Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Mimpi Buruk? - Episode 86


__ADS_3

Hingga saat ini mereka sedang berada di Dapur Rumah itu. Mereka merasa seperti hantu saja karena tiap kali mereka lalu lalang, tidak ada yang menyadari dan bahkan ketika melintas di depan orang, tidak ada yang kaget melihat mereka.


"Sepertinya tidak ada yang special di sini." Ungkap Evan yang sudah memeriksa semua kamar di sana.


"Kamu benar. Kita juga tidak bisa membuka pintu depan dan juga tidak ada pintu belakang di sini." Ucap Selly yang sebelumnya mencoba membuka pintu depan, tapi hasilnya pintu itu tidak bisa di gerakkan sedikitpun.


Evan dan Selly pun memutuskan untuk ke ruang Tamu Rumah itu, tapi entah mengapa sudah ada pintu yang muncul di hadapan mereka, padahal itu tidak ada di sana sebelumnya.


"Apakah ini hanya aku atau memang ada pintu di sini sebelumnya?" Tanya Evan ragu.


Evan dan Selly pun berhadapan muka untuk sementara dan kemudian memutuskan untuk membuka pintu itu dan saat pintu di buka, seisi rumah langsung menjadi gelap dan hujan deras sedang berlangsung di luar. Selain semua keanehan itu, bukannya berada di Ruang Tamu, mereka malah berada di Kamar Anak Kecil yang bernama Nakia itu.


Di Kamar itu Nakia tampak tengah bersembunyi di bawah Kasur miliknya. Tentu saja hal itu sedikit aneh di mata Evan dan juga Selly karena Nakia kala itu terlihat sangat ketakutan seperti baru terjadi sesuatu yang buruk.


Prakkk!!!


"Siapa di sana!?" Suara pecahan piring pun mulai terdengar dan di ikuti pula suara seorang pria yang sepertinya Ayah Nakia.


Evan pun melihat ke bawah Kasur dan terlihat wajah Nakia pun langsung tampak sangat pucat seketika dan nafasnya mulai terengah egah karna ketakutan.


"Akhh!!" Untuk sekali lagi suara Ayah Nakia kembali terdengar. Hanya saja ini seperti sedang menahan sakit atau sebagainya.


"Selly coba kamu lihat keluar dan periksa apa yang tengah terjadi." Perintah Evan yang tampak tidak tega melihat anak kecil seperti Nakia ketakutan seperti itu.


Selly pun langsung segera berjalan menuju pintu. Tapi sayangnya, pintu itu malah tidak bisa di gerakkan. Jangankan di gedor atau di dobrak. Gagang pintunya saja terasa kaku seperti batu.


"Pintunya tidak bisa di buka. Aku tidak bisa meriksa keluar." Ucap Selly yang terus mencoba membuka pintu tersebut.


"Hikss.. hikss... Ayah! Ibu! aku takut!..." Nakia yang sudah tidak bisa menahan ketakutan miliknya pun langsung berteriak memanggil kedua orangtuanya sambil sedikit menangis.

__ADS_1


Kreekk..


"Ayah?.. ibu?.. apakah itu kalian?" Tanya Nakia yang merasa jika yang membuka pintu adalah kedua orangtuanya.


Pintu pun mulai sedikit terbuka dengan sendirinya dan dengan ketakutan Nakia pun mulai mencoba mengintip sambil membawa boneka beruang miliknya. Ketika Nakia keluar dari pintu, Evan dan Selly pun langsung mengikutinya dari belakang.


"Apa yang terjadi di sini?" Tanya Selly yang melihat jika seisi Rumah sudah berantakan.


Nakia pun mulai berjalan menuju Kamar Kedua orangtuanya dan tiba tiba saja ada sebuah tangan yang menariknya masuk ke dalam Kamar itu dan menutup pintu Kamar itu.


"Ahhh!!" Nakia pun berteriak kencang karena takut.


