
"Tidak ada waktu untuk berbicara, semua cepat masuk." Pak Sarya pun langsung memaksa masuk ke dalam di ikuti dengan Bu Winata dan lainnya.
Paman Reza pun hanya bisa melihat heran dan masih meninta kejelasan mengenai alasan mereka masuk ke rumahnya dengan cara yang tidak ramah.
"Ada apa dengan kalian? sekarang cepat keluar dari rumah ini!" Perintah Paman Reza sambil menunjuk ke arah pintu.
Tapi sayangnya tidak ada yang mendengarkan perkataannya. Semua sibuk untuk menahan pintu dan ada pula yang sibuk mengikat tangan Evan dengan kain.
"Apakah kalian semua bisa pergi!?" Paman Reza pun mulai jengkel dengan mereka semua karena masuk dan langsung memindahkan perabotan seenaknya.
"Shhhtt!.. semua diam dulu." Ujar Prayan yang merasa mendengar sesuatu.
"Ada apa dengan kalian-"
"Apakah kamu bisa diam untuk sebentar saja!?" Ucap Pak Sarya yang meminta Paman Reza untuk diam.
Tuk tuk tuk tuk!...
Tiba tiba terdengar suara sesuatu dari atas rumah. Suara itu pun mulai hilang dan membuat suasana menjadi hening. Mereka pun mulai menatap satu sama lain dan dengan sangat cepat sesuatu melompat dan memecahkan jendela yang ada di sana.
Prannkkk!
Di saat yang sama terlihat Bu Mira yang sudah masuk dengan tubuh yang bersimbah darah dab juga pecahan kaca. Bu Mira pun langsung mengincar Reza, tapi langsung di hadang oleh Pak Sarya.
"Mati kamu!" Teriak Bu Mira yang bersiap menikam Pak Sarya.
__ADS_1
"Tidak akan ku biarkan kamu lepas kali ini!" Bu Winata pun langsung mengikat leher Bu Mira dengan sebuah kalung dan mulai membacakan sesuatu yang mulai membuat Bu Mira memberontak seperti kesakitan.
Sementara itu, Paman Reza tampak langsung pergi dari sana dan mulai masuk ke dalam Kamar kedua orangtua Reza. Di dalam sana ia tampak membuka sebuah lemari dan terus mengeluarkan isinya. Seisi kamar pun langsung berantakan di buat olehnya. Entah apa yang di cari oleh Paman Reza, tapi tiba tiba muncul suara seorang pria yang langsung membuat Paman Reza terdiam kaku tidak bergerak.
"Di mana benda itu!?" Tanya Paman Reza dengan wajah yang tampak kesal dan juga panik.
"Mencari ini?" Tanya seseorang yang entah kapan sudah berada di dalam Kamar itu.
"Suara ini... tidak, tidak mungkin. Itu tidak mungkin dia. Ini pasti hanya halusinasi ku." Ucap Paman Reza tidak percaya dengan telinganya.
"Tidak, ini bukan halusinasi mu. Ini memang aku." Ucap orang tersebut yang mulai menampakkan dirinya.
Wujud dari orang itu tampak mengerikan. Terlihat lehernya terdapat bekas gigitan dan sampai membuat seluruh pakaiannya bersimbah darah. Di tangannya terlihat ada sebuah map plastik yang mungkin saja di cari oleh Paman Reza.
"K-kakak? tapi bagaimana bisa?" Tanya Paman Reza yang terkejut melihat kakak laki lakinya atau bisa di bilang Ayah Reza sudah berada di depannya.
"Jangan lupakan kami berdua." Tak lama setelah itu muncul suara perempuan yang mungkin di kenal oleh Paman Reza.
Kini di sekeliling Paman Reda sudah ada arwah orang orang yang seharusnya sudah mati, tentu saja ini membuat ia sangat terkejut karena arwah tersebut adalah kedua orang tua Reza dan juga Rena yang sudah berada di sampingnya.
