Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Berkomunikasi - Episode 69


__ADS_3

Beberapa jam setelah Bu Winata menceritakan itu semua Pak Akbar pun mulai masuk ke dalam bersama Pak Sarya. Mereka berdua tampah lelah setelah di berikan banyak pertanyaan.


"Kenapa kaliam semua tampak khawatir seperti itu?" Tanya Pak Akbar yang melihat semuanya tampak diam dan tidak tenang.


"Aku baru saja mengatakan itu pada mereka." Jawab Bu Winata dengan wajah yang gugup.


"Ok baiklah... tunggu apa!?" Pak Akbar yang awalnya tampak biasa saja menanggapi hal itu pun tiba tiba tersadar dan kaget seketika.


"Biar ku katakan sekali lagi, aku baru mengatakan itu pada mereka." Jawab Bu Winata memalingkan matanya ke arah lain.


"Sungguh!? apakah kamu-" Pak Akbar pun tidak bisa melanjutkan kata katanya lagi karema tidak tahu harus berkata apa.


"-sudahlah lupakan saja." Lanjut Pak Akbar karena mengingat jika akan percuma jika dia berkata lebih banyak lagi.


"Apakah semua cerita itu benar? apakah yang selama ini di boneka itu bukan Rena?" Tanya Reza yang hanya ingin memastikan.


"Ini hanya dugaan kami, kami tidak tahu apakah ini benar atau tidak." Jelas Pak Akbar tidak bisa memberikan jawaban yang pasti.


"Ngomong ngomong sepertinya kita harus mengurus ini sampai tuntas. Tidak peduli kita akan di bayar atau tidak, kita harus melakukannya sekarang." Potong Bu Winata.


"Melakukan apa?" Tanya Evan penasaran.


"Tentu saja dengan siapapun yang ada di dalam boneka itu. Tapi sebelum itu, apakah Reda ingin menyetujuinya?" Jawab Bu Winata yang tau pasti jika Boneka Tasya milik Rena itu sangatlah beharga bagi Reza.


"Lakukan saja." Jawab Reza yang mulai tampak serius ingin mencari tahu yang sebenarnya terjadi.


Bu Winata pun langsung tampak tersenyum dan langsung membawa mereka semua ke dalam Rumah Reza.


"Bolehkah kami ikut? aku tidak ingin apapun terjadi dengan Reza." Jawab Bu Mira yang tampaknya ingin melindungi anak dari mendiang tetangganya.


"Tidak. Ibu dan anak anak ibu tidak boleh terlibat lebih jauh lagi. Semua yang kalian lakukan sudah cukup untuk kami." Ujar Pak Akbar.


Bu Mira pun hanya bisa diam dan meminta Jessi dan Prayan untuk masuk. Setelah masuk ke dalam Rumah itu, keadaan sudah tampak seperti tempat yang baru saja terjadi pembunuhan. Darah entah dari mana menetes dari langit langit ruangan. Meski tidak banyak dan sangat sedikit, itu juga sedikit membuat merinding.

__ADS_1


Pak Akbar pun membuka bagian kamar tempat Boneka itu di simpan dan terlihat keadaan di sana sangat rapi seperti tidak terjadi apa apa. Setelah membuka pintu, Pak Akbar langsung meminta Pak Sarya untuk mengambil sebuah meja dan beberapa kursi.


"Pak Sarya, tolong kamu ambilkan sebuah meja dan beberapa kursi." Ujar Pak Akbar.


"Baiklah, akan ku ambilkan." Jawab Pak Sarya.


Sambil menunggu Pak Sarya mengambil kursi dan meja, Pak Akbar dan Bu Winata langsung masuk ke dalam ruangan itu dan membuka lemari kaca tempat boneka itu di simpan. Sebelum membuka lemari kaca itu, mereka berdua tampak berdoa dan langsung membuka lemari kaca itu.


"Semoga yang kita lakukan ini sudah benar. Aku tidak boleh membuat Reza dan kawan kawannya terlibat jauh." Gumam Bu Winata membuka lemari kaca itu.


Setelah kursi dan meja sudah berada di sana, Pak Akbar langsung meletakkan boneka itu ke meja dan membuat boneka itu dalam pose duduk. Di antara Bu Winata dan Boneka itu terdapat sebuah kertas polos dan sebuah pensil. Bu Wianta pun langsung mengambil pensil itu dan duduk di depan boneka itu dan menutup matanya dengan selembar kain.


