Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Pernikahan Kartika - Episode 31


__ADS_3

Hari pun sudah mulai siang dan keadaan di luar sangat ramai. Bahkan terasa jika semua keributan itu ada di luar kamar Kartika, Kartika yang berpikir jika warga masih marah dan masuk ke dalam rumah pun langsung memutuskan untuk membatalkan pernikahan nya.


"Kenapa masih ramai? apakah warga sangat ingin aku tidak menikah? baiklah mungkin aku akan memberitahu mereka semua saja, aku tidak ingin masalah ini bertambah buruk lagi." Ujar Kartika.


Kartika pun mulai berjalan keluar secara perlahan. Jantung Kartika seketika berdetak kencang, seakan akan ingin meledak seketika.


"Semuanya aku ingin..." Saat Kartika keluar, terlihat banyak orang yang menghias rumah mereka.


"Apa ini? bukannya para warga tadi marah marah?" Tanya Kartika heran.


"Tenang mereka ke sini untuk membantu. Memang tidak sebanyak semalam, tapi ini mungkin bisa meringankan beban kita." Ujar Selly


"S-sungguh?" Tanya Kartika heran.


"Iya, jadi sekarang istirahatlah. Besok adalah hari besar untuk mu." Ujar Kartika.


Kartika pun sangat senang ketika mengetahui ada beberapa warga yang mendukungnya. Meski ada beberapa yang gigih dan tidak menyetujui jika Kartika menikah, tapi hal itu sudah bisa membuat Kartika bahagia.


Kerukunan antar warga di sana pun mulai terbentuk. Tapi sepertinya ada sesuatu yang tidak senang melihat itu terjadi, dari kejauhan seorang wanita berpakaian merah dan berwajah cantik menatap dari kejauhan dan kemudian hilang bersama hembusan angin saat itu.


Keesokan harinya, merupakan hari besar. Kartika akan segera menikah dan kini ia sudah duduk di pelaminan bersama Angga, semuanya sangat meriah dan banyak lagu serta tarian yang beragam. Bukan hanya warga desa saja, turis di penginapan juga di undang ke pernikahan itu.


"Ternyata yang datang ramai juga ya." Ujar Selly.


"Iya, semuanya tampak senang dan bahagia." Ujar Evan.


"Entahlah, aku tidak bisa memastikan jika itu benar." Selly pun langsung memasang wajah tidak yakin ketika melihat beberapa orang di belakang Evan sedang mengosip dan menatap curiga ke Kartika dan Angga.


"Ada apa?" Tanya Evan.


"Ti-tidak apa apa." Ujar Selly.

__ADS_1


Sementara itu, Kakek Dangrau dan Reza terlihat sedang menyambut beberapa tamu yang masih berdatangan. Mereka juga sambil berbicara santai di sana. Meski Pulau Sujapa itu kecil, ada sekitar 658 orang yang tinggal di sana karena ada desa yang lain juga. Wak Ijem pun juga datang, tapi wajahnya seperti khawatir dengan pernikahan itu.


"Ijem? ternyata kamu datang juga." Ujar Kakek Dangrau.


"Kamu salah dengan membuat perayaan sebesar ini..." Ujar Wak Ijem.


"Apa yang dia maksud?" Tanya Reza.


"Entahlah, dia memang susah di pahami." Ujar Kakek Dangrau.


"Ngomong ngomong di mana anak yang bernama Raihan? kakek tidak melihatnya sejak tadi." Ujar Kakek Dangrau.


"Jika tidak salah dia ada di sana" Ujar Reda menunjuk ke arah Raihan.


Di mata Reza, Raihan memang terlihat normal saja. Tapi wajah Kakek Dangrau langsung pucat ketika melihat di belakang Raihan ada perempuan berbaju merah.


"Perempuan itu... Reza jaga tempat ini untuk sementara, kakek akan segera kembali" Ujar Kakek Dangrau dengan terburu buru.


"Ada apa!? kenapa terburu buru sekali?" Tanya Reza heran.


