Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Permainan Di Mulai (Bagian 2) - Episode 75


__ADS_3

"Sungguh aku tidak berbohong, aku merasa pernah ke sini." Ujar Bu Winata mencoba mengingat sesuatu.


"Sudah itu sekarang tidak terlalu penting. Pernah atau tidak kita berada di sini itu tidak akan bisa mengubah tujuan kita." Ujar Pak Akbar yang tampak tidak ingin membuang buang waktu terlalu banyak.


Bu Winata, Evan Dan Selly pun langsung diam dan tidak membahas mengenai pernah atau tidaknya mereka di sana. Melihat semuanya sudah tenang, Pak Akbar pun mulai menyebutkan peraturan dari permainan yang mereka mainkan saat ini.


"Baiklah aku akan menjelaskan isi permainannya. Kalian harap dengarkan baik baik, karena aku tidak akan mengulanginya lagi." Ujar Pak Akbar sebelum menjelaskan peraturan dari permainan itu.


Evan dan beberapa dari mereka pun langsung mengangguk tanda paham. Dengan begitu Pak Akbat pun mulai menjelaskan peraturan permainan itu.


"Kita sekarang ada di tengah lingkaran garam yang telah kita buat. Sekarang tugas kita adalah untuk mematikan semua lilin yang ada. Tapi kalian tidak boleh sampai keluar dari rumah ini, tidak boleh percaya dengan yang kalian lihat ataupun yang kalian dengar. Dan yang paling penting jangan tarik seseorang masuk ke dalam lingkaran garam yang sudah ku buat. Setiap ruangan yang ada di rumah ini masing masing memiliki sebuah lingkaran garam dan di dalam lingkaran itu ada sebuah meja yang ada lilinnya." Jelas Pak Akbar dengan sangat serius.


"Hanya itu? ku rasa itu cukup mudah." Ujar Prayan yang merasa sepeleh.


"Iya, sekarang kamu tunggu saja beberapa saat." Ujar Pak Akbar.


"Memang kenapa?" Tanya Prayan heran.


"Nakk!! tolong ibu!" Tiba tiba saja terdengar suara teriakan Bu Mira meminta tolong, dari suaranya tampak tengah kesakitan.


Mendengar suara ibu mereka Prayan dan Jessi pun langsung segera bergerak dan berniat menolong ibu mereka yang ada di luar lingkaran garam itu.


"Hati hati jangan!" Pak Akbar pun seketika menaik tangan Jessi dan Prayan dengan di bantu oleh Bu Winata.


Taoi karena tangan prayan sedikit lebih panjang, tidak sengaja jari miliknya keluar sekitar beberapa centimeter ketika di tarik oleh Pak Akbar sebelumnya.


Tap! tap! tap! tap! tap!

__ADS_1


Tiba tiba langkah kaki cepat pun langsung segera menghampiri mereka dan tepat di depan mereka terlihat Boneka Pengantin Perempuan yang lehernya seketika memanjang dan dari bagian mata bonekanya yang tidak ada juga terlihat keluar darah yang banyak. Mukut boneka itu tampak di penuhi benda tajam. Melihat itu semua pun seperti tidak cukup karena bukan hanya itu saja yang mereka lihat. Di pinggang boneka itu tampak terlihat ada tambahan 2 tangan sehingga membuatnya tampak seperti laba laba.


"Apa apaan itu?..." Tanya Prayan yang tampak ketakutan dan juga heran.


"Sudah ku katakan jangan percaya dengan apapun yang ada." Ujar Pak Akbar.


Boneka Pengantin Perempuan itu pun seperti tidak melihat mereka dan menghilang di telan kegelapan. Di saat itu juga Pak Akbar meminta semuanya untuk berdiri dan menjelaskan mengenai makhluk yang mereka lihat barusan.


"Baiklah semuanya cepat kembali berdiri. Ada sesuatu yang ingin aku ucapkan pada kalian." Ujar Pak Akbar yang mulai kembali berdiri.


"Apa makhluk itu tadi?" Tanya Prayan untuk kedua kalinya.