"Ayo kita keluar. Kita biarkan dia melakukan yanh harus di lakukan." Ujar Pak Akbar membawa semua orang pergi.


Di dalam ruangan itu, Bu Winata tampak hanya diam selama beberapa saat. Sesaat kemudian ia langsung mengajukan sebuah pertanyaan.


"Siapa kamu?" Tanya Bu Winata.


Tidak ada suara yang terdengar. Yang ada hanyalah sebuah kesunyian. Saat Bu Winata mengintip, kertas itu masih saja kosong. Bu Winata pun langsung mencari akal dam bertanya hal yang lain. Meski sudah di berikan banyak pertanyaan, kertas itu masih saja kosong dan tidak tertulis apapun.


"Bagaimana? apakah kiya berhasil?" Tanya Pak Akbar.


"Tidak, aku tidak mendapatkan jawaban." Jawab Bu Winata.


Mendengar hal itu, kini giliran Pak Akbar untuk mengajukan pertanyaan. Tapi mau sebanyak apapun pertanyaan yang Pak Akbar berikan, hasilnya tetap nihil.


"Bagaimana apakah dia menjawabnya?" Tanya Bu Winata.


"Tidak, aku tidak mendapatkan jawaban sedikit pun." Ujar Pak Akbar.


"Sekarang biar aku saja, siapa tahu dia akan menjawab pertanyaanku." Ujar Pak Sarya mengajukan diri.


Sama seperti Bu Winata dan Pak Akbar, Pak Sarya pun langsung segera masuk dan melakukan ritual yang sama, yaitu dengan menutup matanya dan langsung segera mengajukan beberapa pertanyaan. Dengan cara dan awal yang sama, percobaan Pak Sarya tampaknya juga berakhir sama.

__ADS_1


"Bagaimana? apakah ada pertanyaan yang terjawab?" Tanya Pak Akbar.


Pak Sarya pun hanya bisa menggelengkan kepala.


"Biar aku saja." Ujar Reza dengan tiba tiba.


"Apakah kamu sungguh yakin ingin melakukannya Reza?" Tanya Bu Wisata yang khawatir dengan keselamatan Reza.


"Aku yakin." dengan sigap Reza pun langsung segera mengambil kain itu dan masuk ke dalam ruangan itu.


Saat sudah duduk di depan Boneka Tasya, Reza pun langsung segera menutup matanya dengan kain dan memegang pensil itu. Setelah beberapa saat ia pun langsung mengajukan pertanyaan.


"Siapa namamu?" Tanya Reza.


Setelah menunggu beberapa saat, tidak ada jawaban. Karena merasa jika dia juga tidak berhasil, ia pun langsung segera melepaskan kain itu. Setelah melepaskannya, di kertas yang awalnya tidak terdapat apapun, kini tertulis nama Rena dengan bentuk tulisan yang tidak rapi dan aneh.


"Apakah aku berhasil?" Gumam Reza.


Dengan segera Reza pun langsung segera membuka pintu dan memberitahukan semuanya ke Bu Winata dan Pak Akbar.


"Kamu berhasil!? pertanyaan apa yang kamu ajukan?" Tanya Bu Winata yang kaget dan tidak percaya.


"Aku hanya menanyakan siapa namanya. Saat aku membuka mata, sudaj tertulis nama Rena." Ujar Reza sambil menunjukkan kertas yang berisi tulisan itu.


"Baiklah, kamu masuklah ke dalam. Aku akan membantu mu mengajukan pertanyaan.


Reza pun langsung segera masuk ke dalam dan darah mewarnai luar Bu Winata memilih pertanyaan dan Reza yang mengucapkan jawaban yang tertulis. Satu per satu pertanyaan mereka ajukan dan banyak juha yang jawabannya tidak pasti dan aneh.


"Baiklah pertanyaan selanjutnya! Apa alasan kamu ke sini!" Ujar Bu Wianta dari Luar Ruangan.


Mendengar itu Reza pun langsung segera membacakan pertanyaan tersebut.


"Apa alasan kamu ke sini?" Tanya Reza.

__ADS_1


Saat membuka matanya, tertulis nama orang yang bernama Sumar. Melihat hal itu wajah Reza pun tampak kaget karena itu adalah nama dari Pamannya sendiri.


To be contiune >>>


__ADS_2