Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Kisah dari Evan - Episode 28


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya saat Evan dan Raihan selesai membawa hiasan kepala penari yang mereka temukan....


"Ini aneh, aku rasa kita tidak berjalan sampai berjam jam" Ujar Raihan yang merasa tidak nyaman.


"Mungkin itu hanya perasaan mu saja" Ujar Evan.


"Lagi pula kenapa kita harus membawa ini? jika ku lihat lihat ini terlihat menyeramkan. Memangnya siapa yang membuang hiasan kepala ini di hutan?" Ujar Raihan sambil memperhatikan hiasan kepala penari yang ia bawa.


"Sudahlah, jangan mengomentari sesuatu yang kamu tidak ketahui asal usulnya" Ujat Evan yang merasa jika yang di lakukan Raihan itu tidak bagus.


"Memang itu kenyataan nya, lagi pula aku penasaran. Bagaimana benda ini bisa terkubur di sini?" Tanya Raihan.


"Mungkin itu ada hubungannya dengan selingkuhan mantan calon suami Kartika" Ujar Raihan.


Akhirnya mereka pun terus berjalan dan berjalan sampai pukul 2 siang. Tapi tiba tiba Raihan merasa terganggu dan merinding ketika mendengar suara serak seorang perempuan. Selain itu suara serak itu di ikuti oleh sosok hitam yang berperawakan seorang penari yang terbang melewati mereka di belakang. Tapi mereka tidak menyadari hal tersebut.


"Kembalikan anakku..."


"Evan sejak kapan kamu punya anak?" Tanya Raihan yang mengira jika itu Evan.


"Apa? aku saja belum nikah, apalagi punya anak" Jawab Evan yang heran mendengar pertanyaan Raihan.


"Kembalikan anakku... kembalikan!...." Suara itu pun semakin lama semakin besar dan membuat Raihan semakin terganggu.


"Evan! jangan main main! ini di hutan!" Ujar Raihan berhenti berjalan.


"Apa? aku tidak melakukan apa apa" Jawab Evan berhenti berjalan dan berbalik menghadap ke arah Raihan.


"Jadi siapa lagi yang ada di hutan ini selain kita?" Tanya Raihan.


"Kalo suaranya laki laki, kamu boleh mengatakan jika itu aku! tapi ini kan perempuan, kenapa kamu menyalahkan aku?" Tanya Evan.


Akhirnya mereka berdua pun bertengkar hebat dan pada pukul 3 sore, mereka pun mulai diam dan berbaikan. Tapi Raihan pun langsung menyadari sebuah kejanggalan yang ada di sana.


"Tunggu, kamu tau dari mana jika itu suara perempuan?" Tanya Raihan.


"Tadi aku melihat ada perempuan yang memetik buah di pohon beringin, jadi aku pikir itu dia" Ujar Andre.


"Pohon beringin? sejak kapan pohon beringin bisa berbuah?" Tanya Raihan.


"Dia ada di sa..na.." Evan pun langsung terkejut ketika melihat pohon beringin yang ia lihat sebelumnya menghilang, seakan di telan bumi.

__ADS_1


"Di mana?" Tanya Raihan.


"Sungguh aku berani sumpah, aku melihatnya tepat berada di sana" Ujar Evan sambil menunjuk ke sebuah tempat kosong di tengah pepohonan.


"Bukannya aku tidak percaya, tapi memang tidak ada-"


Sreeett!!


Buk!!


Tiba tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh dari pohon. Evan dan Raihan pun langsung melihat ke sekeliling mereka, tapi tidak ada apa apa. Saat Evan melihat ke arah Raihan, Evan langsung mengecilkan pupilnya dan wajahnya langsung pucat.


"A-a-a-a-a-ada" Evan pun langsung berbicara patah patah tidak jelas sambil menunjuk ke belakang Raihan.


"Ada apa Evan? ada yang salah?" Tanya Raihan yang tidak memahami perkataan Evan.


"S-s-s-s-s-s"


"Apa? serangga?" Tanya Raihan.


"B-bukan" Jawab Evan..


Karena Evan tidak menjawab, Raihan pun langsung berbalik ke belakang dan sebuah kejutan. Ia menemukan seorang perempuan bersimba darah yang tersangkut benang merah. Terlihat seakan akan sudah mati dengan matanya melotot dengan mulut terbuka lebar, seakan akan ingin menerkam seseorang dari atas di malam hari saat tidur.


