Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Sakit Yang Tiba Tiba - Episode 57


__ADS_3

Setelah mendengar Reza mengatakan jika ia dan teman temannya ada masalah lain, Jessi pun penasaran dan juga sedikit ingin tau masalah apa yang mereka maksud.


"Masalah? memang kalian memiliki masalah apa dengan polisi?" Tanya Jessi.


"Sudah jangan terlalu banyak bertanya, intinya kita tidak bisa menelepon mereka." Ujar Reza.


Tritt!!!... triittt!!..


Tiba tiba ponsel milik Pak Akbar berbunyi. Pak Akbar pun langsung segera meminta semuanya untuk tidak bersuara dan menjawab panggilan itu.


"Semuanya diam dulu, ini dari Sumar." Ujar Pak Akbar.


"Sumar? siapa itu Sumar?" Tanya Evan heran.


"Itu nama Paman ku." Jawab Reza berbisik.


"Iya pak ada apa?" Tanya Pak Akbar menjawab panggilan itu.


Semua pun langsung diam dan membiarkan Pak Akbar berbicara dengan Pamannya Reza. Dari wajah Pak Akbar, mungkin itu bukan pembicaraan yang serius.


"Baik pak, aku akan meminta seseorang untuk membawakan berkas itu." Ujar Pak Akbar menutup teleponnya.


"Kenapa Paman menelepon?" Tanya Reza.


"Paman mu selalu memiliki kebiasaan meninggalkan berkas penting, jadi dia meminta ku untuk membawakannya." Ujar Pak Akbar.


Pak Akbar pun langsung segera pergi ke kamar kedua orangtua Reza dan segera mencari berkas tersebut. Di dalam kamar itu terlihat Bu Winata yang tengah sedikit mengosok kepalanya yang sakit karena membentur banyak benda.


"Apakah kamu sudah sadar?" Tanya Pak Akbar.


"I-iya.. aku tidak menyangka jika akan sampai seperti ini." Ujar Bu Winata dengan nada cemas dan khawatir.


Pak Akbar pun hanya diam dan segera membuka sebuah laci dan mencari berkas yang Paman Reza minta.


"Apa yang kamu cari?" Tanya Bu Winata.


"Seperti biasa Sumar meninggalkan berkas penting lagi." Ujar Pak Akbar sambil mengambil sebuah berkas dan menutup laci itu.


"Sungguh? ini sudah 10 kali dalam bulan ini." Ujar Bu Winata yang kaget.


"Umurnya juga sudah cukup tua, jadi tidak heran jika dia mulai pelupa." Ujar Pak Akbar.


"Ngomong ngomong bagaimana jika kita beritahu mereka saja?" Tanya Bu Winata mengganti tokpik.

__ADS_1


"Memberitahu apa?" Tanya Pak Akbar.


"Tentang yang kita lakukan selama ini." Ujar Bu Winata.


Pak Akbar pun langsung terdiam sejenak. Keheningan pun langsung mengisi ruangan itu. duduk di samping kasur itu dan sedikit menghela nafas.


"Tidak, cepat atau lambat mereka akan tau dan paham sendiri dengan sesuatu yang sedang menunggu mereka. Jika kita beritahu, mungkin mereka akan tidak percaya." Ujar Pak Akbar.


"Tapi tidak mungkin kita akan merahasiakan itu semua secara terus menerus." Ujar Bu Winata.


"Baiklah kita akan memberitahu mereka, tapi kita juga harus menunggu sampai waktu yang tepat." Ujar Pak Akbar.


Kreekk!..


"Apakah Bu Winata sudah sadar?" Tanya Reza yang tiba tiba saja masuk.


"Reza? kenapa kamu tidak mengetuk pintu?" Tanya Bu Winata yang sedikit terkejut ketika Reza masuk.


"M-maaf. Karena sedikit khawatir dengan keadaan Bu Winata, saya jadi lupa." Ujar Reza.


"Ayo Reza kita keluar dulu, kita biarkan Bu Winata beristirahat sebentar." Ujar Pak Akbar sambil beranjak dari tempat tidur itu.


Reza dan Pak Akbar pun langsung keluar dari kamar itu dan meninggalkan Bu Winata sendiri. Di luar kamar terlihat Evan dan lainnya tengah berbicara. Karena terlihat sangat seru, Reza pun sedikit penasaran dan ingin bergabung.


"Bukan apa apa, ngomong ngomong bagaimana keadaan Bu Winata?" Tanya Evan.