Melihat Nakia yang berteriak kencang, Evan pun langsung segera mengertuk pintu tersebut dengan keras, tapi tidak ada reaksi sama sekali. Mau sekuat apapun ia mendobrak pintu itu, tidak ada suara seperti pintu di dobrak atau sebagainya. Saat Evan melihat ke bawah, sebuah gumpalan cairan pun mulai mengalir dari bawah pintu. Evan pun mencoba menghirup aroma cairan itu dan ternyata baunya seperti darah.


"Bukankah ini darah!? jangan jangan..." Evan pun mulai mengecilkan pupil matanya dan langsung segera terus berusaha membuka pintu, tapi hasilnya tetap saja sama. Tidak ada reaksi apapun dari pintu tersebut.


Prannkkk!!!


"Apa yang terjadi lagi sekarang?" Tanya Evan yang sudah bingung dan tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang barusan terjadi. Semua seperti terjadi dengan cepat dan tidak ada aba aba sedikitpun.


"Entahlah, aku saja bingung." Ucap Selly.


"HaHh..." Tak lama kemudian suara nafas mulai terdengar dari belakang mereka dan sontak membuat Selly dan Evan mematung karena ketakutan.


"Apapun itu, tolong tubuhku bergeraklah." Gumam Selly yang mematung ketakutan.


"JanGaN luPa..." Ucap sesuatu yang ada di belakang mereka dengan suara serak yang membuat merinding.


"Ahhh!!" Evan pun tiba tiba berteriak dan tau tau sudah berada di Kamar Prayan dengan Prayan dan Raihan yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa Evan?" Tanya Raihan yang wajahnya di penuhi dengan benang dan juga kacing baju yang menempel di pipi kanannya.


"B-bukan apa apa... aku hanya bermimpi buruk sepertinya." Ucap Evan yang tidak terlalu mengingat isi mimpinya.


Sementara itu di Kamat Jessi, Selly tampak baru saja bangun seperti Evab dan di seluruh wajahnya ada banyak remah remah camilan dan juga di jidatnya ada bekas keyboard laptop miliknya.


"Kenapa kamu teriak Selly?" Tanya Jessi yang terkejut karena teriakan Selly yang kencang sekali.


"Bukan apa apa. Aku hanya sedikit bermimpi buruk sepertinya." Jawab Selly yang juga tidak bisa mengingat isi mimpinya itu.


"Semuanya cepat turun! makan malam sebentar lagi siap!" Tak lama kemudian suara Bu Mira pun mulai terdengar tanda jika makan malam akan di mulai.


Mereka semua pun langsung keluar menuju ke Meja makan. Di meja makan terlihat sudah ada Reza yang sedang melihat ponsel miliknya. Evab dan lainnya pun langsung segera duduk dan entah memang kebetulan atau apa, Evan dan Selly duduk bersebelahan dan raut muka kebingungan.


"Kenapa wajah kalian seperti itu?" Tanya Bu Mira yang heran melihat Evan dan Selly yang memasang wajah yang menurutnya tidak seharusnya di pasang di waktu seperti itu.


"Bukan apa apa, aku hanya sedikit bermimpi buruk barusan." Ucap Evan yang menggunakan nada seperti ragu.


"A-aku juga." Lanjut Selly.


"Wahh... apakah ini tanda kalian berjodoh?" Raihan pun mulai sedikit mengejek Evan dan Selly.


Evan dab Selly pun mulai memandang Raihan dengan senyum yang seperti di paksa dan di saat itu juga Evan mengeluarkan stungun daru kantung celananya.


Krrtttkkk!!


"Astaga! dari mana kmau mendapatkan benda itu. Membuat ku terkejut saja." Ucap Jessi yang kebetulan duduk di sisi lain meja, tepat di depan Evan.


"Aku di berikan orangtua ku. Untuk berjaga jaga jika ada hal buruk terjadi." Ucap Evan yang masih memegang stungun itu.

__ADS_1


Raihan pun langsung diam dan menatap piring kosong miliknya sambil sedikit ketakutan takut akan mendapatkan nasib buruk yang tidak ia inginkan.


To be contiune >>>


__ADS_2