Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Apakah harus kembali? - Episode 11


__ADS_3

Reza yang mendengar keributan dari arah kamar mereka pun langsung segera masuk dan membuat Raihan terkejut saat sedang mengobati tangannya yang masih terluka karena menyentuh air yang terlalu panas.


"Reza? bukannya kamu mengatakan jika kamu akan pulang jam 5?" Tanya Raihan polos yang tidak tidak tau apa rencana Reza sebenarnya.


"Ehh untungnya urusan ku cepat selesai, jadi aku bisa pulang sekarang. Apa yang terjadi pada Evan? kenapa dia terlihat lemas seperti itu?" Tanya Reza heran.


"Entahlah, saat aku mulai menutup laptop. Aku tiba tiba di kejutkan dengan suara teko yang jatuh, saat aku masuk ke dalam Evan sudah tergeletak tidak sadar diri di lantai" Jawan Raihan.


"Lalu tangan mu itu kenapa sampai bisa melepuh seperti itu?" Tanya Reza balik.


"Saat aku ingin memindahkan Evan tangan ku terkena air panas. Sudah lah jangan khawatirkan aku, lebih baik kamu khawatirkan Evan saja. Dia masih belum bangun dari tadi" Ujar Raihan menunjuk ke Evan yang lemas di sofa.


Kemudian pandangan Reza pun berganti ke arah Evan yang sedang terbaring lemas dan tidak sadarkan diri, untuk beberapa saat ia berpikir jika Evan sedang tertidur atau sedang terlalu lelah saja. Tapi Reza langsung mulai ragu dengan pendapat nya saat melihat banyak keringat yang bercucuran dari tubuh Evan memang itu bisa saja karena suhu ruangan itu terlalu panas.


Tapi anehnya kipas angin di ruangan itu masih menyala dan apalagi jendela di sana juga terbuka lebar sehingga tidak mungkin jika ada yang bisa kepanasan di tempat itu. Karena penasaran, Reza pun langsung meletakkan tangannya ke kepala Evan. Ternyata saat tangan Reza menyentuh kepala Evan, tubuh Evan terasa sangat panas dan tidak heran mengapa Evan bisa berkeringat di ruangan tersebut.


"Sepertinya Evan demam. Raihan kamu urus saja tangan mu terlebih dahulu, aku akan mengurus Evan" Ujar Reza sambil memindahkan Evan ke kamar mereka.


"Baiklah Evan, kamu beristirahat lah di sana. Aku akan kembali dan membawa kompres untuk mu" Ujar Reza sambil meletakkan Evan di kasur.


Sementara itu di luar kamar, Raihan masih membungkus tangannya yang melepuh dengan menggunakan perban. Dan di saat yang sama juga Selly datang dengan rambutnya yang sudah lebih baik dan tidak kusut lagi.


"Raihan? apa yang terjadi pada tangan mu? dan ngomong ngomong di mana Evan?" Tanya Selly yang baru saja kembali dari salon dan tidak mengetahui apapun.

__ADS_1


"Tangan ku hanya tekena air panas, jadi melepuh. Dan mengenai keadaan Evan dia ada di kamar, kata Reza dia sedang demam" Jawab Raihan.


"Kasihan sekali dia..." Jawan Selly.


"Iya kamu benar, semoga saja dia cepat sembuh" Jawab Raihan khawatir.


"Bukan itu yang aku maksud, aku membeli sate untuk kita semua. Tapi karena Evan sakit itu artinya jatah kita semakin banyak. Hahhaha" Selly malah senang karena ia bisa mendapatkan tambahan jatah sate karena Evan sedang sakit, sehingga ia tidak bisa makan.


"Kurasa perempuan ini tidak memiliki hati, di pikiran nya hanya makan dan bermalas malasan saja sepertinya" Ujar Raihan dalam hatinya setelah melihat perilaku Selly yang aneh dan mengerikan.


"Siapa yang tertawa seperti Kuntilanak tadi?" Tanya Reza yang keluar dari dapur sambil membawa alat kompres untuk Evan.


"Kuntilanak katanya? memangnya aku yang cantik ini seperti Kuntilanak?" Ujar Selly kesal dalam hatinya.