"Kurasa memang benar, semua nya tampak senang dan bahagia. Sudah lama aku tidak merasakan kebahagiaan sebenar ini, tapi di mana ayah?" Ujar Kartika dalam hatinya.


Sementara itu, Selly malah menyerbu semua makanan yang ada. Evan pun langsung melihat Selalu dengan tatapan aneh dan langsung meminta Selly untuk menghentikan itu semua.


"Sudah Selly, jangan di makan semua." Ujar Evan.


"Kenapa? lagi pula kan aku juga ikut membuat ini semua berhak memakan ini semua." Ujar Selly.


"Tamu yang lain juga ingin makan, kamu tau itu kan?" Ujar Evan menahan kesalnya.


"Entahlah, aku tidak berpikir sejauh itu." Ujar Selly.

__ADS_1


"Sudahlah dari pada aku mengurus mu, lebih baik aku ikut menyanyi." Ujar Evan.


"Baiklah, lakukan saja semaumu, aku tidak peduli." Ujar Selly.


"Baiklah, sampai jumpa." Ujar Evan.


Untuk beberapa detik, Selly langsung tersedak dan ingat jika suara Evan bisa menjadi senjata pembunuhan yang bagus. Selly pun langsung mengejar Evan dan berharap jika belum terlambat.


"Aku harus bergegas, jika tidak seluruh tamu undangan akan terbaring lemas." Ujar Selly panik.


Selly pun langsung melihat Evan sedang berbicara dengan seseorang dan terlihat mic sudah berada di tangan Evan. Dengan sigap, Selly pun langsung mendorong Evan dan segera mengambil mic itu.


"Untunglah, tadi itu nyaris saja." Ujar Selly menghembuskan nafas lega dari mulutnya.


"Cepat naik!" Ujar seseorang yang langsung mendorong Selly menaiki panggung.


Semua mata pun langsung tertuju para Selly dan dalam sekejap, wajah Selly langsung memerah dan karena tidak memiliki alasan lagi. Maka ia secara terpaksa menyanyi di panggung itu. Suara Selly sangatlah merdu dari pada Evan. Semuanya tampak menikmati pertunjukan dari Selly. Tapi sayangnya, Selly hanya menyanyi satu kali dan langsung turun dari panggung karena gugup dan malu.


Evan pun sudah menunggu sambil memakan makanan yang ada di piringnya dan menatap Selly sambil sedikit tersenyum. Selly pun langsung duduk sambil menyembunyikan wajahnya karena malu. Padahal suaranya cukup bagus.


Sementara itu, Kakek Dangrau terlihat masih mencari Raihan dengan wajah khawatir dan juga berkeringat. Entah apa alasan Kakek Dangrau mengejar Raihan, tapi dari ekspresinya dia sangat ketakutan.


"Di mana dia? apa aku hanya berhalusinasi?" Ujar Kakek Dangrau mengusap keringat dan matanya.


Kemudian di tengah keramaian itu Kakek Dangrau melihat seorang wanita berpakaian merah, dengan cepat Kakek Dangrau langsung mengejar perempuan itu. Entah ini hanya perasaan nya atau hal lain, setiap Kakek Dangrau berpaling, perempuan itu sudah menjauh dan sampai pula Kakek Dangrau di hutan.


Langkah Kakek Dangrau pun langsung berhenti ketika berada di depan hutan itu. Seketika muncul keraguan untuk masuk ke hutan itu meski hari masih siang dan tidak mendung sedikit pun.


"Apakah aku harus masuk ke dalam?" Tanya Kakek Dangrau pada dirinya sendiri.


"Huhuhuhuuu... Ahhhhh!!! " Tiba tiba terdengar suara tangisan Raihan. kemudian dari tangisan itu, berubah menjadi suara teriakan histeris.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi di dalam hutan itu, Kakek Dangrau pun langsung memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam hutan dan mencari Raihan. Di dalam hutan itu terdengar suara serangga dan hewab yang terus berbunyi. Seakan takut pada sesuatu yang besar.


To be contiune >>>


__ADS_2