenuhi layar.
"Tentu saja," menampilkan senyuman manis.
"Nggak usah senyum-senyum," sela Sean, terlihat tidak suka.
"Kak Sean kenapa sih? Aku hanya tersenyum bukan sedang mengggoda," ucap Allesya lalu kembali memberikan atensinya kepada Elran yang berada di balik panggilan. "Erlan, kau ingin berkata apa?"
"Oya, aku belum bisa pergi ke London untuk melihat baby twins, karena aku sedang mendampingi istriku yang juga akan melahirkan hari ini." terlihat dari panggilan video, Erlan mengarahkan kamera ponsel ke arah Emily yang sudah berada di ruang bersalin. "Hai, Seanie, apa kabar," sapa Emily dari seberang. Sedetik kemudian wanita itu terlihat meringis menahan sakit karena kontraksi, membuat Erlan kembali panik. "Seani, aku tutup dulu ya panggilannya. Kelak aku akan menemuimu bersama istri tercinta dan anakku."
Panggilan berkahir sebelum Allesya sempat menjawab dan mengutarakan perasaan bahagianya karena ia akan segera menjadi ayah juga.
"Apakah tidak ada satupun orang di sini yang merindukanku?" Vera yang datang bersama Arthur dan kedua anak angkatnya seketika menarik perhatian semua penghuni ruangan.
"Tentu saja kami merindukanmu. Tapi kenapa Kak Vera baru datang sekarang?" sungut Allesya.
"Kalau begitu seharusnya Kak Vera beristirahat terlebih dahulu di rumah," tutur Allesya sebagai bentuk perhatiannya.
"Iya Vera, kenapa kau memaksa diri untuk datang? Kau harus menjaga kesehatan diri dan bayimu." Raffaela pun turut menuturi. "Sayang, sini ikut Nenek dan Kakek," ia lanjut menggendong tubuh Danny si Cucu angkat. Sedangkan bayi Lora yang semula berada di gendongan Arthur sudah berpindah ke Raffaresh.
Walaupun Danny dan Lora hadir tanpa ada ikatan darah, namun hal itu tak mengurangi kasih sayang yang didapatkan dari seluruh keluarga angkatnya termasuk Sean dan Allesya. Bahkan, Erick dan Sarah, kedua orangtua Sean juga sering membawa mereka jalan-jalan dan pulang dengan sekantong mainan.
"Aku sudah tidak sabar ingin melihat kedua keponakan ini Mom. Makanya aku datang." Vera berjalan mendekati baby box tempat bayi Jaeden dan Jesslyn terlelap. Dan seketika ia takjub. "Ya Tuhan ... apakah kedua makhluk kecil ini manusia? Mereka sangat menggemaskan. Bagaimana cara kalian membuatnya?" kelakar Vera, seraya mencubit lembut kedua pipi bayi Jae dan Jess bergantian. Dan Vera semakin dibuat gemas karena sepasang makhluk kembar itu sama sekali tak terusik meski dibuat mainan jari-jari jahil Vera.
"Rahasia," sahut Sean.
Berhenti bermain-main dengan pipi milik sepasang bayi kembar, Vera memutar leher ke arah Sean, membawa mimik muka tak paham. "Apanya yang rahasia?"
__ADS_1
"Cara membuatnya adalah rahasia. Mana mungkin kami mendemontrasikan cara membuat mereka di depanmu," celetuk Sean.
Vera, Arthur, dan para orangtua sontak terperangag seraya mengulum senyum. Bisa-bisanya Sean berkata yang bisa menggelitik perut. Akan tetapi, lain lagi dengan Allesya, ia justru gedek dengan sikap sang Suami yang tidak mengkondisikan lidahnya. Wanita itu merasa sifat bar-barnya sudah berpindah ke suami.
"Aw...! Sayang, kenapa dari tadi kau suka sekali mencubitku, apa kau sedang ngidam?" protes Sean, karena Allesya kembali memelintir kulit pinggangnya dengan durasi lebih lama.
"Apanya yang Ngidam? Bayinya sudah keluar juga," sungutnya.
Sean terkekeh geli. Jiwa protesnya menguap saat melihat bibir mengerucut karena kesal Allesya. "Istri cantikku ini kalau marah, tambah manis ya. Rasanya ingin sekali aku memakanmu," ia menggoda di dalam bisikan dan langsung mendapat respon berupa pelototan mata sang Istri.
"Raffaresh, aku sarankan kepadamu untuk segera merubah identitas kebangsaan," kini giliran Erick yang bersuara. "Lihat, semua anak dan cucu-cucumu berada di London sekarang. Apa kau dan istrimu tidak ingin menemani mereka?"
"Iya, Faresh, aku juga sependapat dengan Erick," tambah Sarah.
"Aku ...."
"Itu ide yang bagus, aku menyukainya." Raffaela langsung menyela. Tak memberi kesempatan suaminya untuk menolak saran dari Ercik Dan Sarah. "Sayang ... boleh ya?" mohonnya, memasang muka melas dan semanis mungkin. Jurus handalah yang tak diragukan keampuhannya.
"Baiklah," jawab Raffaresh pasrah. Ia tidak akan bisa berkata tidak jika sudah dihadapkan muka istrinya yang dianggap sangat menggemaskan kendati tak lagi muda.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Insha Allah, 1 bab lagi ya..🥰
__ADS_1
Terima kasih untuk kalian🥰😘