
Tok tok tok!!
"Reza! cepat buka pintunya!" Ujar perempuan yang sudah mengetuk pintu itu sejak tadi.
"Iya!" Ujar Reza yang sudah berada di depan pintu.
Krekk!!..
Terdengar suara pintu sudah tidak di kunci lagi. Saat pintu itu terbuka, terlihat seorang perempuan dan saat perempuan itu menyadari jika Reza sudah membukakan pintu, dengan sigap perempuan itu langlangsung memeluk Reza.
"Ahh!.. Reza! aku sangat rindu pada mu!" Ujar perempuan itu sambil memeluk Reza dengan sangat erat.
"K-kak Jessi! lepasin aku s-susah ber-nafas!.." Ujar Reza yang tidak tahan dengan pelukan dari Jessi yang terlalu kuat.
"Ehh!? m-maaf!" Ujar Jessi yang langsung panik dan dengan segera melepaskan pelukan itu.
Reza pun langsung segera bernafas sebentar dan kemudian mereka berdua memutuskan untuk berbicara saja di ruang tamu.
"Ngomong ngomong di mana Prayan?" Tanya Reza.
"Dia sudah tidur. Katanya dia besok ada keperluan, jadi tidur lebih cepat. Tapi jangan khawatir, aku yakin jika dia sudah mengetahui jika kamu sudah kembali, dia pasti akan sangat bahagia dan segera menemui mu seperti ku.
"Ku harap dia nanti tidak memeluk ku dengan cara yang mengerikan seperti tadi." Ujar Reza.
Secara tiba tiba pintu kamar tamu terbuka dan di saat yang bersamaan muncul Evan, Raihan dan Sellu yang melihatan ingin menanyakan sesuatu pada Reza.
"Ada apa? kenapa kalian ke sini?" Tanya Reza yang tidak mengerti maksud kedatangan Evan dan lainnya.
"Apakah mereka ini teman teman mu ?" Tanya Jessi.
"Bisa di bilang seperti itu." Ujar Reza.
__ADS_1
"Reza, apakah kamu bisa menjelaskan mengenai kejadian di kos saat ini?" Tanya Evan.
"Kejadian apa?" Tanya Reza yang belum paham dengan maksud perkataan Evan.
"Saat kami sedang menonton televisi di kamar tamu, ada berita kasus pembunuhan dengan korban keluarga kecil dan itu terjadi di kos kita. Jika kami tau sesuatu mengenai kejadian itu, lebih baik kamu memberikan penjelasan kepada kami." Ujar Evan.
"Apa maksud mereka Reza?" Tanya Jessi.
"Baiklah, kaliam duduk dulu. Aku akan menceritakan semuanya. Orang orang yang menjadi korban dari kasus itu adalah orang yang aku minta untuk menjaga kos kita dan juga menjaga boneka Rena atau boneka Tasya selama kita berada di Pulau Sujapa untuk berlibur. Aku sudah meminta Ibu Kos untuk mengurus mayat dari mereka bertiga. Kemungkinan besar mereka bisa saja menjadi korban dan boneka itu karena saat kita masih berada dikapal, secara tanpa sengaja pintu itu terbuka." Ujar Reza.
"Boneka Rena? apa maksud mu?" Tanya Jessi yang belum mengetahui apapun mengenai boneka itu.
"Kamu masih ingat boneka Tasya milik Rena?" Tanya Reza ke Jessi.
"Tentu, aku masih ingat boneka itu." Ujar Jessi.
"Boneka itu kini sedang berisi jiwa dari Rena." Ujar Reza.
"Apa!? bagaimana bisa?" Tanya Jessi heran.
"Kenapa?" Tanya Jeesi.
"Entahlah, aku sendiri juga tidak bisa menjawabnya." Ujar Reza.
Evan pun terlihat langsung mulai berdiri dan juga bersama Selly dan lainnya, mereka pun pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Evan pun juga terlihat masih sedikit kecewa dengan Reza. Tapi mau bagaimana pun juga ia tidak boleh terlalumarah ke Reza saat ini. Jessi dan Reza pun langsung segera berbicara sedikit selama setengah jam dan kemudian Jessi kembali ke rumahnya saat pukul sudah 11 malam.
