Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Masa Lalu (Bagian 2) - Episode 91


__ADS_3

Sementara itu ketika Paman Reza mencoba membaca surat miliknya, ternyata isi surat itu berisi tentang nasihat ayahnya untuk dirinya. Tapi berbeda dengan kertas milik Hatirto, bahasa yang digunakan di kertas miliknya cukup keras. Bukan berisi bahasa kasar, tapi sedikit keras dan seakan akan jika ia seperti yang paling tidak beres.


"Jadi apa isi kertas mu?" Tanya Ayah Reza.


"Lupakan saja. Aku akan memeriksa isinya sendiri. Kamu urus saja milikmu." Ucap Paman Reza sambil membawa kotak miliknya dan meninggalkan Hatirto di sana sendiri bersama dengan koper yang di tinggalkan oleh ayahnya.


Sementara itu di kamar miliknya, Paman Reza tampak langsung merobek robek kertas tersebut. Di salah satu sobekan itu ada pesan tentang hutang milik Herman yang mencapai 50 juta. Entah bagaimana bisa ia berhutang sebanyak itu, tapi yang pasti hutang itu sudah lunas karena ayahnya dan tentu saja ia juga di peringatkan untuk tidak berhutang lagi. Karena jika ia sudah tidak bisa membayarnya, maka tidak akan ada yang bisa membantunya lagi.


"Ku kira aku akan bisa mendapatkan kasih sayang setelah semua yang aku lakukan untuk perawatannya, tapi kurasa semua itu percuma." Ucap Paman Reza dengan wajah yang tampak sangat marah.


Ia pun mulai membuka lemari miliknya dan mengambi sebuah map plastik yang berisi banyak kertas. Tampak terlihat jika itu semua kertas itu merupakan bukti bukti pembelian obat obatan milik ayahnya. Entah mengapa ia menyimpan itu, tapi diantara bukti bukti penbayaran itu, ada sebuah kertas bewarna merah muda dan tampak cukup mencurigakan.


"Percuma saja aku repot repot membeli benda ini. Ujung ujungnya aku juga tidak mendapatkan bagian yang banyak" Ucap Herman sambil memegang keras merah muda tersebut.


Dengan kesal ia pun langsung melempar semua kertas itu ke dalam sebuah ember besi membakar semua kertas itu di dalam kamarnya. Asap pun tampak memenuhi kamar tersebut dan bahkan bisa di lihat semua asap itu keluar lewat sela sela pintu di luar kamar.


Melihat asap dari kamar Herman, Pak Sarya yang kala itu sedang kebetulan lewat pun langsung panik dan langsung masuk ke dalam kamar karena berpikir ada kebakaran. Melihat sebuah ember yang di penuhi oleh api, Pak Sarya pun langsung segera menutup ember itu dengan kain yang kemudian ia basahi dengan segelas air yang kebetulan ada di sana. Setelah air padam, ia pun langsung bertanya ke Herman alasan ia membakar sesuatu di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Tuan, kenapa anda membakar sesuatu di dalam kamar ini? jika terjadi kebakaran bagaimana?" Tanya Pak Sarya dengan khawatir.


"Kamu jangan ikut campur dalam urusanku. Sekarang cepat kamu keluar dari kamarku dan biarkan aku sendiri." Perintah Herman dengan emosi yang masih meluap luap.


Pak Sarya pun langsung segera keluar dari kamar itu dan meninggalkan Herman sendirian di dalam kamar tersebut. Herman pun langsung menendang ember itu dan abu sisa kertas yang terbakar itu pun beserakan. Tapi ada beberapa kertas yang belum terbakar habis. Salah satunya adalah kertas bewarna merah muda sebelumnya. Di potongan kecil kertas itu terlihat tulisan yang tampak terlihat jelas meski ada beberapa huruf yang terbakar sedikit, tulisan itu yakni "D_rk Pois_n".


