
Keesokan harinya, mereka sudah siap untuk pergi ke pelabuhan. Bahkan mereka sakin takutnya akan telat, mereka datang pukul 06:00 pagi meski kapal ke Pulau Sujapa berangkat pukul 09:00. Di pagi hari tepatnya pukul 04:00 Reza membangunkan mereka dengan cara yang aneh dan sepertinya mengingatkan mereka dengan sesuatu.
Tong! tong! tong! tong!
"Semunya cepat bangun!" Ujar Reza sambil memukul kan sebuah suntil ke panci.
Tong! tong! tong! tong!
"Apa sih Reza? ini baru jam 4 pagi loh, kan kita berangkat nanti jam 9" Ujar Selly yang masih mengantuk.
"Tidak ada! semuanya harus bangun sekarang!" Ujar Reza yang semakin menjadi jadi memukul panci nya.
Tiba tiba Evan langsung beranjak dari tempat tidurnya dan mulai berjalan keluar tanpa sepatah kata pun. Saat Evan sudah keluar, Raihan pun langsung bangun karena keributan yang di buat oleh Reza dan Selly.
"Kalian kenapa sih? pagi pagi buta sudah ribut saja, sudah diam! nanti orang di sebelah bisa marah" Ujar Raihan dengan wajah baru bangun paginya dan juga dengan suara yang kelihatan masih mengantuk.
"Kalian mau bangun tidak? jika tidak aku akan memukul kepala kalian menggunakan panci ini" Ancam Reza pada mereka berdua.
"Reza kamu tau tidak jika di pukul dengan panci itu sakit, apalagi jika Evan yang memikulnya. Bisa bisa kami tidur dan bangun di alam lain" Ujar Raihan sambil memegang kepalanya yang pernah di pukul Evan menggunakan panci.
"Sudah lah kalian berdua, kaliam jangan terlalu malas. Lagi pula tidak mungkin Evan memiliki kekuatan sebesar itu" Ujar Reza.
"Kamu belum tau, saat kami masih kelas VII dia pernah tidak sengaja membuka sebuah pintu kaca dengan tenaga dalam, sampai sampai pintunya pecah dan kami yang ada di kelas saat itu harus masuk ke ruang kepala sekolah" Ujar Raihan menceritakan kejadian tentang tenaga Evan yang di luar nalar.
"Bukan hanya itu, saat kelas VIII dia juga pernah tidak sengaja jatuh dan kepalanya mengenai sebuah batu berdiameter 20 cm" Ujar Selly.
"Lalu kepalanya pecah?" Tanya Reza dengan nada biasa.
__ADS_1
"Bukan, batunya yang pecah. Bukan pecah sih, tapi retak" Ujar Selly sambil kembali berbaring dan bersiap tidur.
"Sudahlah, tidak mungkin Evan bisa melakukan itu" Ujar Reza.
Tiba tiba wajah Raihan dan Selly kelihatan seperti baru saja melihat setan. Wajah yang di penuhi dengan rasa tidak percaya atas apa yang mereka lihat. Reza pun semakin heran dengan sikap Raihan dan Selly yang mulai aneh di matanya.
"Ada apa dengan wajah kalian? sudah lupakan yang penting cepat..."
"Berisik!!" Evan pun langsung muncul di belakang Reza sambil memegang sebuah panci yang ia sengaja ambil dari dapur.
Setelah Evan mengatakan itu, ia langsung memukul kan panci itu ke kepala Reza dengan penuh tenaga dan juga amarah. Evan merasa bahwa Reza terlalu melebih lebihkan mengenai perjalanan mereka nanti.
Prank!!
"BANGOON!!" Di saat bersama pula Reza langsung mengatakan kata bangun dengan kasar dan kemudian jatuh tidak sadarkan diri.
"Aku akan memindahkan Reza, kalian tidur saja" Ujar Raihan yang langsung menyeret tubuh Reza dengan wajah yang masih tidak percaya.
