
Saat semua itu terjadi, Selly dan lainnya masih di kejar oleh makhluk lidah panjang itu. Makhluk berlidah panjang itu pun terlihat mulai bisa mendekati mereka dengan jarak yang cukup dekat.
"Dia cukup dekat! apa yang harus kita lakukan!?" Ujar Kartika yang berlari dan ketakutan.
"Semuanya! berikan dia jalan!" Ujar seseorang dari atas sebuah tanah yang lebih tinggi dari pada mereka.
Tanpa basa basi lagi, mengingat keadaan mereka yang sedang terpojok, Selly dan lainnya pun langsung segera menyingkir dsri jalan dan membuat makhluk lidah itu terus berjalan dan terlambat berhenti dan berbalik. Dari atas tanah itu, sebuah batu besar jatuh dan langsung menimpa makhluk itu.
"Kalian baik baik saja?" Ternyata orang yang menolong mereka itu adalah Raihan.
"Kami baik baik saja, bagaimana bisa kamu ada di sini? aku tidak melihat mu bersama kami sebelumnya." Ujar Angga.
"Entahlah, aku tiba tiba terbangun dan sudah ada di sini." Ujar Raihan.
"Sudah lebih baik kita kembali ke desa, di sini sangat tidak aman." Ujar Raihan.
Akhirnya Angga, Selly, Kartika, dan Raihan pun langsung segera ke desa. Dan ternyata keadaan desa cukup mengerikan. Mayat di mana mana dan darah mewarnai setiap tanah di sana. Selly pun langsung ragu dengan keputusan itu.
"Apakah kamu yakin?" Ujar Selly ragu.
"Apakah kamu memiliki pilihan lain yang lebih bagus?" Tanya Raihan kembali.
Akhirnya mereka pun langsung segera masuk lebih dalam dan akhirnya sampai di tempat pernikahan dan juga sekaligus rumah Kakek Dangrau dan Kartika.
"Apakah semua ini terjadi saat aku tidak sadar?" Tanya Selly yang sebelumnya hampir terpengaruh tarian berdarah milik Farma.
Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah dan terlihat keadaan rumah masih baik baik saja seperti tidak terjadi apa apa.
Buk!! Buk!! Buk!! Buk!!
Tiba tiba semua pintu dan jendela di sana langsung tertutup rapat dan tidak ada jalan keluar lagi. Selly pun langsung menyadari sesuatu, jika Raihan yang bersama mereka bukan lah Raihan yang mereka kenal.
"Tunjukkan diri mu yang sebenarnya." Ujar Selly sambil membiarkan Kartika di belakang dirinya.
"Kamu sudah menyadarinya?" Dari belakang Raihan, terlihat Farma yang sedang mengerjakan Raihan dengan benang merah milikknya.
__ADS_1
Buk!!
Raihan pun langsung di jatuhkan begitu saja. Farma pun langsung menyerang mereka dengan kuku miliknya dan terus berniat untuk mencakar habis habisan wajah Angga.
"Kartika cepat ikut aku!..." Bisik Selly ke Kartika.
Mereka berdua pun langsung segera masuk ke dalam kamar milik Kartika dan mengunci pintu itu rapat rapat. Selly tampak terus membiarkan Kartika di belakangnya. Di ruang tamu, Angga sangat kesusahan menghindari semua serangan dari Farma.
"Hyaa!!!" Farma pun langsung menajamkan kuku miliknya dan segera mencakar Angga.
Beruntung Angga bisa menghindar dari itu. Tapi sayangnya, Angga terpeleset dan kepalanya membentur ke meja. Karena benturan itu, kepala Angga langsung mengeluarkan banyak darah. Farma pun hanya membiarkan itu dan mulai mendekati pintu kamar Kartika.
"Jangan dekati dia!..." Ujar Angga lemas.
Farma pun hanya menendang Angga dan membuat Angga terbentur ke dinding sampai membuat dinding kayu itu berlubang. Kartika dan Selly yang mendengar suara suara itu pun langsung berwaspada. Farma pun langsung mengetuk pintu dan mulai mengeluarkan banyak kata kata yang manis.
