Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Pulang Atau Tinggal? (Bagian 1) - Episode 81


__ADS_3

Keesokan harinya, terdengar suara keributan yang membangunkan Evan. Awalnya ia berpikir jika itu hanya Selly dan Raihan yang memang suka bertengkar layaknya kucing dan juga tikus, tapi yang ia dengar bukan suara mereka berdua. Suara yang Evan dengar sangat berbeda dengan suara Selly dan Raihan. Karena penasaran ia pun memutuskan untuk beranjak dari kasurnya dan mengecek kekuar.


"Kamu tidak bisa bebuat seenakmu! apakah dia itu anakmu!? bukankan!?" Suara samar samar pun mulai terdengar di telinga Evan. Dari suaranya seperti suara milik Pak Akbar.


"Siapa yang pagi pagi ribut seperti ini?" Ujar Evan yang masih mengantuk.


"Kamu seharusnya sadar akan perbuatanmu!" Suara itu pun kembali terdengar dan kali ini terdengar lebih keras, tapi kali ini suaranya berbeda. Terdengar seperti suara Bu Mira.


"Sepertinya ini bukan suara Selly dan Raihan. Siapa ya? lebih baik ku periksa saja." Ucap Evan sambil beranjak dari tempat tidurnya


Ternyata memang benar yang ia duga. Di luar terlihat Reza dan lainnya sedang berkumpul di depan pintu Rumah. Tapi sesuatu yang menarik perhatian Evan adalah terdengar suara pertengkaran yang cukup keras. Bahkan terlihat di luar ada beberapa orang yang tengah memperhatikan mereka semua.


"Sudah kamu diam saja! ini sudah menjadi keputusanku sebagai keluarganya!" Dari suaranya terdengar jika itu adalah Paman Reza.


"Keluarga!?... keluarga macam apa kau!? hanya ada di saat saat tidak penting dan menghilang di saat dia sedang memerlukan seseorang untuk menemaninya. Aku baru tau ada keluarga seperti itu." Kemudian terdengar suara Pak Sarya yang seperti sedang marah marah.


"Kenapa mereka ribut ribut seperti ini?" Ujar Evan dengan heran.


"Evan lebih baik kamu masuk saja. Sebentar lagi kami akan masuk." Ucap Raihan yang entah datang dari mana.


"R-raihan!? sejak kapan kamu ada di sampingku?" Ucap Evab kaget dengan berbisik.


"Itu tidak penting. Sekarang kamu masuk saja dulu." Ucap Raihan dengan memaksa.


Evan yang tidak tahu apapun akhirnya langsung masuk ke dalam Kamar kembali. Dari dalam kamar terdengar suara pertengkaran yang cukup hebat itu. Sampai berapa saat kemudian Raihan beserta Selly, Prayan, Jessi dan Reza. Tapi wajah Reza juga terlihat berbeda dari pada sebelumnya. Mungkin jika di lihat, wajahnya terlihat seperti seakan akan dunia akan berakhir. Karena jarang melihat itu, Evan pun mulai penasaran dan bertanya.


"Apa yang terjadi tadi?" Tanya Evan.


Raihan pun tidak menjawab pertanyaan itu dan langsung membiarkan Reza duduk di pinggir kasur. Semua orang tampak sangat memperhatikan Reza kala itu. Tapi meski begitu ia tidak memberikan respons apapun.


"Kenapa dengan Reza? kenapa wajahnya seperti itu?" Tanya Evan dengan wajah heran.

__ADS_1


Evan pun heran dengan tingkah mereka yang pagi pagi sudah sedikit aneh. Karena itu ia pun mulai sedikit kesal karena tidak di beritahu apa yang terjadi sebelumnya. Semua pun awalnya diam dengan wajah yang tampak tidak berani menceritakan. Tapi beberapa saat kemudian Raihan pun mulai berani menceritakan semua yang terjadi saat Evan tengah tertidur sebelumnya.


"Kenapa dengan kalian? kenapa kalian tidak mmenjawab pertanyaanku?" Tanya Evan dengan nada yang sedikit naik.


"Jessi cepat kamu ceritakan." Ucap Prayan meminta Jessi untuk menceritakan kejadian yang tidak di ketahui Evan.


"Kok aku? kamu saja." Balas Jessi enggan bercerita.


"Apa yang terjadi? siapapun tolong ceritakan pada ku." Evan pun mulai menurunkan kembali nadanya.


"Hahh.. baiklah." Jawab Raihan.


