Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Hantu Anak Kecil - Episode 87


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, Evan dan Selly pun sedikit bertatapan mata untuk sementara waktu. Hal itu mereka lakukan terus menerus dan tidak ada niatan berbicara sedikitpun.


"Kenapa mereka? aku lihat mereka terus bertatapan muka seperti itu." Ucap Prayan heran sambil melihat Selly dan Evan yang seperti bermain kode mata.


"Mungkin itu karena mereka saling suka." Ujar Raihan dengan nada mengejek.


"Aku mendengar itu!" Teriak Selly dengan kencang dan lantang.


"A-aku kembali ke Kamar dulu. Sampai jumpa." Raihan pun langsung kembali takut pada Selly dan memutuskan untuk ke Kamar saja agar tidak mendapatkan masalah.


Ketika Evan dan Selly masih ragu untuk berbicara, Bu Mira terlihat masuk ke dalam Kamarnya. Seperti yang di lakukan oleh kebanyakan perempuan lainnya di malam hari, Bu Mira mengoleskan krim kulit ke wajahnya sebelum tidur.


"Hmm hmm hmm..." Bu Mira pun mulai bersenandung karena merasa nyaman menggunakan krim tersebut.


Kratk!...


Tiba tiba terdengar sebuah benda jatuh. Bu Mira pun langsung menoleh ke belakang untuk melihat apa yang terjatuh, tapi semua tampak baik baik saja.


"Aneh sekali, aku tadi mendengar ada sesuatu yang jatuh." Ucap Bu Mira dengan krim wajah yang masih belum rata di mukanya.


Bu Mira pun kembali berbalik menghadap cermin dan lanjut meratakan krim wajah yang ada di mukanya. Saat Bu Mira tengah tidak sadar dan memejamkan matanya untuk sementara, terlihat dari pantulan cermin ada sesuatu tengah duduk di atas lemarinya.


Tok! tok! tok!


"Mira, apakah kamu ada di dalam?" Ucap Bu Winata dari balik pintu.


"Iya aku ada di dalam, masuk saja pintunya tidak ku kunci!" Lanjut Bu Mira sambil sedikit berbalik ke belakang.


Bu Winata pun mulai masuk ke dalam Kamar dengan perahan. Setelah di tanya apa keinginannya berada di sana, ternyata ia berniat meminjam krim wajah yang tengah di pakai Bu Winata.


"Kenapa kamu tiba tiba masuk ke dalam Kamar? biasanya kamu suka duduk di Ruang Tamu." Ungkap Bu Mira.

__ADS_1


"Bukan hal yang penting, aku hanya ingin meminjam krim wajah mu. Apakah boleh?" Tanya Bu Winata dengan wajah yang sedikit malu.


"Sungguh!?" Tanya Bu Mira yang kaget ketika mendengar jika Bu Winata ingin memakai krim wajah.


"Tentu saja." Jawab Bu Winata singkat.


"Baiklah ambil saja." Ucap Bu Mira sambil menunjuk ke botol krim wajah miliknya.


Dengan riang Bu Winata pun berterimakasih dan mengambil botol itu. Bu Mira pun lanjut meratakan krim wajah itu ke mukanya. Ketika sudah selesai ia pun langsung mulai membuka lemarinya dengan niatan memilih baju sebelum mandi.


"Kira kira aku ingin memakai baju yang mana ya?" Guman Bu Mira dalam hatinya.


Saat tengah memilih pakaian, secara tidak sadar sesuatu itu kembali duduk di atas lemarinya. Sosok tersebut terlihat seperti anak anak yang kemudian tampak membesar dan pakaiannya berubah seperti seorang pengantin.


"Ini dia!" Ucap Bu Mira sambil mengangkat baju yang ia pilih.


Secara tidak sadar ketika Bu Mira berhasil memilih pakaiannya, sosok itu kembali menghilang dan Bu Mira tidak tahu atau curiga sedikitpun dengan keanehan yang terjadi tanpa sepengetahuannya.


