
Semuanya pun langsung terdiam mendengar jawaban Wak Ijem. Mungkin saja ada alasan lain di balik semua kejadian itu. Sebuah kebenaran yang belum di ketahui banyak orang, bahkan itu juga di sembunyikan dari Kartika dan Angga. Akhirnya mereka pun berlindung di sana karena tidak bisa melakukan apapun lagi, jika mereka keluar pun akan di bunuh atau membunuh diri. Selly pun juga kesal karena liburan mereka cukup tidak berjalan lancar dan juga tidak menyenangkan.
Kreekkk...
"Suara apa itu?" Tanya Evan waspada.
"Shhttt... diam, jangan ada yang mengeluarkan suara. Ada yang datang." Ujar Wak Ijem.
Semuanya pun langsung mengikuti arahan Wak Ijem dan tetap diam. Terdengar suara kayu yang berbunyi tanpa henti, suara itu bagaikan peringatan bagi mereka untuk segera lari. Setelah suara syara itu hilang, tiba tiba Kartika merasakan ada benda lembek, basah dan tidak nyaman yang menyentuh tangannya.
"Apa apaan itu!?" Ujar Kartika terkejut.
"Ada apa?" Ada Angga.
"A-ada sesuatu tadi." Ujar Kartika ketakutan.
"Sudah tenang lah, semuanya akan baik baik saja." Ujar Angga memeluk Kartika.
"Mereka romantis sekali, bahkan di saat mengerikan ini mereka masih sempat berpelukan." Gumam Evan dalam hatinya.
Tak lama setelah itu, Selly pun langsung bangun dari pingsan nya dan langsung heran ketika mendapati ia tidak berada di area pernikahan.
"Di mana ini?" Tanya Selly.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Reza.
"Memang tadi aku pingsan?" Tanya Selly.
"Semacam itu." Jawab Evan.
Croot...
"Cairan apa ini? bau nya seperti air liur." Ujar Selly menutup hidungnya.
"Dari mana ini berasal?" Tanya Evan.
"Jika tidak salah dari atas." Jawab Selly.
Tiba tiba jatuh sebuah cairan yang mirip air liur dari atas mereka. Reza pun langsung melihat ke atas dan semuanya langsung terkejut ketika menyadari ada makhluk kurus yang berada di atas mereka. Lidah makhluk itu cukup panjang dan terlihat mengerikan.
__ADS_1
"Makhluk apa itu!?" Ujar Selly terkejut.
Terlihat makhluk itu hanya menunjukkan lidahnya yang sepanjang satu meter itu dan masih bisa memanjang. Dan secara tiba tiba makhluk itu mencekik salah satu warga yang selamat dengan lidahnya dan mematahkan leher warga itu dalam sekejap mata.
Kreekk!
"Semuanya cepat lari!" Ujar Wak Ijem.
Saat mereka mencoba keluar dengan pintu keluar, yang mereka dapati hanya sebuah hutan dengan banyak benang merah serta bagian tubuh manusia yang tergeletak.
"Bagaimana ini? apakah kamu yakin kita harus keluar?" Tanya Evan panik.
Melihat makhluk itu mulai mendekat, Reza pun langsung menarik tangan Evan dan segera keluar dan masuk ke hutan aneh itu. Selly dan lainnya pun juga ikut keluar demi keselamatan mereka semua. Tanpa sadar saat berlari semuanya malah terpisah dan tersesat.
"Apakah sudah aman?" Tanya Evan ketakutan.
"Semuanya aman saja, tapi kita harus tetap waspada." Ujar Reza.
"Dimakan Selly dan lainnya?" Tanya Evan.
"Entahlah..." Jawab Reza.
Tiba tiba terdengar suara semak semak yang bersentuhan. Lama kelamaan suara nya semakin besar dan besar. Reza dan Evan pun langsung mendur perlahan lahan, tiba tiba dari semak semak itu muncul seseorang yang mereka kenal.
"Lari!..." Ujar orang tersebut sebelum pingsan.
"Dia kan...." Kelihatannya Reza mengetahui siapa itu.