Raihan pun mulai menceritakan semua kejadian dari awal sampai akhir tanpa ada sedikit pun yang terlewati. Kala itu tiga jam sebelum Evan mulai bangun, Pak Akbar dan orang dewasa lainnya sudah berkumpul di ruang tamu sambil berbincang bincang santai.


"Akhirnya pekerjaan kita selesai di sini." Ucap Pak Akbar dengan lega.


"Apakah kalian akan langsung pergi?" Tanya Bu Mira yang tampak tidak ingin jika Pak Akbar dan Bu Winata pergi secepat itu.


"Tentu saja, mungkin kami hanya akan berada di sini selama tiga atau dua hari lagi." Jawab Bu Winata.


"Entahlah, seharusnya ini sudah berisi Ghakia, tapi aku rasa dia sedikit lebih ringan. Itu sedikit menggangguku, tapi seharusnya tidak akan ada masalah karena itu." Jawab Pak Akbar yang sedikit kurang yakin, tapi masih tetap berkata seolah semuanya beres.


"Untuk Reza dan lainnya bagaimana? apakah mereka akan pulang juga?" Tanya Bu Winata.


"Kami akan tinggal. Mungkin hanya beberapa hari saja karena sebentar lagi semester dua akan di mulai." Ucap Reza yang tiba tiba sudah berada di sana.


"Sejak kapan kamu ada di situ?" Tanya Bu Mira kaget ketika menoleh dan sudah ada Reza yang berada di samping dirinya.


"Dia datang bersama kami." Jawab Jessi yang entah kapan juga sudah berada di sana dengan Prayan, Selly dan juga Raihan.


"Dimana Evan? apakah dia belum bangun? sebentar lagi waktunya sarapan." Tanya Bu Mira yang menyadari jika hanya Evan yang belum bersama mereka.

__ADS_1


"Dia sedang tidur." Jawab Raihan singkat.


"Kenapa kalian tidak membangunkannya?" Tanya Bu Mira heran.


"Lebih baik biarkan saja dia tidur. Aku memiliki pengalaman buruk tentang itu." Jawab Reza sambil mengusap kepala bagian belakangnya.


"Tentang membangunkannya?" Tanya Bu Mira untuk memastikan.


"Iya." Jawab Reza yang juga masih mengusap kepala bagian belakangnya.


Sementara itu di belakang Reza, terlihat Selly dan Raihan yang tertawa dengan suara kecil karena mereka juga tahu mengenai apa yang terjadi kala itu. Jika tidak salah kepala Reza di pukul oleh Evan yang masih ingin tidur dengan panci sampai pinsang. Tapu anehnya Evan sendiri tidak menyadari hal tersebut ketika melakukannya. Iya kan? Evan tidak menyadarinya kan?


"Diam atau akan ku buat kalian diam." Ucap Reza sambil memaksakan diri untuk tersenyum polos.


Bukannya terlihat baik, Raihan dan Selly malah langsung berhenti tertawa karena tidak ingin terkena masalah. Menurut mereka, mungkin akan lebih baik jika Reza tidak memaksa tersenyum seperti itu.


"Jangan tersenyum seperti itu." Jawab Sellt dengan nada cepat.


"Baiklah terima kasih karena ingin diam sejenak." Jawab Reza dengan seyum yang masih terpaksa.


"Itu akan menjadi pemandangan yang membuatku tidak bisa tidur." Gumam Raihan yang tampak merasa jika ia tidak akan bisa tidur untuk malam ini.


"Baiklah kalian mandi dan bersiap siap lah. Aku akan menyiapkan sarapan." Ucap Bu Mira yang mulai beranjak dari sofa dan menuju Dapur dengan diikuti oleh Pak Sarya.


"Aku akan ke Kamar. Kalian mandi saja dulu." Ucap Selly.


"Ehh! jangan lari kamu! cepat mandi!" Ucap Raihan menahan baju milik Selly.


"Kenapa aku harus menuruti mu!?" Selly pun mulai menaikkan nada suaranya.


"Rambut mu sudah bau. Lebih baik kamu mandi. Jika tidak mungkin besok kamu sudah jadi Mak Lampir." Ucap Raihan.

__ADS_1


Dan begitulah pagi cerah mereka yang sudah di awali oleh pertengkaran hebat antara Selly dan Raihan yang membuat seisi Rumah menjadi bising dan juga ribut, tapi hebatnya Evan masih bisa tidur.


To be contiune >>>


__ADS_2