Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Penyelidikan (Bagian 2) - Episode 25


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Evan pun langsung segera membangunkan kedua temannya yang masih tidur. Siapa lagi jika bukan Raihan dan Selly.


"Raihan cepat bangun!" Ujar Evan.


"Hmmm... iya.. aku bangun.." Ujar Raihan.


"Kalo mau bohong yang pintar, mata mu aja masih tertutup" Ujar Evan.


Raihan pun langsung tertidur kembali saat Evan sedang sedikit merepet. Evan yang menyadari Raihan sudah kembali tidur pun langsung mengambil stun gun miliknya dan sedikit menyetrum Raihan. Spontan Raihan langsung bangun dan mundur perlahan lahan.


"Sudah ku bilang jangan bermain dengan itu!" Ujar Raihan yang masih terkejut.


"Ya mau bagaimana lagi? kamu tidak bisa di bangunkan" Jawab Evan.


"Baiklah, sekarang tinggal giliran Selly" Ujar Evan.


Evan pun mulai mendekati Selly dan berniat menyetrumnya. Tapi sebelum melakukan itu, Selly sudah memberikannya peringatan sehingga ia tidak jadi melakukan hal itu.


"Coba saja, jika kamu menyetrum ku. Akan ku letakkan benda itu ke mulut mu dan melakukan hal yang sama" Ujar Selly dengan menaikkan nada suaranya.


"Lebih baik kita biarkan dia saja" Ujar Evan.


Evan dan Raihan pun langsung keluar. Sebelum mereka pergi memeriksa hutan, Raihan mengatakan jika ia akan pergi mandi terlebih dahulu.


"Evan, kamu tunggu di sini dulu ya, aku akan pergi mandi dulu" Ujar Raihan.


"Baik" Jawab Evan.


Sambil menunggu, Evan melihat sebuah buku dan mencoba membacanya. Terlihat jika buku itu cukup usang dan sangat tua, karena penampilan buku tersebut yang sangat tua. Membuat Evan semakin bersemangat untuk membacanya.


"Buku apa ini? kelihatannya menarik" Ujar Evan.


Ternyata isi dari buku itu adalah sebuah cerita yang menyedihkan mengenai seorang penari yang terpaksa bekerja banting tulang demi menafkahi anak perempuan nya yang masih dalam kandungan, sementara suaminya berselingkuh dengan perempuan lain. Evan pun semakin tertarik membaca buku itu. Saat sedang membaca, Evan menemukan sebuah kertas yang terletak di bagian paling akhir buku.


[Aku seharusnya tidak memilihnya, karena aku dia harus menerima semua ini]

__ADS_1


Seperti itulah isi tulisan di kertas yang Evan temukan. Evan pun tidak mempedulikan hal itu, karena ia berpikir jika itu merupakan salah satu dari halaman yang terlepas dari buku atau sebuah bagian tambahan yang di letakkan sang penulis. Evan pun langsung memasukkan kertas itu kembali dan juga meletakkan buku itu ke asalnya.


Tapi karena ia baru saja setengah membaca, ia tidak tahu kelanjutan dari buku itu. Rencananya ia akan bertanya ke Kakek Dangrau apakah ia boleh membacanya atau tidak. Tapi yang aneh dari buku itu, nama dari penulis buku itu tidak tertulis sama sekali. Tapi Evan berpikir jika nama penulis menghilang karena usia buku itu sudah sangat tua.


"Apa yang kamu lakukan Evan?" Tanya Raihan yang baru saja selesai mandi.


"Ehh tidak apa apa" Jawab Evan.


"Buku apa itu?" Tanya Raihan sambil menunjuk ke arah buku itu.


"Bukan apa apa kok..." Jawab Evan.


"Baiklah kalo seperti itu. Ayo kita pergi, tapi kita harus mengambil barang barangnya dulu" Ujar Raihan.


Mereka pun langsung segera kembali ke kamar dan mengambil beberapa benda seperti peluit, senter dan sebuah kembang api untuk berjaga jaga jika tersesat. Reza bisa menemukan mereka. Selain itu, terlihat Selly yang masih tertidur pulas.


