Desa Benang Merah

Desa Benang Merah
Permainan Di Mulai (Bagian 1) - Episode 74


__ADS_3

Di saat Pak Sarya dan lainnya tengah dalam perjalanan kembali, di Rumah Bu Mira tampak terlihat Pak Akbar dan Bu Winata yang baru saja ingin mematikan aliran listrik di rumah itu. Sementara itu dari dalam Rumah Reza terlihat Paman Reza tengah memperhatikan mereka berdua dengan wajah yang tampak penasaran, meski wajah itu terlihat penasaran, uniknya tangan Paman Reza terlihat berkeringat. Di saat itu juga Pak Akbar yang merasa di perhatikan pun langsung menghadap ke Rumah Reza. Paman Reza pun langsung segera berhenti mengintip melalui jendela itu dan segera menutupnya dengan tirai. Pak Akbar pun langsung memutuskan untuk membiarkannya saja dan segera mematikan aliran listrik di sana.


"Baiklah aku sudah mematikan listriknya. Sekarang kita hanya perlu memberikan garamnya saja." Ujar Pak Akbar berbicara kepada Bu Winata.


"Baik, aku akan menyiapkan kulitnya saja." Ujar Bu Winata yang langsung masuk ke dalam Rumah bersama Pak Akbar.


Terlihat Pak Akbar tampak mulai mengambil banyak garam dan langsung membuat lingkaran di setiap ruangan yang ada di Rumah itu. Meski rumah itu terlihat besar dan memiliki 2 lantai, sebenarnya di Rumah itu cuma ada 8 ruangan yang terdiri dari tiga Kamar Tidur, Garasi, Ruang Tamu dan Ruang makan di lantai bawah dan di lantai atas terdapat sebuah Kamar Mandi, dan sebuah Kamar Tamu.


Di saat Pak Akbar menaburkan garam di Rumah, Bu Winata pun langsung segera meletakkan setiap lilin di tengah lingkaran garam yang di buat Pak Akbar. Setelah semuanya selesai mereka berdua pun kembali bertemu di Ruang Tamu dan mulai menyusun kursi. Pak Akbar menyusun 2 kursi yang berhadapan dan di tengahnya terdapat kursi lain yang kemudian Bu Winata meletakkan Ghakia di sana. Setelah semuanya selesai mereka pun langsung duduk berhadapan dan mulai bersiap untuk melakukan permainan tersebut.


"Baiklah, apakah kamu siap?" Tanya Pak Akbar yang tengah memegang sebuah kalung.


"Tentu saja." Jawab Bu Winata yang juga memegang kalung yang sama.


Di saat mereka akan memejamkan mata mereka, tiba tiba saja terdengar suara bunyi klakson yang sangat keras dari luar rumah. Mendengar suara klakson itu mereka berdua pun langsung segera pergi keluar untuk memeriksa.


Titttt!!


"Klakson mobil? seingat ku Mira tidak bilang jika akan ada yang datang." Ujar Bu Winata keheranan.


"Memang tidak." Jawab Pak Akbar mulai beranjak dari kursi yang ia duduki.


"Jangan bilang jika!-" Bu Winata pun tampak mulai menduga sesuatu dan memastikan dengan bertanya setengah ke Pak Akbar.


"Iya, sepertinya memang begitu." Jawab Pak Akbar yang sudah bisa menebak apa yang akan istrinya ucapkan.

__ADS_1


Ketika mereka membuka pintu terlihat Bu Mira, Paj Akbar, serta Evan dan lainnya sedang keluar dari mobil. Pak Akbar pun langsung segera menepuk kepalanya karena tidak percaya jika mereka bisa ketahuan.


"Kenapa kamu membawa mereka kemari!?" Tanya Bu Winata melihat Evan dan lainnya telah kembali.


Pak Sarya pun langsung segera berjalan mendekati Pak Akbar ean membisikkan sesuatu. Tak lama setelah itu Pak Akbar pun menatap Reza sedikit dan di saat yang sama Reza pun menatap mata Pak Akbar. Sepertinya tidak perlu di katakan lagi, Pak Akbar pun tampak menghela nafas dan mengizinkan mereka untuk ikut.


