Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Rena Atau Sesuatu Yang Lain? (Bagian 1) - Episode 63


__ADS_3

"Semuanya cepat! makan malamnya sudah siap!" Teriak Bu Mira dari arah ruang makan.


Evan dan lainnya pun langsung segera pergi menuju meja makan dan terlihat jika Bu Winata dan Pak Sarya belum kunjung kembali dari rumah sakit.


"Di mana Bu Winata dan Pak Sarya?" Tanya Reza.


"Saya sudah mencoba menelepon mereka dan ternyata sedang dalam perjalanan pulang, tapi terjebak macet." Ujar Pak Akbar yang sudah duduk duluan.


"Kalau Paman bagaimana? apakah dia akan pulang larut lagi?" Reza pun tampak sangat menginginkan semuanya berkumpul untuk makan bersama.


"Sepertinya iya." Jawab Pak Akbar.


Reza pun hanya diam dan duduk kursi setelah mendengar itu. Seperti biasa mereka pun langsung segera makan dan tampak suasana sangat sunyi dan juga sepi. Yang terdengar hanyalah suara alat makan yang mereka gunakan.


"Siapapun cepat berbicara, suasana di sini sangat tidak nyaman!" Gumam Evan dalam hatinya.


"Ngomong ngomong bagaimana dengan memar mu Selly? apakah sudah kamu berikan obat?" Tanya Bu Mira yang langsung memecahkan keheningan di sana.


"Sudah, hanya saja masih sedikit sakit jika di sentuh."Jawab Selly sambil memegang lengannya yang memar.


"Apakah kamu bisa menunjukkan memarmu?" Tiba tiba saja Pak Akbar meminta Selly untuk menunjukkan memar miliknya.


Selly pun langsung segera menunjukkan memar itu dan tampak tatapan Pak Akbar sangat fokus ke memar itu. Setelah beberapa saat, ia pun langsung memutuskan untuk menyudahi makannya dan kemudian pergi dari sana.


"Baiklah aku selesai." Ujar Pak Akbar sambil berdiri.


"Cepat sekali, apakah kamu sedang sakit?" Tanya Bu Mira.


"Tidak, aku hanya perlu melakukan sesuatu." Ujar Pak Akbar yang mengatur kembali kursi miliknya.


Semua yang ada di sana pun hanya bisa menatap heran Pak Akbar yang keluar dari ruangan itu. Terlepas dari keanehan Pak Akbar, mereka semua pun kembali makan dan untuk kali ini suasananya menjadi lebih cair.


"Apakah kaliam ingin menonton film bersama setelah makan nanti?" Tanya Jessi.


"Tentu saja!" Jawab Selly dengan lantang.


"Apakah kamu bisa pelankan suara mu?" Tanya Raihan yang risih dengan suara milik Selly.

__ADS_1


"Jika aku tidak mau memang kenapa?" Tanya Selly yang tidak ingin memelankan suaranya.


Ruang makan pun langsung di penuhi dengan suara Selly dan Raihan yang terus saja bertengkar layaknya kucing dan tikus. Reza yang tidak tahan pun langsung meminta mereka untuk diam.


"Apakah kalian bisa diam?..." Tanya Reza sambil memegang pisau makan.


Selly dan Raihan pun langsung segera diam dan tidak bersuara ketika melihat Reza yang tampak mulai menunjukkan wajah kesalnya yang seperti ingin membunuh seseorang. Jessi dan Prayan pun juga tampak sedikit kaget melihat Reza dengan wajah seperti itu.


"Apakah itu memang Reza?" Bisik Prayan ke Jessi.


"Sepertinya." Jawab Jessi.


Tak lama setelah itu sebuah air langsung tersiram ke arah Selly. Selly yang sudah dalam keadaan basah pun langsung menanyakan siapa yang melakukannya.


"Siapa... yang melakukannya?.." Tanya Selly dengan nada menahan marah.


Semua pun hanya diam karena tidak tahu siapa yang melakukannya. Selly pun langsung segera pergi kamar tamu untuk mengeringkan diri. Di saat Selly pergi, semuanya pun tampak saling menuduh siapa yang melakukannya.


"Ayo jujur, siapa yang menyiram Selly." Ujar Raihan.


