
Watak Reza saat masih kecil cukup polos dan periang. Hal itu mungkin membuat banyak orang betah jika berada di dekatnya. Hal ini tentu berbeda dengan Reza yang sudah remaja dan lebih tidak banyak mengeluarkan ekspresi. Tapi mau bagaimana pun jika berada di teman dekat atau lainnya, mungkin perilaku nya sedikit lebih berbeda. Buktinya terhadap Evan dan teman temannya, ia cukup bersahabat dan lebih sering berbicara.
Tapi tentu saja Reza juga harus menerima kenyataan jika kedua orangtua nya cukup tidak rukun belakangan ini. Tapi tentu saja mereka berdua tidak membahas itu di pagi hari, melainkan di malam hari sambil duduk di ruang tamu. Hanya pelayan mereka saja yang mengetahui itu.
"Hatirto Kumasono! sudah ku katakan! Reza tidak akan tidak akan terpengaruh dengan pindah kerja mu itu. Dia itu masih anak anak, tidak mungkin kita membuatnya harus tinggal di sini tanpa Ayahnya." Ujar Ibu nya Reza.
"Tapi ini agar kita bisa menjamin pendidikan masa depan nya! memang kamu ingin melihat anak mu sukses!?" Ujar Ayah Reza.
"Aku juga tidak ingin dia kekurangan kasih sayang dari Ayahnya!" Ibu Reza pun langsung terlihat mulai berdiri.
"Tuan, Nyonya, kalian lebih baik mengurangi suara kalian. Jangan sampai anak anak terbangun karena suara kalian." Ujar Pelayanan di rumah itu.
"Kamu berjagalah di depan pintu kamar anak anak. Aku akan sedikit lebih banyak berdebat dengan pria yang tidak mempedulikan anaknya ini." Ujar Ibu Reza.
"SUDAH KU BILANG INI UNTUK!..." Ayahnya Reda pun mulai ingin menampar Istrinya sendiri. Tangan Ayah Reza terlihat sudah sangat tinggi dan tinggal mendarat ke wajah Istrinya saja.
"Tuan!" Pelayan itu pun langsung berteriak untuk menghentikan tamparan itu.
Kreeekk....
Tiba tiba terdengar suara pintu tergeser. Saat melihat ke atas, ternyata itu adalah Reza. Terlihat Reza sudah berdiri di depan pintu dan terlihat sedikit takut. Tidak seharusnya kedua Suami Istri itu melakukan hal itu di tempat yang mudah di dengar oleh Reza dan Rena. Mereka bisa saja melakukan itu di ruangan khusus atau melakukannya tanpa membuat keributan sekeras itu.
"Bagus, sekarang dia melihat kita." Ujar Ayah Reza sambil mengusap kepalanya untuk menenangkan diri.
"Kamu sama sekali tidak membantu." Ujar Ibu Reza.
"Nak, ibu akan naik ke.."
Bukkk!
__ADS_1
"-Atas.."
Sebelum masuk ke kamar Reza, Reza sudah menutup pintunya lebih dulu. Dari cara menutup pintu yang keras, Reza terlihat sedikit takut dengan pertengkaran kedua orangtuanya. Di satu sisi Ayah Reza sangat mengutamakan masa depan Reza, tapi di sisi lain Ibu Reza mengutamakan masa kecil Reza. Bagi Ibu Reza masa kecil seorang anak itu sangatlah penting dalam pertumbuhannya. Tapi bagi Ayah Reza masa depan seseorang juga sama pentingnya agar bisa bahagia di masa yang akan datang. Keduanya memang penting. Hanya saja kedua orangtua Reza tidak berpikir jika masa kecil dan masa depan seseorang keduanya sangatlah penting.
"Aku akan mengecek Reza, kamu cek kamar Rena. Periksa apakah dia sudah tidur atau belum." Ujar Ibu Reza sambil mulai menaiki tangga yang akan menghubungkan dengan lantai kamar milik Reza. Ayah Reza pun langsung juga ikut dan mengecek Rena.
Saat Ayah Reza membuka kamar, terlihat Rena sedang tertidur dengan boneka milik nya. Tapi karena suara pintu yang sedikit berbunyi, Rena pun langsung bangun.