Berbulan bulan pun mulai berlalu dan tampak jika Herman sudah tidak marah lagi dengan median ayahnya. Di hari itu pun juga kebetulan ia dan Hatirto akan pergi ke rumah Pak Akbar dan Bu Winata. Tapi tampaknya kedatangan mereka bertepatan dengan sebuah kejadian yang sedikit membuat Bu Mira dan Pak Akbar kerepotan. Tentu saja tidak lain dan tidak bukan, kejadian saat patung yang berisi arwah Ghakia di culik. Setelah kejadian itu, mereka pun memutuskan untuk langsung pulang dan di perjalanan mereka melihat sebuah kerumunan dan memutuskan untuk berhenti.


"Kenapa di sana ramai sekali?" Tanya Herman heran.


"Entahlah. Apakah kamu ingin berhenti sebentar dan mencari tahu?" Tanya Hatirto yang sedang mengendarai mobil tersebut.


Mobil mereka pun mulai berhenti di dekat kerumunan itu. Saat memeriksa keluar, terlihat ada sebuah mayat laki laki yang tulang tangan dan kakinya sudah patah dan ada juga yang terpisah dari tubuhnya. Tak lama setelah itu ambulans dan mobil polisi pun mulai datang dan membubarkan kerumunan tersebut. Saat ingin kembali masuk ke dalam mobil, tidak sengaja Herman menginjak sebuah patung yang tampak antik. Karena terlihat bagus, Herman pun langsung mengambil patung itu dan membawanya pulang.


Sesampainya di rumah, ia pun langsung segera meletakkan patung itu di atas meja kerja miliknya yang ada di kamar. Ketika ingin meletakkan patung itu, ia secara tidak sengaja menjatuhkannya. Dan seketika patung itu rusak menjadi kepingan kecil, meski terbuat dari kayu.


"Betapa cerobohnya aku. Sudahlah tidak apa apa, mungkin aku bisa membeli yang baru di toko online. Sayang sekali padahal aku menyukai ukiran di patung ini." Ucap Herman sambil memungut kepingan kepingan patung itu.

__ADS_1


Ketika Herman berbalik, ia pun langsung melihat seorang gadis kecil yang tampak sedang duduk di samping kasur miliknya. Herman yang heran pun langsung menanyakan asal gadis kecil itu tanpa berpikir yang aneh aneh.


"Hei! siapa kamu?" Tanya Herman sambil mendekati gadis itu.


Kepala gadis itu pun langsung berputar ke belakang dan Herman pun langsung terkejut ketakutan dan menjatuhkan kepingan patung yang baru saja ia pungut. Ketika Herman mengedipkan matanya, gadis itu sudah tidak ada. Herman semakin di buat takut dan perlahan lahan berjalan mundur.


"Haa..." Tiba tiba saja suara nafas terdengar dari atas kepala Herman.


Herman pun langsung melihat ke atas dab ternyata gadis itu sudah menempel di langit langit kamarnya dengan pose merayap. Herman pun langsung segera berlari mencoba membuka pintu, tapi hal itu percuma. Karena panik, Herman pun tidak sengaja mengucapkan kata kata yang seharusnya tidak ia ucapkan.


"Aku akan melakukan apapun, tapi jangan apa apakan aku!" Ujar Herman sambil menutup matanya.


Ketika ia membuka matanya, gadis kecil itu sudah hilang entah kemana. Tak lama setelah itu, dari sela sela pintu muncul sebuah kertas. Karena penasaran Herman pun mengambil kertas itu dan berniat membacanya.


Akan aku penuhi permintaan mu itu, jika kamu memberikan aku sesuatu yang aku mau.


Herman pun membaca kertas tersebut. Awalnya ia mengira jika itu adalah kertas yang di tulis oleh orang lain yang ada di rumah itu, tapi saat di periksa ternyata tulisan itu berasal dari darah dan tampak masih segar.

__ADS_1


"A-aku akan memenuhi permintaanmu! kamu bisa mengambil apa saja yang aku miliki, bahkan kamu bisa mengambil orang terdekatku jika perlu." Ucap Herman dengan nada yang sudah ketakutan setengah mati.


To be contiune >>>


__ADS_2