"Aku tidak tahu. Mungkin itu Ghakia, tapi itu juga bisa makhluk lain di rumah ini. Aku menyebutnya Midnight Shadows karena kita akan memainkan permainan ini sampai matahari terbenam. Alasan aku menyebutnya midnight karena dia akan agresif ketika tengah malam tiba." Jawab Pak Akbar.


"Ku rasa itu memang Ghakia." Sela Evan yang tampak mengingat sesuatu.


"Dari mana kalian bisa tahu?" Tanya Pak Akbar heran.


"Entahlah, aku hanya seperti mengingat sesuatu saja." Ucao Evan sambil mencoba mengingat ngingat.


"Baiklah. Terserah kalian ingin berbicara apa, sekarang kita anggap saja jika itu adalah Ghakia." Ujar Pak Akbar mempermudah mereka.


Evan pun hanya diam sambil mencoba mengingat sesuatu. Begitu juga dengan Selly dan juga Bu Winata. Dari semua orang yang ada di sana, tampak hanya mereka saja yang merasa familiar dengan segala sesuatu yang ada si sana.


"Baiklah aku akan segera keluar. Jessi, Prayan dan Reza, kalian ikut aku. Sisanya ikut Bu Winata." Ujar Pak Akbar yang tampak akan mulai bersiap berlari.


"Kalian semua pegangan dengan ku. Jika kalian tertinggal, maka tamat sudah riwayat kalian." Lanjut Bu Winata yang juga mulai bersiap siap untuk berlari.

__ADS_1


Pak Akbar dan Bu Winata pun langsung segera lari keluar dari lingkaran garam itu. Karena mereka berdua keluar, Boneka Pengantin Perempuan yang di kira Ghakia itu pun langsung segera mengejar. Tapi meski tampak seperti siap menerkam mereka semua, ia tampak sedikit heran karena tidak tahu harus mengejar yang mana duluan.


Beruntung kelomopok Bu Winata berhasil sampai di Kamar milik Prayan dan segera memasuki lingkaran garam yang sudah ada. Dengan cepat pula Bu Mira langsung segera meniup lilin yang tersedia di sana. Sementara di Kelompok Pak Akbar, saat tengah berlari menuju Kamar Bu Mira, tidak sengaja Prayan tersandung dan jatuh di tengah.


"Ahh!" Teriak Prayan ketika tersandung dan terjatuh.


Tapi meski begitu, Pak Akbar tetap berlari dan segera masuk ke dalam Kamar Bu Mira. Prayan yang di tinggal sendiri pun kini tampak dalam bahaya ketika melihat Boneka Pengantin itu mulai mendekatinya dengan cara merayap dengan menggunakan 6 tangan dan 2 kaki miliknya.


"Dasar bodoh! cepat lari!" Tiba tiba saja Reza muncul dan menarik tangan Prayan.


Mereka pun langsung segera berlari melarikan diri dan membuat Boneka Pengantin itu menabrak dinding serta membuat sebuah foto di dinding jatuh. Ketika Reza dan Prayan Tengah melarikan diri, di Tempat Bu Winata dan Pak Sarya saat ini terlihat foto yang sama terjatuh dan berada dalam posisi yang sama.


Brakk!


"Kenapa foto itu bisa terjatuh sendiri?" Tanya Bu Nira heran sekaligus takut.


"Sudah kita biarkan saja. Lebih baik kita memperhatikan mereka saja." Ujar Pak Sarya sambil menunjuk ke Evan dan lainnya yang tengah duduk manis dengan mata yang tertutup dengan kain.


Kembali ke Reza tampak terlihat jika ia dan Prayan berhasil selamat dan tengah mengamankan diri di lingkaran garam yang sebelumnya.


"Huhh... hampir saja." Ujar Reza lega.


"Terima kasih Reza, untung kamu menyelamatkanku." Ujar Prayan bersyukur karena ada Reza di sana.


"Tidak perlu berterima kasih. Sekarang kita tinggal tunggu Pak Akbar. ketika merkwa keluar, kita harus ikut dengan mereka." Ujar Reza menjelaskan rencana yang ia dapatkan.


"Baik." Jawab Prayan paham.

__ADS_1


To be contiune >>>


__ADS_2