"Ayah? ayah kenapa ke sini?" Tanya Rena polos.
"Bukan apa apa, Ayah hanya mengecek apakah kamu sudah tidur atau belum saja." Ujar Ayah Reza.
"Ayah dan Ibu bertengkar lagi?" Tanya Rena.
Ayah Reza pun langsung sedikit terkejut ketika mendengar jika Rena mengetahui jika ia bertengkar lagi dengan Istrinya.
"Bagaimana kamu bisa tau?" Tanya Ayah Reza.
"Tasya?" Ayah Reza pun sedikit heran.
"Iya Tasya." Jawab Rena.
"Siapa itu Tasya?" Tanya Ayah Reza kembali.
"Boneka ku, aku menamainya Tasya." Ujar Rena.
Ayah Reza pun langsung mengusap kepala Rena. Setelah itu ia berusaha untuk menidurkan Rena dengan membacakan dongeng, Rena selalu menyukai dongen sebelum tidur yang di bacakan oleh Ayahnya karena ia belakangan ini suka bermimpi buruk jika tidak di bacakan dongeng.
Sementara itu, Ibu Reza terlihat bersusah payah untuk membujuk Reza agar bisa membuka pintu kamarnya. Tapi mau di coba berapa kali pun tidak ada jawab dari Reza. Hal itu pun juga membuat Ibu Reza sedikit lebih khawatir jika anaknya sudah takut melihat ibunya sendiri.
__ADS_1
"Reza, nak buka pintunya. Ini ibu." Ujar Ibu Reza sambil terus mengetuk pintu.
"Nyonya lebih baik anda kembali ke kamar saja. Reza sepertinya sedang tidak ingin di ganggu." Ujar Pelayan itu.
"Tidak mungkin dia tidak ingin berbicara dengan ku. Aku ini Ibunya." Ibu Reza pun langsung keras kepala dan tetap ingin berbicara dengan Reza.
"Nyonya pasti paham bagaimana anak anak bertindak. Jika kamu paksakan aku khawatir akan terjadi hal yang buruk. Lagi pula sangat tidak mungkin jika seorang anak takut kepada Ibunya jika Ibunya menyayanginya." Ujar Pelayan itu.
Tak lama setelah itu, Ayah Reza pun mendekati mereka dan langsung bertanya mengenai keadaan Reza.
"Bagaimana keadaan Reza? Apakah dia baik baik saja?" Tanya Ayah Reza.
"Entahlah, dia tidak ingin membuka pintu kamarnya." Ibu Reza pun mulai sedikit cemas.
"Sudahlah tidak perlu khawatir. Nanti kita berbicara padanya besok, kita biarkan saja dia malam ini." Ujar Ayah Reza.
Kedua Suami Istri itu pun langsung segera masuk ke dalam kamar mereka. Di saat mereka berdua masuk ke kamar, Pelayan mereka terlihat sedang membereskan beberapa bekas perkelahian mereka. Seperti kertas, gelap kopi yang masih terisi setengah dan lain lain.
"Aku cukup heran kepada kedua Suami Istri itu. Saat pagi hari mereka cukup rukun, tapi di malam hari mereka terlihat tidak rukun sama sekali. Hal ini sudah berlangsung selama 3 minggu. Apakah aku harus memanggil Akbar?" Gumam Pelayan itu sambil membereskan semuanya.
Setelah membereskan semuanya, ia pun langsung segera kembali ke kamar miliknya. Tapi saat ingin menuju kamarnya, ia melihat dari celah pintu lampu di kamar Reza masih menyala. Hal itu tentu saja berarti jika Reza belum tidur sama sekali.
"Reza masih belum tidur? ini aneh. Biasanya dia sudah tertidur di jam segini. Lebih baik aku memeriksanya." Ujar Pelayan itu.
Tok tok tok...
"Reza, apakah kamu di dalam? ini aku Sarya." Pelayan itu pun langsung mengetuk pintu sambil mengajak Reza berbicara.
Tiba tiba terlihat dari celah pintu, lampu kamar Reza dimatikan. Sepertinya Reza tidak ingin di ganggu, tapi Pelayan itu juga tidak tega meninggalkan Reza sendiri.
__ADS_1
To be contiune >>>