Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Salah Tingkah - Episode 80


__ADS_3

Setelah berbicara sejenak mereka pun langsung segera membantu Bu Mira membereskan barang barang yang hancur karena permainan itu. Karena semua bola lampu mati, mereka juga terpaksa memakai lilin dan juga senter.


"Hati hati jangan sampai kalian menginjak pecahan kaca!" Seru Bu Mira memperingati meraka semua.


Di saat semua orang tengah membereskan barang barang, Pak Akbar tampak tengah fokus ke Boneka Ghakia yang menurutnya sedikit aneh. Bu Winata yang melihat itu pun ijut penasaran.


"Hmm.. ini aneh." Ucap Pak Akbar sambil memegang Boneka Ghakia.


"Kenapa?" Tanya Bu Winata.


"Ini hanya aku atau memang Bonekanya lebih ringan?" Tanya Pak Akbar memberikan Ghakia ke Bu Winata.


Bu Winata pun menerima Boneka itu dan setelah si gendong selama beberapa saat, ia tidak merasakan apapun. Menurutnya ukuran dan berat Ghakia masih sama dengan sebelumnya. Tidak ada yang berubah sedikit pun.


"Hmm... sepertinya ini hanya perasaan mu saja." Ucap Bu Winata yang tidak merasakan apapun.


Bu Winata pun mulai pergi dan memberikan Ghakia kembali ke Pak Akbar. Pak Akbar pun hanya bisa menatap Ghakia dan menganggap itu mungkin hanya perasaannya saja jika Boneka itu semakin ringan dari pada sebelumnya.


"Mungkin itu hanya perasaan ku saja. Sepertinya aku terlalu khawatiran gara gara baru selesai memainkan permainan itu." Ucap Pak Akbar yang langsung memasukan Ghakia ke sebuah kotak kayu yang sudah ia sediakan sebelumnya.


Setelah meletakkan Ghakia ke dalam kotak itu, Pak Akbar pun langsung menempelkan beberapa kertas yang berisi tulisan yang entah apa itu ke kotak tersebut, dengan harapan jika semuanya hanya sampai sini saja dan tidak akan ada kejadian kejadian tak di inginkan lainnya.


"Hah... benda ini sudah cukup membuat masalah. Ku harap ini hanya sampai sini saja." Ucap Pak Akbar sambil menempelkan kertas yang entah apa tulisannya ke kotak tersebut.


Dengan perasaan setengah tenang, Pak Akbar pun langsung meletakkan kotak itu di samping pintu dan pergi dengan perasaan ragu. Meski begitu ia tetap berusaha untuk selalu dan tetap bersikap positif karena permainan itu memang sudah berakhir.


Sementara itu kembali ke Evan dan kawan kawannya, mereka tampak sangat sibuk membersihkan kekacauan di tempat itu. Sembari bersih bersih, mereka pun berbicara sedikit mengenai perasaan mereka saat tengah bermain permainan itu.


"Permainan itu ternyata cukup mengerikan juga." Ucap Eban sambil menyapu pecahan kaca.


"Sudah pasti mengerikan." Ucap Selly dengan nada tidak senang.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak senang seperti itu?" Tanya Reza yang baru selesai menyapu garam garam yang bertebaran kemana mana.


"Kenapa kalian meninggalkan ku tadi!?" Tanya Selly yang masih menggunakan nada tidak senang ke mereka berdua.


"Memang kenapa? lagi pula itu salah mu juga berlari lambat. Lain kali kamu kurangi saja makan mu." Ucap Reza dengan kata yang tidak tanggung tanggung.


"Berani sekali dia mengatakan itu." Gumam Raihan yang tidak berani mengatakan itu ke Selly.


"H-hei! itu bukan yang aku maksud!" Ucap Selly dengan wajah memerah.


"Jadi apa?" Tanya Evan.


"Kenapa tidak ada dari kalian berdua yang setidaknya menarikku!?" Tanya Selly kembali.


"Shhtt... sudah kamu jangan banyak bicara. Dari tadi merepet terus seperti anak anak." Ucap Reza mengelus kepala Selly.


