
Tak lama kemudian, Pak Akbar pun langsung keluar dari sebuah lorong menuju dapur bersama Pak Sarya. Kelihatannya mereka sedang membahas sesuatu yang penting.
"Kedengarannya itu Pak Akbar." Ujar Jessi yang merasa mendengar suara dari Pak Akbar.
"Sungguh? ayo cepat kita temui dia!" Ujar Reza yang sedikit panik.
Jessi pun hanya berlari mengikuti Reza ke bawah. Di bawah Pak Akbar dan Pak Sarya ternyata sudah berada di ruang tamu sambil berdiri dan berbicara.
"Kenapa kamu kamu tergesa gesa seperti itu Reza?" Tanya Pak Akbar yang melihat Reza yang berlari ke bawah.
Reza pun langsung terlihat sedikit bernafas terengah engah karena lelah setelah sedikit berlari. Belum sempat menjelaskan, tiba tiba Bu Winata keluar dari Kamar dan terlihat wajahnya masih merah.
"Kenapa ribut ribut? apakah.... kalian... bisa..." Belum selesai berbicara, Bu Winata terlihat langsung terjatuh karena lemas.
"Winata!" Pak Akbar pun langsung segera berlari ke atas dan mendekati istrinya itu.
Reza, Jessi dan Pak Sarya pun kita mengikuti Pak Akbar ke atas karena khawatir dengan Bu Winata. Pak Sarya pun langsung memangku kepala Bu Winata dan sama seperti yang Reza duga, suhu tubuh Bu Winata cukup panas.
"Kepalanya panas sekali. Siapapun cepat ambillah es, kita harus mengkompres kepalanya." Ujar Pak Akbar.
"Biar aku saja." Jawab Pak Sarya.
Pak Sarya pun dengan segera langsung berlari ke dapur untuk mengambil es batu dan juga beberapa kantong es untuk mengkompres kepala Bu Winata.
"Bagaimana bisa suhu tubuhnya panas seperti ini?" Tanya Pak Akbar heran.
"Entahlah, Evan dan Selly juga mengalami hal yang sama." Jawab Jessi.
"Mereka berdua juga?" Pak Akbar pun terlihat tidak terlalu terkejut mengenai hal itu.
"Iya, kini mereka ada di kamar tamu, lebih baik kita kumpulkan mereka semua ke sana saja agar mudah merawat mereka." Ujar Jessi.
"Baiklah, kalian berdua cepat ambil obat obatan yang ada di lemari kamar ini dan juga beritahu Pak Sarya untuk ke kamar tamu saja." Ujar Pak Akbar.
Jessi dan Reza pun langsung sedikit membuka lemari baju yang ada di sana dan mencari kotak obat itu. Tapi meski sudah di periksa berkali kali, tetap saja tidak ada.
"Kata Pak Akbar kotak obat di letakkan di sini, tapi kenapa tidak ada?" Tanya Reza heran.
"Memang biasanya di letakkan di mana?" Tanya Jessi.
__ADS_1
"Biasanya akan ada di bawah laci berkas.' Ujar Reza.
"Kalo begitu lebih baik kita periksa di sana saja." Ujar Jessi.
Mereka pun langsung segera membuka laci yang yang ada di bawah laci yang di buka Pak Akbar untuk mencari berkas yang di minta Paman Reza sebelumnya.
"Akhirnya ketemu juga." Ujar Reza yang lega karena berhasil menemukan kotak obat yang mereka perlukan.
Saat Reza mengambil kotal obat itu, terlihat bagian bawah laci itu terdapat lapisan kayu yang mulai terkelupas. Dari belakang lapisan itu terlihat sesuatu yang samar samar seperti sebuah map plastik berwarna kuning.
"Sepertinya ada sesuatu di dalam sana." Ujar Reza sambil memperhatikan map plastik berwarna kuning yang terlihat samar samar itu.
Reza pun langsung sedikit mendekati laci itu dan berniat untuk melepaskan lapisan kayu yang menutupi map kuning itu.
"Reza! ayo cepat! kita harus memberikan kotak obat itu!" Ujar Jessi sedikit khawatir.
"B-baik!" Reza pun langsung segera mengurungkan niatnya dan langsung menutup laci itu, serta pergi ke Kamar Tamu bersama Jessi.