Melihat mereka bertiga, Paman Reza pun mulai teringat dengan 2 tahun sebelum Orangtua Reza dan Rena mati. Di saat itu Kakek Reza yang kala itu sedang sakit sakitan tampak sedang berbicara dengan Paman dan Ayah Reza. Meski sedang tidak berada di rumah sakit, terlihat ada banyak peralatan medis di sana.
"Hatirto, Herman, kalian mendekatlah. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan kalian." Ucap Kakek Reza meminta kedua anaknya untuk mendekat padanya.
Mereka berdua pun mulai mendekati ayah mereka. Entah sudah berapa lama Kakek Reza sakit, tapi yang pasti itu sudah melewati batas normal untuk sakit biasa.
__ADS_1
"Jika sesuatu yang buruk terjadi padaku, kalian bukalah koper yang ada di lemari itu. Itu akan membantu kalian dan juga bisa menyelesaikan masalah yang kalian hadapi suatu hari nanti." Ucap Kakek Reza yang tampak sudah kesusahan dalam berbicara.
Mereka berdua pun hanya bisa menyimak dan mengiyakan semua pesan dari ayah mereka. Tapi entah memang sudah takdir atau kebetulan, ayah mereka telah meninggal tepat tiga hari setelah mengatakan hal seperti itu. Tentu saja setelah kematian sang ayah, mereka sudah tidak memiliki apapun lagi selain satu sama lain. Tapi Hatirto atau ayah reza mulai mengingat pesan ayahnya sebelum wafat. Oleh karena itu ia langsung segera menuju lemari yang di tunjuk ayahnya dan mengeluarkan sebuah koper yang sudah berdebu.
"Kenapa kamu mengacak ngacak lemari ayah?" Tanya Paman Reza heran.
"Apakah kamu masih ingat apa yang ayah katakan sebelum kematiannya?" Tanya Ayah Reza.
"Tentu saja, tapi kurasa koper itu tidak penting untuk kita saat ini." Ucap Paman Reza yang tampaknya masih bersedih atas kematian ayahnya.
Saat di buka, ternyata di dalam koper itu berisi dua buah kotak. Satu kotak berisi nama Ayah Reza dan yang satunya lagi berisi nama dari Paman Reza. Mereka berdua pun mengambil kotak masing masing dan langsung membuka kotak itu. Ternyata di tiap kotak berisi pesan terakhir ayah mereka yang tampaknya di tulis ketika ayah mereka masih hidup.
"Kertas apa ini?" Tanya Ayah Reza heran.
"Sepertinya ayah yang menulis kertas ini. Bagaimana jika kamu membaca milikmu dulu." Ucap Paman Reza yang penasaran dengan isi dari kertas milik adikknya.
"Baiklah aku akan membacanya, tapi setelah aku membacanya kamu harus membaca milikmu." Ujar Ayah Reza yang meminta untuk bergantian membaca kertas milik mereka.
"Tentu saja." Jawab Paman Reza menyetujui hal itu.
Untuk Hatirto. aku tidak tahu kapan kamu membaca kertas ini, tapi jika kamu membaca ini aku harap semua baik baik saja. Aku harap Reza dan Rena yang baru saja lahir masih sehat. Kamu pasti sudah membuka kotak domba kamu menemukan kertas ini. Jadi isi dari kotak ini adalah harta ku yang ku bagi untukmu. Selain itu di dalam juga ada beberapa dokumen yang berisi asuransi asuransi yang mungkin akan kamu dan keluarga mu butuhkan. Inti dari kertas ini aku hanya ingin mengatakan jagalah keluargamu. Sayangilah mereka seperti aku menyayangimu. Jangan mudah marah untuk hal sepeleh dan bahagiakanlah istrimu.
^^^~Ayah^^^
__ADS_1
Ayah Reza pun membaca isi kertas itu agar bisa di dengar oleh adikknya. Ketika membaca itu, ia sampai berlinang air mata karena sedih. Herman pun juga sampai sedih karena terharu melihat sosok ayah mereka masih mempedulikan mereka meski kini sosok tersebut telah tidak bersama mereka lagi.
To be contiune >>>