Sementara itu Selly dengan Kartika dan Angga terlihat masih di kejar oleh makhluk berlidah panjang itu. Gerakan makhluk itu tidak lah normal jika di lihat dari dekat. Tapi saat sedang berlari, ada seorang anak yang tersandung dan jatuh.
"Ibu!!" Ujar anak itu ketakutan.
"Anakku!!" Ibu itu pun langsung berusaha menyelamatkan anak nya itu.
Tapi sayangnya nasib berkata lain. Lidah makhluk itu langsung melilit tubuh anak itu dan dalam sekejap anak itu di tarik dan di lahap oleh makhluk berlidah panjang itu. Melihat anaknya yang mati di depan matanya, Ibu itu pun langsung berlari berniat membunuh makhluk itu.
"Kembalikan anakku!!" Ujar Ibu itu sambil berlari ke arah makhluk itu.
"Jangan ke sana!" Ujar Angga.
__ADS_1
Tapi ternyata yang ibu itu lakukan sama saja dengan bunuh diri. Makhluk itu langsung melempar sebuah batu besar menggunakan lidahnya dan tepat mengenai kepala sang ibu. Alhasil ibu itu mati dengab kepala yang hancur. Selly dan lainnya pun tidak bisa berbuat apapun lagi. Mereka pun langsung berlari cepat untuk menyelamatkan diri, satu persatu warga yang berlari di tarik dan di bunuh makhluk itu. Kini hanya tersisa Selly, Kartika dan Angga.
"Semuanya cepat masuk ke dalam kumpulan semak semak itu! dia akan kesusahan mencari kita!" Ujar Angga.
Mereka pun langsung segera masuk ke semak semak dan menyelinap ke arah tak menentu agar tidak mudah di temukan. Memang benar apa kata Angga, makhluk itu memang susah menemukan mereka. Tapi itu bukan berarti mereka akan selamat.
"Kalian berdua jangan sampai terpisah dari ku, ikuti langkah ku..." Bisik Angga.
Mereka pun menyelinap secara perlahan lahan. Memang beberapa kali mereka di dekati makhluk itu. Tapi mereka tidak ketahuan sedikit pun. Akhirnya setelah beberapa saat, mereka pun bisa selamat dari kejaran makhluk itu dan sudah bisa bernafas lega.
"Akhirnya kita berhasil selamat." Ujar Kartika lega.
"Iya, kita memang selamat. Tapi itu tidak berarti jika kita tidak bisa tertangkap atau bertemu dengannya lagi, cepat lebih baik kita bertemu dengan Evan dan Reza." Ujar Selly.
Mereka pun langsung lanjut berjalan dan segera mencari Evan dan Reza. Tiba tiba mereka menemukan seorang anak kecil yang tengah menangis dan mencari ibunya. Kartika yang polos pun segera bertanya.
"Kenapa kamu menangis nak?" Tanya Kartika.
"Ibu ku... hilang.." Jawab anak itu sambil menangis.
"Apakah kamu terpisah dari dia?" Tanya Selly.
"Hilang... ibu... hilang.. i-i-i-i-b-b-u h-h-ilang-g-g hilang, hilang, hilang. " Lama kelamaan cara bicara anak itu semakin aneh dan tidak beraturan. Angga pun langsung sedikit curiga.
"Apakah kamu baik baik saja?" Tanya Angga.
Tiba tiba anak itu langsung terlihat lemas dan tidak bergerak sama sekali. Angga pun langsung segera menyentuh anak itu dan kulit anak itu dingin seperti es.
"Dia dingin, ku rasa dia sudah mati beberapa menit lalu." Ujar Angga.
"Tapi bagaimana bisa dia berbicara?" Tanya Kartika heran.
******...
"Air liur ini?... semuanya cepat lari!" Ujar Angga.
Dan tiba tiba sebuah air liur kembali jatuh dan dengan jumlah tak normal. Melihat itu Angga pun sudah paham dan meminta semuanya butuh segera lari. Akhirnya mereka pun kembali di kejar oleh makhluk itu dan kali ini mereka hampir tertangkap karena makhlik itu kini hanya mengincar mereka.
To be contiune >>>
__ADS_1