Di Kamar Tamu terlihat Pak Akbar yang tengah mengkonpres kepala Evan, Selly dan Bu Winata. Prayan dan Raihan pun juga terlihat sedikit mmembereskan ulang kamar itu agar bisa mudah dalam merawat ketiganya. Setelah beberapa saat merawat mereka bertiga Reza dan lainnya tampak sedikit lelah.
"Akhirnya mereka bertiga sudah tidur. Sekarang lebih baik kita keluar saja agar tidak meganggu mereka." Ujar Pak Akbar.
"Iya, semoga saja." Jawab Reza.
Kemudian mereka pun langsung menuju ke ruang tamu untuk membahas itu semua. Pembicaraan pun juga mulai serius seiring berjalannya waktu itu dan juga semakin menarik.
"Apakah menurut kalian ini hanya kebetulan atau sebagainya?" Tanya Raihan.
"Apa maksud ku?" Tanya Reza.
"Jika di ingat ingat Evan juga pernah mendadak sakit seperti ini saat kita di Hotel sebelum naik kapal ke Pulau Sujapa." Ujar Raihan.
"Yang saat kalian bertengkar itu? memang apa hubungannya dengan kejadian saat ini?" Tanya Reza yang masih belum paham maksud dari Raihan.
"Gejalanya jika tidak salah hampir sama kan? jika berbeda mungkin hanya beberapa saja yang berbeda. Kini Evan, Selly dan Bu Winata mengalami sakit di saat bersamaan dengan gejala yang mungkin hampir sama." Ujar Rivan dengan gaya ala detektif miliknya.
"Apakah kamu menonton film detektif lagi?" Tanya Reza yang tidak suka gaya ketika Raigan berbicara.
"Sudahlah lupakan saja tentang itu, tapi aku benar kan? bukankah ini kebetulan yang sedikit mencurigakan?" Tanya Raihan.
__ADS_1
"Jujur saja ini memang sedikit aneh, tapi mungkin kita harus membahas ini bersama dengan mereka saja." Ujar Jessi.
"Iya, mungkin mereka ada melakukan sesuatu yang sama atau sebagainya, seperti makan sesuatu yang sama atau alergi pada sesuatu yang sama." Ujar Prayan yang sama setujunya dengan Jessi.
"Baiklah, ngomong ngomong bagaimana dengan berkas yang Paman minta?" Tanya Reza.
"Aku sudah meminta seseorang dari Kantor Pamanmu untuk membawakannya." Ujar Pak Akbar.
"Kenapa tidak minta Pak Sarya untuk membawakannya saja?" Tanya Reza.
"Entah mengapa aku punya perasaan jika kita semua harus di rumah saja hari ini." Ujar Pak Akbar.
Tok! tok! tok!...
Tiba tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Dengan santai Reza pun langsung segera pergi untuk membuka pintu tersebut.
Kreek!..
"Bu Mira? kenapa Ibu datang ke sini?" Tanya Reza yang sedikit terkejut melihat Bu Mira secara tiba tiba berkunjung ke Rumah itu.
"Memang tidak Ibu boleh datang ke sini? Ngomong ngomong di mana Prayan dan Jessi? sejak pagi mereka belum pulang sama sekali." Ujar Bu Mira.
"Silakan masuk Bu, mereka ada di dalam." Ujar Reza.
Bu Mira pun langsung masuk ke dalam rumah itu dan setelah Bu Mira masuk, Reza pun langsung segera menutup pintu rumah itu.
"Ibu? kenapa Ibu datang ke sini?" Tanya Jessi yang sama seperti Reza.
"Ibu ke sini untuk menjemput kalian pulang. Kalian dari pagi belum pulang pulang dan memberikan kabar." Ujar Bu Mira.
"Tunggu dulu Bu. Bu Winata sedang sakit, tidak mungkin kami meninggalkannya." Ujar Jessi yang mencari alasan agar bisa lebih lama di sana.
Jederr!!!
"Ehh copot! astaga petirnya keras sekali." Ujar Bu Mira kaget.
"Sepertinya di luar sedang hujan deras, bagaimana jika kalian di sini dulu sampai hujannya reda?" Tanya Pak Akbar.
To be contiune >>>
__ADS_1