
Setelah dari Kuburan Desa, Evan dan lainnya pun menikmati waktu dua minggu liburan mereka di sana. Setelah kejadian itu, Kartika dan Angga pun memutuskan akan meninggalkan desa dan tinggal ke tempat lain untuk memenuhi salah satu janji yang di berikan Farma sebelum kejadian itu.
Kini pada hari itu juga para Warga Desa memanggil kejadian mengerikan yang memakan banyak nyawa itu dengan sebutan Tarian Kebencian Yang Berdarah. Entah apa alasan mereka menyebutnya dengan kata kata itu, tapi yang pasti kejadian itu akan di ceritakan secara turun temurun dan akan menjadi peringatan bagi mereka yang haus akan kedudukan dan harta.
Sebelum pergi, mereka pun mengucapkan beberapa salam perpisahan. Mereka tidak bisa banyak berbicara karena jika terlalu lama, mereka bisa tertinggal kapal.
"Apakah kamu yakin tidak ingin sekalian ikut kami?" Tanya Evan.
"Tidak, kami ingin sedikit lebih lama dan menikmati suasana desa untuk terakhir kalinya." Ujar Kartika.
"Berkunjung lah lain hari, tapi jangan lupa hubungi kami. Kami akan sudah di sini sebelum kalian sampai." Ujar Angga.
"Tentu akan kami lakukan." Jawab Raihan.
"Selamat tinggal Kartika, semoga kalian selalu bersama dalam kebahagiaan." Ujar Selly memeluk Kartika.
"Sampai jumpa!" Ujar Evan sambil melambai dari atas kapal.
Semuanya pun ikut melambai. Di ikuti dengan kapal yang menjauh, Pulau Sujapa mulai sudah tidak terlihat lagi dan juga begitulah akhir dari perjalanan liburan mereka.
"Ternyata liburan ini tidak seperti yang aku pikirkan." Ujar Raihan yang sedikit kecewa dengan perjalanan liburan mereka.
"Ya mau bagaimana lagi? jika kita tidak membantu, bisa bisa nyawa kita yang ikut melayang." Ujar Evan.
"Ngomong ngomong tumben kamu tidak mabuk laut, biasanya kamu selalu muntah." Ujar Selly.
"Entahlah, aku juga merasa aneh. Tapi tidak apa apa, setidaknya aku bisa menikmati suasana di kapal ini." Ujar Evan senang.
Mereka pun langsung segera besenang senang dan juga membicarakan hal hal yang menyenangkan bersama. Sama seperti saat mereka akan Ke Pulau Sujapa, kini mereka akan menghabiskan 2 hari di kapal itu.
Di saat semuanya sedang bersenang senang, Reza terlihat serius menelepon seseorang. Tapi meski mau di coba berkali kali pun tidak berhasil. Setiap panggilan yang Reza kirimkan tidak pernah di jawab.
"Ada apa ini? kenapa dia tidak menjawab telepon ku?" Tanya Reza heran.
"Ada apa Reza? apakah ada yang salah?" Tanya Evan.
"Tidak apa apa, aku hanya ingin menelepon seseorang. Tapi tidak di jawab." Ujar Reza.
__ADS_1
"Mungkin orang iti sedang sibuk." Ujar Evan.
"Mungkin kamu ada benarnya juga." Jawab Reza.
"Kalo begitu apakah kamu ingin bersantai bersama kami?" Tanya Evan.
"Iya, lagi pula ini masih masa liburan kita." Ujar Reza.
Mereka semua pun langsung bersantai dan menikmati hari bersama sama, hari itu mereka bisa bersantai sepuasnya setelah mengalami kejadian yang tidak terduga dan juga berbahaya. Tapi di saat mereka sedang bersantai dan bermain, di suatu tempat yaitu tempat tinggal orang yang ingin Reza telepon.
"K-kaila, d-dengarkan Ayah nak. Turunkan benda itu sekarang." Ujar seorang pria gugup.
"KakaK AkAn SegEra KemBaLi... KaliAn SudAh TamAT seKarAng..." Ujar seorang anak yang pakaian dan seluruh tubuhnya bersimbah dengan darah.
Kreekk!....