Evan dan lainnya terlihat sudah tertidur lelap. Kini hanya tersisa reda saja yang belum tidur dirubah itu saat ini. Keesokan paginya, terlihat Reza bangun di jam 5 pagi karena alarm kamar yang di pasangnya. Reza pun langsung segera turun dan terlihat Pamam Reza beserta Pak Akbar dan Istrinya sedang duduk di sofa sambil melakukan kesibukan masing masing.
"Reza, kamu sudah bangun?" Tanya Paman Reza yang terkejut melihat Reza sudah bangun sepagi itu.
"Iya Paman, aku sengaja bangun dan juga niatnya ingin berbaring sebentar di halaman belakang." Ujar Reza.
__ADS_1
Sesampainya Reza di halaman belakang rumah itu, terlihat ada banyak embun di dedaunan yang ada di sana. Udara di sana pun juga cukup segar karena terdapat banyak pohon dan tanaman hijau yang di tanam oleh Ibu Reza sendiri.
"Taman ini.. dulu aku suka bermain di sini setiap pagi." Gumam Reza sambil sedikit berjalan santai di sana.
Saat berjalan menelusuri taman itu, Reza merasa seperti kembali ke masa lalu. Masa di mana ia masih suka bermain main dan masih memiliki orang tua. Meski kebanyakan dari hidupnya adalah di besarkan di sebuah sekolah, Reza tidak terlalu kekurangan dalam kasih sayang karena semua orang terlihat selalu menerima Reza kapan pun dan di mana pun.
Sementara itu di kamar tamu, terlihat Evan lah yang bagun duluan dan langsung segera turun ke bawah dan mencari air untuk dia minum.
"Kamu juga sudah bangun?" Tanya Paman Reza.
"Iya pak, sekarang saya ingin mencuci wajah saya dulu dan meminum segelas air." Ujat Evan dengan wajah yang terlihat sedikit berantakan karena baru saja bangun.
"Evan? kenapa kamu bangun cepat sekali?" Tanya Reza yang baru saja kembali dari halaman belakang.
"Aku tadi hanya terbangun saja. Sudah ya saya ingin mencuci wajah saya dulu. Oh iya Raihan dan Selly masih tidur di kamar tamu jadi jika ingin masuk, jangan terlalu bersuara." Ujar Evan.
Evan pun langsung mencari dapur yang entah ada di mana. Sambil mencari wastafel untuk mencuci muka, Evan pun sekalian memutuskan untuk jalan jalan sebentar di rumah itu agar bisa mengetahui di mana saja letak ruangan yang ada di sana. Sementara itu, Reza tampak keluar sebentar dari rumah dan melihat jika Pelayan di Rumah itu tengah menyiram bunga.
"Selamat pagi." Ujar Reza.
"Reza? cepat sekali kamu bangunnya." Ujar Pelayan itu sambil menyiram bunga yang ada di sana.
"Saya semalam sudah menyetel alarm agat bisa bangun pagi pagi." Ujar Reza sambil berjalan mendekati Pelayan itu.
"Ohh, jadi apa alasan mu bangun sepagi ini?" Tanya Pelayan tersebut.
"Tidak apa apa, hanya ingin sesekali bangun pagi pagi di sini saja." Ujar Reza.
"Baguslah jika seperti itu. Cepat masuk ke dalam. Setelah aku menyiram bunga bunga yang ada di sini, aku akan menyiapkan makanan untuk kalian semua." Ujar Pelayan itu.
"Baik, aku akan memanggil teman teman ku untuk bangun juga." Ujar Reza.
__ADS_1
"Anak itu ternyata masih tidak bisa melepas rindu di sini. Lebih baik jika aku tidak terlalu ikut campur terlalu banyak. Biarkan saja dia bersenang senang di sini." Ujar Pelayan itu sambil menyiram bunga.
To be contoune >>>