
Paman Reza pun langsung segera masuk ke dalam mobil itu dan pergi ke kantornya untuk bekerja. Sementara itu, Reza dan Evan sangat kewalahan setelah membereskan kamar tamu. Barang barang milik Selly yang awalnya berantakan pun terlihat langsung rapi dan sudah tersusun kembali.
"Hah!.. hah!.. lain kali kita harus memberikan Selly peringatan, ternyata membersihkan kamar ini sangat memakan banyak tenaga." Ujar Reza kewalahan.
"Yang ada dia akan memutilasi kita jika kita peringatkan." Ujar Evan.
"Peringatan apa?" Tanya Selly yang tau tau sudah ada di sana.
"Tentu saja peringatan Ahh!! S-selly sejak kapan kamu di sini!?" Ujar Evan terkejut dan juga ketakutan.
"Baru saja, memang kamu tidak sadar?" Tanya Selly.
"Lupakan saja, lebih baik kita turun saja. Akan repot jika ada keributan lagi." Ujar Evan sambil mulai berjalan keluar.
Di ruang tamu mereka hanya duduk dan membaca beberapa buku yang ada. Sekitar setengah jam mereka melakukan itu. Dan tiba tiba entah dari mana, muncul suara seseorang yang mengedor pintu.
Bukk!! bukkk bukkk!!
"Suara apa itu?" Tanya Evan heran.
"Paling cuma suara tikus." Ujar Selly.
"Tikus jenis apa yang bersuara seperti itu?" Tanya Raihan dengan wajah tidak yakin.
"Buka pintunya!" Tiba tiba terdengar suara Pak Akbar yang samar samar dan juga terlihat ketakutan.
"Apakah kalian mendengar itu?" Tanya Evan.
"Buka pintunya cepat!" Suara Pak Akbar yang samar samar itu pun kembali terdengar.
Karena mendengar suara itu lagi, Evan dan lainnya pun mulai yakin jika memang ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di salah satu kamar di rumah itu.
"Bukankah itu suara Pak Akbar?" Ujar Raihan tidak yakin.
"Tidak salah lagi. Kurasa itu memang dia." Ujar Reza dengan penuh keyakinan.
"Sepertinya itu dari kamar yang ada di sana." Ujar Selly sambil menunjuk sebuah kamar.
"Kamar itu? itu kan kamar Rena!" Dengan panik Reza pun langsung segera berjalan panik menuju ke arah Kamar milik Rena.
Mereka berempat pun langsung segera pergi ke arah Kamar Rena dan ternyata memang benar. Suara gedoran yang tiada henti itu memang berasal dari sana.
Buk!! buk!! buk!!! buk!!
__ADS_1
"Buka pintunya!" Suara pak Akbar pun mulai semakin keras seiring suara gedoran itu terdengar.
Saat Reza ingin membuka pintu, tiba tiba pintu itu terbuka dengan sendirinya dan kemudian dari dalam kamar muncul Pak Akbar dan istrinya yang bernama Winata.
"Cepat tutup pintunya!" Ujar Bu Winata sambil mengeluarkan sesuatu dari saku miliknya.
"B-baik!" Jawab Reza yang langsung panik ketika melihat Pak Akbar dan Bu Winata yang keluar dengan tiba tiba.
Bukk!! bukk!!! buk!!!
Meski pintu sudah di tutup, gedoran itu tetap saja ada seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari ruangan itu. Melihat hal itu, Evan dan Raihan pun langsung segera membantu menahan pintu itu dan sedangkan Selly segera mengambil sebuah kunci yang ada di lantai.
"Selly! cepat ambil kunci itu dan kunci pintu ini!" Ujar Evan yang kesusahan untuk menahan pintu itu meski bersama Raihan dan Reza.
"B-baik!" Jawab Selly.
Setelah pintu itu terkunci, Evan dan lainnya pun segera mundur dan sedikit menjauhi pintu itu. Tapi meski sudah terkunci, gedoran itu tidak pernah berhenti dan terus ada.
"Bagaimana ini!? suara gedoran itu tidak ingin berhenti!" Ujar Evan sedikit panik dan juga takut.
"Semuanya cepat menyingkir!" Ujar Pak Akbar.