"Hah... baiklah cepat masuk. Semakin banyak orang yang ikut, maka akan lebih mudah kita menyelesaikan ini semua." Ujar Pak Akbar yang langsung masuk ke dalam.


Mereka semua pun langsung segera masuk ke dalam Rumah dan terlihat keadaan di sana cukuo gelap karena listrik di matikan. Saat masuk ke dalam mereka pun langsung segera di sambut dengan boneka Ghakia yang sudah tersenyum manis melihat mereka.


"Kenapa dia tersenyum seperti itu?" Tanya Raihan tidak nyaman.


"Baiklah. Jika kalian ingin mengikuti permainan ini ada sesuatu yang harus aku pastikan. Apakah kalian berani mempertaruhkan nyawa kalian sendiri?" Tanya Pak Akbar dengan nada serius dan tidak main main.


"Kami berani." Ujar Reza.


"Kami bersedia." Jawab Evan.


Pak Akbar pun mulai memberikan banyak pertanyaan. Meski semuanya terdengar sama, tapi jawabannya selalu saja berbeda. Dari Pak Akbat yang banyak bertanya, maka bisa di simpulkan jika permainan ini memiliki banyak sekali konsekuensi yang sangat tidak menguntungkan.


"Baiklah, kalian sepertinya sangat yakin dengan ini. Sarya tolong bawakan kursi yang cukup untuk kita semua." Ujar Pak Akbar.


Pak Sarya pun langsung segera mengambilkam kursi dari Ruang Makan Setelah semua kursi di bawa, Pak Akbar pun langsung menyusun kursi kursi itu menjadi sebuah lingkaran dan mulai meminta semua orang untuk duduk dan mulai memberikan arahan. Tapi diantara semua orang yang ada di sana, ada 2 orang yang tidak ikut yaitu Pak Sarya dan Bu Mira.


"Pertama tama pejamkan mata kalian." Ujat Pak Akbar yang memberikan arahan ke Evan dan kawan kawannya.

__ADS_1


Semuanya pun langsung memejamkan mata mereka masing masing. Setelah itu Pak Akbar pun mulai meminta mereka untuk bernafas tenang dan kemudian meminta Pak Akbar dan Bu Mira agar menutup mata mereka semua.


"Sekarang kalian bernafaslah dengan tenang dan kemudian, seseorang tutup mata kami semua dnegan kain." Ujar Pak Akbar.


Setelah mata mereka semua di tutup dengan kain, Pak Akbar pun langsung segera membacakan sebuah kalimat yang mungkin untuk memulai permainan.


"Pada malam ini kami datang sebagai tamu. Tuan rumah datang membuka pintu dan menyambut, seorang anak meminta kami untuk bermain. Sebuah boneka akan menjadi wujudnya. Kami semua ingin bermain bersamamu, jadi bukalah pintu mu. Ketika lilin yang ada di semua tempat hidup, maka permainan akan di mulai." Ujat Pak Akbar memulai permainan itu.


Jederr!!


Seketika petir pun langsung menyambar dengan keras, padahal sebelumnya tidak mendung sama sekali. Setelah mendengar suara petir itu, Pak Akbar pun langsung segera meminta semua orang untuk membuka matanya.


"Baiklah sekarang buka mata kalian." Jawab Pak Akbar.


Ketika membuka mata, keadaan seluruh rumah tampak sangat berantakan dan penuh debu. Jendela pun juha di tutup dengan papan kayu seolah olah tempat itu sudah terbengkalai.


"Tempat ini... sepertinya aku meningat sesuatu." Ujar Evan.


"Iya aku juga mengingatnya." Lanjut Selly yang juga merasakan perasaan yang sama dengan Evan.


"Sepertinya kita sudah pernah ke sini sebelumnya." Ujar Bu Winata.


Melihat tingkah Evan, Selly dan Bu Winata yang merasa familiar seperti pernah ke sana sebelumnya, Pak Akbar pun mulai merasa heran dan tidak percaya dengan hal itu.


"Apa maksud kalian? bagaimana bisa kalian bisa pernah ke sini?" Tanya Pak Akbar heran.

__ADS_1


To be contiune >>>


__ADS_2