Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Masa Lalu Reza (Bagian 3) - Episode 48


__ADS_3

"Reza, apakah kamu sudah tidur?" Tanya Pelayan itu.


Tidak ada jawaban dari Reza. Tapi dari dalam kamar, Pelayan itu bisa mendengar suara sayup sayup Reza yang sedang menyusun tempat tidurnya dan mencoba agar bisa pura pura tidur.


"Reza, izinkan aku masuk. Aku tidak akan memberitahu orang tua ku." Ujar Pelayan itu.


Sekali lagi Reza tidak menjawab Pelayan itu pun langsung mulai paham jika Reza memang sangat tidak ingin bertemu dengan siapapun. Sebelum meninggalkan Reza, ia mencoba memastikan kembali dan berbicara sedikit lagi.


"Baiklah, aku paham kamu tidak ingin di ganggu. Semoga tidurmu nyenyak." Ujar Pelayan itu sambil menghadap ke pintu.


Sekali lagi tidak ada jawaban dari Reza. Oleh karena itu Pelayan itu sudah sangat yakin dan langsung segera ingin ke kamarnya kembali. Tapi secara tak di sangkah, Reza langsung menarik baju pelayan itu dari belakang dengan wajah sedikit takut.


"Aku akan menemani mu." Ujar Pelayan itu sambil mengandeng tangan Reza.


Di dalam kamar Reza, Pelayan itu langsung meminta Reza untuk berbaring dan kemudian ia duduk di sisi samping kasur milik Reza. Ia ampak sedikit mengajak Reza berbicara. Awalnya mengenai sekolah dan teman Reza, lama kelamaan mengenai orangtua nya.


"Kenapa kamu langsung menutup pintu saat Ibu mu ingin naik?" Tanya Pelayan itu.


Reza pun kembali tidak menjawab padahal saat sedang berbicara tentang sekolah dan sebagainya, Reza tampak cukup bersemangat dan menjawab semua pertanyaan pelayan itu.


"Baiklah, sekarang sudah pukul 11 kamu tidurlah. Semakin cepat kamu tidur, maka semakin cepat kamu dewasa. 3 hari lagi kamu akan berulang tahun, jadi cepatlah tidur." Ujar Pelayan itu.


"Baik, tapi suruh bibi itu untuk pergi." Ujar Reza.


"Bibi? bibi siapa?" Tanya Pelayan itu keheranan. Karena satu satunya perempuan yang ada di sana hanyalah Rena dan Ibunya saja. Selain itu tidak ada siapapun lagi.

__ADS_1


Reza pun langsung segera memasukkan kepalanya ke dalam selimut dan langsung ingin tidur. Pelayan itu pun hanya bisa sedikit heran dan langsung meninggalkan Reza.


"Baiklah selamat malam." Ujar Pelayan itu sebelum berjalan menuju pintu kamar.


Pelayan itu pun langsung segera meninggalkan Reza dan pergi ke kamarnya dengan perasaan heran yang juga bercampur dengan rasa kasihan. Selian itu, ia juga masih cukup penasaran mengenai siapa bibi yang Reza maksud.


Keesokan harinya merupakan 2 hari sebelum ulang tahun Reza. Kala itu Reza tampak sudah kembali normal. Ia tidak takut dengan Ayah dan Ibunya lagi. Tapi saat sarapan, untuk beberapa saat ia selalu melirik ke arah Pamannya.


"Apakah ada yang salah dengan Paman?" Tanya Ayah Reza yang heran melihat perilaku Reza yang sangat tidak menentu itu.


Reza pun hanya menggelengkan kepalanya dan langsung kembali fokus ke makanannya. Ayah Reza pun langsung tidak menghiraukan itu dan berpikir jika itu mungkin saja hanyalah perasaannya saja.


"Sepertinya kamu benar, Reza terlihat baik baik saja. Mungkin aku hanya terlalu melebih lebihkan." Ujar Ibu Reza ke Ayah Reza.


"Dia memang terlihat baik baik saja, tapi tadi aku melihat nya terus menatap adikku." Ujar Ayah Reza.


"Mata ku rabun karena sering melihat ke komputer. Namanya aku kan juga manajer kantor. Kalo aku seorang pengerajin kayu, kamu bisa mengatakan itu." Ujar Ayah Reza.


