Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Permainan Di Mulai (Bagian 5) - Episode 78


__ADS_3

"Apakah kalian baik baik saja?" Tanya Evan yang sempat merunduk agar tidak terkena pecahan bola lampu yang tidak jauh dari mereka.


"I-iya kami baik baik saja." Jawab Raihan yang terlibat wajahnya sedikit tergores pecahan bola lampu.


Sementara itu di tempat Pak Akbar dan Bu Winata saat ini atau bisa di bilang di Kamar Tamu, mereka tampak sangat khawatir ketika mengetahui sekitar mereka tambah gelap dan juga bola lampu sudah mulai pecah.


"Gawat..." Ucap Pak Akbar dengan pasrah.


"Seharusnya ini belum tengah malam. Kita baru saja bermain beberapa menit. Tidak mungkin ini sudah tengah malam." Ucap Bu Winata resah.


"Sepertinya ada yang tidak beres. K-kita harus segera memperingatkan mereka semua." Pak Akbar pun sudah tampak panik dan juga khawatir kepada Evan dan teman temannya.


"Jangan! kita tidak bisa bertindak gegabah. Jika kita keluar, kamu tau akibatnya kan? sekarang kita hanya bisa diam dan menunggu." Ujar Bu Winata sambil memegang pundak Pak Akbar.


Dengan terpaksa mereka berdua pun tidak bisa berbuat apa apa dan hanya bisa diam. Kembali ke Evan dan lainnya, mereka semua tampak ragu untuk keluar dari lingkaran garam itu.


"Lebih baik kita diam di sini saja. Aku punya perasaan buruk soal ini." Ungkap Reza sambil mewaspadai sekitarnya.


"Semuanya! apakah kalian ada si sana? " Tak lama kemudian sebuah suara yang familiar pun mulai terdengar di telinga mereka.


Mendengar suara itu, Jessi pun langsung segera menoleh dan merasa aneh karena suara uang ia dengar adalah suara dari Prayan.


"Itu pasti jebakan yang lain." Ucap Jessi tidak percaya dengan telinganya sendiri.


Tak lama kemudian dari kegelapan muncul sosok Prayan yang langsung membuat mereka semua terkejut. Tapi tetap saja, mereka masih mengira jika itu adalah tipuan dan tidak mempercayai apa yang mereka lihat.

__ADS_1


"Kita tidak akan tertipu semudah itu." Ujar Reza yang hanya mengerutkan dahinya.


Sosok Prayan itu pun mulai menyeret tubuhnya dan mendekati mereka sambil terus meminta tolong pada mereka. Mereka semua pun spontan mundur karena tau jika itu hanya bohongan dan tidak ingin menjadi korban selanjutnya. Tapi seiring mereka mundur, maka sosok Prayan itu juga terus menyeret tubuhnya menuju mereka.


"Sampai kapan dia akan mendekat?" Ujar Raihan dengan suara kecil.


"Entahlah. Seharusnya dia tidak bisa masuk ke dalam lingkaran garam." Ungkap Evan sambil mundur perlahan.


Sejenak setelah Evan mengucapkan itu, sosok Prayan itu pun mulai memasuki garam dan membuat mereka sedikit ragu. Jessi yang melihat itu pun mulai ragu dan mulai berhenti berjalan mundur.


"Jessi. Jangan lalukan itu." Ujar Reza meminta Jessi untuk tidak mempercayai sosok Prayan itu.


Entah mengapa Jessi seakan akan tidak mendengar Reza dan langsung segera bergerak mendekati sosok Prayan itu. Tentu saja itu adalah pilihan yang salah karena itu hanya akan membuatnya dalam masalah.


Jessi pun tampak terus memberontak dan meminta Reza untuk melepaskan genggaman tangannya. melihat itu Reza pun langsung segera meminta Evan, Selly dan Raihan untuk membantu mereka semua.


"Evan! Raihan! Selly! kalian semua cepat bantu aku menahan dia!" Seru Reza yang kembali menahan tangan Jessi.


