
Kembali ke Evan dan Reza, mereka masih kebingungan ketika melihat Kakek Dangrau di sana. Sudah sekitar 30 menit mereka berjalan sambil menggendong Kakek Dangrau bersama sama.
"Mengapa Kakek Dangrau bisa sampai ada di sini?" Tanya Evan heran.
"Entahlah, tapi lebih baik kita berhati hati saja. Firasat ku merasa tidak jika ada sesuatu yang mengintai kita." Ujar Reza yang menggendong Kakek Dangrau.
"Uhuk! uhuk! uhuk!" Tiba tiba mereka langsung berhenti ketika mendengar suara batuk milik Kakek Dangrau.
"Kakek sudah bangun? Bagaimana bisa Kakek berada di sini?" Tanya Reza.
"Turunkan Kakek dulu, kita harus berhenti. Percuma saja kita berjalan..." Ujar Kakek Dangrau.
"Apa maksud Kakek?" Tanya Reza menurunkan Kakek Dangrau.
"Maulina... dia ingin mengambil kembali anaknya." Ujar Kakek Dangrau.
"Maulina?" Tanya Evan dan Reza heran.
"30 tahun lalu..." Kakek Dangrau pun mulai menceritakan sesuatu.
30 tahun lalu saat Kakek Dangrau sudah berumur 20 tahun, ia merupakan putra kepala desa Sangkanoa dulunya. Kepopulerannya sangat di kenal dalam kalangan wanita. Suatu hari di sebuah pertunjukan tarian untuk memperingati sehari sebelum tahun baru, Dangrau langsung bertemu dengan cinta miliknya.
"Dangrau, apa yang kamu lihat?" Tanya Wak Ijem yang masih berumur 20 tahun.
"Siapa dia?" Tanya Dangrau sambil menunjuk ke seorang penari yang menggunakan kain sari berwana merah.
"Dia? kenapa kamu bertanya padaku hal itu?" Tanya Ijem.
"Sudah jawab saja." Ujar Dangrau.
"Dia Farma, dia berasal dari Desa paling ujung pulau ini. Jadi tidak banyak yang mengetahui siapa dirinya." Ujat Ijem.
"Jadi bagaimana kamu tau siapa dia?" Tanya Dangrau.
"Dia adalah Ayah kenalan Paman ku, jadi aku tau mengenai dirinya." Ujar Ijem.
__ADS_1
Mata Dangrau terlihat terpukau pada kecantikan Farma. Setelah pertunjukan berakhir, Dangrau pun langsung menemui Farma tanpa rasa takut. Di belakang panggung mereka pun langsung berbicara singkat.
"Hai siapa namamu?" Tanya Dangrau.
"Farma, kalo kamu siapa? " Jawab Perempuan itu.
"Aku Dangrau, apakah besok kamu masih di sini?" Tanya Dangrau.
"Iya, besok aku masih akan menari untuk tahun baru." Jawab Farma.
"Kalo begitu, maukah kamu menerima permintaan anak seorang kepala desa ini?" Tanya Dangrau sambil memegang tangan Farma.
"Permintaan apa?" Tanya Farma.
"Temui aku sebelum petunjukan mu esok hari." Jawab Dangrau sebelum meninggalkan Farma.
Keesokan harinya di awal tahun, terlihat Farma sudah menunggu Dangau di belakang panggung. Beberapa jam pun berlalu dan hampir waktunya pertunjukan. Karena belum mengenal siapa itu Dangrau, Farma pun langsung kembali menunjukkan tariannya di pertunjukan. Seusai pertunjukan menari, seharusnya akan dilanjutkan oleh iringan musik. Tapi anehnya tidak ada musik sama sekali.
"Itu aneh, bukankah seharusnya setelah kita menari ada pertunjukan musik?" Tanya Farma heran ke partner menarinya.
Saat Farma berbalik, ternyata itu adalah Dangrau yang sudah memegang sebuah bunga. Kita tentu sudah tau apa yang akan Dangrau lakukan. Tapi Farma tidak tahu apa maksud Dangrau melakukan itu.
"Dia..." Farma pun langsung terkejut melihat Dangrau yang sedang memegang mic untuk berbicara.
"Hari ini merupakan awal tahun bagi kita semua. Saya berharap jika tahun ini bisa menjadi tahun yang lebih baik dari pada tahun lalu." Dangrau pun langsung membacakan beberapa pidato miliknya ke seluruh orang yang ada di sana.