"Apa apaan itu?!" Tanya Raihan ketakutan.


Buk!!


Kepala perempuan itu pun langsung terjatuh ke tanah dan membuat Raihan mulai mundur perlahan lahan. Wajah dari perempuan itu pun langsung bergerak secara kaku dan tidak normal, seakan menahan kesakitan.


"Kembalikan... kembalikan... KEMBALIKAN ANAKKU!!"


Seketika setelah perempuan itu berbicara, keluar banyak serangga yang keluar dari dalam tubuhnya dan jatuh ke tanah. Melihat kejadian menyeramkan itu, Raihan pun langsung memegang tangan Evan dan mulai mundur perlahan lahan. Tubuh perempuan itu pun kini terjatuh ke tanah dan lebih mengerikannya, tubuh tanpa kepala itu bergerak dan memasang kepala nya kembali seperti bisa di bongkar pasang. Terdengar suara tulang yang patah ketika tubuh itu bergerak.


Makhluk itu pun langsung mulai seperti ingin merayap mengejar mereka. Kepala perempuan itu kini langsung berputar terbalik dan sudah bisa terdengar suara tulang berbunyi saat kepala itu berputar. Raihan yang menyadari jika keadaan sudah berbahaya pun langsung meminta Evan untuk pergi.


"E-evan, s-sepertinya kita harus lari.." Ujar Raihan.


Mereka berdua pun langsung berlari ketakutan, perempuan itu pun langsung berjalan merayap mengejar mereka. Suara tulang yang berbunyi seakan ingin patah membuat mereka semakin merasa takut. Tapi sayangnya, karena perbedaan kecepatan. Mereka pun mulai di susul oleh perempuan itu.


"Kembalikan anakku!" Perempuan itu pun mulai merayap dari satu pohon ke pohon lainnya.

__ADS_1


Karena sudah terdesak, Evan pun langsung meminta Raihan untuk melempar hiasan kepala itu ke hantu perempuan itu. Berharap itu bisa menghambatnya.


"Kembalikan anakku!!" Ujar perempuan tersebut.


"Raihan cepat lempar hiasan kepala itu!" Ujar Evan yang berlari ketakutan.


"Apa!? tapi bukannya kita harus membawa ini pergi?" Tanya Raihan heran.


"Sudah lempar saja! mana yang lebih penting? nyawa atau hiasan kepala itu? " Ujar Evan.


"Baik!" Jawab Raihan.


Raihan pun langsung melempar hiasan kepala penari itu ke arah perempuan itu dan langsung berlari secepatnya bersama Evan. Setelah merasa sudah aman, mereka pun langsung berhenti dan beristirahat sejenak.


"Makhluk apa itu tadi?" Tanya Raihan.


"Entahlah, tapi yang penting kita selamat" Ujar Evan.


"Sekarang pukul berapa?" Tanya Raihan.


"Entahlah, tapi lebih baik kita berjalan, jika tidak mereka akan khawatir" Ujar Evan.


"Begitulah ceritanya" Ujar Evan yabg baru selesai menceritakan kejadian yang mereka alami di hutan.


Setelah Evan selesai menceritakan semua kejadian itu, Selly tampak tidak percaya sedikit pun dan menganggap jika mereka hanya mengarang saja.


"Sungguh? tapi bukankah cerita mu lebih mirip karangan?" Tanya Selly yang masih memakai tisu di hidungnya.


"Sejak kapan kamu muncul?" Tanya Reza yang heran ketika Selly sudah berada di sana tiba tiba.


"Sejak tadi" Ujar Selly.


"Kenapa kamu memakai tisu di hidung mu?" Tanya Raihan.


"T-tidak apa apa" Jawab Selly yang wajahnya langsung memerah.


"Mungkin kalian hanya kelelahan jadi berhalusinasi melihat semua itu, makanlah sebentar. Mungkin itu akan membuat kalian merasa lebih baik" Ujar Kakek Dangrau.


Evan pun hanya mengangguk iya saja dan langsung berjalan ke meja makan yang ada di sana. Dalam pikirannya hanya terbayang wajah perempuan yang mengejar mereka dengan gaya yang aneh, semoga mereka tidak mendapatkan masalah lagi.


To be contiune >>>

__ADS_1


__ADS_2