
Saat berada di tempat resepsionis hotel, Raihan pun langsung mengurus beberapa administrasi dan kemudian meminta Evan dan lainnya untuk segera ke kamar mereka terlebih dahulu. Saat berada di lift, Evan kelihatannya sedang membuka tas nya dan mengambil sesuatu dari sana.
"Apa yang kamu cari?" Tanya Reza penasaran.
"Bukan apa apa, aku hanya ingin mengecek apakah semua benda yang ada di tas ku masih utuh atau tidak" Jawab Evan sambil menutup tasnya.
Dan tak lama kemudian mereka pun akhirnya sampai di lantai tujuh, di lantai tersebut ternyata ada banyak orang yang tinggal di sana. Jadi tentunya mereka tidaklah sendiri dan juga memiliki banyak tetangga untuk sementara.
"Baiklah nomor 704 ini dia kamar kita" Ujar Evan sambil berdiri di samping pintu kamar tersebut.
"Baiklah, tunggu apa lagi? ayo buka pintunya" Ujar Selly yang sudah tidak sabar lagi.
"Kunci nya berada di tangan mu kan?" Tanya Evan ragu.
"Tunggu dulu jangan bilanh jika kita harus..."
"Iya kamu benar Selly, kita harus menunggu Raihan karena ia lah yang memegang kunci kamar kita" Jawab Reza santai.
Akhirnya mereka pun harus menunggu Raihan, sepertinya Raihan lupa jika kunci kamar mereka ada bersamanya. Dan karena itu pula Selly menjadi kesal karena ia paling tidak suka menunggu, apalagi yang ia tunggu bukanlah sebuah makanan.
"Halo semuanya apakah kalian menunggu lama?" Kemudian Raihan pun datang dengan membawa kunci kamar milik mereka.
"Tidak terlalu lama" Jawab Reza.
"Maaf ya tadi saya lupa memberikan kunci ini ke kalian" Jawab Raihan merasa bersalah.
"Tidak apa apa, yang penting sekarang kuncinya sudah ada" Jawab Evan.
Raihan pun langsung memasukan kunci tersebut ke dalam lubang kunci dan langsung memutar kunci tersebut dan menarik gagang pintu tersebut. Saat pintu terbuka, mereka langsung di sambut sebuah kamar yang indah dan tertata rapi.
"Wah ternyata kamar ini cukup bagus" Ujar Evan kagum.
"Ngomong ngomong apakah harganya mahal?" Tanya Reza penasaran.
"Untuk harganya beruntung cukup mudah di jangkau" Jawab Raihan masuk ke dalam kamar hotel tersebut.
Tak lama kemudian telepon milik Selly pun berbunyi keras. Saat melihat siapa yang menelepon nya, ternyata itu hanya teman temannya di kos.
"Semuanya tunggu dulu ya, aku akan segera kembali" Selly pun langsung menjawab telepon itu di luar kamar.
__ADS_1
"Memang siapa yang telepon?" Tanya Reza.
"Sudahlah, intinya aku akan keluar sebentar untuk mengangkat telepon ini" Jawab Selly menutup pintu kamar hotel.
"Halo, kenapa kalian telepon di waktu seperti ini?" Tanya Selly.
"Kalian sedang berada di kapal berduaan ya?" Salah satu teman Selly pun langsung menjahilinya dengan beberapa kata kata yang mengganggu.
"Boro boro berduaan, Evan dan Raihan saja ikut dengan kami" Jawab Selly kesal.
"Loh kok bisa seperti itu?" Tanya temannya heran.
"Ternyata Evan sudah duluan membeli 2 buah tiket untuk Reza, karena aku juga punya 2 jadi kami berempat jadi pergi bersama deh" Jawab Selly dengan wajah seperti sedang kesal padahal tidak.
"Ohhh, jadi kalian sedang berada di kapal?" Tanya Temannya Selly.
"Belum" Jawab Selly singkat.