"Hehe!.. iya yang penting kan kita semua masih selamat." Ucap Evan yang juga ikut mengelus kepala Selly.


Karena di elus oleh Reza dan Evan, entah mengapa wajah Selly langsung memerah seperti tomat dan juga jantungnya langsung berdetak kencang seperti drum yang terus di pukul tanpa henti.


Raihan yang melihat itu pun langsung segera mengambil ponselnya dan kembali memotret pemandangan langkah itu. Tapi Selly yang melihat itu pun tidak tinggal diam dan langsung menatap Raihan kejam sambil di elus oleh Evan dan Reza.


"Ehehehe... kesempatan langkah ini!" Gumam Raihan sambil mengambil gambar Selot yang kepalanya di elus oleh Evan dan Reza.


"Lakukan dan ponsel mu akan hancur seperti pecahan kaca ini." Ucap Selly dengan nada mengancam yang membuat Raihan merinding.


"I-iya aku akan berhenti." Ucap Raihan yang secara diam diam masih menyimpan gambar itu.


Mendengar pembicaraan Selly dan Raihan, Evan pun langsung segera menoleh ke Selly dan ternyata wajah Selly sudah sangat memerah karena nyaman. Evan pun kaget dan memberitahu ke Selly mengenai wajahnya yang sudah merah seperti itu.


"S-selly! wajah mu merah sekali!" Ucap Evan yang kaget melihat wajah Selly sudah merah seperti tomat.

__ADS_1


"A-apa!? sungguh!?" Selly pun mulai salah tingkah dan langsung menutup wajahnya yang kian detik semakin memerah karena malu.


Melihat Selly yang salah tingkah seperti itu, Evan pun mulai sedikit tertawa dan menepuk kepala Selly karena tidak percaya seorang Selly yang biasanya bar bar dan kadang menjengkelkan bisa salah tingkah seperti itu.


Puk!


"Hei! kenapa kamu memukul kepala ku!?" Tanya Selly yang tidak menyukai kepalanya di tepuk.


"Hahaha... maaf aku hanya tidak tahan." Ucap Evan yang tersenyum manis.


Secara diam diam Reza pun juga sedikit tersenyum karena melihat tingkah laku Selly yang juga semakin aneh. Melihat itu semua, Wajah Selly pun semakin memerah. Agar tidak salah tingkah lagi, ia pun langsung memutuskan untuk bersih bersih bersama Jessi dan Prayan saja.


"A-aku akan ke tempat Jessi dan Prayan saja. Mungkin mereka perlu bantuan ku." Ucap Selly yang tampak gugup dan menghindari Evan dan Reza.


"Tidak! kami tidak perlu bantuanmu!" Ucap Jessi yang tampaknya mendengar apa yang Selly ucapkan barusan.


"Ehh.. tidak! kalian pasti butuh bantuan ku!" Ucap Selly yang langsung berjalan cepat ke arah Jessi dan Prayan saat ini.


Evan dan Reza pun hanya bisa tertawa kecil karena melihat tingkah laku Selly yang aneh di mata mereka. Sementara itu, Raihan tampak terkesan karena Reza dan Evan berhasil membuat Selly salah tingkah seperti itu.


"Sepertinya kalian berhasil membuatnya terpojok." Ucap Raihan yang terkesan.


"Apa maksudmu?" Tanya Evan.


"B-bukan apa apa." Jawab Raihan.


Setelah itu mereka pun kembali bersih bersih seperti sebelumnya. Sampai akhirnya semua pecahan bola lampu dan garam yang berserakan sudah selesai. Jam pin telah menunjukkan pukul tiga pagi dan karena semuanya sudah mulai mengantuk dan juga lelah, mereka pun memutuskan untuk pergi tidur saja.


Tapi di saat mereka tengah tidur pulas, lampu di Rumah Reza terlihat masih menyala terang dan di sana terlihat Paman Reza yang langsung melempar sebuah gelas.


Pranggkk!!..

__ADS_1


"Ini masih belum berakhir Reza..." Ucap Paman Reza dengan wajah yang sudah tampak frustrasi atau sebagainya.


To be contiune >>>


__ADS_2