"Ti-tidur di lantai? sepertinya akan lebih baik jika dia sembuh saja" Ujar Selly kesal dan mulai menyesali kebahagiaan nya yang tadi.


Sementara itu kembali ke kamar tempat Evan beristirahat, wajah Evan saat sedang terbaring terlihat seperti sedang bermimpi buruk saja, padahal dia hanya demam. Reza yang melihat itu pun mulai mengkompres kepala Evan dengan beberapa es batu dan berharap jika Evan bisa lekas sembuh dengan cara itu. Dan tidak lupa ia juga menyalakan pendingin ruangan dan memberikan selimut ke Evan agar ia tidak kedinginan.


Saat Reza keluar, terlihat Selly yang sedang memakan sate yang ia beli untuk mereka semua. Di luat juga terlihat Raihan yang sedang menonton televisi dengan keadaan tangan yang masih di bungkus oleh perban.


"Baiklah, jadi apakah akan lebih baik jika kita membatalkan saja liburan ini? Evan sepertinya sedang demam tinggi, tidak mungkin kita membiarkan nya sendiri di sini? jika dia sendirian siapa yang akan merawatnya?" Tanya Reza ke mereka semua.


"Tenang, kamu dan Selly pergi saja ke Pulau Sujapa. Biar aku yang merawat Evan di sini. Jika dia sudah sembuh aku akan membawanya ke Pulau Sujapa dan kita akan tetap berlibur bersama" Jawab Raihan.

__ADS_1


"Jangan ku rasa itu hanya akan merepotkan kita semua, akan lebih baik jika kita pulang saja besok" Jawab Reza.


"Menurut ku Evan mungkin akan marah jika kita pulang. Apalagi dia juga berusaha keras agar kita bisa mendapatkan tiket kepergian untuk 3 hari setelah kita telat" Ujar Raihan.


"Jadi sekarang kita harus bagaimana?" Tanya Reza kembali.


"Kalian berdua diam saja dulu, nanti kita lihat saja keputusan Evan besok. Jika dia mengatakan jika kita akan pergi, maka kita akan pergi. Tapi jika dia mengatakan jika kita tidak akan pergi, maka kita tidak akan pergi. Lagi pula kita kan juga harus bertanya pada Evan terlebih dahulu, memang yang akan liburan cuma kita bertiga saja?" Selly pun langsung kesal karena sikap Reza dan Raihan yang memutuskan keputusan sendiri dan tidak bertanya padanya dan Evan terlebih dahulu.


"Kamu ada benarnya juga Selly" Ujar Raihan mengalah.


"Bagus jika kalian sadar, sekarang cepat makan sate kalian. Jika tidak maka akan ku makan sampai tidak tersisa" Ujar Selly yang kemudian kembali memakan satenya sambil melihat ke televisi.


"Oh iya Raihan, cepat ganti kompres milik Evan. Kurasa es batu nya sudah mulai tidak dingin lagi dan mulai mencair" Ujar Reza sambil memakan satu tusuk sate.


"Baiklah" Raihan pun segera mengambil beberapa es batu dari dapur dan meletakkannya di sebuah mangkuk agar mudah membawanya.


Sementara itu di kamar, keadaan Evan sudah mulai membaik. Kini Evan sudah mulai tidak berkeringat lagi, meski begitu suhu tubuh nya tidak kunjung turun. Tapi setidaknya wajah Evan saat sedang tertidur kala itu lebih tenang dan tidak memiliki gangguan apapun.


Kreekkk...


"Baiklah Evan, aku akan mengganti kompres mu. Ternyata yang Reza katakan memang benar, es nya sudah mencair" Ujar Raihan masuk ke kamar.


"Oh iya, maafkan aku untuk tadi pagi... aku seharusnya tidak bersikap seperti itu.... sekarang kamu beristirahat ya" Saat sedang mengganti es batu, Raihan sempat mengatakan beberapa kata dan meminta maaf untuk perkelahian mereka tadi siang. Di saat Raihan meninggalkan kamar, muncul senyuman di wajah Evan. Apakah Evan mendengarkan semua yang Raihan katakan tadi?

__ADS_1


To be contiune>>>


__ADS_2