
Makhluk itu pun tampak hanya berjalan dan tidak mempedulikan mereka. Tak lama kemudian terdengar suara Prayan yang entah dari mana dan hampir membuat Jessi mengalami nasib yang sama seperti Prayan.
"Reza! Evan! semuanya! kalian ada di mana!?" Suara Prayan pun tampak terdengar sampai seluruh rumah.
"Prayan? i-itu suara Prayan!" Jessi pun langsung segera berlari menuju suara itu dan sesaat sebelum ia keluar dari lingkaran garam, Reza dan Raiham langsung menarik Jessi masuk.
"Kenapa kalian menarikku!? Tanya Jessi dengan kesal.
"Apakah kamu lupa peringatan Pak Akbat sebelumnya mengenai jangan percaya dengan apa yang kita lihat atau yang kita dengar?" Tanya Reza sekadar mengingatkan.
Saat Jessi sudah kembali beridiri, perempuan yang berwujud aneh itu pun sudah tidak ada seperti hantu. Sementara itu kembali ke Evan dan Selly yang ada di Kamar Prayan, terlihat kini mereka tidak ingin keluar sama sekali karena ada sesuatu yang tampak sedang mencari mereka di kamar itu. Karena takut, mereka pun bersembunyi di bawah kasur milik Prayan.
Tap... tap... tap...
Suara langka kaki itu pun tampak terus terdengar dan membuat mereka tidak ingin keluar meski tepat di samping kasur itu ada sebuah lingkaran garam.
"Evan, coba kamu alihkan perhatiannya." Perintah Selly dengan berbisik.
"Kamu gila? aku akan di tangkap olehnya." Bisik Evan yang menolak perintah Selly.
Prankk!
Tiba tiba saja terdengar suara benda pecah belah yang terjatuh. Mendengar suara itu, makhluk yang tidak di ketahui itu pun langsung segera berjalan dan menghilang di kegelapan ruangan itu.
"Apakah dia sudah pergi?" Tanya Selly yang sudah ketakutan.
"Sepertinya begitu. Sekarang ayo kita pergi ke Ruang Tamu." Ajak Evan yang mulai merangkak keluar dari tempat tidur itu.
Setelah mereka berdua berhasil keluar, mereka pun langsung segera berjalan dan membuka pintu kamar. Tapi bukannya menuju Ruang Tamu kini mereka malah di bawa ke sebuah kamar yang sudah cukup familiar bagi mereka. Tidak lain dan tidak bukan itu adalah Kamar dari Reza.
"I-ini kan kamar reza. Bagaimana kita bisa berada di sini!?" Tanya Evan keheranan.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu." Ujar Selly yang juga sama tidak paham dengan apa yang baru saja mereka lihat.
__ADS_1
Dengan perasaan ragu mereka pun mulai melangkahkan kaki mereka ke sana. Setelah mereka masuk, sebuah benda jatuh dan mengenai kepala Selly.
"Aduh! apa yang baru saja mengenai kepala ku!?" Tanya Selly heran.
Evan pun langsung segera mengambil benda yang baru saja mengenai kepala Selly dan terlihat itu adalah sebuah paku. Tapi itu bukan paku yang biasa karena terlihat ada sebuah kain merah yang terikat di batang paku itu.
"Paku ini... bukannya ini yang kita dapatkan saat liburan?" Tanya Evan heran.
Tok.. tok.. tok...
Keheranan itu pun langsung segera hilang ketika mereka mendengar suara ketukan pintu. Ketukan yang pelan dan membuat merinding.
Hakkhh... hakkhhh...
Setelah suara ketukan, suara nafas pelan yang terdengar jelas dan serak pun mulai muncul dan semakin membuat suasana tidak nyaman.
"E-evan jangan berlari tanpa ku." Gumam Selly yang sudah ketakutan setengah mati.
Kreeekkk..
Braakkk!!
