Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Kekacauan di dapur - Episode 3


__ADS_3

Malamnya Evan sama sekali tidak bisa tidur, sekaan akan ada yang menatapnya dari luar jendela yang ada di dekat Gudang belakang kos. Tubuhnya merasa merinding dan terus meresa seakan akan ada yang bernafas di lehernya. Tubuhnya seakan akan membeku di kasur, tak bisa di gerakan, keringat pun langsung membasahi seluruh tubuhnya. Evan pun terus berdoa semoga tidak ada hal buruk yang menimpa nya di kos itu.


Keesokan harinya Evan pun bangun lebih awal karena mendengar suara dari dapur, suara itu sepertinya suara sesuatu yang di potong dengan menggunakan pisau dan tampaknya seperti sedang memotong sesuatu yang keras.


Buk! buk! buk!


"Suara apa itu?" Tanya Evan heran.


Saat ia beranjak dari tempat tidurnya, ia melihat bahwa Raihan sudah tidak berada di tempatnya. Tapi karena gelap Evan sama sekali tidak menyadari hal tersebut.


"Akkkkhhh! singkirkan benda itu dari ku!" Tiba tiba dari arah dapur pula muncul suara Reza yang berteriak.


Mendengar Reza berteriak, Evan pun langsung berpikir jika itu adalah pencuri. Evan pun berlari menuju arah dapur. Karena panik Evan langsung mengambil sebuah panci yang ada di sebelah pintu dapur dan memukulnya pada seseorang yang berada di depan Reza.


"Evan jangan!"


Prangk!


Suara panci yang Evan pukul secara keras ke kepala seseorang. Saat melihat sekitar, Evan pun terkejut ternyata di sana ada Selly dan Reza yang menatap Evan penuh kaget. Saat menoleh ke bawah ternyata ada Raihan yang terjatuh lemas karena kepalanya di pukul dengan menggunakan panci.


"Evan? kamu sudah bangun?" Tanya Reza yang masih terkejut.


"Tentu saja sudah bangun. Buktinya dia bisa memukul Raihan sampai lemas seperti itu" Ujar Selly sambil menunjuk Raihan yang sedang terbaring lemas.


"Kenapa kalian semua bisa ada di sini?" Tanya Evan heran.


"Kami awalnya ingin memasak sup ayam untuk sarapan, tapi tiba tiba muncul seekor tikus dari arah luar. Raihan secara jailnya langsung memegang ekor tikus itu dan ingin memberikan nya pada ku, aku kan jijik dengan tikus jadi aku memintanya untuk membuang tikus itu ke luar. Tapi dia malah semakin usil. Tiba tiba kamu datang sambil membawa panci dan memukulnya" Ujar Reza sambil menotong beberapa daging ayam untuk di jadikan sup.


"Aduh... siapa yang memukul kepala ku?" Tanya Raihan sambil kembali berdiri.


"Evan yang melakukan, biar aku saja yang membalasnya" Tiba tiba saja Selly langsung mengambil panci yang di jatuh kan Evan awalnya.


"Selly!"


Prangk! Prangk!


"Selly apakah kamu sudah tidak waras? kamu memukulnya 2 kali?" Ujar Reza heran dan kaget.

__ADS_1


"Yaa itu juga balasan karena mengejutkan kita semua" Ujar Selly sambil meletakkan panci itu di samping Reza.


"Kalo begitu apakah kamu ingin merasakan nya juga?" Ujar Reza sambil mengambil panci tadi.


"Reza? kenapa kamu mengambil panci itu?" Tanya Selly.


Prangk!


"Sungguh kenapa kalian semua malah bermain? Oh iya Raihan tolong pindahkan mereka berdua ke sofa yang ada di ruang tamu.


"Baik" Jawab Raihan.


Raihan pun langsung menggendong mereka berdua ke sofa dan menidurkan mereka ke di sana. Saat masuk ke dalam dapur ia melihat bahwa ada tikus ya keluar dari dapur. Niat jail Raihan pun mulai tumbuh, ia pun langsung mengambil ekor tikus itu dan menuju ke dapur.


"Baiklah kawan kecil ku, kamu akan menjadi mainan yang bagus untuk menakut nakuti Reza" Ujar Raihan sambil berjalan menuju dapur.