Di saat semuanya sudah menyingkir, Pak Akbar langsung segera mengatungkan sebuah kalung dan meletakkan nya di gagang pintu itu.
"Kenapa ini tidak berhasil!?" Tanya Pak Akbar sedikit panik.
"Tunggu! sepertinya suara gedorannya mulai mengecil." Ujar Bu Winata.
Buk!.. buk!.. buk...
Lama kelamaan suara gedoran itu pun langsung mulai menghilang dan tidak terdengar lagi.
"Apakah Bapak dan Ibu baik baik saja?" Tanya Reza.
"Tidak apa apa Reza. Kami baik baik saja." Ujar Pak Akbar.
"Sebenarnya apa yang terjadi di dalam?" Tanya Reza.
"Jika bisa kami akan menceritakan ini. Tapi Paman mu melarang keras kami berdua untuk memberitahukan mu." Ujar Bu Winata.
"Setidaknya beritahu aku kali ini saja." Ujar Reza.
"Tidak bisa, kami belum bisa memastikan ini. Jadi untuk sementara aku tidak bisa mengatakan apapun." Ujar Pak Akbar.
__ADS_1
Sekali lagi sebuah misteri pun mulai muncul. Sebenarnya siapa yang mengedor pintu kamar Rena dan apa alasan Pak Akbar dan Bu Winata menyembunyikan hal itu? Reza pun hanya bisa menurut karena dia tau jika mau di paksa seperti apapun, kedua suami istri itu tidak akan menjawab jika belum waktu yang tepat.
"Sekarang kalian duduk dulu di ruang tamu. Aku akan menyiapkan minuman untuk kalian." Ujar Bu Winata untuk sedikit mencairkan suasana.
Reza dan lainnya pun segera turun ke bawah. Kejadian tadi itu terlihat masih membekas di kepala mereka dan mungkin akan terus teringat sampai beberapa hari.
"Yang tadi itu sebenarnya apa sih?" Tanya Evan dengan sedikit rasa ragu dan juga takut.
"Entahlah. Aku tidak tahu, tapi ku rasa itu ada hubungannya dengan Paman ku." Ujar Reza sambil memasang wajah yang cukup terlihat tidak santai dan juga pusing.
"Kenapa belakangan ini ada banyak rahasia? memikirkan apa yang sebenarnya saja membuat ku sangat pusing." Keluh Selly yang tidak tahan sedang permainan Rahasia yang tiada henti.
"Jika di pikir pikir Selly memang benar. Isi dari Gudang Belakang Kos, Masa Lalu Reza, keduanya sudah di ketahui oleh kami semua. Tapi saat rahasia lain terungkap, malah semakin banyak pertanyaan baru yang muncul." Gumam Evan dalam hatinya.
"Hahhh.. rasanya seperti di dalam permainan teka teki saja. Semakin lama semakin banyak hal yang membingungkan." Ujar Raihan.
"Iya kamu benar. Semakin banyak rahasia yang terungkap, semakin banyak juga rahasia lain yang baru." Jawab Evan.
Tok! tok! tok!
Lagi lagi terdengar suara ketukan. Tapi kali bukan berasal dari Kamar Rena. suara itu tampak berasal dari pintu rumah.
"Kali ini siapa yang mengentuk?" Tanya Reza.
"Reza! buka pintunya!" Dari luar terdengar suara Jessi yang meminta Reza untuk membuka pintu.
"Baik!" Jawab Reza sambil berjalan menuju Pintu Rumah.
"Menurut kalian siapa yang mengetuk pintu?" Tanya Evan.
"Mungkin teman perempuan Reza yang semalan." Jawab Selly.
"Mungkin saja." Jawab Raihan.
Tok! tok! tok!
"Reza! cepat buka pintunya!" Ujar Jessi.
"Iya iya! sabar sedikit!" Ujar Reza.
Reza pun segera mebuka pintu rumah dan dalam beberapa detik, wajah Reza langsung segera berubah dan juga terlihat Jessi dan seorang laki-laki di sampingnya.
"Prayan!?" Ujar Reza dengan wajah yang cukup senang.
__ADS_1
To be contiune >>>