"Kenapa kami harus melakukan itu?" Tanya Reza sambil makan dengan tenang.


Gredek!! Gredek!!...


"Baiklah jujur sekarang siapa yang mengoyangkan mejanya?" Tanya Reza yang tidak tahan dengan hal itu.


"Apakah kamu baru terbentur sesuatu? tidak mungkin ada yang bisa menggoyangkan meja sebesar ini." Ujar Jessi.


Gredek!! Gredek!!...


Tiba tiba saja meja itu pun kembali bergerak. Tapi kali ini lebih kuat. Gelas gelas dan semua yang ada di sana pun juha ikut bergerak.


"Apakah ini gempa?" Tanya Jessi yang mulai bersiap untuk berlindung di bawah meja.


"Sepertinya bukan. Tanahnya tidak bergetar sama sekali." Jawab Prayan yang merasa hanya meja saja yang bergetar.


Grrddd!!

__ADS_1


Secara tiba tiba meja itu pun langsung bergerser ke samping sehingga membuat Reza, Raihan dan Evan terjepit. Melihat hal itu Prayan dan Jessi pun langsung segera berusaha mengeser meja itu bersama sama agar bisa menyelamatkan Evan, Raihan, dan Reza.


"Ayo cepat kita geser mejanya!" Teriak Jessi panik.


Prayan pun langsung segera berusaha menarik meja itu. Tapi entah mengapa itu menjadi sangat susah. Hal itu pun membuat Prayan merasa heran.


"Kenapa..mejanya tidak...bergerak!?" Ujar Prayan sambil menarik sekuat tenaga.


Entah dari mana, angin pun juga langsung bertiup dan masuk ke dalam rumah. Hal itu pun membuat beberapa barang seperti piring dan sendok terbang tertiup angin. Melihat kejangalan itu, Prayan dan Jessi pun mencoba sekuat tenaga agat bisa menggeser meja itu, dan setelah beberapa saat mereka pun berhasil melakukannya.


"Semuanya cepat kita harus pergi!" Ujar Reza dengan keadaan panik.


Dengan rasa takut dan panik, mereka pun langsung berusaha untuk berlari menuju pintu keluar. Dari arah pintu Kamar Rena tampak Pak Akbar yang juga berlari menuju pintu keluar. Angin pun semakin kencang seiring langkah mereka mendekati pintu itu, tapi beruntung mereka bisa keluar dari tempat itu dengan keadaan yang baik baik saja.


Setelah keluar pintu rumah iti tampak seperti di gedor gedor dengan sendirinya sehingga membuat Pak Akbar mengatungkan sebuah kalung dan langsung menaburkan garam di depan pintu.


"Apa apaan tadi itu!? kenapa semuanya bergerak sendiri!?" Ujar Jessi yang tidak menduga jika itu akan terjadi.


"Itu adalah sesuatu... yang berada di dalam Boneka Tasyah milik Rena...." Ujar Pak Akbar dengan nafas yang masih terengah engah.


"Maksud Bapak Rena?" Tanya Reza khawatir.


"Bukan, itu bukan Rena. Itu sesuatu yang lebih mengerikan lagi." Ular Pak Akbar dengan wajah yang lumayan memberitahukan jika memang ada hal yang sangat mengerikan di dalam Boneka Rena.


"Beruntung kita semua selamat, tapi apa yang harus kita lakukan?" Tanya Bu Mira.


Mendengar Bu Mira mengatakan jika semuanya selamat, Jessi pun mencoba mengecek ulang dan ternyata ada satu orang yang masih berada di dalam.


"Tunggu, dimana Selly!?" Tanya Jessi.


"Dia masih di dalam kan!? kita harus menolongnya!" Ujar Reza yang langsung ingin masuk ke dalam Rumah itu.


"Tidak! selagi Bu Winata belum tiba, kalian tidak boleh masuk! itu akan berbahaya!" Ujar Pak Akbar sambil menahan Reza.


Di saat yang sama, Mobil Pak Sarya pun mulai mendekat dan tampak Bu Winata yang tangannya sudah di perban dan di obati.


"Kenapa semuanya berada di luar?" Tanya Bu Winata dari dalam mobil dan membuka jendela mobil itu.

__ADS_1


To be contiune >>>


__ADS_2