"Reza lihat apa yang aku punya" Ujar Raihan sambil masuk ke dalam dapur dan bersiap siap melempar tikus itu ke Reza.


Bukkk!


"Iya ada apa?" Ujar Reza sambil memegang pisau daging yang cukup besar.


"Tidak ada apa apa" Ujar Raihan yang langsung melemparkan tikus itu ke luar kos.


"Baiklah jika begitu kamu tolong siapkah mangkuk nya ya, sebentar lagi ini akan siap" Ujar Reza sambil memasukan sebuah daging ayam yang habis di potong ke dalam sup yang sedang di masak tersebut.


Raihan pun hanya menuruti perkataan Reza sambil berharap Selly dan Evan cepat siuman, setelah beberapa saat Evan pun sudah bangun dan segera menuju ke dapur.


"Raihan sekarang sudah jam berapa?" Tanya Evan yang baru saja sadar.


"Jam 9 pagi memangnya kenapa"


"Baiklah terima kasih" Jawab Evan yang masih mengumpulkan nyawa.


"Apa? Jam 9 pagi?" Tanya Evan terkejut.


"Iya jika tidak percaya lihat saja jam di luar" Ujar Raihan sambil menuangkan beberapa sup ayam ke sebuah mangkuk.

__ADS_1


Evan pun langsung panik dan segera berlari keluar. Raihan dan Reza pun hanya bisa heran melihat kelakuan Evan saat itu, entah apa yang membuatnya berlari panik seperti itu. Tapi itu bukanlah masalah mereka saat ini, masalah mereka saat ini adalah bagaimana caranya membangunkan Selly yang masih pingsan.


"Sekarang bagaimana caranya kita membangunkan Selly?" Tanya Raihan heran.


"Itu lah masalah kita, seharusnya aku tidak memukulnya. Sekarang dia malah keenakan pingsan" Ujar Reza sambil memikirkan bagaimana caranya membangunkan Selly.


"Apakah kita menyiram dia saja?" Tanya Raihan.


"Tidak, nanti jika dia terkena flu kamu ingin tanggung jawab?" Tanya Reza sambil memalingkan wajahnya ke Raihan.


"Kamu jangan melihat ku seperti Itu, sekarang kita harus memakai cara apa untuk membangunkannya?" Tanya Raihan sambil duduk di salah sati sofa yang ada di sana.


"Ku rasa dia masih lama datangnya" Evan sambil masuk ke dalam.


"Memangnya apa yang kamu pesan?" Tanya Reza heran.


"Bukan barang yang penting, hehhe" Ujar Evan sambil memasang wajah canggung.


"Sudahlah kita makan saja dulu, nanti dia juga akan bangun" Ujar Raihan.


"Makan? memangnya apa yang akan kita makan?" Saat Raihan menyebutkan kata makan tiba tiba Selly langsung bangun dan menanyakan apa sarapan mereka hari ini.


"Astaga jika untuk urusan makan dia langsung bangun" Ujar Reza dalam hatinya.l


"Sup ayam yang kita buat tadi pagi" Ujar Raihan sambil masuk ke dalam dapur.


Kemudian mereka pun langsung makan di meja yang terletak di dapur. Ternyata meski baru saja sadar, Selly sudah bisa memakan sup ayak itu sampai 2 mangkuk tanpa henti. Reza yang melihat pemandangan itu pun langsung terheran heran, mengapa tubuh Selly tidak gemuk meski nafsu makan nya sangat mengerikan.


"Evan! Evan! Evan cepat keluar!"


"Siapa itu yang berteriak?" Tanya Reza terheran heran.


"Entahlah, apakah ada dari kalian yang mengundang seseorang?" Tanya Raihan ke seluluh orang di sana.


"Ku rasa tidak, jika itu teman satu kos ku suara nya pasti perempuan. Ini suaranya laki laki" Ujar Sellu sambil memakan sup yang ada di mangkuk ke 3 nya.


"Akhirnya dia datang juga" Ujar Evan yang kemudian langsung beranjak dari meja makan dan berjalan menuju ke arah pintu keluar.

__ADS_1


To be contiune >>>


__ADS_2