
Saat berada di depan Rumah Bu Mira, Selly terlihat sudah mulai tenang meski masih sedikit takut dan berperilaku aneh.
"Ini sudah tiga puluh menit setelah kita keluar dari rumah. Apakah kamu tidak bisa tenang sedikit?" Raihan pun tampak sangat tidak memahami mengapa Selly bisa setakut itu.
Selly pun hanya diam dan tampak seperti kelelahan dan tidak ingin menjelaskan alasan dia ketakutan seperti itu. Raihan yang tidak mendapatkan jawaban yang di harapkan pun langsung segera meninggalkan Selly bersama dengan Jessi dan menghampiri Evan yang tidak melakukan apa pun.
"Sungguh aku tidak paham dengan Selly, dia tidak ingin memberitahu apa yang terjadi sampai bisa membuatnya takut seperti itu." Kesal Raihan.
"Mungkin dia hanya tidak ingin membahas itu. Kita biarkan saja dia, nanti cepat atau lambat dia pasti akan menceritakan semuanya." Ujar Evan sambil terus memperhatikan ponsel miliknya.
"Kamu sedang apa? wajah ku serius sekali ku lihat." Raihan pun langsung berusaha untuk melihat isi ponsel milik Evan.
"Bukan siapa siapa, lebih baik kamu urus saja urusanmu." Evan pun langsung segera menutup ponselnya dan meminta Raihan untuk menjauh.
Sementara itu, Pak Sarya pun tampak menelepon seseorang untuk membereskan dan memperbaiki rumah itu. Memang kebanyakan benda yang rusak adalah perabotan. Tapi karena takut akan ada hal buruk yang terjadi, Pak Sarya pun langsung sekalian meminta seseorang untuk memperbaiki yang rusak.
"Baiklah, saya akan memberikan kunci rumahnya ke satpam di gerbang masuk. Jadi jika kalian ingin masuk, jangan lupa mengambil kunci itu di sana. Tapi ingat untuk satu kamar yang ku kunci tidak boleh di buka atau di masuki." Pak Sarya pun langsung segera menutup panggilan tersebut.
"Jadi bagaimana? apakah mereka akan datang?" Tanya Pak Akbar.
"Mereka akan datang saat pukul 11 malam." Ujar Pak Sarya mengimpan ponsel miliknya.
"Baiklah, kalungnya akan aku simpan. Sebagai gantinya aku akan memberikan kapur di depan pintu." Ujar Pak Akbar sambil sedikit menunjuk Pintu Rumah.
"Tapi bukankah itu terlalu malam? bagaimana bisa mereka bekerja di jam 11 malam?" Bu Winata pun tampak curiga dan heran karena jam kedatangan orang yang memperbaiki rumah sangat larut dan tidak normal.
"Entahlah aku juga tidak paham kenapa mereka ingin melakukannya di malam hari. Tapi jika itu keinginan mereka, aku tidak bisa banyak bicara." Ujar Pak Sarya yang sedikit curiga juga.
__ADS_1
Saat Bu Mira berhasil membuka pintu, mereka semua pun langsung segera memasuki Rumah Bu Mira untuk menginap selama sehari saja. Semua pun tampak mulai memasuki Rumah Bu Mira kecuali Pak Akbar yang senadari tadi menaburkan kapur di depan Pintu Masuk Rumah Reza yang akan di perbaiki.
"Semoga kapur ini bisa membantu." Ujar Pak Akbar yang baru saja selesai menaburkan kapur di depan pintu.
Pak Akbar pun langsung segera meninggalkan tempat itu dan mengikuti yang lain untuk masuk ke dalam Rumah Bu Mira. Di saat yang sama pula Pak Sarya sedang menitipkan kunci rumah ke Satpam yang menjaga Gerbang Masuk.
Saat masuk ke dalam Rumah, Bu Mira pun langsung segera meminta Reza, Evan dan Raihan untuk tidur di Kamar Prayan untuk sementara dan sedangkan Selly tidur di Kamar milik Jessi.