Mereka semua pun langsung segera menahan Jessi agar tidak termakan tipu daya itu. Tapi apa boleh buat, entah mengapa Jessi terasa lebih kuat dan terus saja memberontak sehingga sampai membuat mereka semua jatuh karena Jessi terus memberontak dengan kasar.


Kini mereka semua pun terjatuh dan hanya bisa melihat Jessi yang sudah mulai dekat dengan sosok Prayan itu. Reza yang ingin menghentikan Jessi pun sepertinya tidak sempat melakukan itu karena saat Jessi memegang tangan Prayan, ia langsung segera di tarik dan hanya sampai terlihat kakinya yang masih di luar kegelapan itu.


"Ahhh!" Teriak Jessi di tarik oleh sosok Prayan itu.


"Jessi!" Reza pun langsung segera menarik tubuh Jessi yang di luar kegelapan dengan panik.

__ADS_1


Dengan di bantu oleh Evan dan Raihan, saat di tarik, tubuh Jessi hanya menyisahkan bagian bawahnya saja. Dari pinggang sampai kepala sudah tidak ada. Darah pun juga tampak mengalir dan membuat Reza dan lainnya terkejut tidak percaya. Semua itu tampak terjadi dengan sangat cepat sehingga mereka tidak sempat menarik Jessi kembali masuk ke dalam lingkaran garam itu.


Tak lama setelah itu, dari kegelapan juga muncul sebuah tangan kurus dan menarik bagian bawah tubuh Jessi. Dengan perlahan tubuh Jessi mulai memasuki kegelapan yang amat menyeramkan dan cuma menyisahkan berkas darah yang membentuk jalan di lantai yang ada di sana.


Kini mereka pun hanya bisa diam dan tidak melakukan apapun sampai semua itu berakhir. Niatnya memang mau seperti itu, tapi tentu saja semua itu tidak akan semudah kedengarannya. Karena tubuh Jessi yang di seret, maka lingkaran garam itu pun mulai rusak dan mereka sendiri tidak menyadari itu, maka secara tidak sadar kini sesuatu dari kegelapan mulai mendekati mereka.


"Knokk! knokk!..." Suara seseorang berbicara pun mulai terdengar dan tentu mereka langsung berbalik dan kini pengantin perempuan itu sudah ada di dekat mereka.


Mau lari saja sudah susah dan tidak bisa karena gelap, tapi dari pada berakhir begitu saja mereka pun langsung segera berpencar dan lari tanpa tujuan dan mencari lingkaran garam yang masih tersisa dan masih utuh tentunya. Tapi seakan akan nasib tidak berkehendak, mereka tidak bisa menemukan lingkaran garam yang ada. Semuanya seperti menghilang di telan sesuatu.


"Di mana lingkaran garam itu!?" Gumam Evan panik.


Perlahan lahan satu persatu daru mereka puj mulai tertangkap seperti Raihan dan juga Selly. Di tempat Pak Sarya dan Bu Mira, semuanya tampak kacau. Barang berserakan dan penutup mata milik Raihan, Selly dan Jessi juga sudah berubah menjadi warna merah sehingga membuat mereka berdua sangat panik.


"Kenapa semuanya menjadi berantakan dengan sendirinya!? ku harap mereka semua baik baik saja" Ujar Bu Mira khawatir.


"Entahlah, sekarang lebih baik kita bereskan semua kekacauan ini. Akan berbahaya jika ada yang menginja pecahan pecahan bola lampu ini.


Saat Bu Mira sedang membersihkan pecahan bola lampu yang pecah tiba tiba, ia sekilas melihat Ghakia memutar kepalanya ke arah dan dan tersenyum padanya. Bu Mira pun langsung segera mengosok matanya dan terlihat Ghakia sudah kembali ke posisi semula.


"Ada apa Mira?" Tanya Pak Sarya.


"B-bukan apa apa. Aku sepertinya hanya berhalusinasi." Jawan Bu Mira yang tampak memendam rasa takutnya karena kinu ada sesuatu yang harus ia takutkan. Apalagi kalo bukan keselamatan Evan dan lainnya yang tengah bermain permainan berbahaya itu.


To be contiune >>>

__ADS_1


__ADS_2