
Terlepas dari semua pertanyaan itu, kini Reza pun merasakan ada sesuatu yang aneh.
"Ngomong ngomong apakah ada dari kalian yang merasa aneh?" Tanya Reza.
"Aneh? aneh bagaimana?" Tanya Prayan.
"Bukan kamu, tapi yang ku maksud itu Evan, Selly dan Raihan." Ujar Reza.
"Kalau begitu kamu bilang saja sejak tadi." Jawab Prayan dengan wajah yang tampak kecewa.
"Apanya yang aneh?" Tanya Selly.
"Kalian masih ingatkan saat kita di hotel?" Tanya Reza.
"Di hotel? sejak kapan kita-"
"Apakah kamu bisa diam untuk sebentar saja?" Tanya Reza dengan wajah yang menakutkan.
"B-baiklah aku akan diam." Jawab Prayan yang langsung menutup mulutnya.
"Baguslah, jadi apakah kaliam masih ingat?" Lanjut Reza.
"Tentu saja, di sana aku dan Evan mengalami pertengkaran hanya karena hal sepele." Ujar Raihan yang merasa malu setelah mengingat kejadian hari itu.
"Kita lupakan saja soal pertengkaran kalian itu, tapi bukankah sedikit aneh jika dia dua kali sakit mendadak? apalagi juga saat kita bepergian." Reza pun mulai semakin yakin jika ada sesuatu yang tidak beres.
"Ku rasa itu ada benarnya juga, tapi untuk apa khawatir dengan itu? sakit kam bisa datang kapam saja." Selly pun langsung berusaha untuk berpikir sepositif mungkin.
"Iya sih, tapi aku rasa ada yang aneh saja." Jawab Reza.
Setelah pembicaraan yang singkat itu Pak Akbar pun langsung terkejut ketika melihat tangan Bu Winata yang berdarah. Tapi Bu Winata tidak menyadari itu sama sekali.
"Winata? tangan mu bagaimana bisa terluka seperti ini?" Ujar Pak Akbar yang langsung memeriksa lengan Bu Winata.
"Sungguh? tangan ku terluka?" Bu Winata pun tampak tidak percaya dengan percaya.
"Kamu lihat saja tangan mu." Pak Akbar pun langsung menarik lengan baju milik Bu Winata ke atas dan tampak jika ada bekas tusukan di sana.
__ADS_1
"Siapapun cepat ambil kotak obatnya!" Ujar Reza.
Evan dab Raihan pun langsung segera pergi menuju ke Kamar Tamu untuk mengambil kotak itu. Sementara itu, Reza dan lainnya langsung mengajak Bu Winata untuk duduk agar darah yang keluar tidak berceceran kemana mana. Tak lama setelah itu Evan dan Raihan pun langsung kembali dengan membawa kotak obat.
"Ini kotak obatnya." Evan pun langsung segera memberikan kotak itu ke Pak Akbar.
Pak Akbar pun langsung segera membuka kotak itu dan mengambil kain untuk membalut luka tusuk milik Bu Winata agar darah tidak terus keluar dari sana.
"Apa yang kamu lakukan pada diri mu sampai seperti ini?" Tanya Pak Akbar yang khawatir terhadap istrinya.
"Entahlah, aku tidak melakukan hal lain lagi setelah bangun selain berada di sini." Jawab Bu Winata dengan rasa heran dan ragu.
"Baiklah jika begitu, tapi kamu harus ke dokter dulu. Kita tidak tahu luka itu sudah lama atau masih baru jadi aku takut akan ada infeksi." Pak Akbar pun langsung segera meminta Bu Winata untuk pergi ke rumah sakit untuk perawatan luka miliknya.
"Biar aku saja yang mengantar Bu Winata." Ujar Pak Sarya.
"Tentu saja, itu akan lebih baik dari pada pergi sendiri." Pak Akbar pun langsung menyerahkan Bu Winata ke Pak Sarya untuk diantar ke rumah sakit.