"Ehh? kali ini apa lagi? apakah kapalnya tidak datang?" Teman Selly pun langsung di buat heran ketika mendengar bahwa Selly belum naik kapal yang seharusnya mengantar mereka ke Pulau Sujapa.
"Sebelum pergi aku dan Raihan memutuskan untuk ke belakang kos dulu" Ujar Selly dengan wajah biasa saja.
"Belakang kos? kenapa kalian ke sana?" Tanya Temannya heran.
...~Sementara itu di kamar ~...
"Hacchii! kenapa aku tiba tiba bersin ya?" Tanya Reza heran.
"Mungkin kamu alergi dengan bunga yang ada di meja itu" Ujar Evan sambil menunjuk bunga yang ada di dekat Reza.
"Tidak mungkin, aku tidak alergi serbuk sari" Jawab Reza.
...~~Kembali ke Selly yang sedang bertelepon ~~...
"Jadi apa hubungannya dengan itu?" Tanya teman Selly heran.
"Yaa karena Reza melontarkan kata kata sampai lupa waktu, kami jadi terlambat" Jawab Selly.
"Jadi kalian tidak jadi pergi dong?"
__ADS_1
"Kami tetap pergi, tapi harus menunggu 3 hari lagi" Jawab Selly sambil memainkan kukunya.
"Ohhh baiklah, apakah kamu kesal?" Tanya teman Selly ke Selly.
"Kesal? untuk apa aku kesal?" Selly pun langsung di buat heran dengan kata kata tersebut.
"Yaa siapa tau kamu kesal karena tidak bisa berduaan dengan Reza" Ujar Teman Selly.
"Kamu kenapa bertanya hal aneh seperti itu? tentu saja aku tidak kesal, justru yang membuat ku kesal itu kamu" Ujar Selly jengkel.
"Jangan marah seperti itu dong, hahahaha" Teman Selly pun langsung tertawa lepas mendengar Selly jengkel dari balik telepon.
"Sudah ya aku ingin makan bika ambon yang semalam belum kita habiskan ya"
"Heii! jangan makan jatah ku!"
"Akan ku makan, bwek!" Teman Selly pun langsung mengejek Selly dan langsung menutup telepon nya.
"Sial. Jika mereka memakan jatah ku, aku akan memberikan mereka bertiga pelajaran" Jawab Selly kesal.
Di saat Selly sedang mencoba menelepon temannya kembali, Reza juga sedang menelepon seseorang. Tapi pembicaraan Reza dengan orang itu sangat cukup berbeda dari pada sebelumnya.
"Jadi setelah kamu mengambil air itu, kalian cepat cipratkan ke seluruh area gudang. Dan jangan lupa membaca doa ya. Jika tidak maka akan repot kita nantinya" Jawab Reza sambil membuka sebuah catatan kecil yang ia miliki.
"Reza kamu berbicara dengan siapa?" Tanya Evan heran.
"Tenang saja, ini bukan siapa siapa" Jawab Reza menenangkan Evan.
"Coba ku lihat dulu" Ujar Evan gigih.
"Sudah ku bilang ini bukan hal yang penting" Jawab Reza sambil mengangkat handphone nya tinggi tinggi.
Dan karena tinggi Reza dan Evan itu berbeda sekitar beberapa centimeter, Evan pun kesusahan mengambil Handphone itu dari Reza. Bahkan Evan pun harus sambil melompat untuk mengambil Handphone tersebut dari tangan Reza.
"Reza cepat berikan, aku capek nih lompat lompat terus" Ujar Evan sambil lompat lompat terus.
"Ya kamu coba saja ambil sendiri" Jawab Reza mempermainkan Evan.
"Sudah lah, lebih baik aku membaca di teras saja" Ujar Evan yang mengambil sebuah buku dari tasnya dab keluar dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
"Mungkin aku sudah membuatnya marah, baiklah mungkin aku akan memberikan nya sesuatu. Jika dia terus marah seperti itu, bisa gawat saat liburan nanti" Ujar Reza sambil mengosok kepalanya.
To be contiune >>>