
"Apa maksud Ibu?" Tanya Reza dengan wajah heran.
"Yang ada di dalam boenka itu bukan Rena. Di dalam Boneka itu ada seekor Makhluk yang sudah lama Aku dan Suamiku coba musnahkan." Ujar Bu Winata.
"Apa maksud Ibu? siapa makhluk yang Ibu dan Pak Akbat coba musnahkan?" Tanya Evan yang juga tidak paham.
"Ghakia... dia adalah arwah seorang anak perempuan yang memiliki sebuah dendam yang besar kepada keluarganya sendiri." Ujar Bu Winata.
"Bagaimana Ibu bisa mengetahui semua itu?" Tanya Reza heran.
"Aku dan Suami ku pernah mengurungnya di sebuah patung kayu, tapi beberapa tahun lalu... patung itu di curi seseorang dan sepertinya sampai di sini. Aku tidak bisa terlalu pasti mengatakan jika itu Ghakia... tapi aku rasa itu memang dia." Ujar Bu Winata yang terlihat merasa bersalah karena membiarkan patung kayu tempat Ghakia di kurung di curi seseorang.
Reza pun hanya bisa heran dan berdiri mematung di sana. Bu Winata pun langsung duduk ke Sofa menghela nafas. Terlihat wajah Bu Winata langsung gelisah dan khawatir.
"Hahh... aku sebenarnya hanya ingin menceritakan sampai sana saja, tapi setelah ku pikir pikir tidak ada gunanya menyembunyikan semua ini lagi..." Bu Winata pun langsung segera meminum air setelah berbicara dan langsung menceritakan awal dari semua masalah ini.
Sekitar beberapa bulan sebelum kedua Orangtua Reza meninggal, Pak Akbar dan Bu Winata tampak sedang menerima panggilan dari seseorang yang memang kini sedang memerlukan bantuan dari mereka.
"Kumohon usir arwah itu dari rumah ku. Aku bisa mati jika terus mengalami semua ini." Ucap seseorang yang tengah menelepon Bu Winata dan Pak Akbar.
"Baiklah kami akan datang besok." Jawab Bu Winata yang sendari tadi sudah menelepon dari 30 menit yang lalu.
"Besok!? apakah kamu tidak mendengar ucapan ku jika dia sudah mulai sering mengganggu ku saar tidur!?" Teriak orang itu sambil menelepon.
"Kamu cari saja tempat tinggal lain untuk sementara dan taburkan garam di setiap jalan keluar rumah dan seisi Rumah. Kami akan datang besok." Jawab Bu Winata.
Setelah beberapa menit berbicara, Bu Winata akhirnya bisa menutup telepon dan beristirahat. Pak Akbat pun kini terlihat tengah memahat sebuah patung dengan bentuk yang lumayan membuat merinding.
"Apakah ada yang meminta bantuan kita lagi?" Tanya Pak Akbar.
__ADS_1
"Yaa, seperti itu lah. Dia cukup merepotkan, padahal hanya perlu menunggu sehari saja." Ujar Bu Winata sambil memijat kepalanya sendiri.
"Kita baru saja menangani kasus yang berat. Aku juga masih harus memeriksa ke rumah klien kita yang sebelumnya untuk berjaga jaga. Mungkin kita bisa ke Rumah orang itu saat tengah hari." Jawab Pak Akbar sambil terus memahat patung yang cukup membuat merinding.
"Ku harap kasus kali ini bukan kasus yanh besar. Apakah kita berhenti saja? menurut ku pekerjaan ini cukup membuat lelah." Keluh Bu Winata yang terlihat lelah.
"Tentu saja, tapi apakah kamu tidak kasihan dengan orang orang yang di hantui oleh arwah yang tidak mereka ketahui? apakah kamu tidak kasihan dengan arwah yang tidak bisa ke alam lain dengan tenang? memang pekerjaan ini memakan banyak tenaga. Tapi kamu lihat saja wajah orang yang sudah kuta bantu. Wajah mereka sangat lega setelah semuanya selesai." Jelas Pak Akbar sambil terus memahat.
"Baiklah, kamu ada benarnya juga." Ujar Bu Winata.
