Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Masa Lalu (Bagian 3) - Episode 92


__ADS_3

Suasana pun langsung seketika hening dan tidak terdengar suara apapun selain suara nafas Herman yang ketakutan.


Tok! tok! tok!


Tiba tiba saja muncul suara ketukan yang keras. Herman pun langsung refleks ketakutan dan memohon mengampunan. Tapi ternyata yang mengetuk pintu adalah Pak Sarya yang ingin memberitahunya kalau sudah waktunya makan malam.


"Tolong jangan lukai aku, ampunilah aku! a-aku akan melakukan apapun yang kamu mau. aku bersungguh sungguh!" Ucap Herman dengan ketakutan.


"Tuan sekarang sudah waktunya makan malam. Apakah tuan akan makan bersama kami?" Tanya Pak Sarya dari balik pintu.


"B-baiklah, aku akan datang ke sana!" Jawab Herman yang lega jika tidak akan ada suatu yang terjadi pada dirinya.


Ia pun mulai makan malam bersama mereka semua. Meski ada perasaan ragu di dalam dirinya, ia memutuskan untuk tetap berpikir positif dan menganggap jika yang terjadi padanya sebelumnya hanyalah halusinasi saja. Malamnya ketika ia ingin tidur tepatnya di pukul sepuluh malam, muncul suara ricuh dari lantai bawah di ruang tamu. Saat di dengar dengan saksama, teryata itu adalah Hatirto yang tengah bertengkar dengan istirnya.


"Kenapa mereka harus berperang di saat seperti ini? sudahlah lupakan saja." Ucap Herman yang tampak tidak bisa tidur.


Herman pub memutuskan untuk melupakan semua yang terjadi di hari itu dan tidur. Hari hari pun terus berlalu dan semakin lama pertengkaran Hatirto dengan istrinya semakin ricuh. Barang barang pun mulai di lempar dan tentu saja hal ini membuat Reza dan Rena sedikit ketakutan dan akhirnya hari itu tiba juga. Pada saat ulang tahun Reza, kedua orangtuanya beserta Rena di temukan mati dengan cara yang tidak wajar. Pada malam hari setelah kejadian itu terjadi, Herman tidak tampak sedih ketika saudaranya telah tiada. Malahan ia tampak sedikit senang karena harta ayahnya yang di warsikan ke Hatirto akan menjadi miliknya.


"Tidak ku sangkah hari ini akan tiba. Tapi kenapa Hatirto memutuskan untuk bunuh diri seperti itu?" Tanya Herman heran mengira jika penyebab kematian saudaranya adalah bunuh diri.

__ADS_1


"Mereka tidak bunuh diri." Jawab seseorang yang tiba tiba sudah berada di samping Herman.


Ketika berbalik, Herman malah menemukan makhluk menyerupai pengantin perempuan yang tinggi dengan mulut yang panjang sampai hampir mencapai telinga. Gigi gigi makluk itu pun tampak sangat tajam meski kecil. Tentu saja reaksi pertama Herman adalah ketakutan.


"S-siapa kamu!?" Tanya Herman ketakutan.


"Jika aku tidak bisa mendapatkan anak itu, maka kamulah yang akan mengalami hal yang di alami oleh mereka." Makhluk iti pun mulai berubah menjadi sesosok anak perempuan kecil dan kemudian dari anak kecil itu, berubah menjadi boneka tasya milik Rena.


Herman yang melihat semua itu pun hanya bisa diam ketakutan karena menyadari jika yang ia alami ketika menjatuhkan sebuah patung kayu yang ia pungut dari jalan memang benar. Ia pun langsung segera meletakkan boneka milik Rena ke kamar Reza dan berpura pura tidak tahu apa apa. Tapi tentu saja semua tidak berjalan semudah meminum seteguk air. Reza masih hidup dan kini kekacauan pun mulai terjadi di rumah itu. Barang barang mulai terbang ke sana kemari dan juga kadang ia melihat sosok anak kecil yang menatap tajam padanya.


"Aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi lagi. Jika inu terus berlangsung, maka akulaj yang akan mati. Apapun terjadi aku harus menjauhkan Reza dan boneka terkutuk itu dari ku" Ucap Herman dengan rasa takut.


Sementara itu untuk Reza, Herman pun memindahkan Reza ke tempat yang jauh dari sana, bersamaan dengan boneka tasya atau bisa di sebut juga boneka ghakia. Tapi tanpa sepengetahuannya, Pak Sarya memberikan nomro teleponnya pada Reza agar bisa di hubungi jika ada sesuatu yang darurat.


Mengingat semua yang telah ia lalukan, Herman pun jadi semakin ketahuan sebab kini ia sudah mendapatkan ganjaran dari perbuatannya bertahun tahun yang lalu.


"Apakah kamu lupa atau memang pura pura lupa?" Tanya arwah Hatirto yang tampak marah pada Herman.


"M-maafkan aku. Aku melakukan semua itu secara tidak sengaja." Jawab Herman untuk melindungi dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tidak sengaja? apakah melantarkan Reza itu bisa di sebut tidak sengaja!?" Wajah Hatirto pub mulai berubah mengerikan. Tampak matanya mulai menghilang dan di gantikan dan lubang gelap yang mengeluarkan darah secara perlahan.


Herman pun langsung di terbangkan menabrak pintu sampai membuat pintu itu hancur. Ia pun langsung jatuh ke lantai 1 dengan sangat cepat. Tapi entah memang sedang beruntung atau apa, ia malah mendarat di sofa ruang tamu yang tentu saja membuatnya baik baik saja. Di ruang tamu masih terlihat Bu Winata yang mengikat leher Bu Mira dengan sebuah kalung. Sambil meronta kesakitan, Bu Mira pun terus berusaha untuk mempentalkan Bu Winata agar ia bisa terlepas.


"Kenapa dia menjadi semakin kuat!? aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi!" Ucap Bu Winata yang tampak kesusahan untuk menahan Bu Mira.


"Kalian semua cepat pergi dari sini!" Ucap Pak Sarya yang mulai membantu menahan Bu Mira.


Reza dan lainnya pun mulai pergi dari tempat itu. Tak lupa Evan juga di bantu berlari bersama Raihan dan Reza. Karena tidak tahu harus ke mana lagi, mereka pun akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di dapur. Ketika mereka tengah bersembunyi, di ruang tamu tampak Bu Winata dan Pak Sarya yang masih terus menahan Bu Mira.


"Sadarlah Mira! lawan makhluk itu!" Ucap Bu Winata sambik terus mengikat leher Bu Mira dengan sebuah kalung.


"Argghkkkk! enyah kalian dari ku!" Bu Mira pun tampak semakin agresif dan mulai bisa bergerak bebas. Seakan akan ia tiba tiba mendapatkan kekuatan yang sangat kuat.


"Pergi kamu! jangan ganggu Mira lagi!" Bu Winata pun terus berusaha menyadarkan Bu Mira. Tapi dari reaksi yang di berikan, sepertinya itu percuma.


"Tidak perlu membuang tenagamu Winata. Dia bukan Mira lagi. Kita harus berusaha untuk menahannya." Ujar Pak Sarya sambil memegang tangan dan kaki Bu Mira.


Tidak bertahan lama, Bu Winata dan Pak Akbar pun langsung di lempar oleh Bu Mira. Lemparan itu pun cukup sangat keras sampai sampai membuat mereka berdua jatuh tdiak sadarkan diri.

__ADS_1


To be contiune >>>


__ADS_2