"Untungnya dia sudah sadar." Ujar Reza.


"Syukurlah, tapi aku masih penasaran, bagaimana bisa Bu Winata bisa sampai seperti itu?" Tanya Evan heran.


"Sudah tidak perlu di pikirkan, kita akan membahas itu lain hari. Sekarang yang paling penting adalah keadaan Bu Winata." Ujar Reza.


Reza pun langsung segera duduk dan ikut berbicara dengan mereka semua. Sementara itu, Pak Akbar tampak mencari Pelayan rumah itu untuk di minta membawakan berkas milik Pamannya Reza.


"Di mana Pak Sarya? Aku tidak melihatnya lagi setelah kami ke Dapur untuk memeriksa keadaan Winata." Ujar Pak Akbar yang kesulitan mencari Pak Sarya atau pelayan di rumah itu.


Di ruang tamu Reza dan lainnya sedang berbicara santai. Tapi beberapa dari mereka tampak sedikit khawatir ketika melihat wajah Evan yang cukup pucat.


"Apakah kamu baik baik saja? kenapa kamu terlihat sangat pucat seperti itu?" Tanya Raihan.


"Sungguh? apakah wajah ku terlihat pucat?" Tanya Evan yang tidak percaya.


"Untuk apa aku berbohong? kamu tanyakan saja ke Reza dan lainnya." Jawab Raihan.

__ADS_1


"Apakah wajahku sepucat itu Reza?" Tanya Evan sambil menunjuk wajahnya.


"Sedikit, tapi mungkin akan lebih baik jika kamu ke kamar dan beristirahat." Ujar Reza.


"Ku rasa kamu ada benarnya juga." Jawab Evan.


Evan pun langsung segera pergi menuju ke arah Kamar Tamu yang ada di lantai dua rumah itu. Reza dan lainnya pun langsung kembali berbincang bincang seperti sebelumnya. Dan tak lama kemudian pembicaraan itu kembali terpotong karena Jessi menyadari jika wajah Selly tampak sangat merah.


"Selly, apakah kamu baik baik saja? wajah mu tampak merah." Ujar Jessi yang baru menyadari jika wajah Selly cukup merah.


"Tidak apa apa... aku baik baik saja." Jawab Selly dengan nada lemas.


"Aku tidak yakin, bagaimana jika kamu istirahat juga?" Tanya Raihan.


"Lebih baik kamu diam saja sebelum hal buruk menimpa mu..." Ujar Selly dalam satu tarikan nafas, tapi setelah itu ia mulai bernafas terengah engah.


"Lebih baik kamu ke kamar juga, aku takut hal buruk terjadi." Ujar Prayan.


Mereka semua pun langsung segera membawa Selly masuk ke dalam Kamar Tamu. Di Kamar Tamu terlihat jika wajah Evan juga sama merahnya dengan Selly, hanya saja nafas Evan masih teratur.


"Evan juga mengalami hal yang sama? lebih baik kita meminta bantuan Bu Winata." Ujar Prayan.


"Baiklah Aku dan Jessi akan ke kamar Bu Winata. Kamu dan Raihan urus dulu mereka berdua." Ujar Reza.


Singkat cerita Reza pun langsung segera pergi ke Kamar Kedua Orangtuanya untuk meminta bantuan Bu Winata dalam mengurus Evan dab Selly yang tiba tiba saja sakit.


Tok! tok! tok!..


Saat Reza mengetuk pintu, tidak terdengar jawaban dari Bu Winata. Reza pun langsung segera membuka pintu kamar itu karena tidak ingin membiarkan Evan dan Selly menunggu lama.


"Tidak ada jawaban." Ujar Jessi.


"Lebih baik kita langsung masuk saja, aku tidak ingin mereka menunggu terlalu lama." Ujar Reza.


Reza pun langsung segera membuka pintu kamar itu dan terlihat Bu Winata tengah terbaring dengan wajah yang sedikit memerah seperti Evan.


"Bu Winata!? apakah kamu baik baik saja!?" Ujar Reza yang terkejut melihat Bu Winata juga mengalami sakit yang sama.


"Bagaimana bisa 3 orang sakit di saat yang bersamaan dengan gejala yang hampir sama?" Tanya Jessi yang heran.


"Entahlah, tapi cepat panggil Pak Akbar atau Pak Sarya." Ujar Reza.


To be contiune >>>

__ADS_1


__ADS_2