Semua orang pun langsung mendengarkan dengan baik. Sampai akhirnya di akhir pidato, Dangrau menyebutkan sesuatu yang membuat banyak orang tercengang.
"Kata kata terakhir saya sebelum menutup pidato ini dan lanjut ke acara selanjutnya adalah Farma Maulina, apakah kamu bersedia menjadi calon pasangan hidup ku?" Tanya Dangrau.
Yang Dangrau maksud calon pasangan hidup adalah pacar. Semua orang pun juga paham jadi tidak akan ada yang salah paham dan mengira jika mereka akan segera berjodoh. Farma pun langsung menyetujui itu karena sejak lama ia juga ingin berhubungan asmara dengan Dangrau.
Lima bulan kemudian setelah lamaran Dangrau, Farma meminta Dangrau untuk bertemu dengannya di hutan seperti biasanya. Di sana Farma terlihat serius, seakan akan ada hal yang sangat penting untuk mereka bicarakan.
"Ada apa? kenapa kamu memanggilku mendadak seperti ini?" Tanya Dangrau.
__ADS_1
"Dangrau, ini sudah 5 bulan kita berpacaran. Apakah kamu tidak ingin menikah? jika tidak untuk apa 5 bulan ini?" Tanya Darma dengan wajah serius.
"Maaf Farma.. sebenarnya saat usia ku 10 tahun, aku sudah di rencanakan berjodoh dengan perempuan desa sebelah. Aku pikir aku bisa meminta Ayah ku untuk menolak kembali perjodohan ini dan menikah dengan mu. Tapi ternyata Ayah ku tidak mengizinkan ku dan kini 3 minggu lagi aku akan menepati perjodohan itu. Maafkan aku Farma..." Dangrau yang tidak siap untuk menikah pun langsung membuat alasan jika ia sudah di rencanakan menikah dengan seseorang.
"Aku paham, tidak apa apa. Tapi janji jagalah perempuan itu." Ujar Farma.
8 bulan kemudian, Farma kembali menemui Dangrau di sebuah tempat makan dan terlihat Dangrau sedang berbicara dengan temannya yaitu Wak Ijem.
"Dangrau.." Ujar Farma.
"Farma? untuk apa kamu di sini?" Tanya Dangrau.
"Ikuti aku, aku ingin kita berbicara di luar." Ujar Farma sambil berjalan keluar tempat makan itu.
Di luar, Farma terlihat sangat serius tapi juga dengan wajah kecewa. Dangrau pun hanya bisa diam dan bediri di depan Farma. Angin pun juga bertiup dan awan mendung mulai terlihat di luar, seakan akan memberikan sebuah kabar besar yang tidak pernah di pikirkan oleh Dangrau sebelumnya.
"Kamu tidak di rencanakan menikah kan? kamu berbohong pada ku 8 bulan lalu kan?" Ujar Farma yang sudah mengetahui yang sebenarnya.
Dangrau pun langsung terkejut ketika mengetahui jika Farma sudah mengetahui kebohongan yang ia katakan.
"I-itu.. aku tidak bisa menjawabnya." Jawab Dangrau yang sudah tidak tau harus menyembunyikan wajahnya di mana lagi.
"Katakan yang sebenarnya, apa alasan kamu melakukan itu semua." Ujar Farma dengan perasaan yang masih menahan amarah, kesal dan kecewanya.
"Aku hanya tidak siap untuk menikah saja, t-tapi jika kamu mau, aku bisa menikahi mu bulan depan." Ujat Dangrau.
"Minggu depan, aku ingin minggu depan kita menikah. Jika kamu belum siap maka w minggu lagi." Ujar Farma sambil menunjuk jarinya ke arah Dangrau.
"Kenapa kamu terburu buru sekali?" Tanya Dangrau.
"Aku sedang mengandung pewaris mu." Ujat Farma.
"Apa!?" Itulah reaksi pertama Dangrau ketika mendengar jika Farma Maulina atau pacarnya itu hamil.
Entah apa atau bagaimana, tidak ada yang tau mengapa Farma hamil. Kini Dangrau harus mempertanggungjawabkan itu karena hanya dialah laki laki yang pernah berhubungan asmara dengan Farma.
__ADS_1
To be contiune >>>