Dengan sekuat tenaga Evan menahan pintu itu. Pintu itu pun mulai di dobrak dengan kuat dan sangat brutal. Selly pun juga mulai membantu menahan pintu itu dan dari kasur muncul sebuah tangan yang langsung menarik mereka berdua.
"Ahhhh!!!" Teriak Selly yang di tarik duluan.
"Selly!" Evan pun terus menahan pintu itu meski tau jika dia tengah dalam bahaya.
Brukk brukk brukk!!
"Aku tidak bisa menahan ini lagi..." Gumam Evab yang tampak tidak bisa menahan pintu itu lebih lama lagi. Setelah memikirkan itu ia pun langsung segera di tarik masuk kedalam kasur.
"Ahhh!" Evan pun terus berusaha melawan, tapi ia langsung tertarik masuk ke dalam.
__ADS_1
Saat ia membuka mata, terlihat Selly yang langsung menutup mulut Evan dan di saat yang bersamaan pintu itu mulai hancur dengan Boneka Pengantin itu yang sudah nulai masuk secara perlahan lahan. Tak lama kemudian Makhluk itu mulai mendongak ke atas seperti di panggil sesuatu dan langsung segera meninggalkan mereka berdua di bawah kolong kasur itu.
Karena masih takut mereka pun tidak berani keluar dari kasur dan lebih memilih tetap di sana sampai mereka rasa sudah aman. Tak lama kemudian Reza dan Raihan pun mulai masuk ke dalam Kamar itu dan langsung berjalan dan berdiri di atas lingkaran garam yang ada di sana.
"Evan! Selly! apakah kalian ada di sini!?" Bisik Reza dengan keras.
Mendengar suara Reza, mereka berdua pun mulai merangkak keluar dari kasur itu dan langsung segera masuk ke lingkaran garam itu bersama sama.
"Akhirnya ketemu juga kalian berdua. Kalian dari mana saja sih?" Tajya Raihan yang tampak kewalahan mencari mereka berdua.
"Tadi kami-" Evan pun tampak ingin berbicara, tapi malah di potong.
"Sudah sekarang kita harus menunggu tanda dari Jessi." Sela Reza yang tampak terburu buru.
"Memang kenapa?" Tanya Evan heran.
"Saat kalian menghilang, terjadi sesuatu yang juga sedikit membuat kami hampir tamat." Jawab Reza.
"Memang kenapa?" Tanya Evan.
"Shhtt!... dia datang!..." Bisik Reza meminta semuanya untuk diam.
Sesaat setelah Reza mengatakan itu, sesuatu pun tampak mulai memasuki Kamar Prayan. Kini makhluk yang mereka lihat sebagai Boneka Pengantin sudah berubah layaknya manusia. Tapi hanya tampilannya saja yang berubah. Bentuk tubuhnya masih sama seperti sebelumnya. Dan terlihat mulutnya melebar sampai menuju ke ujung matanya. Kaki dan Tangan Evan pun mulai lemas karena melihat pemandangan tersebut.
Makhluk itu pun berjalan menuju ke suduh ruangan yang gelap dan menghilang begitu saja. Jessi pun mulai melambaikan tangannya dan dengan segera Reza dan lainnya berlari dengan cepat menuju lingkaran garam yang ada di ruang tamu.
"Apa apaan tadi itu!?..." Tanya Evan berbisik.
"Dia adalah boneka pengantin yang tadi." Jawab Jessi.
Tak lama setelah mereka berbicara sebentar, tiba tiba seisi ruangan mulai menjadi sangat gelap dan seluruh bola lampu di sana pecah dengan sendirinya. Tidak hanya itu lingkaran garam pun tampak mulai menguap seperti air panas. Kini mereka tidak bisa melihat seluruh rumah lagi. Mungkin jika di hitung jarak pandang mereka hanya satu atau dua meter saja. Selebihnya hanya ada kegelapan yang tiada ujung.
"Apakah kalian baik baik saja?" Tanya Evan yang sempat merunduk agar tidak terkena pecahan bola lampu yang tidak jauh dari mereka.
__ADS_1
To be contiune >>>.