Bu Winata pun langsung segera bersiap siap dan kemudian pergi ke rumah sakit bersama Pak Sarya. Dis saat yang sama Bu Mira pun memasak makan malam bersama Prayan dan Jessi di dapur.
"Baiklah karena aku satu satunya perempuan diantara kita, jadi biarkan aku mandi duluan ya." Ujar Selly sambil berjalan ke Kamar Tamu untuk mengambil handuk.
"Apakah di rumah ini hanya ada satu kamar mandi?" Tanya Evan yang muak dengan tingkah laku Selly.
"Sayangnya iya, kita biarkan saja dia." Reza pun langsung segera kembali duduk di sofa.
Tak lama kemudian Selly pun langsung segera kembali dengan membawa peralatan mandi miliknya beserta pakaian yang akan ia pakai dan berjalan menuju ke arah kamar mandi.
"Sampai jumpa, aku mandi duluan ya." Ujar Selly dengan wajah mengejek.
"Ku setrum tidak ya?" Evan pun kembali mengeluarkan stundgun miliknya.
"Lebih baik jangan." Ujar Reza dengan wajah yang sangat santai sambil memperhatikan ponsel miliknya.
"Baiklah, tapi jika dia berulah lagi, jangan menghentikan ku." Evan tampak sedang sedikit bercanda.
"Lakukan saja, tapi aku akan menjamin jika kamu akan di buat babak belur olehnya." Ujar Reza.
__ADS_1
Evan pun kembali menyimpan stungun itu di kantongnya. Keadaan pun kembali damai untuk beberapa saat. Tapi tak lama setelah itu, terdengar suara teriakan Selly yang sangat keras dari arah Kamar Mandi.
"Ahhh!!!"
"Ada apa dengan Selly?" Raihan pun langsung terkejut ketika mendengar suara teriakan itu.
"Ku rasa dia dalam masalah, cepat kita periksa!" Ujar Evan.
Evan dan Raihan pun langsung segera pergi ke Kamar mandi. Reza pun juga segera pergi dan mengikuti Evan dan Raihan. Sesampainya di depan pintu Kamar Mandi, Raihan secara tidak sadar langsung segera membuka pintu Kamar Mandi dan di saat itu juga sebuah kotak sampo langsung melayang dan membentur kepala Raihan dan membuat ia terjatuh.
Buk!
"Laki laki jangan masuk! apakah kalian lupa jika aku sedang mandi!?" Teriak Selly yang langsung menutup kembali pintu kamar mandi.
"Aduh.. kepalaku. Karena panik aku jadi lupa jika Selly sedang mandi." Ujar Raihan sambil menggosok kepalanya yang terbentur kotak sampo.
"Siapa juga yang menyuruh mu langsung masuk." Tanya Reza.
"Kan aku khawatir." Raihan pun langsung segera kembali berdiri.
Tak lama setelah itu Jessi dan Bu Mira pun langsung segera sampai ke di sana karena terkejut mendengar suara Selly.
"Apa yang terjadi?" Tanya Bu Mira yang terlihat kaget dan khawatir.
"Entahlah, kami tidak tahu." Jawab Reza.
Jessi pun langsung segera mengetuk pintu Kamat Mandu dan meminta Selly untuk segera membukakan pintu sedikit agar ia dan Bu Mira bisa memeriksa ke dalam.
Tok tok tok!...
"Selly, apakah kamu bisa membiarkan kami masuk?" Tanya Jessi yang masih terus mengetuk pintu.
"Baik!.." Teriak Selly dari dalam Kamar Mandi.
"Apa yang kaliam lihat!? cepat tutup mata kalian!" Jessi pun langsung meminta Reza dan lainnya untuk menutup mata selagi pintu Kamar Mandi itu terbuka.
Selly pun langsung segera membuka kecil pintu Kamat Mandi dan membiarkan Jessi masuk. Melihay pintu yang terbuka, Bu Mira pun juga ikut masuk untuk memeriksa apa yang membuat Selly berteriak sangat keras seperti tadi.
__ADS_1