"Iya iya, ini bekal mu. Bekal Adik ipar ada di meja, kamu jangan makan jatahnya ya." Ujar Ibu Reza.


"Tidak akan ku makan. Palingan biasanya kamu yang sering makan jatah ku." Ujar Ayah Reza.


"Kamu pernah melihat panci melayang? jika belum coba katakan sekali lagi." Ujar Ibu Reza sambil mempersiapkan bekal untuk Reza dan Rena ke sekolah nanti.


"Kemampuan dari mana lagi itu." Sindir Ayah Reza sebelum pergi.

__ADS_1


Ibu Reza pun langsung sedikit tertawa geli karena tingkah konyol mereka berdua yang seperti anak anak. Ibu Reza pun langsung segera memanggil Reza dan Rena untuk segera cepat menyelesaikan sarapan mereka karena bus mereka akan segera datang.


"Reza! Rena! cepat habiskan sarapan kalian! bus sekolah akan segera tiba!" Ujar Ibu Reza.


Kali ini Ayah dan Paman Reza pergi ke kantor dengan menggunakan taksi, sedangkan Reza dan Rena ke sekolah dengan bus sekolah. Hal ini tentu saja bukan kebetulan, melainkan keinginan dari Ibu Reza. Ibu Reza berencana untuk membeli beberapa hiasan pesta ulang tahun dan juga beberapa balon. Di mobil, Ibu Reza tampak sedang berpikir untuk mengejutkan Reza dengan cara apa.


"Mungkin jika kita mengejutkan nya setelah dia bangun tidur, itu mungkin saja akan membuatnya cukup senang." Ujar Ibu Reza sambil memikirkan bagaimana sambutan ulang tahun untuk Reza.


"Lebih baik nyonya tidak melakukan itu. Jika kita membuatnya terkejut pagi pagi, aku takut dia akan terkejut seperti tahun lalu." Ujar Pelayan itu yang sedang mengemudikan mobil.


Ibu Reza pun langsung kembali ingat acara perayaan ulang tahun Reza yang sebelumnya. Acara itu diadakan saat Reza baru keluar dari kamarnya. Karena suara yang sangat keras dan ucapan selamat ulang tahun yang bersamaan, membuat Reza terkejut sampai menangis. Karena hal itu, selama 30 menit Reza di tenanglah okeh banyak orang. Reza juga merupakan anak yang sedikit cengeng kala itu, jadi tidak heran jika ia menangis.


"Iya juga, tapi kita harus mengejutkannya dengan cara apa lagi?" Tanya Ibu Reza keheranan.


"Nyonya, aku memiliki sebuah usul..." Pelayan itu pun langsung segera memberikan pendapat mengenai bagaimana cara agar Reza cukup terkesan di hari ulang tahunnya.


"Itu ide yang cukup bagus! baiklah, sekarang kita tinggal membeli bahan bahannya saja. Kamu tau kan harus ke mana?" Tanya ibu Reza.


"Tentu Nyonya. Aku akan segera mengantar Nyonya ke sana." Ujar Pelayan itu.


"Sudah jangan panggil aku dengan sebuah Nyonya. Kamu kan sudah lama bersama kami, jadi jangan terlalu formal. Panggil saja aku Tante atau lainnya. Aku tidak masalah." Ujar Ibu Reza.


"Baik Nyonya. Ehh maksud ku bu." Ujar Pelayan itu.


Pelayan itu pun langsung segera mengantarkan Ibu Reza ke sebuah toko swalayan untuk mencari alat alat yang di perlukan. Selain Ibu Reza, Pelayan itu juga ikut membantu Ibu Reza dalan memilih. Seluruh anggota keluarga di rumah itu sudah menganggap jika Pelayan itu adalah bagian dari keluarga itu juga.

__ADS_1


Tapi mau di beri tahu berapa kali pun, Pelayan itu tetap memanggil mereka semua sebagai seorang tuan rumah. Bukan sebagai keluarga. Satu satunya yang ia anggap keluarga hanyalah Reza. Baginya Reza tampak seperti seseorang yang ia kenal.


To be contiune >>>


__ADS_2