Di keesokan harinya, mereka pun langsung segera pergi ke Rumah orang yang telah menelepon mereka di hari sebelumnya. Awalnya mereka mengira jika itu hanya Kasus biasa dan sepele. Tapi setelah 5 hari mengurus kasus yang sama, mereka tampak sangat kelelahan setelah pulang kembali.
"Siapa yang menyangka jika kasus ini ternyata akan menjadi sangat serius?..." Ujar Bu Winata yang sudah lelah karena kasus yang baru saja mereka selesaikan.
"Aku akan membawa Patung Ghakia ini ke ruang bawah tanah. Kamu bereskan saja dulu peralatan kita." Ujar Pak Akbar sambil menuruni tangga.
Setelah beristirahat sejenak, Bu Guru Winata pun langsung segera membereskan peralatan yang mereka bawa. Saat tengah menyusun beberapa benda, tiba tiba saja ada yang menelepon. Apakah ini kasus baru untuk mereka?
"Apakah ini Pak Akbar ada?" Tanya pria yang menelepon itu.
"Suami saya sedang sibuk, jika bisa apakah anda bisa menceritakan alasan menelepon ke sini?" Tanya Bu Winata.
"Ini saya Hatirto Kumasono." Ujar pria tersebut.
"Pak Hatirto!? astaga sudah lama bapak tidak menelepon kami. Bagaimana kabar Reza?" Bu Winata pun langsung kaget ketika mendengar jika yang menelepon saat ini adalah Ayah Reza sendiri.
"Reza baik baik saja, Rena juga tampaknya baik." Ucap Ayah Reza.
"Baguslah, aku lega mendengarnya." Jawab Bu Winata.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Pak Akbar pun langsung muncul dan dan mengunci pintu menuju Ruang Bawah Tanah itu. Karena melihat Bu Winata yang heboh menelepon, Pak Akbar pun langsung segera menghampiri Bu Winata dan bertanya siapa yang menelepon.
"Siapa yang menelepon?" Tanya Pak Akbar.
"Hatirto yang menelepon, kamu bicara dulu dengannya. Aku akan menyiapkan makanan kita." Ujar Bu Winata setelah memberikan telepon itu ke Pak Akbar.
Dengan segera Bu Winata pun langsung segera meninggalkan Pak Akbar dan Ayah Reza untuk berbicara secara pribadi.
"Halo Hatirto, bagaimana kabar mu?" Tanya Pak Akbar memulai pembicaraan itu.
"Baik, malahan sangat baik." Jawab Ayah Reza.
"Baguslah, apa yang membuat kamu menelepon kami? tidak biasanya kamu menelepon kami. Apakah kamu ada masalah? atau semuanya tidak baik baik saja?" Tanya Pak Akbar.
"Untungnya semua baik saja di sini. Aku hanya ingin bertanya sesuatu." Ujar Ayah Reza yang tampak ingin membicarakan sesuatu dengan Pak Akbar.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Pak Akbar.
"Kebetulan beberapa hari ini aku tidak mendapatkan pekerjaan tambahan. Rapat pun juga maish belum ada, jadi apakah aku boleh berkunjung ke Rumah mu untuk jalan jalan?" Tanya Ayah Reza.
"Tentu saja boleh, kenapa kamu harus menanyakan itu lagi?" Jelas Pak Akbar dengan rasa senang karena teman satu sekolahnya akan segera berkujung kembali kr Rumahnya setelah sekian lama.
"Baiklah, aku akan datang besok jam 9 bersama Adikku." Ujar Ayah Reza sebelum menutup telepon itu.
Setelah telepon itu di tutup, Bu Winata pun langsung kepo dam bertanya alasan Ayah Reza menelepon.
"Apakah teleponnya sudah selesai? Kenapa Hatirto menelepon?" Tanya Bu Winata.
"Bukan hal yang penting, dia hanya mengatakan besok akan datang bersama Adiknya. Katanya mereka akan datang saat pukul 9 pagi." Jawab Pak Akbar.
__ADS_1
"Sungguh!? baiklah, besok aku akan memasak sesuatu untuk mereka. Jarang jarang mereka datang dan mengunjungi kita." Ujar Bu Winata dengan penuh semangat.
To be contiune >>>