"Baiklah untuk Reza, Evan dan Raihan kalian tidur di Kamar Prayan untuk sementara dan untuk Selly kamu bisa tidur di Kamar milik Jessi. Bu Winata dan lainnya bisa di Kamar Tamu." Ujar Bu Mira.
Pada saat hari sudah malam, pekerja yang di panggil oleh Pak Sarya tampak datang bersama beberapa rekannya dan membuka pintu Rumah itu. Tampak bagian dalam rumah itu sangat berantakan sama seperti sebelumnya.
"Apakah ini adalah rumah yang akan kita bereskan?" Tanya salah satu rekan pekerja itu.
"Ku rasa iya, tapi bagaimana bisa keadaannya seperti di serang angin topan? maksud ku bagaimana bisa berantakan seperti ini?" Pekerja itu pun tampak sangat terkejut dengan keadaan rumah yang sangat berantakan.
"Sudah jangan mengeluh, mungkin ini akan selesai dalam 3 hari. Tapi itu bukan berarti kita bisa banyak mengeluh dan bermalas malasan." Ujar Rekan pekerja yang lain.
Pekerja yang melihat itu pun langsung mencari asal jejak itu sampai masuk ke dalam Kamar Kedua Orangtua Reza. Saat pekerja itu masuk, secara tiba tiba pintu kamar itu tertutup dan terkunci dengab sendirinya.
Brakk!!
"Semuanya! apakah kalian mendengar ku!? siapapun! tolong buka pintunya!" Ujar Pekerja itu sambil berteriak di celah pintu.
Karena tidak ada jawaban, Pekerja itu pun mencoba untuk menelepon rekannya agar bisa di buka kan pintu. Tapi saat ingin menelepon, dari arah belakang pekerja itu, terasa sebuah hawa dingin yang membuat perasaan tidak nyaman.
"Kenapa aku merasa tidak nyaman ya? apakah ini hanya perasaan ku?" Tanya pekerja itu sambil menyentuh pinggangnya.
__ADS_1
"buKaN..." Setelah pekerja itu bertanya, tiba tiba muncul suara perempuan yang terasa membuat nafas tidak tenang setelah mendengarnya.
Ahhhh!!!
Tiba tiba saja terdengar suara teriakan dari arah Rumah itu. Karena teriakan itu, semua orang pun menjadi terbangun di saat yang bersamaan.
"Suara apa itu?" Tanya Evan kaget.
"Entahlah, lebih baik kita turun dan memeriksanya." Ujar Reza yang langsung beranjak dari kasur.
Saat berada di Ruang Tamu dari Rumah Bu Mira, tampak semuanya sudah berkumpul di sana karena suara itu.
"Semuanya ada di sini?" Tanya Reza heran sambil keluar dari Kamar Prayan.
"Tentu saja kami bangun. Suara teriakan siapa itu tadi?" Tanya Jessi heran.
"Entahlah, kami juga terbangun karena itu." Jawab Prayan dengan wajah setengah bangun dan terlihat mengantuk.
"Sepertinya suara teriakan itu dari Rumah kalian, apakah kita harus memeriksanya?" Tanya Bu Mira khawatir.
"Sepertinya itu bukan ide yang buruk, aku juga khawatir dengan sesuatu yang ada di sana." Ujar Pak Akbar.
Karena penasaran dan khawatir, mereka semua pun langsung segera keluar dan memeriksa Rumah Reza. Tampak beberapa tetangga yang lain juha terbangun dan keluar karena suara teriakan itu. Tapi saat ingin membuka pintu Rumah itu, anehnya Pintu itu malah terkunci dan tidak bisa di buka.
"Pintunya tidak bisa di buka, apakah kita harus mendobraknya?" Tanya Pak Akbar.
"Dobrak saja." Ujar Pak Sarya.
__ADS_1
Pak Akbar pun langsung segera mendobrak pintu Rumah itu dan terlihat keadaan Rumah terlihat sepi dengan keadaan yang tidak terlalu berantakan di banding sebelumnya.
To be contiune >>>