Ketika Bu Mira menutup pintu, lemari baju Bu Mira pun mulai terbuka sendiri dan juga diikuti dengan lampu yang mulai berkedip seperti ada yang memainkannya. Sementara itu di bawah, Pak Akbar tampak kembali memikirkan Boneka Ghakia yang terasa sangat ringan dan juga mencurigakan.


"Kenapa wajahmu tampak serius seperti itu?" Tanya Bu Winata yang melihat suaminya kembali bersikap aneh.


"Bukan apa apa, aku hanya memikirkan sesuatu yang tidak penting." Ungkap Pak Akbar.


"Apakah ini tentang Ghakia lagi?" Tanya Bu Winata yang seperti sudah bisa menduga apa yang di pikirkan Pak Akbar.


"Bukan kok." Ucap Pak Akbar memalingkan wajahnya dari Bu Winata.


"Yakin?" Bu Winata pun sedikit mulai tersenyum dan menusuk nusuk kepala Pak Akbar layaknya mainan.


"Tolong hentikan itu! itu sedikit mengganggu ku" Ujar Pak Akbar sambil menjauhkan tangan Bu Winata dari dirinya.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mau berhenti sebelum kamu mengaku." Bu Winata pun mulai menjadi jadi dan semakin menggangu Pak Akbar.


"Sudah, kumohon hentikan! nanti kopinya tumpah." Pak Akbar pun semakin tidak tahan karena saat ia kesusahan ingin minum kopi.


"Kamu harus mengaku dulu." Ucap Bu Winata sambil terus mengganggu Pak Akbar.


"Baiklah! aku akan mengaku. Apakah puas sekarang?" Ucap Pak Akbar yang sudah tidak tahan lagi.


"Nah gitu dong." Bu Winata pun tampak senang karena Pak Akbar akhirnya menyerah.


"Aku masih memikirkan Ghakia. Aku rasa ini masih belum selesai." Ungkap Pak Akbar yang mulai serius.


"Kenapa kamu merasa seperti itu?" Tanya Bu Winata yang penasaran.


"Entahlah, aku hanya punya firasat mengenai itu." Pak Akbar pun tampak sedikit resah.


Bu Winata pun juga mulai merasakan hal yang sama. Kini mereka hanya bisa duduk diam karena tidak tahu apakah ini memang tanda jika hal yang buruk akan kembali menimpa mereka atau memang hanya merupakan perasaan mereka saja.


Di saat Bu Winata dan Pak Akbar tengah khawatir, Bu Mira yang baru selesai mandi langsung masuk ke dalam Kamar untuk menyisir rambutnya yang masih setengah basah. Ketika masuk ke dalam Kamar, Bu Mira langsung keheranan karena lampu kamar sudah mati, padahal sebelumnya masih hidup.


"Ini aneh, bukannya aku tadi membiarkan lampunya menyala?" Bu Mira pun langsung segera menyalakan lampu kamarnya.


Ketika ingin mengambil sisir, tiba tiba muncul sebuah tangan anak anak yang mulai menggenggam tangan Bu Mira. Bu Mira pun sontak di buat kaget dan langsung tanpa sengaja melempar sisir itu ke kasur miliknya.


"Ahhhh!" Teriak Bu Mira yang langsung secara tidak sadar melempar sisir miliknya ke kasur.


Nafas Bu Mira pun langsung terengah engah karena takut dan langsung berusaha berpikir positif karena saat itu sudah malam hari.


"Sepertinya ini alasan tidak boleh mandi malam. Bukan rematik, tapi halusinasi." Ucap Bu Mira yang berusaha berpikir positif.


Bu Mira pun kembali mengambil sisir miliknya dan mulai menyisir rambutnya di depan cermin, agar bisa melupakan kejadian mengerikan sebelumnya. Tapi sayangnya ketika tengah menyisir rambut miliknya, seorang anak mulai terlihat dari pantulan cermin dan tengah duduk di samping kasur miliknya. Bu Mira yang menyadari itu pun mulai ketakutan setengah mati dan berharap jika itu adalah Jessi yang tengah mengerjainya.

__ADS_1


To be contiune >>>


__ADS_2