Tok! tok! tok!
"Sayang... buka pintunya, ini ibu..." Ujar Farma.
"Buka pintunya sayang..." Ujar Farma.
"Pergi! jangan ganggu kami!" Ujar Selly.
Tok.. tok.. tok.. TOK!! TOK!! TOK!! TOK!!
Tiba tiba ketukan pintu semakin keras dan sampai membuat benda di sekitar hampir jatuh.
BAKK!!
Tiba tiba pintu itu pun langsung jebol dan berlubang. Karena pintu tidak bisa di buka, maka Farma pun menggunakan kepala untuk menjebolkan pintu. Alhasil dalam lima atau empat ketukan, pintu itu pun langsung berhasil dihancurkan. Farma pun langsung masuk secara perlahan dan mendekati mereka.
"Kembalikan anakku.." Ujar Farma mendekati mereka dan langsung berdiri diam.
"Jangan mendekat!" Ujar Selly ketakutan.
__ADS_1
"KEMBALIKAN DIA!!!" Farma pun langsung berniat untuk melukai Selly.
"Berhenti!" Ujar Kartika sambil berdiri di depan Selly.
Meskipun sudah menjadi hantu dan arwah penasaran, hati seorang ibu akan tetap ada untuk menjaga anaknya. Farma pun langsung terhenti ketika hampir melukai Kartika.
"Jangan lakukan ini." Ujar Kartika mengeluarkan air matanya.
"Apakah ini yang kamu inginkan?" Lanjut Kartika.
Farma pun langsung melebarkan tangannya di depan Kartika, seakan akan ingin memeluk anaknya untuk terakhir kali. Kartika yang sudah paham pun langsung memeluk ibunya itu.
"Ambil lah ini." Ujar Farma memberikan paku yang di gunakan Wak Ijem untuk membunuhnya sebelumnya.
Farma pun langsung bersujud dan menundukkan kepalanya. Kartika pun langsung paham ketika melihat Farma melakukan itu, Selly pun hanya bisa terdiam dan memperhatikan saja.
"Anakku, jadilah perempuan yang berpendidikan dan berbudi pekerti, taatilah agama. Ibu sudah tidak sanggup di dunia ini lagi. Manusia selalu melakukan sesuatu yang bahkan lebih kejam dari pada hantu, ingatlah kata terakhir ibu mu." Ujar Farma.
Kartika pun langsung berlinang air mata ketika mendengar semua kata itu dari ibunya sendiri. Dengan berat hati Kartika pun langsung menusukkan paku itu ke tengkuk Farma. Farma pun langsung memudar bersamaan dengan terbitnya matahari. Semua warga yang tertangkap dan belum terbunuh pun langsung sadar. Evan dan Reza pun sudah bisa keluar dari hutan itu, dan tidak lupa benang merah yang ada pun langsung hangus begitu saja.
"Akhirnya kita bisa keluar dari hutan ini." Ujar Evan.
"Semua benang itu sudah hilang, apakah semua ini telah berakhir?" Tanya Reza.
Farma pun akhirnya bisa pergi dan beristirahat dengan tenang. Semua korban kejadian itu pun langsung di makamkan. Agar kejadian itu tidak terjadi lagi, mereka semua pun langsung mencari tempat Farma di kubur dan memindahkan mayat Farma Kuburan Desa dan memakamkan nya dengan layak.
Banyak yang datang ke kuburan desa untuk mendoakan mereka yang sudah tidak ada dan juga menjadi korban keganasan Farma.
"Aku tidak menyangka jika Ayah pernah melakukan hal sejahat itu." Ujar Kartika.
"Keserakahan manusia yang haus akan harta tahta dan kedudukan lebih mengerikan dari pada apapun di dunia ini. Karena ayahmu yang haus akan kedudukan dan tidak ingin namanya tercemar, seluruh desa harus merasakan akibatnya." Ujar Reza.
Kartika pun hanya bisa menangis di sana dan menatap ke kuburan kedua orang tuanya. Evan dan lainnya pun hanya bisa ikut berduka atas kejadian itu.
To be contiune >>>
__ADS_1