"Dia masih belum bangun?" Tanya Evan heran.


"Sudah biarkan saja, Selly memang sudah di bangunkan" Ujar Raihan.


"Apakah semuanya sudah siap? tidak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Evan sambil memakai jaket coklat miliknya.


"Iya tenang saja, ayo kita harus segera ke hutan" Ujar Raihan.


Kartika yang mendengar perkataan Raihan jika mereka semua akan segera ke hutan pun langsung kaget dan ingin bertanya apa alasan mereka ke hutan sepagi itu dan tanpa alasan. Tapi sayanya, Kartika yang saat itu ada di dapur, Kartika tidak bisa menysusul mereka berdua dan hanya di sisakan sebuah keheranan.


"Hutan? untuk apa kalian pagi pagi ke hutan. Heiii!! tunggu! Yahhh mereka sudah pergi, jika tidak salah ada satu perempuan lagi kata ayah. Mungkin akan ku periksa" Ujar Kartika.


Kreekkk..


Kartina pun segera masuk ke kamar mereka dan ternyata Selly masih tertidur lelap di sana. Kartika yang melihat Selly masih tidur pun langsung berniat untuk membangunkan Selly. Tapi sayangnya Kartika tidak tahu bahwa ia tidak boleh membangunkan singa yang sedang tidur.


"Bagaimana cara ku membangunkan nya?" Tanya Kartika heran.


"Hoaaammm!!!! ahhh!!!...." Tiba tiba Selly langsung bangun dan melakukan peregangan sambil mengeluarkan suara keras.

__ADS_1


Kartika pun langsung di buat kaget oleh Selly yang bangun secara tiba tiba. Kartika pun hanya bisa diam dan melihat Selly yang baru bagun.


"Ehh!? kamu Kartika?" Tanya Selly yang langsung menyadari jika Kartika sedang berada di dekatnya.


"Ehh... Iya" Jawab Kartika sedikit canggung.


"Tidak perlu canggung seperti itu, tenang saja" Jawab Selly.


"B-baik" Jawab Kartika.


"Ngomong ngomong di mana Reza, Raihan dan Evan" Tanya Selly yang heran ketika menyadari jika yang ada di kamar itu hanya ada mereka berdua.


"Kedua teman mu yang baru bangun baru saja pergi, aku tidak tahu mereka ke mana. Salah satu yang baru saja pergi itu memakai jaket bewarna coklat. Selain itu ada yang sudah pergi bersama ayah ku pagi pagi sekali" Ujar Kartika.


"Jaket coklat? itu pasti Evan, dan seharusnya yanh bersamanya itu Raihan. Dan yang bangun paling pagi, itu pasti Reza" Ujar Selly dalam hatinya.


"Baik terima kasih" Ujar Selly.


"Iya tidak apa apa" Jawab Kartika.


Akhirnya Selly dan Kartika pun berbicara sebentar dan selain itu, mereka juga melakukan aktivitas bersama sama. Seperti menyiram bunga, menganyam sesuatu, bahkan sampai memasak bersama. Sementara itu di tempat Evan dan Raihan berada, mereka kini sudah berada di pintu masuk desa dan di luar pintu masuk itu hanya ada jalan setapak menujuk penginapan yang di sekeliling nya hanya ada hutan.


"Baiklah kita sudah sampai, semoga tidak ada hantu yang muncul" Ujar Raihan pesimis.


"Kamu jangan mengatakan hal yanh tidak tidak" Ujar Evan menasihati Raihan.


"Yaa kan di sini seram. Apalagi ini kan kita ingin mencari tahu pelaku pembunuhan, ya sudah pasti seram" Ujar Raihan takut.


"Sudah sudah cepat masuk" Ujar Evan sambil menarik tangan Raihan.


"Ehh Evan nanti!..." Ujat Raihan memberontak.


"Sudah ikut Saja...! kamu berat sekali..! makan apa kamu!?" Ujar Evan yang kerepotan.


To be contiune >>>

__ADS_1


__ADS_2