Sementara itu, Evan pun langsung terjatuh ke tempat tidurnya dan langsung tertidur dengan tangan masih memegang panci yang ia gunakan untuk memukul Reza tadi. Setelah memindahkan Reza, Raihan pun mulai kembali tidur sekaan akan semua itu tidak terjadi.
Pada pukul 05:00 Reza pun terbangun dari tidur singkatnya dan mulai merasakan sedikit sakit di kepalanya.
"Astaga ... ternyata Evan memiliki kekuatan yang cukup mengerikan, lebih baik aku membangunkan mereka jam 06:00 saja. Jika tidak bisa bisa aku akan mengalami masalah kepala" Ujar Reza sambil mulai keluar dari kamar nya.
Kemudian Reza pun langsung menyiapkan sebuah teh sebelum kepergian mereka. Karena ia memiliki waktu luang, ia pun langsung membuat sebuah sup hangat dan mie untuk sarapan mereka nanti. Waktu pun berlaku sampai akhirnya mereka semua pun sudah bangun termasuk Evan yang tidak sadar jika ia memukul Reza menggunakan panci sebelumnya.
Setelah makan mereka semua pun langsung mandi dan buru buru naik bus ke pelabuhan karena takut jika akan terlambat untuk kedua kalinya dan juga jika itu terjadi, maka mereka juga akan mengalami rugi yang cukup banyak karena uang yang mereka gunakan untuk membeli tiket baru, menginap di hotel, dan untuk makan akan terbuang sia sia.
__ADS_1
Di bus mereka terlihat cukup tenang dari pada saat keluar dari hotel tadi. Saat di bus, Evan terlihat membaca buku miliknya dan sementara itu Selly memakan sebuah kue yang ia beli di Cafe sebelum pergi dan Raihan fokus mendengar lagu. Reza juga terlihat lebih tenang, apalagi kepalanya juga mulai lebih membaik dan sudah tidak sakit lagi.
"Reza apakah kamu baik baik saja? kamu kelihatannya sering memegang kepala mu sejak tadi pagi" Ujar Evan.
"Ehhh iya tidak perlu khawatir iya kan Raihan, Selly?" Ujar Reza sambil sedikit memijat kepalanya yang di pukul dengan oanci tadinya.
"Ehh iya..." Jawab Raihan dan Selly kompak tapi dengan nada gugup.
Sesampainya di pelabuhan, terlihat waktu sudah pukul 08:00 dan artinya 1 jam lagi mereka akan berangkat. Sambil menunggu mereka pun melanjutkan hari mereka dengan duduk di gedung resepsionis dan juga tidak lupa mereka membeli beberapa camilan yang ada di sana untuk di makan sambil menunggu waktu keberangkatan
"Akhirnya hari ini sampai juga" Ujar Evan sambil melepaskan seluruh rasa capeknya.
"Baiklah tidak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Reza.
"Palingan yang ketinggalan itu cuma kasur nyaman itu" Ujar Selly yang masih lahap memakan camilan yang mereka beli di tempat itu.
"Kalo kamu mah tidak perlu di tanya lagi" Ujar Raihan menahan kesal.
"Memangnya kenapa? masalah buat kamu?" Selly pun juga ikut kesal karena tanggapan Raihan.
"Sudah sudah kalian semua! ini di tempat umum loh, kan malu jika di lihat orang. Kalian berdua ini juga mirip tikus dan kucing" Ujar Reza.
"Kalo aku kucing karena imutnya kan?" Tanya Selly manja ke Reza.
"Bukan, tapi malasnya. Kalo Raihan tikus karena suka ganggu si kucing, jadi kalian berdua mirip tikus dan kucing deh. Tidak pernah akur" Ujar Reza yang sudah kesal dengan tingkah laku Selly dan Raihan.
Evan pun hanya bisa menjadi nyamuk di sana. Karena tidak memiliki urusan lain lagi, ia pun melanjutkan membaca buku yang ia baca di bus sebelumnya sambil menunggu pukul 09:00
__ADS_1
To be contiune >>>