"Apa yang terjadi? perasaan ku tidak enak." Ujar Reza.
Saat Reza ingin meminum segelas air, tiba tiba gelas yang ingin ia ambil seketika retak sedikit. Perasaan Reza yang awalnya santai dan biasa saja pun langsung berubah menjadi rasa khawatir.
"Tidak apa apa, aku hanya merasa ada yang tidak beres." Jawab Reza.
"Sudahlah, mungkin itu hanya perasaan mu saja." Ujar Evan.
Di saat Raihan dan Evan sedang menghibur Reza, Selly malah terlihat terus makan dan makan tanpa henti. Memang makanan di sana sudah termasuk dalam harga tiket, tapi bisa bisa pihak kapal yang akan rugi karena ***** makan Selly yang mengerikan.
"Hei!.. Selly!... bisa bisa orang yang bekerja di sini bangkrut karena kamu memakan semua makanan yang ada." Ujar Raihan.
"Ya itu kan urusan mereka, aku kan cuma ingin makan." Ujar Selly.
"Hati hati nanti kamu malah seperti kerbau." Ujar Raihan menyindir Selly.
Karena tidak tahan dengan sindiran yang diberikan oleh Raihan, Selly pun juga memberikan sedikit sindirian dan ancaman.
"Hah!? apa!? kenapa Ayam bisa berbicara ya? mungkin mau menggantikan Kerbau ini di sembelih." Ujat Selly sambil mengarahkan pisau makan ke arah Raihan.
"Dasar wanita psychopath." Ujar Raihan.
__ADS_1
"Psychopath!? kamu sungguh ingin di sembelih ya!..." Selly pun mulai mengejar Raihan sambil mengarahkan pisau makan miliknya ke arah Raihan.
"Reza! hentikan Selly!" Ujar Raihan berlari menuju Reza.
"Wanita psychopath ini akan mengantar mu ke tempat peristirahatan terakhir mu!" Ujar Selly dengan wajah kesal miliknya.
"Apakah kamu tidak berniat menolong nya?" Tanya Evan.
"Bairkan saja dia, nanti pasti juga mati." Ujar Reza santai dan meninggalkan Selly dan Raihan.
"Kamu dan Selly memang cocok... sama sama psychopath..." Ujar Evan yang pasrah melihat kelakuan semua temannya itu.
"Apa!?" Ujar mereka berdua kompak.
"T-tidak apa apa." Ujar Evan.
Sama seperti sebelumnya, kamar tidur mereka masih berada di nomor yang sama. Oleh karena itu, Evan pun langsung masuk ke dalam sana dan meletakkan semua barang barang milik mereka. Tiba tiba Evan merasa kaget ketika melihat sebuah benda yang menurutnya familiar.
"Apa ini?" Tanya Evan heran.
Saat di lihat lihat kembali, ternyata itu adalah paku. Paku itu Evan temukan di tas milik Selly. Evan pun langsung heran mengapa Selly menyimpan sebuah paku di dalam tas miliknya.
"Kenapa Selly menyimpan paku di dalam tas miliknya?" Tanya Evan heran.
Tak lama kemudian, Selly pun masuk ke dalam kamar dengan Raihan yang terlihat sedikit kelelahan. Evan pun langsung menanyakan alasan mengapa Selly menyimpan sebuah paku di dalam tas miliknya.
"Kebetulan kamu ada di sini." Ujar Evan.
"Memangnya ada apa?" Tanya Selly kembali.
"Kamu kenapa menyimpan paku di dalam tas mu?" Tanya Evan sambil mengeluarkan paku itu dari dalam tas milik Selly.
"Itu pemberian Kartika, dia meminta ku untuk menyimpan benda itu untuk di jadikan kenang kenangan. Aku sudah menolak tapi dia yang terus memaksaku untuk menyimpannya. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi agar tidak melukai perasaan nya, aku menerimanya saja." Ujar Selly.
Malamnya, kapal sangat tenang dan tidak ada badai laut lagi. Kelihatannya semua tampak aman saja, semua yang ada di sana bisa tidur dengan nyenyak termasuk Evan dan kawan kawannya.
To be contiune>>>
__ADS_1